
Almeer kesini dianter temennya. Dia kasih aku duit segepok. Rasanya bercampur aduk. Antara seneng karena permasalahanku masalah finansial selesai, tapi aku juga berat ngelepas Cendolku yang udah melanglang buana nemenin aku cari mencari rezeki selama ini.
Aku elus spion motorku, "Kalau berjodoh kita bakal bertemu lagi ya, Ndol. Kamu jangan lupakan aku!" batinku.
Hanya helmku yang aku pegang, helm kesayangan.
"Aku bawa ya motornya? mau aku isi dulu anginnya," kata Almeer.
"Al..."
"Ya?" Almeer menautkan alisnya.
"Makasih ya?"
Almeer tersenyum, "Santai aja..."
"Pulang kerja, aku traktir nasi goreng kambing!"
"Wohoooi! tau aja aku lagi pengen nasi goreng kambing! jangan-jangan kita berjodoh?" ucap Almeer.
"Berjodoh dalam hal selera makanan," sambungnya lagi.
"Ya udah, aku bawa motornya ya? sampai ketemu di kedai..." ucap Almeer, kemudian dia mendorong motorku.
Aku liatin Almeer sampai pria itu nggak keliatan lagi.
"Aku nggak mau mendahului takdir, Al..." batinku menanggapi ucapan Almeer barusan.
Aku segera masuk, takut ada yang liat aku bawa duit gepokan. Ya bukannya suudzon tapi kita harus waspada apalagi jaman krisis kayak gini. Semua barang pada mahal semua. Bawa uang seratus ribu ke minimarket aja cepet banget ludesnya. Ya ampun, kalau bahas duit samle 100 tahun ke depan juga nggak bakal ada abisnya. Jadi lebih baik sekarang aku siap-siap buat berangkat, karena apaaa? Karena aku harus ngojeg.
Duit lagi duit lagi. Ya duitnya aku simpen di tempat yang aman. Aku bawa separuh buat aku masukin ke rekening lewat setoran tunai di ATM.
Itu ntar aja aku minta anterin Almeer, jangan sampe ada orang lain tau kalau kita bawa duit dalam jumlah banyak, bisa gaswat.
Aku tadi sempet mampir di minimarket dan beli dua sandwhich buat aku dan Almeer. Nggak ketinggalan susu stroberi supaya tambah kenyang.
"Eeh, Mas Wahyu? kok tumben shift pagi?" kataku yang udah rapi dengan seragam.
Mas Wahyu udah stand by di depan mesin penghitung.
"Nggak apa-apa, cuma ada acara sore ini jadi aku tukeran sama Fatir. Ck, bawa apa tuh?" tanya mas Wahyu.
"Oh, ini. Sandwhich buat---"
"Buat siapa?"
"Buat aku sama----"
"Almeer?" tebak mas Wahyu.
Aku cuma nyengir aja.
"Sudah aku duga kalau kalian itu cocok!" ucap mas Wahyu.
"Iya, cocok jadi temen. Aku juga sama Fatir juga cocok jadi temen, sama semua pekerja disini aku cocok jadi temen," aku tetep pasang senyum, aku nggak mau mas Wahyu berpikiran lain.
__ADS_1
"Ck, nggak usah menutupi kali, Chel..."
"Nggak, Mas. Kita cuma---" ucapanku diserobot oleh seseorang.
"Cuma apa, Chel?" tanya Almeer yang tiba-tiba aja datang dan bergabung dengan kami.
"Nggak, nggak apa-apa..."
"Tinggal dulu yah? jagain nih mesin biar nggak geser sendiri," ucap mas Wahyu, sambil alisnya naik turun.
"Nggak jelas banget tuh orang," batinku ngeliatin mas Wahyu yang kemudian hilang dibalik pintu yang terhubung ke dapur.
Setelah mas Wahyu nggak ada, aku beraniin buat nanya, "Kamu udah sarapan?"
Almeer menggeleng, dia menatapku.
"Ehm, mau sandwhich?" aku menawarkan satu sandwhich pada Almeer.
Dia mengangguk, dia masih ngeliat aku.
"Kita makan dulu, lagian ini belum jam buka..." ucap Almeer.
Dia ngelongok ke dapur, nyari mas Wahyu.
"Mas! nitiiiip! aku mau sarapan dulu 10 menit!" seru Almeer.
