
Pak Raga masih lemes, dia berusaha buat bangun.
"Eh, pak Raga tiduran aja. Kopernya dimana biar saya ambilkan bajunya. Nanti ganti disini aja, biar saya yang keluar. Nanti kalau di kamar mandi, yang ada nanti bisa kepleset, jatuh, amnesia!" kataku merepet.
Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar, lalu aku melihat koper dekat dengan lemari.
"Saya ambilkan baju ganti,"
Aku mendekat pada kopernya pak Raga, lalu aku milihin baju yang kiranya longgar dan nggak terlalu tebel.
"Ck, pakaiannya kayak gini semua. Apa iya mau tidur pakai jas?" aku bergumam.
Nggak ada kaos, hanya ada kemeja warna item yang bahannya adem banget.
"Ini aja deh!" Aku ambilkan sekalian sama celana buat dia ganti.
"Saya taruh disini ya, Pak! kalau gitu saya---"
"Disini saja," lirih pak Raga.
"Hah? di-sini?"
"Iya..."
"Kamu balik badan aja, bukankah di luar masih hujan?" lanjutnya.
"Sudah nggak hujan, jadi saya tunggu di luar aja, Pak. Nanti saya balik lagi kalau pak Raga sudah selesai, permisi!" aku kabur keluar tanpa melihat ke arah pak bos.
Brak!
Aku tutup pintu kamar pak Raga. Dan ya, di luar ujan lagi, padahal sempet reda loh tadi. Tipe kamar di resort ini kan kayak cottage gitu. Jadi ketika buka kamar ya langsung suasana luar. Adem lah sejuk dengan banyaknya taneman dan rumput yang ditata rapi gitu.
Aku peluk badanku sendiri, coba ngilangin rasa dingin. Tapi udah lama disini kok pak Raga nggak nelfon atau bukain pintu atau minimal tereak kalau dia udah selesai ganti bajunya.
"Oh iya, hape nya kan masih sama aku," Aku rogoh tas dan ngambil hapenya pak Raga.
"Jangan-jangan doi pingsan di dalem?" aku tempelin kuping di pintu, kali aja ada suara apa gitu yang ketangkep sama kuping.
"Nggak kedengeran juga, apa aku masuk aja ya?" aku mempertimbangkan.
Dan nggak sengaja aku memencet tombol apa gitu di hape pak Raga yang aku pegang dan aku kaget saat melihat satu gambar yang muncul ketika tombol itu nggak sengaja kepencet.
"Kenapa---" aku nggak bisa berkata apa-apa saat aku melihat wajahku sendiri yang menjadi latar belakang hape pak Raga.
Wajahku yang ada di baground hape pak Raga itu berambut panjang bergelombang dengan polesan wajah yang minimalis tapi cantik, bukan muji diri sendiri tapi aku bicara fakta
__ADS_1
Ceklek!
Pintu dibuka dan munculah pak Raga.
"Apa yang kamu lihat, Rachel?" ucapnya.
"Ehm, ah, nggak liat apa-apa, Pak..." aku ngeles.
Pak Raga ngambil hape yang ada di tanganku dan labgsung ngantongin di sakunya.
"Ehm, sepertinya saya harus balik lagi ke---"
"Kemana?" tanya pak Raga.
Dengan cepat dia membawaku masuk. Aku paati udah melakukan kesalahan besar, dengan nggak sengaja melihat apa yang harusnya nggak aku lihat. Apa aku akan dipecat hari ini juga, aku juga nggak ngerti.
Pak Raga nyuruh aku duduk di tepi tempat tidur, sedangkan dia berdiri.
"Maaf?" ucapku.
"Untuk?"
"Untuk hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Tapi beneran tadi tidak ada unsur kesengajaaan,"
"Kalau masih pusing, Pak Raga mending istirahat aja," aku mau bangun tapi dicegah pak Raga.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya," ucapnya.
"Saya nggak sengaja liat foto---"
"Orang yang sangat mirip dengan kamu?"serobot pak Raga, tangannya masih memegang pergelangan tanganku.
"Ya..."
"Kamu nggak nanya kenapa ada foto kamu disana?" lirih pak Raga.
"Hah?"
"Lalu adalagi?" tanya pak Raga.
"Apa ya, Pak...? sepertinya hanya itu..." kataku.
"Yang di mobil?" celetuk pak Raga.
"Di mobil?"
__ADS_1
"Apa perlu saya ingatkan lagi?" tanya pak Raga.
"Nggak usah, Pak. Nggak usah. Iya iya saya inget kok, ya ya termasuk dengan yang di mobil, itu juga bukan keinginan saya, Pak! itu say nggak tau, kayak ada yang dorong gitu, mungkin setan jamet yang sempet masuk ke mobil, saya juga nggam tau pasti..." ucapku.
"Kalau itu, aku...! ehm!" ucap pak Raga spontan, sedangkan aku kaget dengan apa yang apa yang barusan diucapkannya.
Dia menarikku, mendekat padanya. Tatapan kita bertemu.
"Pak...?" aku berusaha melepaskan diri dari pak Raga.
"Karena kamu sudah berbuat kesalahan hati ini, saya hukum kamu! Kita akan perpanjang perjanjian pacaran sampai taun depan!" ucap pak Raga yang kemudian melepaskan aku dan dia duduk di tempat tidur.
"Hah? nggak bisa gitu, Pak---"
"Kalau mau pergi tutup pintunya, saya mau istirahat!" ucap pak Raga yang merebahkan dirinya dan memunggungi aku. Dia nggak mau dibantah.
Aku sendiri masih nggak ngerti, tapi aku langsung pergi aja. Otakku udah puyeng.
Sekarang aku jalan menuju kamarku dan Amel berada. Tapi tiba-tiba aja aku ketemu sama Naga.
"Udah selesai?" tanya Naga.
"Udah, aku nemuin Amel dulu ya?" aku kasih sejyuman tipis ke adeknya Amel itu. Dan aku mempercepat langkah, biar ceoet nyampenya.
Ceklek!
Brukkk!
Aku buka dan nutup pintu lagi setelah berada di dalam.
"Weh, aku kira nggak bakalan balik kesini," ucap Amel.
"Balik lah, nggak enak sama orangtua kamu...." aku ngerebahin badan.
"Nggak enak kenapa? nyantai aja kali, lagian waktu mama nyariin kamu aku bilang kamu ada kerjaan dadakan. Kayak papah juga gitu, seharian dinkamar ngerjain kerjaan kantor. Jadi ya, mama nggak heran kalau aku ngomong kayak gitu," ucap Amel.
"Syukur deh, Mel..." ucapku nggak bertenaga.
Hal yang aku hindari dan takutkan malah terjadi. Masa pacaran aku dan pak Raga di perpanjang sampai taun depan. Padahal aku kan nolongin dia hari ini, tapi aku kena hukuman perkara nggak sengaja liat baground hapenya dia.
Mentang-mentang jadi bos, dia jadi seenaknya sendiri. Ck, lagian, aku kan nggak sengaja. Siapa suruh dia nitipin hape, dan ngapain juga dia pasang fotoku. Aneh banget. Nggak mungkin kan, kalau dia ada rasa sama aku? emang ini dunia sinetron?" ucapku dalam hati.
"Heh, jangan ngelamun! ntar kesambet! dah sana mandi, dah mau maghrib tau!" ucap Amel lempar anduk yang abis digosokin ke rambutnya yang anis sampoan.
"Dasar reseeee?!!" aku lempar balik tuh anduk ke muka Amel.
__ADS_1