Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Pacaran Beneran


__ADS_3

"Ini dia lagi nembak? apa gimana? nggak ngerti aku, salah denger nih pasti!" aku dalam hati.


"Rachel, kamu belum jawab ajakan saya!" kata pak Raga.


"Maksudnya gimana ya, Pak?"


"Kamu sangat jelek diajak pura-pura pacaran. Kalau kayak gini bisa cepet ketauan Eyang. Jadi saya pikir lebih baik kita pacaran beneran, jadi semuanya akan aman..."


"Lah ya pak Raga yang aman, lah aku? gimana nasibnya aku?"


"Hey, di luar sana banyak yang rela mengantri ubtuk jadi pacar saya. Kamu saya beri tawaran terbuka malah reaksimu seperti itu..." ucap pak Raga.


"Maksudnya sampai disini saya jujur nggak ngerti sama konsep pacarannya pak Raga. Mungkin pak Raga bisa memanipulasi orang lain atau siapapun itu, tapi anda nggak bisa memanipulasi hati saya, Pak..."


"Ini pacaran tapi alasannya---" ucapku menggantung.


"Kalau alasannya karena aku mulai menyukaimu, kamu akan terima?" tanya pak Raga.


Aku yang ditatap pak Raga langsung salting, tatapan yang nggak seperti biasanya.


"Ah, suka?" aku nggak tau harua jawab apa.


"Tapi aku masih---"


"Masih suka sama William Mahendra?" serobot pak Raga.


Aku terdiam, aku menunduk. Nggak berani menatap wajah pak Raga.


"Masih menyukai William yang inget sama kamu aja nggak, iya?"


"Bukan..."


"Dengar ya, Rachel. Saya tidak memaksa kamu buat melupakan Liam. Biar itu menjadi catatan tersendiri di kehidupan kamu, saya juga memiliki itu," kata pak Raga.


Oh ya, mulai hari ini kita resmi menjadi sepasang kekasih, dan kamu harus memanggil saya dengan sebutan Sayang sepanjang waktu, mengerti?" lanjutnya.


"Mana bisa begitu---"


"Sshhhhh!" potong pak Raga.


"Pak----"


"Ssshhhh!" pak Raga motong lagi, dia taruh telunjuk di bibirnya.


"Saya tidak menerima penolakan!" ucapnya seenaknya sendiri.


"Makanlah, supnya keburu dingin..." pak Raga menunjuk sup asparagus yang ada di hadapanku.


"Besok kamu pulang bareng saya," lanjut pak Raga.


"Mana bisa kayak gitu? nggak enaklah sama orangtuanya Amel!" aku protes.


"Nanti saya yang ngomong!" kata pak Raga.

__ADS_1


Jujur, aku nggak tau perasaanku sekarang. Ditembak on the spot kayak gini, nggak ada persiapan batin sama sekali. Kita makan sambil diem-dieman, meskipun suasana udah romantis abis, kita kayak dua orang kaku yang kemudian bertemu dan makan bareng, dah gitu. Selesai nemenin pak Raga makan, kita berdua nikmatin langit di hamparan rumput. Kita duduk di bawah sambil mendongak ke atas.


"Hubunganku dan Liam sudah membaik," pak Raga tiba-tiba.


"Bagus lah kalau gitu, dia menganggap pak Raga kakaknya," ucapku.


"Stop panggil saya pak, kesannya saya sudah sangat tua!" pak Raga misuh-misuh.


"Iya," aku jawab pendek aja.


"Iya???? huufh, astaga, berrti sengan begitu aku ngakuin dia sebagai pacar dong ya?" ucapku dalam hati.


Ah, ya udahlah mungkin emang takdirku udah sama pak Raga. Sampai sini aku udah harus paham, kalau orang emang dasarnya nggak jodoh mau diapain juga tetep nggak bakalan bersatu. Mas Liam mungkin jadi orang pertama yang bikin aku ngerasain suka sama laki-laki, kenal sama yang namanya cinta. Dan dalam perjalanan menapaki cinta itu, ternyata ujungnya bukan sama dia, tapi sama kakaknya.


Mataku lagi menangkap sesuatu yang aneh dati rimbunan pohon yang ada di salah satu sudut taman ini.


