
"Permisi, Tuan..." ucapku canggung, pura-pura nggak kenal.
"Ingat Rachel kedua mataku selalu mengawasimu!" ucap pak Raga.
"Cih, mengawasi. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, Paaak!" batinku. Jujurly, aku kesel banget ama nih orang.
"Apa?" pak Raga melihatku dengan menaikkan alisnya.
"Bersikaplah secara wajar, jangan melihatku dengan tatapan menggoda seperti itu!" ucap pak Raga.
"Nggak bisa dipercaya! emang gendengnya udah permanen, nggak bisa ketolong," batinku.
"Apa? sana sana kerja lagi!" pak Raga ngibasin tangannya.
"Kak Ragaaaaa...!" panggil seorang wanita.
Aku menengok, dan ternyata...
Sosok itu mbak Enjel. Dia udah nggak pakai seragam khas pengawal.
Dia mendekat dan aku pergi dari hadapan mereka. Mereka yang hidup dalam kepura-puraan.
"Aku nggak nyangka kakak sering kesini juga!" ucapnya, sedangkan kaki ku melangkah menuju counter.
"Enjel, jangan panggil saya seperti itu!"
"Emang kenapa? aku kan sekarang lagi libur, jadi aku bebas dong manggil apa? hem?" ucap mbak Enjel yang 180 derajat beda baget.
Sedangkan diantara mereka ada hati yang terbeset-beset, perih.
"Kau pikir hatiku ini kayak lirik lagu? Jika kamu suka kamu like, jika tidak suka kamu swipe?" aku lirih, sambil kembali melanjutkan kerjaanku ngambil trolley, buat ngambilin meja udah penuh sama cangkir yang kosong.
Sedangkan kupingku ini nggak tau diri, bisa banget ngedenger obrolan pak Raga sama mbak Enjel.
"Kamu kenapa sih, Kak?ada yang lagi ditunggu?" tanya mbak enjel.
"Saya cuma risih kamu duduk disini!" sahut pak Raga.
Aku yang lagi mindahin gelas sama cangkir disamperin sama Almeer.
"Kamu tinggal ngelap aja, aku yang akan beresin gelas yang kotor sekalian aku cuci ke belakang," ucap Almeer.
"Biar aku aja, ini udah tugasku kan? nanti kalau pak Chandra liat---"
"Nggak bakal. Ini kan kerjasama team. Saat satunya lagi repot yang lain wajib bantuin," serobot Almeer. Dia ngambil trolley dan mulai mendorongnya mengambil gelas atau piring yang kosong.
__ADS_1
Aku bilang 'makasih' tanpa bersuara, saat dia nengok ke arahku yang lagi ngelapin meja. Setelah selesai aku mulai merambah meja yang lain. Dan saat aku mau balik ke counter, aku nggak sengaja pak Raga minum kopi, tapi matanya seakan menghujam ke arahku.
"Kenapa juga dia menatapku dengan tatapan kayak gitu? aneh!" aku cuekin aja dan masuk ke dalam bantuin Almeer nyuci.
"Emang kalau jam segini banyak pengunjung ya, Al?" tanyaku yang ikut cuci tangan dan mau bantuin nyupir, nyuci piring.
"Iya, emang lagi rame banget. Makanya kalau kurang satu aja personil, kita kelabakan. Macam ikan kurang air gitu lah," kata Almeer.
"Udah aku aja yang cuci. Nanti kalau ada yang pesen kopi, terus aku yang bikin malah jadi aneh rasanya. Aku belum begitu hafal perbandingannya," aku nyari alasan.
"Makanya, nanti aku ajarin lagi. Sampai kamu hafal dan handal dalam hal menyeduh kopi,"
"Almeerr, udahan dulu pacarannya. Ini ada pesanan lagi!" ucap mas Wahyu memotong perbincangan kami.
"Siapa juga yang pacaran. Mas Wahyu nih jangan suka bikin gosip!" aku menjelaskan.
