
"Eyang..." aku mencoba menyalami tangan neneknya pak Raga, namun tanganku ditepisnya.
Aku yang mendapatkan penolakan lantas menegakkan tubuhku lagi. Eyang Anti berjalan melewati aku begitu saja. Pak Raga yang melihat neneknya menghampirinya segera bangkit dan mendekat ke arah Eyang Anti.
Dan...
Plakkkk?!!
"Kebohongan apa lagi yang kamu lakukan, Raga?!!!" bentak eyang Anti.
Plaaakk?!!
Satu tamparan lagi melayang ke pipi pak Raga. Sontak aku pun mendekat, ingin menolong bos ku itu, namun sebuah teriakan menggema di ruangan ini.
"Tetap di tempatmu?!!" seru Eyang Anti.
Aku kaget dengan semua hal yang terjadi dalam waktu yang singkat ini. Apa yang membuat pak Raga berubah, dan apa yang membuat Eyang Anti begitu marah.
Kaki ku terpaku di tempat, sedangkan pak Raga hanya diam. Dia nggak melawan.
"Katakan Raga, kebohongan apalagi yang kamu lakukan, hah? selain hubungan mu dengan perempuan itu yang ternyata hanya sebatas pura-pura dan keadaan Liam yang ternyata sedang sakit dan sudah lama berada di Indonesia,"
"Katakan pada Eyang, Ragaaaaa?!!!" bentak Eyang.
Aku kaget dengan fakta yang dibuka oleh Eyang Anti. Darimana Eyang bisa tau semua itu?
"Eyang kecewa sama kamu, Ragaaaa!" ucap Eyang.
Pak Raga aku liat nggak membantah atau minimal berusaha buat ngejelasin kebenaran yang sesungguhnya. Sedangkan aku yang notabene orang lain disini, nggak berhak buat ngomong apa-apa. Meskipun beberapa kali aku gemes dan berusaha buat menjelaskan tapi lagi-lagi nggak bisa karena Eyang semarah itu dan nggak ngasih aku kesempatan buat ngomong.
"Dan kamu! mulai hari ini kamu saya pecat?! bereakan semua barang-barang kamu dan segera pergi perusahaan ini. Perusahaanku tidak menerima seorang pembohong!"
"Maaf, Eyang..." aku berusaha menggapai tangannya, dengan air mata yang membasahi pipiku.
Tapi beliay menggeleng, "Jangan panggil saya Eyang. Karena kamu menjalin hubungan dengan Raga hanya karena uang kan? sekarang, ambil semua barang-barang kamu dan segera angkat kaki dari perusahaan ini. Walaupun Raga yang menajalankannya, tapi pemegang saham terbesar di perusahaan ini adalah saya. Dan saya berhak untuk mengusir siapapun dari sini!" seru Eyang, dia memegangi dadanya.
"Pak...?!" aku menatap pak Raga.
Pak Raga menghela nafas panjang sebelum berkata, "Nanti Andri yang akan mengurus uang gajimu!" ucap pak Raga.
Aku nggak percaya dengan apa yang aku dengar. Dengan air mata yang bercucuran aku bereskan barang-barangku.
__ADS_1
"Saya permisi, Pak Raga ... Nyonya..." ucapku sebelum melenggang pergi dari ruangan itu.
Setelah menutup pintu, aku usap air mata yang daritadi terus aja keluar.
"Ada apa, Chel?" tanya mas Andri saat berpapasan dengan aku di depan ruangan pak Raga.
"Nau dibawa kemana nih barang-barang?" tanya mas Andri yang menunjuk box yang ada di tanganku.
"Aku dipecat, Mas..."
"Dipecat? nggak mungkin. Pak Raga nggak mungkin mecat pacarnya sendiri," ucap mas Andri.
"Aku mau pulang. Permisi mas Andri..." ucapku yang nggak mau jadi bahan olok-olokan mbak Erna yang udah berdiri dan mau nyamperin.
"Cheeeel, Racheeeel?!!" teriak mas Ans
Aku segera mempercepat langkah menuju lift. Sengan sekuat tenaga aku nahan air mata supaya nggak netes terus.
Sampai di lantai 10, pintu lift terbuka dan aku kaget ternyata Amel yang masuk ke dalam lift.
