KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Raksasa Tartaros


__ADS_3

Perbatasan Kota Galuh Kencana. Tampak ribuan prajurit siluman bersama ratusan prajurit naga sedang berbaris memasuki kota yang telah porak-poranda tersebut. Tidak butuh waktu lama, dua puluh ribu pasukan Kerajaan Qin yang dipimpin Panglima Wang Xian Chin telah sampai di batas kota. Pasukan Panglima Wang Xian Chin bergerak cepat begitu mendapat perintah dari panglimanya.


Kini dua pasukan saling berhadapan disebuah lapangan ditengah kota, bekas pasar rakyat Kota Kerajaan Galuh Kencana. Dua pasukan kini saling mempersiapkan diri. Panglima Wang Xian Chin begitu yakin mampu mengalahkan pasukan siluman yang dipimpin raksasa Talos dan raksasa Tartaros itu, dengan jumlah pasukannya yang jauh diatas jumlah pasukan siluman.


"Serang...!!" perintah Panglima Wang Xian Chin. Tanpa menunggu perintah kedua kalinya para jendral Kerajaan Qin langsung memimpin serangan.


"Habisi mereka...!" perintah raksasa Talos membahana. Sebelum akhirnya ia sendiri bergerak maju. Ribuan pasukannya merangsek maju dengan begitu bersemangat. Tidak lama kemudian terdengar suara hiruk pikuk peperangan. Pasukan siluman dan pasukan naga merangsek maju hampir tidak terbendung.


Hanya dalam hitungan jurus dua puluh ribu pasukan Panglima Wang Xian Chin hampir separuh terletak ditanah. Panglima Wang Xian Chin tampak tercekat melihat kejadian yang sungguh diluar dugaannya tersebut.


"Apa?? Ternyata perkataan senopati Laras memang tidak salah. Aku terlalu bersemangat," guman Panglima Wang Xian Chin tampak berubah pucat. Apalagi dengan adanya dua raksasa yang terus maju memporak-porandakan pasukannya.


"Mundur....!" teriak Panglima Wang Xian Chin melihat pasukannya hampir habis dibantai pasukan siluman naga dan pasukan siluman lainnya. Mendengar perintah mundur, para jendral Kerajaan Qin langsung memimpin pasukannya mundur.


Disaat yang genting, di saat pasukan siluman naga bergerak maju. Pasukan Draka datang membantu, berselang beberapa waktu. Pertempuran tampak berubah situasi. Kali ini pasukan Raksasa Talos dan raksasa Tartaros tampak mulai terpukul mundur.


"Bagaimana Panglima? Apa Kau sudah melihat kekuatan musuh kita?" tanya Laras sambil menjejak kaki dibelakang Panglima Wang Xian Chin. Panglima Wang Xian Chin hanya menunduk lesu, melihat pasukannya tidak sampai separuh lagi. Lebih dari separuh pasukan Panglima Wang Xian Chin telah terluka dan gugur di medan perang.


"Kau jangan menambah lemah semangat Panglima Wang Xian Chin Laras, kasihan pasukannya sudah banyak yang gugur," ucap Mentari, "Sebaiknya bawa pasukanmu mundur dan obati yang terluka Panglima. Biar kami yang menghadapi pasukan siluman itu," ujar Draka sambil berkelebat kearah dua raksasa yang sedang di hadapi para prajuritnya.


"Ayo kita mundur dulu, obati para prajurit yang terluka!" perintah Panglima Wang Xian Chin pada para jendralnya.


"Baik! Panglima!" jawab para jendral Kerajaan Qin itu. Mereka pun membawa mundur seluruh pasukan mereka yang masih hidup untuk mengobati para prajurit yang terluka. Para prajurit medis dari Kerajaan Galuh Kencana pun telah tiba dilokasi.


Laras dan Mentari melesat cepat kearah pasukan siluman. Setiap kibasan dan tebasan pedang ditangan dua gadis itu, membuat pasukan siluman berlompatan ketanah meregang nyawa. Raksasa Talos melihat anak buahnya jadi bulan-bulanan dua orang petinggi Kerajaan Galuh Kencana itu merangsek maju.


"Hoaaarr....!" raksasa Talos mengayunkan gada besarnya kearah Laras.


Buuum...!!


Gada besar itu menghantam tanah. Sedangkan Laras sudah tidak ada disana.


Wuss....!!

__ADS_1


Laras menyabet kan pedangnya kearah raksasa Talos, sebuah cahaya putih membentuk pedang raksasa melesat cepat kearah raksasa Talos. Raksasa Talos cepat melintangkan gada besarnya.


"Desss....!!


Blaaarrr....!!


