Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Jangan Pernah Pergi Lagi ( Tamat)


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Musim sudah berganti, tanpa terasa aku sudah beberapa bulan tinggal bersama ayah yang ternyata bekerja sebagai chef di restoran ternama.


"Ayah, aku ingin makanan Indonesia. Aku akan belanja, ayah mau nitip apa?" ucapku di telepon


"Belikan ayah kerupuk. Masaklah sup daging. Oh ya, udara di luar lumayan dingin! mampirlah ke restoran, akan ayah buatkan cokelat panas yang sangat enak!" sahut ayah.


"Ah, nggak ah. Nanti yang ada aku mengganggu kerjaan ayah. Aku mau menikmati suasana kota, setelah itu aku baru aku akan ke toserba buat belanja beberapa bahan makanan. Perutku begah keseringan makan roti!" ucapku ceriwis.


Aku pun menutup telepon. Aku yang selesai beberes rumah langsung ganti pakaian dan mengambil mantel kita nggak tau cuaca nanti seperti apa. Takutnya tiba-tiba ujan kan amsyong, kita kedinginan.


"Aaghhh, apa kabar si cantik Nay? aku beneran kangen sama gadis kecilku itu!" aku bergumam sendiri ketika berjalan keluar dari rumah.


Perkiraan cuaca hari ini sekitar 9 derajat celcius, buat aku segini udah dingin banget. Dan aku harus pakai pakaian yang hangat.


Musim semi telah tiba, mendadak aku pengen nyatronin wisata bunga di planten un blomen. Mumpung masih pagi, enak buat jalan-jalan daripada magabut juga di rumah sendirian.


Sampai disana aku pilih spot di depan air mancur sambil duduk diatas rumput.


Lupa nggak bawa kain buat alas duduk, alhasil aku harus merelakan duduk begitu aja diatas rumput yang hijau.


Aku masih sering kok ngeliat penampakan-penampakan di sini, tapi kita beda bahasa jadi aman lah.


Udah lumayan sejam-an aku duduk bengong disini, mungkin kalau ada yang lewat mikirnya pagi-pagi udah nongkrong disini, ini pasti orang lagi putus asa.


Ada satu orang yang lagi aku kangenin banget, apalagi beberapa terakhir ini aku mimpiin dia terus.


Tapi tanpa di duga.


Tes!


Tes!


Tes!


Aku menadahkan tanganku, "Hujan?"


Tapi aku ngerasain cuma tiga tetes aja, "Loh, kok?" aku mendongak saat aku ngerasa sesuatu menghalangi kepalaku kena air hujan.


Aku mendongak dan...


Deg!


Deg!


Aku melihat seseorang membawa payung transparan.


Aku nunduk lagi, aku tepokin pipi, "Nggak! nggaaak! Nggak mungkin, aku pasti mimpi!"


"Sampai kapan kamu akan duduk seperti itu? sampai bajumu basah?" ucap pria itu.


"Pak Raga?" sontak aku berdiri dan berbalik menatap mantan bos yang setia dengan style gagahnya.

__ADS_1


"Saya sudah kan sudah pernah bilang, lain kali kalau mau pergi bilang sama saya, jadi saya nggak nyariin kamu kayak orang nggak waras!" ucapnya.


"Apa?"


"Kamu mainnya kurang jauh, karena nyatanya saya masih bisa nemuin kamu. Walaupun saya harus bersusah payah dengan ini!" ucapnya lagi.


Tapi aku seperti nggak percaya dengan apa yang aku lihat.


"Kenapa?"


"Harusnya anda tidak perlu mencari saya sampai kesini!" aku segera berbalik, berniat buat pergi.


Tapi tangan kekar itu langsung melingkar di leherku, dia memelukku dari belakang.


"Lebih baik anda pulang, karena saya---"


"Karena apa? heh, Rachel! apa ini sambutanmu untuk pacarmu yang sudah mencarimu selama berbulan-bulan?" ucap pak Raga.


"Maaf, lepasin saya Pak!"


"Nggak! kalau perlu kamu saya iket, terus saya bawa pulang ke Indonesia," kata pak Raga.


"Bukankah ada mbak Enjel?"


"Astagaaa, Enjel itu sukanya sama Liam. Dia temen kecil Liam. Tapi Liamnya nggak tau suka apa nggak, saya nggak pernah nanya,"


"Kenapa dia jadi pengawal waktu itu, bahkan dia pernah nyupirin saya!"


"Oh, itu salam rangka membujukku supaya aku mau dekat dengan Liam, kamu tau kan dulu hubunganku dengan Liam nggak begitu baik?" jelas pak Raga.


Dia memutar badanku.


