Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Sangat Rahasia


__ADS_3

Pak Raga diam sejenak, dia memasang wajah serius.


"Sshhhh, ck! kemari..." pak Raga nyuruh aku mendekat, aku pun mencondongkan badanku.


Mungkin yang dia akan bicarakan ini sangat-sangat rahasia, sampai angin pun nggak boleh ikutan dengerin apa yang bakal dia ucapkan.


"Jadiiii..." pak Raga lirih.


Aku makin mendekat, berusaha menangkap suaranya.


"Jadiiiiiii, malamnya saya kirimkan balik ke rumahnya, wuakakakakakakaka!" pak Raga ketawa sekenceng-kencengnya.


Krikk!


Krikk!


"Gimana, gimana? balikin ke rumahnya?" aku malah bingung sendiri.


Lah waktu itu bukan dengan kerennya dia bilang, "Saya sudah tau. Makanya berikan benda itu, saya sendiri yang akan menghancurkannya," ucapan pak Raga terngiang di kepalaku.


Aku senderin punggung ke kursi, "Kancing itu sudah diucapkan mantra atas namamu, Pak..." aku menatap pak Raga intens.


"Lalu?"


"Ya, kancing itu akan melekat setelah 24 jam berada di tangan anda!" ucapku mengingat percakapan pak Moreno dan si dukun.


"Saya mengirimkan apa yang dia berikan setelah kamu datang untuk mengkhawatirkanku, sampai kamu rogoh semua saku yang ada padaku saat itu," ucap pak Raga, mengingatkan hal bodoh yang udah aku lakukan.


Aku cuma menggelengkan kepalaku, "Narsiamu nggak ada obat, Pak!" gumamku.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya pak Raga.


"Udara malam tidak baik untuk saya yang sering masuk angin! saya kira makan malam ini sudah cukup, saya permisi pulang!" ucapku yang akan bangkit, tapi secepat kilat pak Raga berdiri dan menangkap tanganku.


"Saya belum mengijinkan kamu untuk pergi," ucapnya. Dia mendekat.


Pak Raga merapatkan jasnya, dia memegang kedua lengan atasku.


"Kita belum selesai bicara soal---"


"Soal apa? bukannya semuanya sudah selesai, Pak?"


"Soal siapa yang membocorkan rahasia kita," ucapnya tajam.


"Siapa memangnya?" aku nggak berani menatap pak Raga.


"Kamu!" tuduhnya

__ADS_1


"Saya? bukan saya yang mengatakan hal itu pada nenek anda. Masa iya saya melakukan hal yang membuat saya bisa kehilangan pekerjaan? bapak kalau nuduh jangan sembarangan, Pak!" aku nggak mau disalahin.


"Ya tapi kamu itu cerita sama teman dekat kamu! iya kan?" pak Raga sudah mengeluarkan tanduknya.


"Hey, Racheeel. Kamu tidak bisa mengelak!" lanjut pak Raga.


"Iya iya. Saya ngaku! saya memnag susah cerita sama Amel, tapi kan---"


"Tapi temanmu itu sudah menjual berita itu pada nenek saya! dia mengambil foto dan video kita saat liburan di resort!" ungkapnya.


Aku baru mangap mau ngomong, pak Raga langsung nyerobot, "Bukan hanya pada nenek, tapi dia juga menyebar berita ini di perusahaan. Makanya nenek dengan tegas memecatmu, karena dia tidak ingin ada gosip atau skandal tentangku yang berhembus di perusahaan," ucapnya.


Dia melepaskan tangannya dariku, "Eyang sangat kecewa. Dan saya bukan nggak mau membelamu, tapi saat itu yang terbaik kamu jauh dari orang tampan sepertiku untuk sementara waktu," ucap pak Raga.


Aku jadi inget waktu di resort, waktu aku mau pinjem kamera punya Amel. Fia bilang kameranya rusak.


"Kenapa kamu ngelakuin hal ini sih, Mel?" batinku.


