
Pintu dari toilet yang terbuka, dan munculah pak Raga dari sana.
"Astaghfirullah, hampir saya teriak setan! kenapa muncul dari sana sih, Pak?" aku ngelus dada.
"Ya karena saya habis dari toilet. Lagi pula, kamu kan sudah saya bilang, panggilnya jangan pak pak pak lagi lagi!"
"Tapi ini di kantor, Pak. Rasanya sangat tidak profesional kalau saya manggil pak Raga dengan sebutan yang lain," aku ngeles aja, padahal mah belum siap lahir batin.
"Ini di kantor, tapi disini nggak ada orang lain, hanya ada kita berdua..." pak Raga nggak mau kalah.
Sedangkan aku nggak bisa ngeles lagi, ya kan emang kita lagi ada di ruangan pak Raga dan nggak ada siapa-siapa lagi kecuali kita berdua. Sekarang aku malah khawatir kalau gajiku bakal dipotong karena dateng keduluan pak Raga.
"Tenang aja, aku yang datengnya kepagian!" ucapnya seakan menjawab pertanyaan yang ada di benakku. L
"Iya, Sayang..." ucapku lirih.
"Apa tadi kamu bilang? aku kurang denger kayaknya,"
"Iya, Sayang..." ucapku lagi, dengan pipi yang udah panas nahan malu.
"Bagus! pertahankan seperti itu," ucap pak Raga senang.
Kayaknya pak Raga ini tipe morning person yang dateng ke kantor selalu pagi, mendahului para karyawannya. Itu sih yang aku liat selama jadi asistennya. On time dan prepare banget nih orang.
"Oh ya, kamu bawa apa itu?" tanya pak Raga.
"Oh, ini bubur ayam," jawabku.
"Kebetulan saya belum sarapan!" ucap pak Raga.
"Bawa dan duduk disini," pak Raga jalan ke sofa, lalu dia duduk.
"Saya buatkan teh dulu---"
"Apa?"
"Aku buatin teh dulu, Sayang..." ucapku.
"Boleh, jangan lama-lama. Karena saya sudah laper," ucap pak Raga yang sekarang lagi menjelma jadi ayang.
Dengan senyum kaku, aku keluar deh ke pantry yang letakknya khusus di lantai 20.
"Gara-gara aku beliin dia bubur ayam nih pasti, jadi dia feeling-nya berangkat pagi. Padahal kan dimana-mana bos datengnya ya diatas jam 8 atau jam 9 lah, nah ini pagi jepluk dia udah ada di ruangan.
Masuk ke pantry, udah ada yang jaga. Sekarang gilirannya yang namanya Ryan.
"Mau bikin minuman apa, Mbak? biar saya buatkan," ucap Rian sopan.
__ADS_1
"Nggak usah, Mas. Ini saya buatin buat pak Raga,"
"Biasanya yang bikin mbak Erna, Mbak. Emang mbak Ernanya nggak masuk?" tanya mas Rian kepo.
"Belum berangkat kayaknya, Mas..." ucapku pada mas Rian.
"Iya soalnya kalau kopi sama teh kan mbak Erna yang bikin," kata mas Rian.
"Saya aja diajarin sama mbak Erna kalau bikinin teh sama kopi buat pak Raga tuh gulanya berapa sendok berapa sendoknya!" lanjutnya.
"Masa sih? bukannya mbak Erna nggak bisa bedain mana garam mana gula?"
"Kata siapa, Mbak? orang kalau bikin biasanya ada saya kok. Bener dia kalau ambil gula," kata mas Rian.
Berarti waktu itu aku dikerjain pak Raga dong minum kopi asin yang katanya buatan mbak Erna. Dan dia berarti dia bohong dong kalau bilang mbak Erna nggak bisa bedain gula sama garam.
Air udah mendidih, dan aku seduh secangkir teh buat pak Raga.
"Mari, Mas. Saya balik lagi ke ruangan," aku basa basi sebelum pergi.
Aku bawa tuh cangkir ke ruangan pak Raga bersama dengan mangkok dan sendok buat makan bubur.
"Tehnya, Sayang..." ucapku dengan nada datar.
"Makasih,"
"Duduk, kita makan buburnya..." ucap pak Raga.
"Yakin mau makan bubur ini? ini beli di pinggir jalan soalnya,"
"Terus masalahnya?
