KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Ikut Seleksi


__ADS_3

Para murid Perguruan Pedang Kembar itu, melompat menyusul Manggala, mereka lansung mengelilingi Manggala dengan pedang terhunus.


Mereka berkeliling dengan memainkan pedang di tangan mereka, melihat dari baju mereka, mereka memiliki ilmu di atas murid Perguruan Pedang Kembar, yang di dikalahkan Manggala di Kota Raja Galuh Kencana tadi.


Manggala hanya tersenyum tipis ke arah musuh musuhnya, ia merogoh sakunya, dan mengeluarkan sebatang tongkat kecil terbuat dari emas campuran perak berwarna putih.


"Hup...!"


Blass...!"


Tongkat itu berubah menjadi besar, kelima murid Perguruan Pedang Kembar itu, terperangah melihat kesaktian Manggala, yang memamerkan tongkat Dewa pemberian sang guru Pendekar Tongkat Dewa.


"Namun mereka yang telah terbawa emosi, tanpa pikir panjang langsung menyerang Manggala dengan serentak.


Trang....!


"Hah...!" mereka terperanjat melihat Pedang yang selama ini jadi kebanggaan, kita patah jadi dua, belum hilang keterkejutan mereka, tongkat sakti di tangan Manggala berkelebat menghajar tubuh mereka.


Buk..! Buk..!


"Aaakh....!"


Mereka bermentalan ke tanah, dengan darah menyembur dari mulut mereka. Mereka berusaha bangun dengan sempoyongan, dan berlari meninggalkan tempat itu.


Manggala hanya tertawa, melihat musuhnya ambil langkah seribu, ia pun berjalan memasuki warung, kembali menemui pemilik warung yang masih duduk di kursi, meja yang di tempatnya tadi.


"Tuan tidak apa apa?" tanya Manggala, sambil duduk di depan pemilik warung itu.


"Tidak apa apa Den," jawab pemilik warung itu, " Terimakasih telah menolong saya!"


"Iya Tuan maaf mejanya jadi hancur!" ucap Manggala, sambil merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sekantong uang kepeng, dan memberikan beberapa keping kepada pemilik warung itu.


"Ini sebagai ganti rugi, dan makanan saya tadi," Manggala meletakkan uang itudi depan pemilik warung itu.


"Tidak usah Nak, pakailah sebagai bekalmu nanti! Anggaplah bantuan Anak tadi sebagai bayaran makanan yang saya berikan tadi," kata pemilik Warung itu, sambil tersenyum pada Manggala.


"Panggil saja Manggala Ki, nama saya Manggala!" Ujarnya memperkenalkan diri.


"Saya Ki Tanjung Nak, panggil saja Ki Tanjung," jawab pemilik warung itu. "Silahkan makan lagi Aki mau ke belakang," tambah Ki Tanjung, sambil berjalan ke belakang.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Manggala permisi pada Ki Tanjung, untuk melihat ke kerumunan orang orang banyak itu, tadi mereka sempat melihat ke arah pertarungan Manggala dengan para Murid Perguruan Pedang Kembar itu, setelah itu mereka kembali ke tempat mereka berkumpul tadi.


Melihat Manggala menuju ke arah kerumunan itu, mereka tampak berbisik bisik, melihat kedatangan Manggala.


Manggala hanya melempar senyum begitu melihat ke arah orang orang yang memperhatikannya itu, ia lansung di beri jalan ke depan, Manggala membalas perlakuan mereka dengan mengangguk ketika melewati orang orang itu.


Begitu sampai ke depan kerumunan itu, tampak beberapa orang anak muda sedang berkumpul, seperti menunggu sesuatu.


Tiba tiba sebuah bayangan melesat ke depan Para pemuda yang berkumpul itu, tampak sesosok wajah cantik dengan pakaian merah yang cukup seksi, di bagian dadanya sedikit terbuka, hingga memperlihatkan hampir separuh bukit kembarnya.


Bagian lengan bajunya berwarna ungu, dan di bagian pinggangnya terikat rapi sebuah selendang berwarna ungu juga, sebuah pedang tersampir di balik punggungnya.


Rambutnya panjang terikat rapi, di samping nya berdiri seekor Harimau berwarna putih.



Semua mata yang ada di tempat itu tertuju padanya, namun ia tampak tersenyum manis melihat ke arah para pemuda itu.


"Bagaimana apakah masih ada yang ingin bergabung dengan seleksi murid Perguruan Pedang Kembar lagi!" Ujar Gadis itu, dengan lantang, ia melihat ke arah Manggala yang berdiri di depan orang orang yang berkumpul.


