Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pertemuan Itu...


__ADS_3

Pagi ini aku dateng ke kedai dengan perasaan galau.


"Dia baca nggak ya? Kalau nggak baca sama aja bohong aku sampe capek-capek nyamar kemarin. Sia-sia aku kemarin sampe satu lift sama setan juga kalau hari ini ujung-ujungnya dia ketemu sama pak Moreno!" aku bergumam sambil nyemprot dinding kaca tembus pandang di kedai dengan pemandangan jalan raya.


"Aku harus cari tau! kudu telfon mas Andri nih!"


Untung hape yang dikasih ke aku yang isinya no telpon penting nggak diminta balik, mungkin belum diminta atau mungkin lupa diminta pak Raga. Intinya benda itu masih ada ditanganku sampai detik ini.


Dari dalam sini aku bisa liat Almeer yang lagi ngebenerin posisi kursi. Dia tersenyum saat nggak sengaja nengok ke arahku.


"Orang beruntung yang ketemu sama kamu, Al..." ucapku lirih.


"Adeuuh, gara-gara disenyumin Almeer aku jadi lupa mau nelpon mas Andri," lanjutku.


Aku taruh alat pembersih kaca di meja, lalu aku mulai mencari nama mas Andri di kontak hape.


Drrrtt...!


Drrrtt...!


"Halo?" sapa mas Andri ketika panggilan kami sukses terhubung.


"Halo, Mas Andri. Ini aku, Rachel..."


"Ada apa, Chel?" tanya mas Andri yang kayaknya lago sibuk.


"Aku mau nanya, ehm, hari ini pak Raga ada scedule meeting di luar?"


"Ada...?" sahut mas Andri.


"Kok ngga yakin gitu?"


"Iya, soalnya situasi kantor lagi nggak kondusif," jawab mas Andri.


"Bos marah-marah mulu. Nge-pending meeting seenak udel dia, ngebatalin pertemuan sama orang seenak jidat dia. Kita kan yang pusing atur sana sini. Udah kalau nyuruh nggak mau dengar kata 'nanti', ck merana hidupku, Racheeeell...!" mas Andri jadi curcol, keliatan dia lagi stresss berat.


"Bukannya ada Jolie?"


"Udah dipecat dia!" sahut mas Andrinyang kewalahan ngadepin bos durjana itu.


"Dipecat kok bisa?"


"Iya, salahnya dia sendiri. Udah tau bos nggak suka cewek yang menya-menye. Lah dia cari masalah dengan mencoba mendekati pak Raga. Ya wassalam langsung karier dia!" kata mas Andri, dengan sesekali kedengeran suara kertas yang dibuka-buka.


"Mas Andri ember juga ternyata!" batinku yang senang mendengar info dari mas Andri.


Kalau udah anget-anget kayak gini, enaknya mas Andri dipancing supaya bocorin juga tentang pertemuan pak Raga sama pak Moreno jadi apa nggak. Aku harus manfaatin moment ini sebaik mungkin.

__ADS_1


"Jadi mas Andri pasti capek banget ya, nggak kebayang sih. Kalau aku mungkin udah nggak kuat,"


"Ya, pastinya! Siang ini aja pak Raga mau ketemu sama pak Moreno. Tapi anehnya aku nggak disuruh nyiapin apa-apa," kata mas Andri.


"Ketemu dimana?"


"Hem?" mas Andri nanya pake deheman dia.


"Ah, kebetulan kalau pak Raga ada acara meeting di luar. Aku mau ngembaliin sesuatu, Mas!" aku cari alasan.


"Kenapa nggak ke kantor aja?"


"Kalau ke kantor kan nggak enak, aku bukan karyawan di kantor itu lagi, agak risih aja kan aku berhenti kerjanya karena dipecat, Mas. Bukan karena aku resign sendiri," ucapku sendu.


"Ah, maksud aku bukan kayak gitu, Chel. Kamu jangan salah paham..."


"Iya iya aku tau kok,"


"Ya udah nanti aku share lokasinya ya?" kata mas Andri.


"Sorry, Chel. Kita bicaranya nanti lagi ya? aku dipanggil bos nih," lanjutnya.


"Oh iya, Mas! semangat!" ucapku sebelum menutup sambungan telepon.


"Gawat, pak Raga mau ketemuan sama pak Moreno. Ck, ih! berarti dia nggak baca pesanku di kertas itu. Pokoknya aku harus gagalin pak Moreno buat ngasih kancing ke pak Raga," gumamku.


