Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Jurus Baru


__ADS_3

"Jadi suara mobil yang aku denger itu, bukan karena aku berhalusinasi?" gumamku, natap pak Raga nggak percaya.


"Kenapa anda tidur di depan kosan saya?memangnya anda tunawisma?" tanyaku pada pak Raga.


"Yang jelas bukan karena iseng!" celetuk pria yang terdiam sesaat, lalu dia menengok ke belakang.


"Ada apa sih, Pak?" mataku ikutan mengawasi sekitar.


Dia menggeleng, "Bukan apa-apa," ucapnya.


"Yang jelas bukan tanpa alasan," pak Raga nampak melihat ke arah belakangnya lagi.


"Apa kamu nggak sadar atau nggak peka?" pak Raga menatapku seolah aku itu orang yang cuek. Woooooyyyy, nunjuk diri sendiri aturan ah! Kesel banget aku tuh sama mantan bos.


"Kamu tau? berapa banyak makhluk halus yang nongkrong di kosan kamu itu?" tanya pak Raga.


"Berapa?" tanyaku.


"Belum tau!" sahutnya.


"Tapi tenang aja, nanti kita cari tau! kita hitung bareng-bareng gimana? good idea, kan?" lanjutnya. Dia ketawa seolah dia paling jago dalam segala hal.


Lagi-lagi aku cuma bisa apa? ajep-ajep! Nggak dong yaaaaa, masa Rachel ajep-ajep. Rachel anak yang sholehah, nggak pernah kenal dunia malam walaupun tinggal di kota metropolis, catet itu!


Denger pak Jiwa Raga ngomong, aku cuma bisa geleng-geleng kepala.


"Kenapa geleng-geleng? sakit leher?" tanya pak Raga.


"Bapak tau? jalau Bapak bos teraneh yang pernah ada di bumi!" ucapku.


"Kembali ke rencana awal ya, jadi nanti kita sensus hantu yang ada di kosan kamu, terus kita karungin, dan lempar ke alam lain,"


Aku cuma ngeliatin pak Raga nggak percaya, seorang bos bicara lawak kek gini di depan mantan karyawannya.

__ADS_1


"Ya kan? buat ngelawan kegabutan kamu di kos-kosan. Hahahahaha haaaaiyaaaah," pak Raga berdiri dengan kaki yang diangkat dan jari tangannya mengerucut diangkat menyerupai bentuk kepala ular.


"Kamu tau ini jurus apa?" tanya pak Raga.


"Nggak!" jawabku males.


"Ini jurus lilitan Anakonda! haiiiyaaahhhh, sekali muter, setan-setan pada klepek-klepek, nggak akan ada yang berani deketin kamu. Shhhhhh..." pak Raga mau mraktekin jurusnya, dia mendesis bagaikan ular.


"Iya iya, saya percaya kalau Bapak itu sakti! udah mending Bapak sekarang duduk yang anteng, yah?" aku turunin tangan dan kaki pak Raga yang udah mau nyerang lawannya.


Kenapa kalau ketemu aku dia bisa se-absurd ini. Sampai aku tuh lupa image bossy yang melekat pada Pak Jiwa Ragaku.


"Atau kalau kamu mau tinggal disini juga boleh, sepertinya kamu terlalu lemah untuk menghadapi gangguan setiap hari. Disana kan setannya bejibun, kalau disini kan pengganggunya cuma satu. Jadi lebih worth it lah, iya kan?" pak Raga ngecepres mulu dari tadi.


Mau tau aku lagi ngapain?


Pegangin jidat tau, nggak! Meni pusing denger pak Raga ngomong mulu. Nih orang abis di charge kayaknya, batre nya full banget!


"Gimana? disini lumayan nyaman kan?" ucapnya lagi.


Aje gile dia bilang penthouse ini lumayan. Ya ini mah lebih dari sekedar lumayan lah, tapi mewah dan nyaman banget. Tapi apadaya, aku males liat yang serem-serem, jadi sorry dan thank you aja lah buat pak Raga.


"Kamu takut sama setan tadi, iya? kalau yang tadi mah nggak bakal berani macem-macem, paling kalau lagi magabut, dia paling banter jatohin barang supaya yang di dalem rumah pada bangun dan temenin dia begadang," ucap pak Raga enteng.