"Hei..! Pemuda tampan, apakah kau ingin bergabung?" teriaknya, sambil menunjuk ke arah Manggala Surya Kencana.


"Ya, saya ikut!" jawab Manggala, sambil maju memasuki barisan para pemuda yang bersiap mengikuti ujian seleksi itu.


Gadis itu tersenyum melihat ke arah Manggala, "Tampan sekali pemuda itu, mudah mudahan ia bisa lolos seleksi ini," gumannya dalam hati.


"Apakah masih ada!" Ujarnya lantang.


"Tidak ada lagi..!" jawab semua orang yang berada di tempat itu.


"Baiklah nama saya Mentari, saya murid ke dua puluh lima, yang bertugas menyeleksi murid di Desa ini, saya harap tahun ini lebih banyak yang lolos menjadi murid Perguruan Pedang Kembar!" Ujarnya, sambil memperkenalkan diri.


"Apakah kalian siap..?" tanya Mentari, sambil memandang ke arah barisan pemuda yang berkumpul itu.


"Kami siap..!" jawab mereka serentak penuh semangat.


"Baiklah, Putih, Ke luar kan Aura Harimau Langit!" Perintah Mentari pada harimau putih di sampingnya itu.


"Aauuuum.....!

__ADS_1


Harimau putih itu mengaum, cahaya putih, dan suara auman yang membahana semua orang di tempat itu mundur sambil menutup telinga, kecuali para pemuda yang berbaris, mereka tidak boleh mundur dari barisan, jika mereka mundur, mereka di anggap gagal, atau mengundurkan diri.


Arya hentakan tenaga yang di keluarkan harimau putih itu, membuat para pemuda itu seperti menghadapi angin topan, hanya Manggala yang tegak santai, malah ia berjalan ke arah depan barisan itu.


"Aaakh....... !Tobat.....!" Jerit para pemuda itu, mereka banyak yang memilih mundur dan menjauh setelah telinga dan bibir mereka mengeluarkan darah.


Kini tinggal beberapa orang yang paling depan ada anak seorang juragan penguasa tempat seleksi itu, dan murid Lima Dewa, Manggala.


"Bagaimana Resa...? mau tambah lagi..!?" tanya Mentari sambil melihat ke arah pemuda di sebelah Manggala, ternyata bernama Resa.


"Ha ha ha...! Mentari ini belum apa apanya, ayo keluarkan tingkat yang lebih tinggi, aku yang akan lolos dan menjadi Kekasihmu..!" jawab Resa dengan lantang, ia tampak mengeluarkan tenaga dalam untuk menahan Aura Harimau Langit, dari harimau putih di samping Mentari itu.


"Baiklah kalau itu mau mu, Putih, keluarkan Aura Harimau Langit tingkat Lima!" perintah Mentari pada harimau putih itu lagi, harimau itu mengangguk tanda ia mengerti perkataan Mentari.


Aaauuummm........!"


Auman harimau putih itu menyakitkan telinga yang mendengarnya, Aura tenaga dari harimau putih itu menyakitkan kulit, bagi orang biasa kulitnya akan terasa seperti tersentuh api menyala.


Manggala meningkatkan 'Jurus Aura Dewa'. dan merapal Jurus Raga Dewa, ia berhasil menekan Aura Harimau Langit tingkat Lima itu, dengan Jurus


Aura Dewa tingkat satu.


Dengan 'Jurus Raga Dewa, ia tidak merasakan apa apa hempasan Aura Harimau Langit'. itu.


"Hauuum..!


Harimau putih itu tersudut mundur merasakan ' Jurus Aura Dewa'. milik Manggala. Dan harimau putih itu juga telah kehabisan tenaga.


Semua pemuda yang berada di dalam barisan telah terbaring di lantai, yang masih berdiri hanya Manggala Surya Kencana, dan Resa putra juragan penguasa tempat seleksi itu.


"Ha ha ha...! Mentari, kau memang di takdirksn menjadi Kekasih ku...!" Ujar Resa, dengan lantang.


"Sabar dulu Resa Gana, lihat lah di sekelilingmu, apa hanya kau yang masih berdiri..!" jawab Mentari dengan lantang pula.


Resa Gana memandang sekeliling, pandangannya terhenti pada Manggala yang berdiri dengan santai dan sambil tersenyum.


"Melihat harimau putih telah kehabisan tenaga, dan peserta tinggal dua orang, yang akan di terima hanya satu orang, jadi kalian harus bertarung satu sama lain..." ujar Mentari lantang.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2