Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pingsan Lagi


__ADS_3

"Rachel," aku mendengar suara lain memanggilku. Suara mas Liam.


Sekarang aku berada di hamparan awan putih. Aku terbang tanpa sayap.


"Rachel," panggil mas Liam. Tapi hanya suaranya sedangkan wujudnya sama sekali nggak nampak.


"Mas Liam?" aku mencarinya mengitari awan-awan putih bak kapas yang berterbangan.


"Mas Liam?" aku memanggilnya lagi.


"Jangan mencariku, Rachel..." ucapnya.


"Jangan bercanda, kamu dimana Mas? ini bukan saatnya main petak umpet," ucapku.


"Rachel, penuhi janjimu. Aku harap kamu bukan manusia yang suka ingkar janji," ucap mas Liam.


"Janji?"


"Janji untuk terus bersama kak Raga apapun yang terjadi..." ucap mas Liam.


"Kalau dia nggak suka aku gimana? mana mungkin aku maksa-maksa emangnya aku cewek apakah?"


"Buat dia menyukaimu," sahutnya enteng.


"Kamu ada-ada aja, mana bisa?"


"Bisa asal kamu sedikit berusaha," ucapnya.


"Tapi aku sukanya sama---"


"Ingat janji kamu Rachel," serobot mas Liam.


"Iya tapi---"


"Ingat janji kamu Rachel, janji kamu Rachel, janji kamu Rachel..." ucap mas Liam berulang-ulang sampai akhirnya...


"Akkhhhhh...?!" aku terbangun dari tidurku dengan nafas yang nggak beraturan.


"Huufh, ternyata aku mimpi..." aku mengelap keningku tapi ternyata tangan kiriku ini ada selang infus yang nancep di punggung tanganku, bikin aku ribet sendiri.


"Loh kok aku malah disini, sih? diinfus segala? emang aku sakit apa?" aku bingung.

__ADS_1


Soalnya terakhir kali aku ingetnya lagi duduk sama pak Raga nungguin mas Liam di depan ruang ICU.


Udah kali kedua ini aku bangun tidur dengan keadaan yang bingung. Ini kok kenapa aku ada di ruang perawatan, udah gitu sepi lagi nggak ada orang.


Dan sayup kedengeran suara keran yang dibuka, terus di tutup lagi.


Tapi kok nggak keluar-keluar orangnya. Apa belum kelar tuh urusan di toilet?


Aneh banget sumpeh. Itu keran bunyi lagi, dan di tutup lagi udah begitu aja terus sampe lebaran haji taun depan. Dan baru aja berhenti setelah pintu kamar yang perlahan terbuka.


"Rachel? kamu sudah sadar?" tanya pak Raga. Dan saat itu juga napasku yang tadinya sesek kayak orang asma, sekarang mulai longgar. Karena yang dateng ternyata manusia, walaupun galaknya kayak macan.


Dia mendekat, aku berusaha buat duduk.


"Tiduran saja kalau masih lemes," ucap pak Raga. Dia atur ranjang pasien ini supaya posisiku setengah duduk.


"Kenapa saya disini?"


"Karena kamu sakit," sahut pak Raga yang balik lagi juteknya. Apa mungkin aku sekedar mimpi, ngeliat dia nangis kayak orang sutres gitu. Apa mungkin semua itu khayalan aku semata.


"Sakit? sakit apa?"


"Faktor K, emang ada penyakit faktor K? apa sejenis penyakit yang baru ditemukan?"


"Faktor kelelahan. Kamu pingsan di depan ICU," sahut pak bos.


Kayaknya aku selalu pingsan kalau aku bersentuhan dengan mas Liam versi ghoib. Mungkin bener apa kata pak Raga, kalau malam itu aku transfer energiku, mungkin aku bukan lagi sekedar pingsan, tapi bisa lebih berat dan gaswat dari itu.


"Dimana mas Liam? apa dia baik-baik aja?" aku nanya pak Raga.


"Baik," ucap pak bos.


"Makanlah, aku mau ke toilet dulu?!" ucap pak bos yang mendekatkan meja dan menyuruh aku makan bubur.


"Emang ini jam berapa? kok kau jadi nge-blank kayak gini?" aku mencoba mencari dimana jam dinding.


"Jam 9 pagi?" aku melihat jam dan melihat tirai jendela yang sengaja dibuka.


"Gimana keadaannya mas Liam ya? apa bener udah baik-baik aja? atau gimana? aku pengen ngeliat secara langsung, deh.." aku bergumam sendiri.


Keluar dari toilet pak bos duduk di sofa sambil mijetin layar hape. Mungkin ngurusin urusan kerjaan, ya secara kan aku sebagai asistennya terkapar di rumah sakit. Lagian selama aku jadi asistennya pak Raga, aku nggak pernah ngurusin kerjaan. Paling berat beliin makanan di luar, itu juga aku jalannya sama arwah.

__ADS_1


Nggak lama datanglah seorang perempuan, masuk dia bawa berkas. Aku disini berasa jadi nyamuk diantara mereka. Mungkin ini yang namanya Arsinta. Bukannya sok kecakepan, tapi emang cakepan aku lah kemana-mana, tapi kalau otak mungkin enceran dia ya. We never know lah. Aku akui spek otakku emang standar, makanya aku suka dibanding-bandingke saing-saingke sama mbak Gita.


Daritadi aku perhatiin pak Raga konsen ke kertas, sedangkan si Arsinta sibuk mandengin pak Raga. Tipe-tipe asisten yang caper plus carmuk ama bos, apalagi bosnya ganteng. Udah deh tuh nemplok kayak kertas lem perangkap laler.


"Sudah semua?"


"Ehm, eh sudah, Pak?!" ucap Arsinta.


"Kenapa bukan Andri?" tanya pak Raga.


"Ah, ehm itu Pak. Ah, mas Andri lagi keluar..."


"Keluar?"


"Iya, Pak..." jawab Arsinta blekak-blekok.


"Ya sudah, kalau sudah tidak ada yang ditanda tangani, kamu boleh pergi?!" suruh pak Raga.


"Baik, permisi, Pak..."


Arsinta senyum sekilas ke arahku sebelum dia keluar dari ruangan ini.


Setelah Arsinta pergi, pak Raga nelpon seseorang.


"Ndri? kamu dimana? lagi apa? dengan siapa? " tanya pak Raga merepet aja.


"Pecat Arsinta?! saya nggak suka asisten yang suka bohong?!" perintah pak Raga, dia pun menutup telfonnya sesaat setelah ngomong kayak gitu.


Aku cuma garuk-garuk kepala, "Sadis juga nih bos, main pecat-pecat orang. Apakabar aku yang udah nggak ngantor selama 2 minggu?" batinku.


Pak Raga bangkit dan mendekat, "Sudah makannya?"


"Sudah, eh belum..." aku nyautin.


Pak Raga naikin alisnya.


"Ehm maksudnya baru sedikit," jawabku.


"Habiskan, saya mau ke ruangannya Liam..." ucap pak Raga.


"Saya ikut?!"

__ADS_1


__ADS_2