Aku mendadak merasa bersalah.


Aku melepaskan jas yang menutupi badanku, "Maaf, saya sudah menimbulkan kegaduhan dan kerugian untuk anda, Pak!" ucapku sembari mengembalikan jas pada pak Raga.


Ketika kaki ku akan melangkah, pak Raga menarikku dalam pelukannya. Iya pelukannya. Mataku membulat sempurna.


Bukan, bukan karena pelukannya. Tapi persis di belakang punggung pak Raga ada sebuah entitas alias makhlus halus yang amit-amit ya, lidahnya panjang dan menjulur gitu.


Aku merinding bukan karena dekat sama pak Raga, tapi melihat mata merah sesosok makhluk ini.


Kreteekkk!


Kreteekkk!


Kepala makhluk ini megleng ke kanan dan megleng ke kiri, dengan bunyi sendi yang bikin kuping ngeri.


Nafasku mulai nggak beraturan, "Hhh ... hhh..."


"Saya tau, dipeluk pria tampan mapan seperti ini pasti kamu sulit sekali untuk dipercaya, dan kamu pasti mengira ini hanya mimpi, iya kan?" pak Raga masih aja muji diri sendiri.


"Pak Raga ngomong apa sih, Pak?" lirihku dengan tak melepaskan pandanganku dari sosok yang memamerkan senyum menakutkannya.


"Pak? dibelakang Bapak ada setan!" bisikku di telinga pak Raga.


"Setan?" gumam pak Raga.


Dia melepaskanku dan menengok ke belakang.


Tapi cling!

__ADS_1


Makhluk tadi ilang. Persis kayak tuyul yang slonang-slonong di kedai, yang muncul dan ilang seenaknya sendiri.


Tapi aku yakin pak Raga sempet liat setan tadi yang mempunyai rambut berwarna perak yang panjang.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya pak Raga.


Aku menggeleng.


"Kita masuk ke dalam!" suruh pak Raga.


"Mejanya belum diberesin!" Jiwa pelayanku meronta.


"Nanti saya suruh orang. Sekarang kita masuk!" pak Raga menarikku ke dalam dan menutup pintu balkon.


Pak Raga menutup tirai dengan sekali perintah, "Close the curtains!"


Dan perlahan tirai pun menutup dengan sendirinya.


Dia nyuruh aku masuk tapi air wajahnya tuh tenang gitu, nggak yang ketakutan atau gimana. Kayak udah tau atau pernah liat makhluk semacam itu.


"Kok Bapak nggak ada takut-takutnya liat setan?" aku nanya saat pak Raga nyuruh aku duduk di salah satu sofanya.


"Karena saya udah sering liat!" jawabnya enteng.


"Dia biasa muncul saat ada orang baru. Anggap aja itu salam perkenalan," lanjut pak Raga.


"Jadi yang tadi bukan makhluk jahat?"


"Nggak tau juga!" ucap pak Raga.


"Lah tadi Bapak bilang dia muncul kalau ada orang baru! berarti kan Bapak udah sering liat, kan?" aku makin bingung sama pak Raga.


"Saya kedua kali ini lihat, tapi pembantu yang ngurus rumah ini yang suka dikiatin dan banyak juga yang nggak betah dan akhirnya keluar," ucap pak Raga.


"Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal disini. Nemenin setan tadi," ucap pak Raga.


"Bapak pengen denger jawaban saya?" tanyaku.


"Apa?"


"Jelass, nggak! saya lebih baik tidur dinkosan saya, daripada harus tinggal di rumah mewah tapi sama setan," ucapku.


"Jangan salah kosanmu itu sekarang jadi tempat mangkalnya para hantu!" ucap pak Raga.


"Kata siapa?"


"Kata saya tadi!" pak Raga nunjuk dirinya.

__ADS_1


"Kok Bapak bisa tau?"


"Ya orang tiap malem saya tidur di mobil, persis di depan gerbang kosan kamu!" jawab pak Raga yang bikin aku melongo.


__ADS_2