Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Semalem, ada suara nenek itu lagi. Iya dia masih manggilin cucunya. Aku mencoba buat pura-pura nggak denger seperti apa yang pak Raga bilang.


Ya elah, ngucap dan inget nama Raga aja mendadak clekit-clekit banget nih hati. Apalagi ketemu orangnya ya?


Pagi ini Nay sengaja aku bawa ke kedai kopi. Nanti katanya mbak Gita nyusulin gitu, kali aja Nay udah selese ngambeknya.


Sebenernya kalau kosanku nggak ada demitnya, aku juga mau kalau Nay tinggal sama aku. Tapi berhubung keadaan lagi nggak kondusif, ya mau nggak mau dia aku balikin ke emaknya.


Coba aja tuh kosan kayak dulu, aman tentram walaupun nggak indah-indah amat bangunannya. Tapi cocoklah di kantong budak korporet kayak kita.


"Kita mau kemana, Tante?" tanya Nay di dalam taksi.


"Mau cari sarapan. Nay udah laper kan?"


"Hu'um, kalau di rumah Nay jam segini udah makan sama mama..."


"Enak nggak masakan Mama?" aku mancing.


Nay menggeleng, "Bukan enak aja! tapi Enak banget!"


Taksi yang kami tumpangi berhenti di sebuah kedai bubur ayam.


"Nay suka bubur ayam kan?" tanyaku mastiin.


"Sukaa..." ucap Nay.


Kita makan bubur ayam berdua, tapi pas kita makan kayak ada mobil item yang berhenti.


"Kayak kenal..." aku mencoba mengingat.


Dan nggak sengaja orang yang duduk di kursi kemudi itu buka kaca jendelanya.


"Mbak Enjel??" aku terperangah saat yang aku liat seseorang yang aku kenal.


Tapi baru aku mau mendekat, si penjual bubur ngasih mbak Enjel bungkusan bubur, setelah itu dia tutup jendela terus pergi.


"Penampilannya beda banget!" aku yang baru aja berdiri akhirnya duduk lagi.


"Sebenernya kamu itu siapa, Mbak?" gumamku, pikiranku melayang pada mbak Enjel yang tampil dengan rambut panjang yang tergerai dan dengan make up simple tapi cantik banget. Beda sama mbak Enjel yang waktu itu nganterin aku ke kosan, dengan setelan jas formalnya layaknya pengawal.


Aku kembali melanjutkan makanku dengan Nayla. Setelah selesai, aku telfon Almeer kalau aku mau otewe ke kedai kopi dan kebetulan banget si Almeer baru sampai di sana dan baru buka kedai juga.


Alhamdulillahnya jaraknya nggak begitu jauh dari tempatku makan tadi, tapi tetep aku kesananya pakai mobil, soalnya kan bareng sama Nayla.


Sesampainya di kedai kopi aku ketemu sama Almeer.


"Hai...?!" sapaku.


"Hai juga..." sahut Almeer, matanya melirik sekilas ke arah Nayla.

__ADS_1


"Ini keponakanku, Al. Namanya Nayla,"


"Oh, halo Nayla..." Almeer melambaikan tangannya pada Nay, dan disambut satu senyuman manis dari keponakanku itu.


"Gimana? bos udah dateng?"


"Udah. Mau langsung ketemu?" Almeer balik nanya.


"Iya. Tapi jujur aku nervous banget!"


"Santai aja kali. Bos kita orangnya baik kok," ucapan Almeer menenangkan aku yang lagi gundah gulana dan merana.


"Bener ya, awas kalau bohong?!!" aku ngancem.


"Beneran yaelaah!" Almeer ketawa kecil.


"Sini aku anterin?!" kata Almeer.


Aku ngikut di belakang Almeer, dia ngetok pintu dulu terus lapor sama bosnya dan baru mempersilakan aku buat ngadep sendiri.


Aku sengaja bawa Nay masuk, karena walaupun aku tau Almeer baik, tapi aku nggak akan ninggalin Nay bersama orang asing. Segitu sayangnya emang aku sama Nay. Pokoknya aku pasrah aja, diterima atau nggak. Karena balik lagi aku interview sambil bawa anak, anak dari kakakku.


"Baiklah, mulai besok kamu sudah boleh bekerja di kedai ini. Dan ada tambahan pekerjaan buat kamu, Rachel..." ucap pak Chandra.