Aku kantongin lagi nih hape. Dan ngeliat mas Almeer udah selesai ngerjain tugasnya. Sementara aku, masih banyak kaca yang belum dibersihin.


"Astaghfirullah, Al! bikin kaget aja!"


"Sorry,"


"Perasaan tadi masih di depan?" aku nunjuk ke arah luar.


"Kamu itu kebanyakan ngelamun, jadi orang jalan jadi nggak ngeh!" Almeer narik topiku ke bawah, mataku jadi ketutupan topi.


"Almeeeerr! rese, deeeh..." aku benerin topiku lagi.


"Mau dibantuin, nggak?"


"Jangan lah, ntar aku di sP lagi. Karena dinilai males," aku celingukan nyariin bos.


"Tenang aja, nggak akan ada yang bisa SP kamu kecuali---"


"Kecuali apa, Al?"


"Kecuali ... ehm, kecuali kamu bikin kesalahan yang fatal," sahut laki-laki yang kalau senyum ganteng banget.

__ADS_1


Kayaknya udah takdir kalau aku selalu dikelilingi oleh pria-pria tampan.


"Oh gitu ya? ya udah kalau mau dibantuin alhamdulillah. Kebetulan tanganku nggak bisa menjangkau bagian yang di sana," aku menunjuk bagian atas.


"Oh, kalau itu harus pakai alat khusus!" ucap Almeer.


"Bentar aku ambil," lanjutnya sebelum pergi menuju ruang penyimpanan alat untuk bersih-bersih.


Nggak lama, dia kembali dengan membawa sebuah tongkat yang diujungnya terdapat semacam busa panjang.


"Pakai ini, biar nggak usah naik meja buat ngejangkau bagian tmkaca paling atas," ucap Almeer.


Dia mulai memulai aksinya, sedangkan aku mengelap bagian lain. Baik shift pagi atau sore, bakalan kebagian bersih-bersih kayak gini. Dan kaca yang diberaihin sekarang juga, masih bening banget cuma biar tambah kinclong aja.


Setelah selesai dengan tugas yang pertama, sekarang Almeer ngajarin aku supaya bisa bikin kopi.


Bagian tersulit menurutku membuat hiasan di atas kopi. Ada bentuk bunga, daun atau apalah itu kluwar kluwer suoaya bikin estetik kopinya.


"Yang kayak gini yang susah, Al..." ucapku sambil memperhatikan tangan Almeer yang lihat menghias kopi dengan susu putih.


"Ih, kamu jago banget! kalau aku yang bikin bentuk dan rasanya bakalan absurd banget!" ucapku, sementara temenku ini cuma senyum aja.


"Nah selesai! bagus, kan?" tanya Almeer.


"Bagus seperti biasanya," ucapku sambil mengerucutkan bibirku.


"Hah, kopi enak dari tangan seorang master!" Almeer sangat percaya diri.


Ah, aku udah tau itu. Almeer selalu jago membuat lukisan di atas permukaan kopi. Yang tidak biasa itu kalau aku yang membuatnya! arrgh, kenapa begituu syuliiiiitttt lupakan reyhaaan, apalagi reyhaaan baikk, telolet lolet.


"Sekarang giliran kamu yang coba,"


"Ini nggak apa-apa nih kita buang-buangbkopi buat latihan? bos nggak marah?" aku ragu buat mencoba melukis.


"Aku udah ijin kok, untuk mentraining sang pekerja baru Rachel Faradilla," kata Almeer yang memberikan aku cangkir putih kosong.


Aku menatapnya.


"Kamu tidak akan tau jika belum mencobanya," ucap Almeer.


"Baiklah, akan kutaklukan kopi ini," aku menyemangati diri sendiri.


Aku mencoba menyeduh kopi dan mengambil satu satu temoat susu dan mulai menggerakkannya, mencampur susu dengan kopi.


"Ya, seperti itu dan ... hoop! tarik ke atas!" suruh Almeer.


Aku melakukan instruksi dari almeer tadi, dan sekarang tinggal menghiasnya. Aku begitu serius mengerjakan hal yang sama sekali belum pernah aku lakukan.

__ADS_1


"Aiiishhh, kenapa jadi nggak jelas begini bentuknyaaaa?" ucapku pada Almeer. Sedangkan pria itu hanya tertawa.


"Coba lagi!" ucap Almeer.


__ADS_2