
Sampai di luar, Almeer menatapku heran.
"Kamu kenapa, Chel? Kok nangis? kejatuhan motor apa gimana?" Almeer liat aku dari ujung kepala ke ujung kaki, dia liat kali aja aku ada yang luka.
"Nggak kok. Aku nggak kenapa-napa," aku dorong standar motor. Jadi Cendol bisa berdiri sendiri.
"Ini motor kamu?" tanya Almeer.
"Ya masa aku diring motor penghuni lain? ya ini motorku lah," ucapku sambil sesenggukan.
"Ya kan aku cuma nanya, Chel..." ucap Almeer, yang kemudian pandangannya beralih pada motorku. Dia ngecek semuanya.
"Cuma bannya aja yang kempes, mungkin karena jarang aku pakai!" ucapku sebelum Almeer nanya.
"Gampang itu, mah. Kayaknya di depan ada tukang tambal ban. Nanti bisa aku dorong kesana buat nambah anginnya!" kata Almeer.
"Jadi gimana?"
"Bodynya sih oke banget. Cat nya masih bagus," ucap Almeer.
"Kalau temenku udah oke, nanti kabarin kamu lagi," lanjutnya.
"Ya udah kalau gitu, aku masukin lagi motornya ke dalem," ucapku.
"Aku bantu,"
"Nggak usah, inu kosan cewek. Ntar kamu digebukin masal kalau masuk ke dalem," ucapku, padahal mah nggak selebay itu. Orang pak Raga juga sempet parkir mobilnya di dalem.
"Oh ya udah kalau gitu. Udah mau maghrib. Aku pulang ya?" ucap Almeer.
"Hati-hati ya?" aku dadah-dadah ke Almeer.
Dan waktu Almeer pergi dengan motornya, eh si Mirna ratunya para tawon dateng naik ojeg.
"Adeeuh yang turun level," ucap Mirna yang kasih ongkos ke kang ojegnya.
Aku tau ucapannya nyindir ke aku, tapi aku nggak ngerewes. Aku mau dorong motorku lagi masuk ke dalem. Tapi nih perempuan malah berdiri di tengah-tengah gerbang, sengaja banget.
"Minggir, nggak?" aku natap Mirna nggak suka.
"Ih, lewat lewat aja siiih!" ucap Mirna bak patung selamat datang.
"Kalau aku serudug, jangan njerit kamu yah! kamu yang rese duluan soalnya!" aku ngancem.
"Iiihhhh, atuuut hahahhaah," perempuan itu ketawa ngeledek, dia masuk ke dalem. Sedangkan aku kesel banget liat nih perempuan nggak ada akhlak.
__ADS_1
"Awas aja, kalau motor ini udah laku. Aku bakalan pindah dari sini, huh!" aku buang napas kesel.
Dan waktu aku parkirin motor, mataku nangkep sesuatu yang aneh.
"Batok kelapa?" aku ngeliat ada batok kelapa deket tempat motorku diparkirin.
Aku karena posisinya deket banget sama motorku yang emang jarang banget di pakai akhir-akhir ini.
Batok itu aku ambil lalu aku foto, selain berisi bunga yabg udah kering, di dalemnya ada tulisan gitu. Tapi aku nggak paham karena tulisannya kecil-kecil.
Aku ambil batok itu dan rencananya aku mau kasihin ke mas Riski, penjaga kosan ini.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mas, Mas Riskiii..." aku panggil dari luar.
"Masss, mas Riskiiii..." aku panggil sambil ngetokin pintu.
"Ck, kemana nih orang? mana mau gelap lagi," gumamku.
"Maasss, Mas Riskii. Assalamualaikum," qku gedor lagi pintu kamarnya penjaga kosan ini.
Tiba-tiba pintu kamar mas Riski dibuka.
"Ada apa, Mbak?" tanya mas Riski.
"Ini aku nemuin ini di parkiran motor," aku serahin batok kelapa.
"Ini apa, Mbak?"