"Nah itu, saya paling nggak bisa begadang. Jadi saya nggak cocok tinggal disini. Bayar tagihan listriknya aja mungkin akumulasi gaji saya selama 10 taun, Pak! dengan sangat hormat saya menolaknya," ucapku.


"Tapi kalau mengingat kamu sudah melakukan beberapa kesalahan, dan memaksa saya harus turun tangan jadi sebagai hukumannya---"


"Ya ampuuuun! Kesalahan apalagi yang saya, Pak? soal Amel kan, iya saya ngaku saya salah! udah cerita masalah pacar pura-pura itu sama dia. Dan saya sudah dipecat dan harusnya kita sudah impas, dan saya kan nggak pernah minta Bapak buat tidur di depan kosan saya. Itu kan kemauan Bapak sendiri, jadi saya nggak mau kena hukuman lagi---" ucapanku segera diserobot pak Raga, dia nutup mulutku pakai bantal sofa.


"Tapi ada seorang pelayan yang dengan nggak mikirnya pakai acara nguping omongan pelanggannya di meja no 26! dan dengan kecerobohanmu, kamu buat dia curiga. Kalau dia berbuat jahat sama kamu bagaimana?"


Aku cuma ngedip-ngedip. Ngedengerin pak Raga ngomong nggak ada remnya. Nggak main-main mantan bosku ini sakti banget. Dia sampai tau aku nguping pembicaraannya pak Moreno tempo hari.

__ADS_1


"Pak Raga kok bisa tau saya nguping?"


"Hey, saya suda bilang. Apa sih yang saya tidak tau di dunia ini, hem? Bahkan laki-laki yang beberapa kali jalan bersamamu aku juga tau!" ucap pak Raga.


"Almeer? ya, aku tau siapa dia! dia nggak seperti yang kamu pikirkan!" ucap pak Raga menaikkan satu sudut bibirnya.


Aku melongo, berusaha connect kemudian.


"Apa tadi? Almeer nggak seperti apa yang aku pikirkan? maksudnya?" batinku bertanyeak-tanyeak.


Aku menghela napas, "Begini, Pak...." aku mencoba menyabarkan diri.


"Bapak boleh ngomong apa aja, dan saya akui Bapak punya banyak uang untuk membeli apa saja yang ingin Bapak dengar dan ingin Bapak lihat, tapi tolong jangan menjelek-jelekkan orang yang udah baik banget sama saya. Bahkan dia orang yang menbantu saya selama ini, Pak!" aku emosi.


"Heh? kenapa kamu begitu menggebu-gebu? saya kan hanya bilang dia tidak seperti yang kamu pikirkan, apa saya bilang dia jahat? ck, begini nih kalau pikiran nggak jernih," pak Raga ngeliatku dengan tatapan nggak suka.


Rrrhhhhhhhgghhh.


Terdengar suara geraman di tengah perdebatan kami. Angin pun berhembus nggak tau dari mana seakan menambah suasana yang draaa-maaaa-tis.


Ruaaaarrrrrrghhhhh.


"DIAM?!!!" bentak aku dan pak Raga bersamaan, pada makhluk rambut perak yang perlahan mundur ke belakang.


Dan ketika pak Raga mau ngeluarin jurus lilitan anakonda, makhluk halus itu udah ngibrit duluan.


"Ganggu aja!" pak Raga nurunin lagi kaki dan tangannya. Dia benerin lagi jambulnya.


"Jadi Bapak maunya apa?" ucapku nggak mau bertele-tele. Aku berdiri menatap pria gagah di depanku.


"Shhhh, kalau itu saya belum bisa putuskan. Yang jelas, kamu harus jaga jarak dengan laki-laki mana pun. Karena belum ada pemutusan kontrak pacaran diantara kita, mengerti?" tatapan pak Raga mengintimidasi.


Mendengar itu, hatiku benar- benar....

__ADS_1


Senang.


"Ingat, kalau bukan karena kamu yang membocorkan rahasia itu, mungkin keadaan nggak akan sekacau ini!" ucapnya dengan wajah yang serius. Sedangkan aku masih bingung dengan perubahan ekspresi pak Raga.


__ADS_2