Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)

Kisah Mistis Rachel (Nolongin Bos Galak)
Mbak Enjel Dan Semua Yang Membuat Aku Bingung


__ADS_3

"Nggak mungkin, mbak Enjel? mbak Enjel di ruangan mas Liam ku? iya? mbak Enjel..." aku gelengin kepala nggak percaya.


"Kan dia orangnya pak Raga, kok bisa sedeket itu sama mas Liam? sejak kapan mereka deket?" aku masih membungkam mulutku sendiri, takut saking shock-nya aku jadi ngeluarin suara gitu. Pokoknya mereka nggak boleh tau kalau aku lagi disini.


"Buah itu kamu yang bawa?" tanya mas Liam.


"Nggak, bukan aku..." jawab mbak Enjel.


"Mungkin ada seseorang yang mengunjungimu kemari tapi karena kamu tadi tidur, jadi dia balik lagi. Atau mungkin juga kak Raga yang dateng kesini..." ucap mbak Enjel.


"Kak? dia manggil pak Raga dengan sebutan 'Kak'? nggak ngerti aku tuh..." aku masih nggak percaya sama apa yang aku denger.


"Ya mungkin juga..." ucap mas Liam menanggapi ucapan mbak Enjel tadi.


"Loh, kok pintu toiletnya nggak rapet sih?" ucap mbak Enjel.


"Toilet?" tanya mas Liam.


"Pintu toiletnya agak ngebuka," ucap mbak Enjel.


"Aku tutup dulu, bentar..." kata mbak Enjel, sedangkan aku langsung bersembunyi di balik pintu.


"Gimana nih? kalau ketauan ntar aku disangka lagi berbuat yang aneh-aneh nih mesti. Aduuuh gimana nih?" aku panik ketika langkah mbak Enjel terdengar semakin dekat.


Deg!


Deg!


Deg!


"Ya ampun, gimana nih?" jantungku berdebar saat langkah kaki mbak Enjel semakin lama


terdengar semakin dekat saja.


Namun tiba-tiba...


Ceklek!


"Permisi, Tuan Liam..." suara suster yang masuk ke dalam ruang rawat mas Liam.


"Ada apa ya, Sus?" tanya mbak Enjel kayaknya berbalik menuju suster itu berada. Terbukti ada suara langkah yang kian menjauh. Saat ini aku langsung plong banget rasanya. Akhirnya aku masih terselamatkan.

__ADS_1


"Begini, Nona. Dokter meminta tuan Liam untuk melakukan CT Scan dan cek laboratorium," jelas suster.


"Permisi, ya..." lanjut suster itu yang sepertinya dibantu rekannya yang lain untuk mendorong tempat tidur mas Liam. Iya itu yang aku liat, karena aku lanjut ngintipin dari sini. Dan mbak Enjel keluar mengikuti mas Liam dari belakang.


Setelah kurang lebih 5 menit ruangan ini kosong, aku pun keluar. Selain takut mbak Enjel atau perawat bakal kesini lagi, aku juga takut juga kalau setan yang ada di dalam toilet ini mendadak muncul lagi.


"Huufh, akhirnya..." ucapku setelah berhasil berjalan keluar tanpa diketahui oleh siapapun.


"Niat hati mau jengukin tapi malah dilanjut patah hati lagi," ucapku ngenes menuju lift.


Banyak hal yang aku nggak tau. Mulai dari kedekatan mas Liam dengan mbak enjel yang merupakan salah satu orang suruhannya pak Raga, dan kenapa mbak Enjel dengan beraninya menyebut bosnya dengan sebutan kakak di depan mas Liam.


Cuma untuk sekarang biarlah yang menjadi rahasia tetap menjadi rahasia. Aku nggak mau terlalu memikirkan itu, aku nggak mau berspekulasi apapun. Cukup nikmatin aja rasa sakit hati yang lagi menguasai.


Pintu lift terbuka, aku masuk ke dalamnya dengan langkah gontai, nggak bertenaga. Dan nggak berapa lama, si pintu besi ngebuka lagi ngablak-ngablak.


Hapeku bunyi saat aku udah di loby rumah sakit.