"Aku kesana dulu," ucap Almeer, dia nggak ngerewes omongan tadi.
"Kerja woy kerjaaa!" Almeer, ngajak mas Wahyu buat balik ke kasir lagi.
"Kalau jadian jangan lupa makan-makan!" kata mas Wahyu sebelum digeret sama Almeer ke dalem.
Sedangkan aku cepetan nyuci gelas-gelas, dan nggak mau dibilang males. Dan pas aku mau ke loker aku liat ada adek kecil gundul dan pakai celana putih. Dia udah julurin tangannya ke loker tempat aku naruh tas.
"Woy! ngapain disitu? mau nyolong ya?" bentakku.
Aku segera nyemperin tuh bocil, tapi seketika dia jentikian jempol ama jari tengahnya lalu.
Cteeeek!
Dia ngilang, doooooong!
"Siapa nih yang berani nuyul disini?!!!!" aku berkacak pinggang.
"Wah, aku harus ngecek dompet nih!"
Buru-buru aku buka loker, dan ngambil dompet di dalam tas.
"Alhamdulillah, masih utuh! nggak ada yang ilang!" ucapku.
Aku taruh lagi dompetku di dalem loker.
"Nggak bener, nih! siapa yang melihara begituan sih?" aku kesel banget.
Aku keluar dengan muka yang dongkol. Dan bikin Almeer bertanyeaak-tanyeaak.
__ADS_1
"Ada apa, Chel?"
"Ada uyul, Al..." aku nyautin sambil liat-liat orang yang mungkin mencurigakan. Tapi nggak ada. Mungkin itu setan random aja gitu dateng kesini.Tapi kok ya dateng siang bolong kayak gini, heran banget gitu nggak ada jadwal kerja yang baku buat dia keliaran.
"Uyul?" Almeer naikin alisnya.
"Setan kecil yang nyolongin duit!" jelasku.
"Dia tadi aku mergokin dia mau ambil duit di lokerku, Al..." sambungku.
"Belum pernah loh kedai ini disatronin uyul," kata Almeer.
"Atau jangan-jangan ada yang bawa duit banyak?" Almeer ngetuk-ngetukin dagu pakai jarinya, lagi mikir dia.
"Emang ngaruh?"
"Dia kan pasti bisa mengendus duitt banyak, Chel. Walaupun yang aku tau, tuh bocil bisanya ngambil satu lembar aja. Itu juga yang nominalnya paling gede," jelas Almeer.
"Jangan-jangan kamu bawa uang banyak?" Almeer menatapku.
"Iya, awalnya aku mau naruh di rekening lewat setoran tunai di ATM," ucapku malu.
"Tau gitu, aku transferin aja ya? tapi aku terima duitnya juga cash kayak gitu sih, takut ilang jadi aku buru-buru kasih ke kamu," kata Almeer.
"Ya udah, jam makan siang mau aku anter ke ATM?" tanya Almeer.
"Iya, aku minta tolong anterin ya? mau naik ojeg takut ada yang ngintilin," ucapku.
"Ya udah, bentar lagi kita keluar," ucap Almeer.
Aku dan Almeer balik lagi ke depan. Aku liat pak Raga udah nggak ada. Mungkin dia udah balik lagi ke kantor, atau mungkin lagi ada urusan sama mbak Enjel yang masih menjadi misteri hubungannya apa sama pak Raga.
"Gimana? jadi nggak?" tanya Almeer.
"Jadilah,"
"Ya udah sekarang aja, mumpung kedai lagi sepi juga," kata Almeer.
"Mas Wahyu, kita keluar bentar ya?!" Almeer ngelepas apron yang dipasang dipinggangnya, begitu juga dengan aku.
"Hape harus on terus!" mas Wahyu ngingetin Almeer.
"Sip!" sahutnya.
Aku yang udah ambil tas, keluar kedai bareng Almeer.
__ADS_1
Namun tiba-tiba...
Ada sebuah tangan yang menarikku.