Sesuatu yang aneh. Beberapa dahan pohon nampak bergerak, tapi nggak ada angin yang menyertainya.


"Ada apa?" tanya pak Raga.


"Nggak ada,"


"Nggak ada tapi tatapan kamu kayak orang bingung," ucap pak Raga.


Dan kali ini mataku menangkap sosok itu, seperti binatang mengaum.


"Pak, Pak---"


"Sayang..." ralat pak Raga.


"Kalau dia berani kesini, nanti aku kasih dia jurus---"


"Jangan aneh-aneh, Pak! udah kita balik aja, jangan disini!" aku nyerobot ucapan pak Raga dan minta dia buat bangun.


Aku balik ke kamar.


Sebagai pacar yang baru diresmikan beberapa menit yang lalu, pak Raga nganterin.


"Udah mau nyampe," ucapku.


"Ya terus?"


"Pak Raga nggak usah nganterin sampai depan pintu,"


"Kenapa?" dia malah nanyak.


"Nggak enak kalau diliat sama Amel," kataku beralasan.


"Amel atau adiknya?"


"Naga maksudnya?" aku memastikan apa yang dimaksud pak Raga.


"Ya, siapa lagi?"

__ADS_1


Langkah kami berhenti tepat di depan kamar yang aku tempati bersama Amel.


"Jujur saya nggak ada hubungan apa-apa sama Naga, dia udah aku anggap adik,"


"Tapi dia menganggapmu sebagai wanita," ucap pak Raga.


"Ya terus?"


"Ya nggak apa-apa tapi saya nggak suka!" ucap pak Raga.


"Masuklah, sudah malam...!" lanjutnya.


"Baiklah, aku masuk..." ucapku lalu memutar handle.


Jantungku berdegub nggak seperti biasanya, bukan karena tadi sempet denger ada suara binatang, tapi karena situasi saat ini. Aku menggelengkan kepalaku, aku mengusir pikiran-pikiranku tentang pak Raga. Yang bikin jantung rasanya nggak karuan.


Aku duduk di tepi ranjang sambil pegangin dada.


"Kocak banget nggak sih? aku suka sama adiknya? eh malah dapet kakaknya?" aku bergumam sendiri.


Sekilas aku mengedarkan pandanganku dan berhenti pada satu benda yang dari kemarin nggak ada.


"Kamera?" aku mengambil satu kamera yang ada di atas nakas.


"Punya Amel ini? dari kemarin aku nggak ada selfie-selfie di resort ini," ucapku.


Namun tiba-tiba Amel muncul dari dalam kamar mandi.


"Udah balik? kirain ilang, baru aja mau minta tolong petugas resort buat nyariin," kata Amel.


"Tadi abis nemenin pak Raga buat makan,"


"Oh," Amel hanya menanggapi dengan satu kata. Dia ngambil hapenya.


"Beruntung banget kamu, Chel. Disukai banyak orang," ucap Amel.


"Beruntung gimana, Mel. Biasa aja menurutku. Kan kamu tau sendiri aku dan pak Raga---"


"Pacar bohongan?" Amel nyerobot.


"Iya...." jawabku.


"Tapi itu duku, sekarang kita udah pacaran beneran," ucapku.


"Loh kok bisa? ya katanya actingku buat jadinpura-pura jelek banget, jadi aku disuruh jadi pacar benerannya aja biar nenek nya nggak curiga," ucapku jujur.


"Terus kamu terima?"


Aku mengangguk, "Iya..."


Amel hanya manggut-manggut. Sesaat aku inget lagi kalau aku pengen nyoba kameranya si Amel.


"Pinjem ya, Mel. Kayaknya kita belum ada foto wefiebatau selfie deh selama di resort," ucapku.

__ADS_1


Amel segera mengambil kamera yang ada di tanganku, " Ini kameranya lagi somplak, mati-mati mulu jadi nggak bisa di pake. Ntar kita pinjem punya nya Naga. Dia kayaknya bawa kamera deh," ucap Amel.


"Nggak usah deh, pake kamera hape aja!" ucapku nunjukin hapeku sendiri.


__ADS_2