Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Kadung Ditumbalin


__ADS_3

Pak Raga yang udah kadung ditumbalin pun berjalan dengan gagahnya. Dia nggak bisa balik kanan, soalnya pintu udah aku tutup.


🎶🎶Ditengah malam yang sunyi iniii aku sendiri, tiada yang menemaniiiii🎶🎶🎶🎶


Menjadi backsound pengiring langkah pak Raga dengan suara setengah fals ke kanan dan seperempat fals ke kiri.


"Emang kurang ajar si Rachel," mungkin dalam hati pak Raga ngedumel kayak gitu.


Tapi biarkan saja, sekali-kali harus dikerjain kayak gini. Sekalian ngetes seberapa serius dia menyatukan dua kasta yang berbeda.


Satu yang maju, bertiga yang ngintip. Mana pak Haris mukanya sangar tapi kayak orang kebingungan.


"Minggir, Cheeel? ibu mau lihat!" bu Retno ndorong aku ke samping.


Aku geser bu Retno lagi, "Shhh, nggak keliatan!" aku ngeluh karena posisinya nggak begitu jelas.


"Ibu mau liat suami Ibu, awas dulu, Cheeeel..." ucap bu Retno geser aku lagi.


"Aiiishhh, nggak bisa nih kalau kayak gini!" ucapku dalam hati


Aku tuh ngintip bukan tanpa alasan, tapi karena aku juga kan harus liat moment yang tepat, buat ngasih kode mas Riski buat keluar nyari pertolongan pun berebut pintu sama bu Retno.


Dan kita pun saling dorong karena masing-masing sangat penasaran apa.yang terjadi di luar sana.


Dan braaaaaakkkk!


Pintu kebuka karena kita saling dorong. Aku dan bu Retno nyungsruk ke depan.


"Ya ampun, Rachel. Harusnya kamu nggak ngedorong ibu,"


"Saya nggak ngedorong, Bu!" ucapku nggak mau disalahin.


Aku segera berdiri dan tepokin tangan yang kotor.


Tampa kita sadari, ternyata Pak Hardi lagi tatap-tatapan sama pak Raga. Dan kayaknya nggak peduli kalau daritdi kita rebutan ngintip.


"Mas Riski, cepet cari bantuan!" aku setengah berbiaik, soalnya nih mas Riski malah keasikan nontonin orang persiapan gelut.


Pak Raga bergerak pelan, membentuk setengah lingkaran. Dan pak Hardi juga bergerak berlawanan arah dengan pak Raga. Matanya nampak melihat kesana-kemari. Nggak fokus sama sekali.

__ADS_1


Sedangkan aku mencoba mendekat, tapi dilarang sama bu Retno.


"Disini saja, kita nggak akan tau apa yang akan dilakukan suami saya. Dia lagi terkena pengaruh buruk!" ucap bu Retno.


Aku menganggu sambil benerin kacamataku, "Iya, Bu..."


Ada benernya juga bu Retno. Kalau aku semakin dekat, kali aja aku kena pukul sapu atau lebih parah lagi bisa kena tonjok, kan atiiit.


Orang yang beberapa saat laku mengucapkan lamarannya, menengok ke arahku. Dengan pandangan sok cool.


Pak Raga mengusap ujung hidungnya dengan ibu jarinya, lalu dengan tenang dia menjulurkan tangan kanannya, lalu menggerakkan keempat jarinya maju mundur.


Gayanya kayak pendekar yang abis keluar dari persembunyiannya.


"Aaarrrrwww!" suara geraman dari mulut pak Raga, diiringin tatapan tajam mengintimidasi.


Seketika pak Raga terlihat keren.


Awas aja, kalau sampai jurus yang dia keluarin nggak sesuai ekspektasi kita para penonton, aku lemparin telor busuk nanti.


Mataku nggak bisa beralih dari sosok pria dengan bahu yang lebar dan badan yang tegap itu.