"Saya kesini buat menjemput kamu, bukan untuk menjelaskan siapa Enjel ataupun oranglain yang nggak penting dalam hubungan kita..." ucap pak Raga.


Aku menatapnya lekat-lekat, dua bola mata yang sangat aku rindukan.


Aku mendadak melow, ya aku masih inget ucapan Eyang Anti saat itu.


"Tinggalkan dia, dan pergi dari kota ini," ucap Eyang Anti nggak mau dibantah.


"Dan setelah itu saya akan memafkan kalian..." ucapnya.


Eyang meninggalkanku begitu saja setelah dia meninggalkan beberapa lembar uang di meja. Namun langkahnya berhenti kemudian berkata...


"Tapi Jika dia bisa menemukanmu, anggap saja itu takdir. Dan aku tidak akan menghalangi takdir itu,"


Ya, dan sekarang pak Raga datang. Dan itu artinya...


"Rachel..." pak Raga memanggil namaku.


"Ya..." lirihku.


"Jangan pergi lagi. Jangan bikin saya pusing nyariin kamu!" ucap pak Raga.

__ADS_1


"Kenapa Bapak nyariin saya?"


"Karena saya cinta sama kamu Rachel, saya nggak mau kehilangan kamu. Saya udah minta maaf sama Eyang, dan saya sudah menjelaskan semuanya. Jadi tolong jangan pernah pergi lagi, jangan bikin saya seperti orang yang nggak waras nyariin kamu tiap hari. Bahkan orangtuamu aja keukeuh nggak mau ngasih tau keberadaan kamu, kamu bikin sayabharus mengerahkan semua orang buat nyariin kamu," satu tangan pak Raga menyentuh pipiku.


Air mataku lolos begitu aja.


"Kamu juga sebenernya cinta kan sama saya, Rachel?" tanya pak Raga.


Aku hanya bisa mengangguk, "Iya..." lirihku.


Pak Raga menarikku ke dalam pelukannya.


"Udah tau cinta, kenapa pergi sejauh ini?! kenapa omongan Eyang kamu turutin, hem? kamu nggak yakin kalau aku bisa luluhin hati Eyang?"


"Aku terpaksa..." ucapku.


"Aku mengejar ayahku..." lanjutku.


"Ya ya, saya sudah tau itu!" dia mengelus kepalaku.


"Jadi, kita menikah saja sekarang! sebelum kamu kabur-kaburan lagi," ucap pak Raga.


Aku melepaskan pelukan pak Raga, "Jangan gila, bahkan kita belum dapat restu dari keluarga,"


"Jangankan keluarga, saya sudah siapkan penghuku buat kita!" ucap pak Raga dengan pedenya.


"Hah?"


Pak Raga menyuruhku buat berbalik.


Dan disitu sudah ada Eyang Miranti, Papa mama, Ayah, mbak Gita, Mas Bram, Naya, Liam yang berdiri dengan tongkatnya, Enjel, Amel dan juga dua orang yang aku nggak tau siapa. Mereka semua berdiri di bawah payung dengan warna seragam, putih transparan.


"Saya bawa pasukan cinta buat kamu!" ucap pak Raga.


"Kamu boyong semua keluargaku kesini???" aku yang sebelumnya mblewer nangis, sekarang bahagia ngeliat semua orang ada disini.


"Maaf, saya terlambat!" suara Almeer.


"Almeeerr?" aku yang mau nyamperin Almeer seketika dicekal pak Raga.


"Eiiits kamu mau kemana? nggak boleh! kamu nggak boleh jauh-jauh dari saya!" ucap pak Raga posesif.


"Eyang sudah merestui kalian, jadi tolong kita segera berteduh. Hujannya semakin deras!" seru Eyang Anti.


Semua berbondong-bondong mencari tempat untuk berteduh, kecuali aku dan pak Raga.


Kami berdua masih berdiri di tempat, tangannya membawaku mendekat sampai tak ada jarak.


Kami saling mengunci pandangan dan wajahnya kian mendekat. Dia mencoba mendoyongkan payung untuk menutupi apa yang akan dilakukannya, tapi dia lupa kalau...


"Paaaakkk, payungnya transparan!!!" seruku yang membuyarkan adegan romantis ini.


Dan di kota ini menjadi awal kebahagiaanku dengan Raga Mahendra. Kami bersatu dalam sebuah ikatan suci, disaksikan keluarga dan sahabat.

__ADS_1


Terima kasih Ragaku, hari ini kamu sudah menemaniku melalui hari yang luar biasa. Dan semoga kita akan selalu bersama, hari ini, besok atau pun nanti.


---------Tamat----------


__ADS_2