Aku dan Almeer duduk di ruang ganti.
Kita duduk di kursi yang ada disitu.
"Aku nggak tau kamu suka atau nggak---"
"Aku suka kok, kebetulan dari rumah aku belum makan," ucap Almeer.
Aku senyum dan kasih dia makanan yang aku beli.
"Nanti sore jadi?" tanya Almeer.
"Jadilah, kan aku udah bikang mau traktir kamu! itung-itung sebagai rasa terima kasih aku, karena udah dibantuin jual motor. Atau kamu ada pilihan lain, misalnya pengen makan apaa gitu selain nasi goreng kambing, juga nggak apa-apa. Ngomong aja, kalau aku bisa makan apa aja selagi makanan halal," kataku, dengan mulut tersumpal roti.
"Disitu aja udah, kamu cocok dan aku cocok. Kita sama-sama cocok," kata Almeer.
"Oke deal ya? jangan nyesel!" ucapku.
Almeer cuma ketawa.
Harinini kedai lumayan rame seperti hari kemarin. Tapi sewaktu aku lagi belajar menghias kopi, tiba-tiba terdengar satu suara yang sangat familiar.
"Double shot Americano satu dan red velvet cake," ucap orang itu.
Aku mendongak, "Pak Ragaaa?" nggak lupa pasang wajah terkejuut, biar lebih dramatis. Bibir bergetar hidung kembang kempis.
"Upsss! sorry, sorry, Al..." aku nggak sengaja numpahin kopi yang ada di cangkir ke meja counter, dan Almeer nggak sengaja kena.
"Nggak apa-apa," Almeer bantuin ngelapin meja sedangkan aku nunduk, nggak mau ngeliat pak Raga.
__ADS_1
"Ada pesanan lain, Tuan?" tanya mas Wahyu.
"Tidak ada,"
"Pakai ini!" lanjutnya, sekilas aku liat pak Raga nyodorin kartunya.
Aku yakin mata elangnya itu lagi ngelirik aku, soalnya Almeer tau-tau nanya gini.
"Kamu kenal sama orang itu?" Almeer ngomong liriiiiih banget. Tapinkarena kita kupingnya tajem, jadi aku bisa nangkep tuh apa yang diucapin sama Almeer tadi. Aku cuma nyengir aja, tampa ngejawab.
"Ini kartunya, Tuan..."
"Hem," pak Raga jawab cuma pakai deheman.
"Pesanan anda akan segera diantar," ucap mas Wahyu. Tapi kali ini pak Raga ngeloyor pergi aja ke salah satu meja yang masih kosong.
"Almeer, double shot Americano!" seru mas Wahyu.
"Yup!" sahut Almeer. Dia cuci tangan dulu sebelum bikin pesanannya pak Raga.
Sedangkan hatiku udah nggak usah ditanya lagi.
Aku jelas syok dan cenat-cenut disaat yang bersamaan.
"Iishhh, ngapain nih orang kesini?" aku mencuri pandang ke pak Raga dan saat dia ngelirik kesini aku langsung nunduk. Pura-pura ngitungin biji kopi di toples.
"Chel, Racheeel!" panggil Almeer.
"Ya...?"
"Anterin, nih!" Almeer nyodorin nampan berisi kopi dan red velvet cake.
"Kamu aja sih," ucapku sambil curi-curi pandang lagi ke mantan bos. Dan aku langsung buang muka lagi saat mata dia ngarah ke aku.
"Masih adalagi yang harus dibikin, apa kamu yang mau bikin kopinya?" tanya Almeer.
"Kalau kayak gitu ya nggak apa-apa suh, aku anterin ini ke meja 8," lanjut Almeer.
"Ya udah ya udah, sini aku anterin," ucapku, ngambil nampan dari tangan Almeer.
Deg!
Deg!
Deg!
Itu bunyi jantungku saat ini. Aku menjaga langkah dan tanganku supaya nggak gemeteran.
"Silakan, Tuan..." ucapku yang naruh pesenannya dibatas meja.
Pas aku lagi nunduk, dia sengaja berbisik.
"Jangan coba-coba membelah hatimu buat yang lain, mataku selalu mengawasimu! ingat itu!" ucap pak Raga.
Aku yang mendengarnya lantas menegakkan badan dan melihat pak Raga dengan tatapan heran.
__ADS_1