
Dan pas aku nengok ke arah pria berjas di sampingku, ternyata dia Raga Mahendra.
"Anda siapa, ya?" aku pura-pura nggak kenal. Tapi dalam hati ngedumel, kenapa juga dia ngikutin sampe kesini.
"Ck, jangan pura-pura kamu, Rachel...?!" ucap pak Raga dengan nada yang sangat khas.
"Buatkan aku kopi!" suruh pak Raga. Tapi aku cuma mendongak ngeliatin mukanya yang nyebelin banget kalau lagi nyuruh-nyuruh.
"Tunggu apa lagi, Racheeeeeel?" ucap pak bos gemes.
"Kalau nggak sabar, bikin aja sendiri, Pak..." ucapku yang nyuruh pak Raga megangin piring yang berisi sepotong roti bakar dengan selai nanas di dalamnya.
Bibirku mleyat mleyot, ngedumel tapi tanganku bergerak bikinin pesenan pak bos yang entah sejak kapan ada di tempat ini.
"Nih, Pak..." aku sodorin kopi buat pak Raga. Sesangkan waktu tanganku mau ngambil piring roti, pak Raga langsubg mundur nggak ngebolehin.
"Kamu bikin roti bakar lagi aja, yang ini buat saya," kata pak Raga yang kemudian memutar badannya dan duduk di salah satu meja yang masih kosong. Sedangkan aku jangan ditanya, guooooondddddoook banget. Sebelnya aku tuh udah ada di ubun-ubun.
Karena males ngebakar roti lagi, aku ambil secangkir teh dan melipir ke bagian dimsum. Aku ambil bermacam-macam rasa, sekiranya buat aku kenyang dan bergabung dengan keluarga Amel.
Suasana sarapan yang indah banget, karena orangtua Amel yang sebenernya tipe orangtua yang enak diajak ngobrol, cuma mereka nggak ada waktu aja. Beda sama aku yang emang nggak deket sama orangtua, marena tiap kali ngobrol selalu aja yang jadi topik utama ya mbak Gita. Aku cuma jadi pendengar, kadang disitu aku merasa iri.
Di meja lain, aku dengan yakin pak Raga ngeliatin ke meja ini mulu. Nggak pegel tuh leher, nengok mulu.
"Mama mau relaksasi di spa-nya, Mel. Kamu mau ikutan? sekalian aja Rachel jyga," kata tante Ira. Beuh baik banget emang orangnya.
"Amel aja, Tan. Kalau saya pengen istirahat aja,"
"Ikut aja kali. Tenang aja, paling mama semua yang bayarin, iya kan Mah?" Amel nanya ke mamanya.
"Iya betul. Lagian Rugi, Chel. Kesini cuma numpang tidur aja, mending juga ikutan pijet-pijet dan lulur bareng tante. Biar selain otaknya fresh, badan juga ikutan fresh. Atau kamu mau renang, tuh viewnya bagus banget loh, hutan belantara," ucap tante Ira.
"Betul, itu..." Amel nyamber.
"Iya, nanti Tante..." ucapku sopan.
__ADS_1
"Atau kalau kamu mau jalan di sekitar sini, biar Naga yang nganterin..." ucap om Ibram. Pemandangan di sekitar resort juga bagus banget, sekalian hirup udara segar sebanyak-banyaknya.
"Kapan lagi bisa ngisi paru-paru kita dengan udara yang masih bersih dari polusi, iya kan?" lanjut om Ibram.
"Iya, Om..." sahutku sopan.
"Nanti kamu temenin Rachel ya, Ga..." kata om Ibram ke anaknya.
"Siap, Pah!" jawab Naga semangat.
"Yeuuh, berondong langsung gercep!" Amel nyeletuk disampingku, yang reflek aku injek jempol kakinya karena udah berani ngeledekin.
"Aaawwh!" pekik Amel.
"Kenapa, Mel?" tanya tante Ira.
"Nggak apa-apa, Mah. Cuma betisnya pegeeeell..." ucap Amel bohong.