"Kalau sakit perut aku nggak nanggung pokoknya," ucapku ngingetin.
Ya kali aja perutnya orang kaya beda sama kita rakyat jelata yang udah biasa jajan di pinggiran jalan.
Ternyata, ada sisi lain dari pak Raga yang bikin aku nyaman. Dia nggak pilih-pilih makanan. Aku tuangin bubur ke dalam mangkok beserta kuah kuningnya.
"Mau pakai sambal?"
Pak Raga menggeleng, "Nggak. Udah kayak gitu aja,"
Aku taruh mangkok di meja, persis di depannya. Pak Raga ambil dan mulai makan.
"Kok kamu nggak ikut makan?" tanya pak Raga.
"Iya aku juga makan kok," aku mindahin bubur ke mangkok satunya lagi.
__ADS_1
Pelan-pelan aku makan. Mungkin dia emang belum sarapan dari rumah dan emang laper banget, doi makannya bisa cepet banget gitu loh.
"Enak banget?" tanyaku pada pak Raga.
"Biasa aja,"
"Biasa aja tapi habis," aku nyindir.
Pak Raga naruh mangkoknya dan ngambil secangkir teh yang mungkin sekarang udah anget dan nggak sepanas tadi.
"Manisnya pas seperti biasa," ucap pak Raga.
"Iya ini sesuai takaran yang dikasih mas Rian dan mas Rian dari mbak Erna!" aku nyeletuk.
"Uhuuuuuuuukkk?!!" pak Raga keselek air teh.
Aku taruh mangkok dan tepokin punggung pak Raga, "Minumnya pelan-pelan aja sih, Sayang....!" ucapku dengan nada agak gemes-gemes kesel ya.
"Uda, udah?!" pak Raga nyuruh aku udahan nepokin punggungnya.
Aku duduk lagi di samping pak Raga sambil ngeliatin bos ganteng yang lagi minum lagi.
"Kenapa liatin terus? baru nyadar ya kalau pacarnya ganteng?" pak Raga kali ini nggak nyentuh jambulnya, dia cuma naik turunin alis.
"Semua orang selama matanya nggak siwer juga tau kalau pak Raga itu ganteng, jadi itu nggak usah disebut terus kayaknya ya. Kecuali kopi asin misterius yang aku rasain waktu itu, nah itu perlu diusut. Padahal katanya mbak Erna itu bisa kok bedain mana gula mana garam?" aku melihat pak Raga dengan tatapan menyelidik.
"Ehm! ya, ya ya! aku akui itu garam yang
ditaruh dengan sengaja!" ucap pak Raga mengakui apa yang dilakukannya waktu itu.
"Saya itu kan perlu mengetes asisten baru, bener apa nggak lidahnya. Bisa ngerasain asin atau nggak! Dan kalau disuruh bikin kopi enak atau nggak, kan semua itu harus di tes, Rachel..." kata pak Raga lagi nggak masuk akal.
"Alasan!" aku bergumam.
Bukannya marah pak Raga malah senyum nggak jelas, dan malah ngelus pucuk kepalaku dan bilang, "Makan yang banyak biar nggak kekurangan gizi!" dia nyuruh aku buat lanjutin makan.
Aku masukin satu suapan demi suapan ke mulutku demi nggak masuk angin lagi. Setelah habis aku minta tolong OB buat ngambil mangkok kotor.
"Alhamdulillah," ucapku setelah meneguk air mineral dari botol kecil ukuran 300 ml yang aku bawa dari kosan dan aku masukin lagi ke dalam tas.
"Pak, saya mau nanya!"
"Pak pak lagi, dibilang manggilnya sayang juga!" pak Raga ngingetin.
"Huufh, ya maklumin aja lah, Pak. Saya kan belum terbiasa, jadi maklum aja kalau lupa-lupa dikit,"
"Kamu banyakan lupanya daripada ingetnya!" ucapan pak Raga ada benernya. Kalau udah debat kayak gini mending diem aja, karena nggak akan pernah menang.
__ADS_1
"Oh ya tadi kamu mau nanya apa?" tanya pak Raga.
"Oh itu ... kenapa aku sering diganggu makhluk halus ya? padahal rambutnya udah aku kembaliin sama yang punya," aku menatap wajah ganteng pak Raga.