
Gerimis sore ini seakan menemani hatiku yang nelangsa. Aku tuh ngerasa takdir mempermainkan aku yang lemah dan tak berdaya.
Gimana nggak? giliran aku suka sama mas Liam, eh kita nggak bisa bersatu. Banyak banget halangannya, mulai dari beda dunia sampai akhirnya dia bisa kembali dan lupa semuanya. Dia sama sekali nggak ngenalin siapa aku, dan apalagi perasaan yang pernah dianutarain sama aku. The real nge-ghosting banget nggak sih?
Sampai akhirnya aku dpaksa jadi pacar pura-pura pak Raga, dan perasaan itu beneran hadir saat kebohongan kita tiba-tiba terbongkar.
Temen sendiri menghianati dan giliran ounya temen baru dan udah mulai nyaman dengan circle pertemanan kita, eh dia punya rahasia yang bikin kepala cenat-cenut.
"Racheeeel! mau dilap sampai berapa kali? dielus mulu mejanya?" suara Fatir ngebuyarin aku yang lagi duduk ngelamun sambil bersihin meja.
"Kenapa?" Fatir narik satu meja dan duduk.
"Tumben sepi ya?"
"Ya iyalah, cewek-ewek yang dateng kesini kan rata-rata mau cuci mata ngeliatin Almeer!"
"Iya juga ya! kemana tuh bocah, nggak biasanya dia main libur mendadak kayak gini!" ucap Fatir yang ikutan ngeliatin suasana luar jendela.
"Kayaknya Fatir belum tau siapa Almeer sebenernya," batinku.
"Sakit apa gimana sih dia, Chel? untung aja lagi nggak banyak pengunjung, kalau nggak kita bakal kewalahan banget!" Fatir natap aku yang juga duduk di depannya.
"Aku nggak tau, Tir! emang dia nggak bilang sama kamu?"
"Dia cuma telpon kalau dia nggak bisa berangkat," ucap Fatir.
Aku kembali memandang suasana sore menjelang malam di balik jendela tembus pandang.
Seperti yang aku bilang tadi, hari ini pengunjung nggak banyak, sampai akhirnya jam pulang pun tiba...
"Loh, ini kan motornya Almeer? kok ada disini," Fatir celingukan nyari si pemilik motor.
Tapi aku dengan cueknya naik, dan nyalain mesin.
"Loh kok motornya Almeer kamu yang bawa?" Fatir nunjuk motor kemudian beralih nunjuk aku.
"Katanya nggak tau, nah ini motornya ada sama kamu. Gimana sih kamu, Chel?" Fatir ngomong udah nggak beraturan saking kedernya.
"Ya tadi pagi emang sama aku, terus dia pergi...."
"Kemana?" tanya Fatir.
"Nggak tau,"
"Loh kok nggak tau?" Fatir tambah puyeng.
"Aku nggak tau beneran," ucapku, sekilas datang bayangan Almeer di pikiranku.
"Ya udahlah! aku duluan, kamu hati-hati, udah malem..." ucap Fatir.
__ADS_1
Aku pun mulai membelah jalan raya, dan kebetulan aku lewat di warung tenda nasi goreng kambing yang terakhir aku makan sama Almeer.
"Aku masih hutang janji sama kamu, Al..." ucapku yang membuka kaca helm ku sedikit. Dan aku melewatinya begitu aja.
Yang aku tau, sosok Almeer itu ya laki-laki yang baik, lembut. Tapi kenapa dia menyembunyikan soal jati dirinya. Lagi fokus nyetir, tiba-tiba hapeku bunyi. Tapi sekarang di tengah ujan begini susah juga mau angkat, yang ada hapeku konslet kena air hujan.
"Nanti aku liatnya pas udah sampai kosan aja lah!" batinku.
Hujan makin lama makin deres.
Sepatuku otomatis basah, bahkan kulitku mungkin jadi keriput kelamaan kena air.
Hampir jam 11 malam, aku sampai di kosan. Aku langsung naik aja ke atas. Udah nggak mikirin masih ada setannya apa nggak, pokoknya lurus aja jalan dan masuk ke dalam kamar.
Walaupun pakai jas hujan nyatanya bajuku tetep basah. Setelah memberaihkan badan, aku mau bikin teh panas.
"Lupa, ini kan udah konslet!" aku taruh lagi heaterku.
