
"Iya, aku juga baru tahu nggak lama sebelum aku terkapar di ruangan ini," ucap mas Liam.
Sedangkan aku nggak sedetik pun memalingkan wajahku darinya.
"Aku nggak ngerti,"
"Raga itu bukan kakak kandungku. Bisa dibilang nasibku hampir sama seperti Ajeng," mas Liam tersenyum getir.
"Awalnya kami tumbuh bersama, jarak usia kami pun hanya terpaut 2 tahun. Makanya sebenernya aku sama kak Raga itu ya nyambung banget. Tapi nggak tau kenapa, semenjak kami menginjak bangku kuliah, kak Raga mulai berubah. Dia nggak mau lagi main atau sekedar ngobrol...." mas Liam bergerak ke arah kaca jendela yang besar. Tirai tersibak dengan sendirinya.
"Ternyata ada rahasia besar yang selama ini ditutupi papi. Ternyata aku ini nggak lebih dari sekedar oranglain buat kak Raga..." ucapnya lagi.
Mas liam menaruh tangannya ke dalam saku celana, "Mungkin ini takdir yang harus aku jalani, untuk menebus kesalahan ibuku di masa lalu. Seorang wanita yang dengan beraninya masuk ke dalam rumah tangga oranglain..."
"Mas..." aku berusaha menggapai bahu lebarnya.
"Nggak apa-apa, Chel. Mungkin beban ini harus aku bagi dulu sama kamu, biar aku lebih ringan melangkah menuju surga,"
"Sshhh, jangan bicara seperti itu..."
Lagi-lagi dia tersenyum, "Ibuku mendatangi papi meminta pertanggung jawaban. Papi yang kita tau sebagai pengusaha besar, dengan segala cara membungkam skandal ini dengan berbagai cara. Dan ternyata ibuku meninggal dunia setelah melahirkanku, dan aku dirawat oleh mami. Entah terbuat dari apa hati mamiku itu, dia bisa menerima anak dari wanita lain. Tapi itu versi lain, versi yang kak Raga dengar. Padahal kebenarannya bukan seperti itu..."
"Maksudnya? pak Raga mendengar berita yang nggak valid gitu?"
"Ya. Karena seseorang yang ingin memporak-porandakan keluarga Mahendra. Makanya aku sempet nekat jadi asisten kakak, aku pengen tau siapa orang yang selalu mencekoki kakak dengan isu-isu yang nggak bener," ucap mas Liam.
"Jadi yang benar itu, ibuku dan papi itu sahabat lama. Baru menikah selama sebulan, ibuku ditinggal oleh suaminya, ayahku. Mungkin udah firasat atau gimana, saat itu ibu mendatangi kantor papi dengan perut besarnya. Dia meminta tolong supaya papi mau mengadopsi aku, karena secara mental dan finansial ibuku sedang terpuruk. Tapi kedatangannya saat itu ternyata, membuahkan masalah baru. Ketubannya pecah saat di kantor papi, dan papi segera melarikan ibu ke rumah sakit. Dan hari itu juga aku lahir, namun sayangnya ibuku menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah melihatku lahir dengan selamat..."
Aku memegang lengannya mencoba memberikan kekuatan, namun mas Liam ternyata lebih tegar dari itu. Matanya memandang hamparan langit dengan milyaran bintang yang menjadi hiasan malam ini. Ternyata yang membuat aku jatuh hati sama mas Liam ini karena kelembutan hatinya, terbukti saat menceritakan semua kepahitan yang dia rasakan, dia sangat tenang bahkan nggak ada satu tetes air matapun mengalir dari sudut matanya.
"Lalu setelah itu?"
__ADS_1
"Setelah itu papi datang dengan membawaku ke rumah, dan tentu hal itu menjadi guncangan dalam rumah tangga papi. Mami mengira kalau Papi itu ada main dengan wanita lain, padahal Papi itu salah satu pria yang sangat setia. Papi sudah mengatakan yang sebenarnya pada mami, tapi mami nggak mau percaya. Dia bilang kalau memang aku bukan anak papi, maka papi harus menaruhku di panti. Tapi karena papi sudah terlanjur janji sama ibu buat ngerawat dan ngejaga aku, ya udah papi biarkan mami tetap dengan asumsinya itu,"
"Kamu kuat, Mas..." ucapku yang mengusap lengannya lagi.
"Bukan aku yang kuat, Chel. Tapi papi, dia rela disangka pria yang berselingkuh demi bisa menepati janjinya, sampai aku bisa seperti sekarang ini, dia membawa rahasia itu sampai ke liang lahat..."