"Loh? kamu kenapa, Chel?" tanya Amel.
"Terus bawa-bawa box buat apa? mau dibawa kemana barang-barang kamu? diturunin ke divisi lain apa gimana? aku denger pak Raga ada asisten baru? bener nggak sih?" Amel merepet aja kaya petasan.
"Dipecat?"
"Ya ampun, yang sabar ya, Chel...?!" Amel meluk aku.
Tapi ting lift kebuka di lantai 5. Dan itu lantai yang dipencet Amel pas baru masuk. Amel ngelepasin pekukannya
"Aduh gimana ya?" Amel bingung.
"Nggak apa-apa, kamu lanjutin aja tujuan kamu, Mel..." ucapku sambil terus menekan tombol agar pintu lift nggak ketutup.
"Nanti kita bisa ngobrol lagi setelah kamu pulang kerja," lanjutku..
"Ehmm," Amel masih keliatan kayak orang bingung.
"Tanganku pegel, dah cepetan sana keluar!" aku gerakin dagu.
"Ya udah, nanti telfon ya kalau kamu butuh temen," ucap Amel, aku ngangguk. Dan Amel pun keluar.
__ADS_1
Kemudian pintu lift tertutup lagi, kotak besi ini membawaku turun sampai ke lobby. Sampai di bawah aku lupa kalau aku belum pesen taksi.
"Ya ampuuun, bego banget! huuufhhh..." aku noyor kepala sendiri.
"Huufhh, ya udahlah..." Aku keluar dari perusahaan yang udah menghidupiku selama kurang lebih dua tahun ini. Baru juga dapet temen akrab kayak Amel, sekarang harus ditampar kenyataan kalau aku harus nganggur dan nyari kerja di tempat lain.
Kaki ku melangkah nggak tau arah tujuan, yang penting aku menyingkir dulu. Sampai akhirnya kakiku capek dan aku berhenti di salah satu cofee shop gitu.
Box berwarna putih ini aku taruh di atas meja. Dan aku duduk sambil menyeka keringat yang mengucur dari pelipis.
"Permisi, mau pesan apa, Kak?" seorang pelayan laki-laki datang membawa buku menu.
"Ice chocolate!"
"Pakai float?" dia nanya lagi.
"Hem, boleh..." ucapku loyo.
"Ditunggu pesanannya," dia masuk ke dalam dengan membawa buku menu tadi.
Sedangkan sembari menunggu pesanan datang, pikiranku terbang melayang-layang.
Mungkin memang hubunganku dengan pak Raga yang baru seumur jagung harus berakhir dengan cara seperti ini.
"Sebenernya apa yang terjadi? kenapa Eyang Anti bisa tau semuanya? udah gitu pak Raga nggak nahan aku sama sekali. Baru aja roda kehidupan berputar ke atas, sekarang malah harus nyungsep lagi ke bawah, huhuhuhu. Gimana aku harus membiayai hidupku mulai besok?" gumamku. Aku menutup wajahku, air mata yang udah ditahan-tahan akhirnya mblewer juga pada akhirnya.
Barubmau ngerasain hidup yang lebih baik, eh malah dipecat. Apa ini karma karena aku selalu ngeluh dan nggak bersyukur? disuruh pak Raga aku ngeluh, disamperin pas liburan aku ngeluh dan banyak hal lagi yang bikin aku nyesel. Kenapa aku nggak antusias dengan kerjaan baru dan sekarang aku kayak diputus secara nggak langsung sama pak Raga.
"Sial banget sih hidupkuuuuuu ya Allaaaaah..." ucapku.
"Ehem..." suara deheman laki-laki.
Buru-buru aku usap air mata yang udah membanjiri wajahku.
"Ehm, maaf. Pesananya, Kak..." ucap pelayan yang sama, yang aku temui di awal. Dia naruh minuman cokelat itu di atas meja.
"Makasih ya..." ucapku dengan memberikan seulas senyuman, meskipun hatiku sekarang lagi tercabik-cabik.
"Maaf, boleh aku duduk?" dia nanya sopan.
"Iya, Mas. Silakan..."
__ADS_1
Dia duduk dan menaruh nampan di atas pahanya, "Maaf, sebelumnya. Saya tadi nggak sengaja mendengar---" ucapnya menggantung.