"Ya udah abis ini kita. langsung ke ruang relaksasinya," kata tante Ira yang keliatan banget udah nggak sabar pengen perawatan badan.
Setelah sarapan kita semua berpisah. Om Ibram balik ke kamar katanya mau kirim email ke kantor. Ada kerjaan mendadak katanya. Dan kalau Amel dan tante Ira lagi lulur-lulur manja. Sedangkan aku paling jalan-jalan di sekitar resort ditemenin sama abang berondong di taman sekitar resort.
"Heh, siapa kamu?!" Naga menepis tangan pak bos yang dengan sekonyong-konyong narik aku.
"Ikut aku!" ucap pak Raga, dia sama sekali nggak ngerewes Naga.
"Anda itu siapa? jangan kurang ajar ya!" Naga udah kaya pahlawan kesiangan, aku cuma bisa tepok jidat. Sedangkan pak Raga, dia metengteng dua rangannya berkacak pinggang ngeluat tingkahnya Naga.
"Ssshhh, huh! minggir bocah kecil," ucap pak Raga mau narik aku.
"Anda mau apa? hah?" lagi-lagi aksi pak Raga dihalangi Naga. Dia bentangin tangannya supaya pak Raga nggak bisa ngecawel aku.
"Minggir!" pak Raga ngibasin tangannya, nyuruh Naga buat geser.
"Anda itu siapa? berani-beraninya---"
__ADS_1
"Apa?" pak Raga nanya dengan naikin dagunya sombong.
"Awas minggir?! harusnya saya yang marah, kamu sudah bawa pacar saya jalan-jalan!" kata pak Raga.
"Pacar? hahahahah, jangan bercanda!" kata Naga yang ketawa ngeledek.
"Minggir saya bilang! dasar bocah ingusan nggak tau diri," pak Raga berusaha menarikku tapi lagi-lagi Naga pasang badan buatku.
"Huuh, baiklah. Sini maju..." pak Raga mulai lagi ngeluarin jurus andalannya, aku segera ngomong sama Naga.
"Aku balik ke kamar," ucapku pada Naga dan pergi meninggalkan kedua laki-laki yang namanya hanya berbeda satu huruf.
"Racheeeel, tunggu...?!" teriak pak Raga, dia ngejar aku. Bukan aja ngejar, tapi dia juga narik aku supaya ikut dia
"Heeeey?!!" teriak Naga saat aku dibawa oleh pak Raga.
"Duh, apa-apaan sih, Paaak?" aku lepasin tangan dari genggaman pak Raga setelah jauh dari Naga. Kita berdua jalan di jalanan setapak yang ada di resort.
"Bapak ngapain sih ngikutin saya kesini?" tanya ku kesel sama pak Raga.
"Saya...? saya ... saya mau liburan juga!" jawab pak Raga.
"Liburan? apa iya?" tanyaku dengan tatapan menelisik.
"Lagian kenapa kamu jala sama bocah tadi? jangan lupa Rachel, kamu ada kesepakatan dengan---"
"Astaghfirllaaaaaah, Bapakeeeee. Saya inget kok inget banget kalau saya kita ini ada kesepakatan kerja," ucapku seraya buang napas.
"Dan saya kan cuma jalan, bukan pacaran dan nggak mesra-mesraan juga. Cuma jalan liat pemandangan. Lagian nenek pak bos kan nggak ada disini, jadi saya bebas. Saya nggak harus juga acting di depan semua orang kan?" lanjutku.
"Kalau saya bilang harus, bagaimana?" ucap pak Raga.
"Bapak kayaknya lagi banyak beban kerja, makanya ngomongnya sering bgelantur," ucapku.
"Saya serius, Rachel. Kalau saya suruh kamu beroura-pura sepanjang waktu bagaimana?" pak bos menatapku serius. Sedangkan aku memutus pandangan itu dan malah beralih pada satu sisi pohon yang kayaknya ada pergerakan manusia.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya pak Raga.
"Ada orang kayaknya di sebelah sana," ucapku menunjuk sebuah pohon dan berniat buat mendekat ke arah sana.