"Halo, ada apa, Mel?" sapaku saat nomor kontak Amel yang tertera di layar hape.


"Dimana? mau pulang bareng nggak?" tanya Amel.


"Nggak. Aku udah keluar dari kantor, aku kira kamu udah pulang, Mel..." aku nautin alis.


"Cepetan pulang, udah mau maghrib loh?! kantor sepi," aku ngingetin.


"Iya ini kau udah di parkiran. Aku nelfon kali aja kamu masih di kantor," kata Amel.


"Aku udah keluar dari jam 5 sore. Ya udah kamu hati-hati ya, Mel..." ucapku sebelum nutup telfon.


Aku jadi inget kalau Amel pernah bilang, beberapa kali melihat sosok yang menyerupai aku. Semoga aja sosok itu nggak ganggu Amel mengingat jam segini Amel masih di dalam area kantor.


Sedangkan aku, pesen taksi online dan pulang ke kosan. Aku sempet mampir buat beli makanan di jalan buat makan malam


Kan dari pagi perutku belum diisi apa-apa selain air. Makanya itu yang bikin aku jadi masuk angin.


Sebelum jam 7 malam, aku udah nyampe di kosanku.


"Makasih ya, Pa. Ini ongkosnya..." aku sodorin uang sesuai nominal yang tertera di aplikasi ijo.


"Makaish, Mbak..." jawab si supir.

__ADS_1


Aku turun dari mobil. Namun ada yang aneh, karena pintu gerbang yang biasanya nutup terus kok sekarang kebuka.


Dan ternyataaaa....


Ada mobil yang lagi parkir di dalem, dari moncong mobilnya kenal nih.


Dan setelah aku masuk, aku ngeliat pak Raga yang berdiri di samping mobilnya dan dikerubutin ciwik-ciwik.


Pak bos mah biasa dengan style juteknya, dia berdiri sambil liatin hape. Cuma temen-temen kos ku ininyang malu-maluin, kayak nggak pernah liat orang ganteng. Ada yang garuk-garuk punggung temennya. Ada yang gigitin anduk yang nyampir di pundak dan ada yang ngkremesin jari tangannya dengan mata yang nggak ngedip, ngeliatin pak Raga.


"Ehem?!" aku dehem. Barulah Pak Raga dan kawanan tawon yang ngerubungi bos ku itu ngeliat ke arahku.


"Kamu udah pulang, Sayang? aku tadi nyari kamu loh di kantor," ucap pak Raga. Dan para kawanan tawon yang tergabung dalam grup lambe dinkos ngeliar aku dengan muka nggak percaya.


"Sayang?" mereka bergumam kompak.


Aku cuma bisa tersenyum canggung saat pak Raga mendekat ke arahku.


"Bapak ngapain sih kesini?" bisikku.


"Kenapa? tidak boleh?" balas pak Raga.


"Ck, ini kosan perempuan, Paaaaak...?!" aku ngomong lirih sambil nahan emosi.


"Ya tau, tapi ibu kos kamu sendiri yang suruh saya parkir disini," kata pak Raga.


"Ibu kos?" gumamku, mataku mencari sosok ibu kos yang ternyata juga lagi duduk kurai deket parkiran motor, memperhatikan pak bos.


"Astaghfirllah?!" aku geplak jidatku sendiri.


"Kenapa kamu?" tanya pak Raga setengah berbisik.


"Siapa suruh tidak mengangkat telfonku," lanjutnya.


"Telfon?" aku lantas melihat hape dan bener aja pak bos missed called sampe 10 kali.


"Sayang kita makan malam di luar, yuk?" ucap pak Raga yang narik dan ngarahin aku ke salah sisi mobil.


Dan para tawon yang daritadi belum bubar, cuma bisa ngeliatin dengan muka yang iri. Pak Raga bukain pintu dan nyuruh aku masuk.


"Ngapain dia acting juga di depan warga kos Alam Indah segalaaa, ya ampuuuun..." ucapku dongkol di dalam hati.

__ADS_1


"Pakai sabuk pengaman!" suruh pak bos sebelum tancap gas keluar dari kosan.


__ADS_2