"Sampai akhirnya aku menemukan sebuah tulisan di sebuah buku di ruang kerja papi. Disana semua terungkap siapa aku dan bagaimana aku bisa berada di tangan papi. Disana juga aku melihat foto ibu kandungku untuk yang pertama kalinya, dan yang paling penting ada test DNA yang menerangkan bahwa aku dan papi 99,99% tidak cocok. Dan semua itu dibenarkan oleh pengacara yang diutus papi saat membacakan sebuah wasiat untuk kami semua,"
"Lalu bagaimana dengan mami? maksudku, maminya pak Raga?"
"Mami shock dan merasa bersalah. Setahun kemudian mami menyusul papi, dan itu yang membuat kak Raga makin benci sama aku. Ya, mungkin keluarga kak Raga akan utuh jika aku nggak pernah dateng dan masuk dalam keluarga ini," ucap mas Liam.
"Nggak, Mas! Itu nggak bener. Hidup dan mati sudah digariskan oleh Allah, kita sebagai makhluk hanya menjalankan garis kehidupan kita, apa yang terjadi sudah menjadi ketentuan-Nya. Jangan menyalahkan diri sendiri..." ucapku.
Kini dia berbalik membelakangi kaca, aku pun mengikuti kemana dia pergi. Langkahnya terhenti tepat di samping tubuhnya yang masih terbaring.
"Aku akan pergi dengan tenang, jika kamu mau mendampingi kak Raga. Orang yang bisa menumbuhkan kembali rasa cinta dan kehangatan dalam hatinya," tangan dingin mas Liam menyentuh pipiku. Aku memegang tangan yang menangkup kedua pipiku.
"Nggak boleh, Rachel. Hatimu harus kamu berikan pada kak Raga, walaupun aku pun mulai menyukaimu, tapi kita berbeda dunia. Kita nggak boleh memiliki perasaan itu..." ucap mas Liam, dia melepaskan tangannya.
Masa iya sih, aku harus ngerasain jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang bersamaan?
"Aakkhhh?!!" mas Liam memegangi dadanya. Wajahnya yang emang udah pucet sekarang tambah pucet dan dingin.
Aku mencoba memeganginya supaya dia nggak jatuh.
"Jangan sentuh aku, Rachel. Atau energimu akan terkuras," ucap mas Liam.
"Aku nggak peduli, bahkan jika kamu mau menyerap seluruh energiku asal itu bisa membuatmu terbangun, aku rela Mas..." ucapku.
"Jangan bodoh, Rachel. Kamu bisa pingsan berhari-hari setelah ini..." ucapnya yang melepaskan tanganku, dia mencoba menegakkan tubuhnya lagi.
__ADS_1
"Waktuku udah nggak banyak lagi, aku sudah semakin lemah," lanjutnya.
"Nggak, nggak boleh. Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, mana tanganmu, biar aku transfer energiku. Biar kamu bisa bertahan..." aku mencoba menggapai tangan mas Liam, tapi dia menolak.
"Jangan?!" ucapnya.
"Tapi kenapa?"
"Penuhi saja permintaan terakhirku Racheeel. Aku yakin kamu bisa, kak Raga orang yang baik dan dia berhak mendapatkan yang baik juga," ucap mas Liam.
"Aku akan penuhi janjiku asal, ijinkan aku untuk yang terakhir kalinya, memberikan energiku untuk kamu, Mas. Seenggaknya kamu bisa beryahan untuk beberapa waktu," ucapku dengan pipi yang penuh dengan linangan air mata.
"Tapi hanya untuk sesaat. Karena tubuhmu akan lemah jika kamu berikan energimu buat aku. Dan aku nggak mau," ucapnya.
"Tenang aja, aku bakal kuat..." aku menatap matanya yang kini berubah sendu.
"Baiklah..." kata mas Liam.
"Bagaimana caranya?" ucapku gugup.
"Berikan telapak tanganmu, seperti ini" mas Liam mengangkat tangannya sebatas bahu dan menunjukkan telapak tangannya, kedua telapak tangan kami akan bersatu.
Namun tiba-tiba...
"Racheeeeel apa yang kamu lakukan? cepat menjauh darinya?!" teriak seseorang.
Aku dan mas Liam sontak nengok.
"Pak Ragaaa?" aku bergumam.
"Menjauh darinya?!" ucap pak Raga yang menarikku menjauh dari mas Liam.
__ADS_1