"Apa itu, Pak?" aku nanya sopan.


"Oke siap, Pak...!" ucapku semangat.


"Hmm, oh ya pak Chandra. Ada yang ingin aya tanyakan. Apakah boleh saya membawa keponakan saya sewaktu bekerja? saya pastikan keponakan saya itu anteng dan nggak akan rewel?!" lanjutku.


Menunggu jawaban pak Chandra, hatiku deg-degan.


"Baiklah," ucap pak Chandra kemudian.


"Asalkan, tidak membuat gaduh!" lanjutnya.


"Iya, Pak. Pasti, saya jamin. Terima kasih banyak, Pak..." ucapku senang.


Setelah seleaai di interview sama pemilik kedai kopi ini, aku dan Naya pun keluar menemui Almeer.


"Gimana?"


"Aku diterima!" ucapku.


"Beneran? waaah, baguslah! selamat, ya..." kata Almeer.


"Mulai besok aku bisa kerja,"


Nggak lama Almeer dipanggil pak Chandra lewat telepon.

__ADS_1


"Kamu tunggu bentar ya? pak Chandra manggil aku. Nanti aku kesini lagi!" kata Chandra, aku ngangguk 'iya'.


Almeer masuk ke dalam ruangannya pak Chandra, dan nggak lama setelah itu dia mendatangiku yang lagi duduk sama Nay dengan membawa sesuatu.


"Chel ... ini seragam buat kamu. Ada tiga pasang, jadi bisa buat gonta ganti..." kata Almeer menyerahkan sebuah bungkusan. Dia duduk berhadapan denganku.


"Makasih, Al. Aku berhutang budi banyak sama kamu," ucapku pada Almeer.


Suasana kedai masih lumayan sepi, jadi kita bisa ngobrol-ngobrol bentar.


"Sama-sama. Oh ya, soal motor. Aku udah nanya sama temenku, katanya dia tertarik sama motor kamu," kata Almeer.


"Beneran, Al? ya ampuuun...! eh, beneraaan ini?" aku masih nggak percaya.


"Iyaaa..." sahut Almeer.


Otomatis senyum mengembang di wajahku. Iya lah, akhirnya masalah perduitanku bisa teratasi juga. Walaupun dengan kayak gini aku nggak punya kendaraan, tapi ya udahlah untuk sementara waktu asal bisa bertahan itu udah bagus.


Mbak Gita nggak jadi jemput Nayla, katanya ada sesuatu yang penting yang harus dia lakuin. Intinya aku harus jagain Nay aja biar jangan berinteraksi dengan makhluk ghoib yang ada di kosan. Karena kalau masih bocil kan suka masih sensitif ya dengan makhluk astral kayak gitu. Apalagi anak kecil, kita aja yang udah bangkotan kalau lagi apes bisa liat setan, iya kan?


Sekitar jam 11 an dari kedai aku mampir ke sebuah toko mas. Bukan buat beli tapi buat ngejual satu cincin yang dulu aku beli pakai gaji pertamaku.


"Ditunggu sebentar ya, Kak..." ucap salah satu pelayan.


"Tunggu bentar ya, Sayang?" ucapku pada Nay yang sekarang aku gendong. Kecapean kayaknya nih bocah, ya iyalah orang dia baru pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu tapi udah aku ajak ngider.


"Abis ini kita beli makan terusnkita pulang, oke?" ucapku pada Nay.


"Iya, Tante..." jawabnya dengan nyenderin kepalanya di bahuku.


"Maaf, Kak. Ini jadinya satu juta dua ratus ya," kata pelayan itu.


"Iya mbak..." jawabku.


"Makasih ya?" lanjutku.


Aku terima duit itu, tapi lagi masukin duit ke dalam dompet, aku ngerasa kalau ada orang yang mengawasiku.


"Gawat, apa jangan-jangan ada jambret yang udah ngincer aku?" gumamku dalam hati.


Aku segera pesen mobil buat ke kosan. Lagian Nayla kayaknya udah ngantuk, soal makanan ntar aku order pakai aplikasi pesan antar makanan aja.


"Dengan mbak Rachel?" ucap driver taksi.


"Iya, betul?!" aku segera naik.


Brukkkkk!


"Jalan, Pakkkk?!!" lanjutku setelah menutup pintu mobil.

__ADS_1


__ADS_2