Dengan perut kosong, aku mencoba untuk tidur. Tapi nyatanya baru aku mau ngeliyep ada satu panggilan telepon di hapeku yang bikin aku kebangun lagi.
"Kamu dimana?" suara pak Raga.
"Di kosan,"
"Syukurlah, aku kira kamu kemana..." ucap pak Raga.
"Bukannya hari ini kamu ke rumah sakit? kamu ketemu sama Eyang disana?" tanya pak Raga.
"Apa sih yang nggak aku tau?" ucapnya narsis.
Nguuuuuunggggg!
Bukan tawon ya.
Itu suara mobil, dan aku yakin itu mobilnya pak Raga.
"Saya di bawah!"
"Iya, tau!" ucapku.
Aku segera turun ke bawah, dengan memakai sweater. Nggak perlu pakai payung, aku tinggal melipir aja supaya nggak kena hujan.
Braaak!
Aku segera masuk ke dalam mobil pak Raga.
"Ada apa?" aku nengok ke arah pak Raga, dan ku usap kepalaku yang kena tetesan air hujan.
"Saya sudah dapat siapa pelakunya!"
__ADS_1
"Telat!" serobotku.
"Saya udah tau duluan soal itu!" lanjutku, aku tersenyum sekilas.
"Bagaimana bisa?" pak Raga sampai memutar sedikit badannya biar ngeliat aku lebih jelas.
"Bisa lah! bukannya pak Raga Mahendra selalu tau segalanya?" ucapku disertai rasa getir.
"Ya, tentu! saya selalu tau, tapi mungkin saat itu, saya sedang---"
"Lengah!" aku nyerobot lagi.
Pak Raga ketawa, "Hahaha, ya ya ya, kali ini kamu bener!" dibalik tawanya aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Ya, pak Raga yang ada di hadapanku bukan pak Raga yang datang dengan segala tingkah menyebalkan dan keanehannya. Malam ini dia seperti orang pada umumnya. Bahkan terlalu normal untuk seorang Raga Mahendra.
Kita berdua ngeliat ke depan. Ngeliatin kaca yang semakin buram karena diguyur hujan.
Tangannya yang hangat menyentuh puncak kepalaku, lalu aku menoleh.
"Jangan cepat menyerah!" ucapnya.
"Saya yang salah, saya akan mencoba membujuk Eyang. Saya yakin Eyang akan menerima permintaan maaf cucu nya yang sangat dia sayang," ucap pak Raga.
Aku mengangguk dalam hati, "Jangan nangis Rachel jangan nangis!"
Aku udah lama banget nggak ngerasain diusap kepalanya kayak gini. Usapan yang penuh kehangatan.
Pak Raga mendorong kepalaku buat bersandar bahunya dan sesekali dia mengusap lenganku dari samping.
"Awalnya saya pikir, saya menawarkan posisi asisten dan pacar pura-pura buat kamu, hanya sekedar ingin menghindari dari pertanyaan 'kapan nikah' selain karena saya yang jadi penasaran karena ongkos ojek dadakan yang kamu tolak waktu itu," ucapnya.
Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke arahnya.
"Dan saya ternyata saya sendiri yang malah terjebak dengan semua permainan ini. Tapi kamu tenang aja, saya akan membuatnya jelas buat kita," pak Raga membalas menatapku.
"Satu hal yang baru aku tau, ternyata kita tidak boleh main-main dengan perasaan. Karena tanpa disadari perasaan itu yang akan berbalik mempermainkan kita," ucap pak Raga.
Aku nggak nyangka kalau pak Raga bakal ngomong kayak gitu. Perlahan tangannya menyentuh pipiku. Dia menyatukan keningnya dengan ku.
"Kamu sudah terikat janji denganku, dan kamu nggak bisa mengingkari itu," ucap pak Raga dengan suara yang berat
Aku menggeleng, "Anda tau, Pak. Kalau jalan yang anda pilih saat ini bukan sesuatu yang mudah,"
"Aku bisa!" jawab pak Raga.
"Anda terlaku percaya diri, Pak..." ucapku.
Namun tanpa aba-aba, dia menciumku. Aku hanya bisa diam. Namun beberapa saat, otakku kembali pada fungsinya.
__ADS_1
"Dia mencurinya!" batinku, lalu aku mendorong pak Raga.