Angin malam berhembus, membuat rambut pak Raga bergoyang sedikit


"Pacar kamu itu nggak akan nonjok suami saya kan?" ucap bu Retno buyarin konsentrasiku.


"Tergantung keadaaan, Bu! paling ringan masuk angin, paling berat mungkin kena gebug!" ucapku ngasal.


Bu Retno nengok ke arahku.


"Ya kan pak Hardi sedang dalam pengaruh buruk, bisa aja kan pacar saya yang malah terluka karena dapet serangan dari suami ibu?" ucapku membela pak Raga.


Kembali dengan sosok piria yang mengayunkan kedua tangannya ke atas dengan gerakan memutar, dan kakinya pasang kuda-kuda.


Mereka bergerak, pak Raga bergerak ke kanan sedanglan pak Hardi bergerak ke kiri.


"Wuuaaaachhiiiaaaawwww!" pak Raga gerakin kepalanya cepat.


"Ini dia mau tinju apa mau wushu sih?" gumamku.

__ADS_1


Dan tanpa aba-aba, pak Raga koprol ke belakang. Dan 'hap' dia kembali lagi napak di tanah, dengan auman seperti macan, "Aaaerrrrghhhh


Kaki jenjang pak Raga tiba-tiba melayang keudara dengan gerakan memutar dan menendang, sementara pak Hardi yang melihat itu menjauh dan mengeluarkan suara, "Uuuu aaaa uuuu aaa!" sambil tangan garuk kepala dan satu tangannya melengkung di belakang badannya, persis kaya onyet.


Dia lari ke arah pohon rambutan dan naik sampai ke atas. Kita yang ngeliat cuma melongo.


"Lah lah lah, pak Hardi kesurupan siluman onyet apa gimana, Bu?!" ucapku pada bu Retno.


Kita berdua yang daritadi anteng, nonton. Sekarang berlari menghampiri pak Hardi yang udah nangkring di pohon rambutan.


"Paaaak, turun, Paaaaaakkk?" seru bu Retno.


Sedangkan pak Raga sekarang berdiri sewajarnya sembari benerin jambulnya, "Jambulku doyong kena angin, kan!" ucapnya.


"Ini bukan saatnya mikirn jambul, Paaak! ini waktunya mikirin gimana caranya supaya pak Hardi mau turun dari pohon itu!" ucapku.


Dan setelah bu Retno tereakan dari bawa pohon rambutan. Baru tuh penghuni yang lain pada intip-intip, dan ada juga yang keluar. Berasa kayak ada tontonan dangdut gitu. Nggak ada akhlak emang!


"Astagaaaaaa, Riski kemanaaa? manggil orang aja lamanya bisa satu abad!" keluh bu Retno.


"Pak turun, Paaaak!" seru bu Retno.


Sedangkan penghuni yang lain cuma ndowoh, alias melongo, nontonin orang lagi ningkring di dahan pohon, tanpa melakukan sesuatu kayak aku ini, eh!


Nolongin juga gimana? Orang kita semua ciwik-ciwik, yang takut digaruk atau disambit pake sapu lidi yang dipegang pak Hardi.


Satu-satunya cowok ya pak Raga.


"Tolongin lah, Pak! Bapak bisa manjat kan?"


"Tergantung manjat apa dulu!" jawab pa Raga ambigu.


"Ya manjat pohon lah, Paaaaak..." Ucapku gemes.


"Nggak mau nggak mau! tadi kan saya udah saya nurutin kamu buat ngelawan itu orang! Dia manjat-manjat sendiri, kenapa saya juga yang harus repot?" sahut pak Raga dia berkacak pinggang. Mungkin rematiknya kumat.


Kreeekkk!


"Eehhhhh, eeeeehhh! paaaaak" bu Reno kaget, dia menjulurkan kedua tangannya saat mendengar bunyi dahan yang mau patah.

__ADS_1


Mendengar hal itu pak Raga mengeluarkan hapenya, "Halo pemadam kebakaran!" ucapnya saat panggilannya terhubung.


__ADS_2