"Saya juga nggak tau. Saya cuma nemu aja disitu tuh," aku nunjukin tempat motorku berada.
"Kayak mencurigakan ya, Mbak..." ucap mas Riski.
"Kita laporin aja ke ibu Kos, Mbak. Saya takut kalau ada apa-apa nanti saya yang disalahin,"
Ya udah, akhirnya kita ketok rumahnya ibu kos. Padahal.ini udah adzan magjrib dan nggak sopan banget buat bertamu.
"Ada apa, Ki?" tanya pak Hardi, yang punya kosan. Sedangkan bu Retno masih di dalem.
"Ini, Pak. Ada benda aneh di kosan," ucap mas Riski.
__ADS_1
"Masuk, masuk dulu. Nggak baik ngobrol di luar," pak Hardi nyuruh kita masuk.
"Kalian duduk dulu, biar saya panggil istri saya," suruh pak Hardi.
Kita burut aja duduk di ruang tamu. Sedangkan aku lagi-lagi apees ketemu beginian. Padahal niatnya cuma ngasih tau mas Riski, eh malah orangnya nyuruh aku ikutan ngadep ibu kos.
"Ada apa, Ki?" tanya bu Retno setelah keluar sendirian tanpa pak Hardi.
"Ini, Bu. Mbak Rachel nemu batok kayak gini di parkiran motor, cuma anehnya di dalem batok ini kayak ada tulisan sama bunga yang udah kering," jelas mas Riski yang ngasih batok kelapa itu.
"Astaghfirullah. Kenapa ada barang kayak gini?" ucap bu Retno.
"Emang kenapa, Bu?" tanyaku nggak mudeng.
"Ini, lohh Chel. Di dalem ini ibu curiga ada mantranya. Taruh di luar aja, Ki. Nanti ibu tanya pak ustadz dulu, harus diapakan barang kayak gitu," bu Retno nyerahin batok kelapa ke mas Riski.
"Apa mungkin ini ada hubungannya sama kosan yang akhir-akhir ini banyak makhluk halusnya, Bu?" tanyaku tiba-tiba.
"Makhluk halus gimana?"
"Ya, jadi di kosan saya sering lihat penampakan, Bu. kalau malam juga sering ada gangguan..." ucapku.
"Jangan-jangan orang yang nempatin kamar depan pohon rambutan yang di lantai atas, pindah gara-gara penampakan itu, ya?" bu Retno liat ke mas Riski.
"Saya nggak tau, Bu..."
"Bukannya kamar itu emang kosong ya, Bu?" aku menanggapi ucapan bu Retno.
"Ada, tapi cuma 3 hari. Abis itu dia bilang mau pindah, padahal dia bayar buat sebulan loh. Tapi ya nggak tau kenapa pindahnya, ibu kira karena posisi kamarnya yang dipojok. Tapi kalau masalah posisi kamar kan harusnya kalau dia nggak sreg, dari awal harusnya dia nggak usah jadi ambil kamar itu," ucap bu Retno.
"Ya sudah, kalau begit saya pamit ya, Bu..." ucapku.
"Saya juga mau pamit, belum sholat maghrib, Bu..." ucap mas Riski.
"Terima kasih infonya ya," kata bu Retno.
"Batoknya taruh di luar aja, Ki!" suruh bu Retno.
"Iya, Bu..." jawab mas Riski.
Akhirnya setelah dari rumah bu Kos aku kembali naik ke atas, ke kamarku sedangkan mas Riski balik lagi ke kamarnya yang di bawah dekat gerbang.
Tapi baru juga nyampe di depan kamar dan buka pintu, aku denger suara mobilnya pak Raga.
"Kenapa aku sering banget denger suara mobilnya pak Raga, sih?" aku gelengin kepala.
__ADS_1
"Pasti aku salah denger lagi nih. Nggak mungkin pak Raga kesini, buat apa coba? Ck, aku harus mandi terus sholat, biar nggak kebanyakan ngehalu!" ucapku yang nutup pintu kamar dan melenggang ke kamar mandi.