Ledakan besar mengguncang tempat itu. Raksasa Talos tampak terdorong mundur sekitar empat langkah. Raksasa itu langsung memperkuat kuda-kudanya.


"Kurang ajar Kau manusia. Kau berani merusak gadaku... Hoaaarrr....!" raksasa Talos mengembor marah melihat fadanya jadi rusak terhantam pukulan Laras tadi.


"Hei! Raksasa tengik. Kau baru melihat gadamu yang rusak, tapi Kau tidak akan melihat tubuhmu yang rusak!" jawab Laras sambil melesat keudara menghindari ayunan gada raksasa Talos yang mencerca kearahnya.


"Hoaaarr....!!" tiba-tiba Jingga merubah dirinya menjadi raksasa, dan merangsek maju kearah raksasa Talos.


"Laras, Kau habisi para prajurit siluman itu, biar raksasa ini aku yang urus," ujar Jingga menggema. Jingga maju dengan pakaian padukan naganya.


"Ho Ho...! Itu baru kekasihku...!" ujar Draka sambil berubah jadi besar dan melompat kedepan raksasa Tartaros.


Buuumm....!"


"Ayo! Tartaros... Aku Panglima Kerajaan Atas Langit lawanmu..!" bentak raksasa Draka sambil mengacungkan Tongkat Pedang Emasnya kearah raksasa Tartaros.


"Hoaaarrr...! Draka... Tampaknya Kau mengantarkan nyawamu ke bumi! Hoaaarrr..!" bentak raksasa Tartaros sambil mengayunkan gada brdurinya kearah Draka.


Trang!


Draka menangkis serangan gada berduri raksasa Tartaros itu dengan begitu tenang.


"Serangan seperti ini hanya bisa mengusir semut di kerajaan langit Tartaros!" cibir Draka sambil tersenyum sinis. Tentu saja ejekan Draka itu membuat raksasa Tartaros naik pitam. Raksasa itu menyerang Draka dengan membabi buta.


"Hahaha...! Tartaros. Kemarahanmu hanya akan mempercepat kematianmu!" kata Draka sambil bergerak cepat, sebuah sabetan tongkat pedang emasnya Draka yang sulit si lihat mata biasa mengarah kebagian dada sebelah kanan raksasa Tartaros.


Srang! Sret!

__ADS_1


"Oorrkk....!!" raksasa Tartaros melenguh kesakitan sambil terhuyung mundur.


Baamm..!


Gada besar berduri raksasa Tartaros jatuh ketanah, menimbulkan suara berdebam. Raksasa Tartaros memegangi luka di dada sebelah kanannya dengan kedua tangannya. Darah berwarna merah kehijauan mengalir dari luka raksasa itu.


Bruukk!


Tubuh raksasa Tartaros jatuh tertelungkup. Beberapa saat tubuh raksasa itu masih bergerak. Namun kemudian diam, raksasa Tartaros tewas dengan mata terbelalak.


Draka langsung menciutkan tubuhnya kembali ke bentuk manusia normal. Tanpa mempedulikan raksasa Tartaros lagi Draka melesat kearah para prajurit siluman yang sedang berhadapan dengan para prajurit naga.


Sedangkan Laras tampak melesat kesana kesini dengan begitu cepat. Di setiap kibasan dan sabetan pedangnya satu prajurit siluman jatuh bersimbah darah.


"Hiyaaat...!" lengkungan suara Laras membuat para prajurit siluman tampak terkejut, dengan begitu gesitnya senopati agung Kerajaan Galuh Kencana itu mengamuk bagai singa terluka. Puluhan bahkan ratusan prajurit siluman yang mencoba menghadangnya dibuat tidak berdaya.


Begitupun dengan Mentari, tangan kanannya menggenggam erat ulu pedangnya. telapak tangan kirinya mengirimkan pukulan tenaga dalam tinggi. Para prajurit siluman tidak berdaya menghadapinya.


Sementara itu Jingga yang tampak terlibat pertarungan sengit dengan raksasa Talos. Kedua raksasa itu tampak saling berusaha memukul mundur musuhnya.


Hoaaarrr...!" raksasa Talos mengembor marah, karena setiap ayunan fadanya dapat dipatahkan oleh Jingga. Bahkan Jingga malah hampir dapat mendesaknya.


"Kau! Harus mati gadis naga!" bentak raksasa Talos.


Buuumm!


Raksasa Talos melepaskan gada besarnya dan tampak meningkatkan tenaga kearah dua kepalan tinjunya. Raksasa Talos mempersiapkan pukulan jarak jauh.


"Kau akan Merasakan 'Pukulan Api Penghancur Gunung'. ku,!" bentak Raksasa Talos. Dua buah bola api besar menyelubungi kedua tinjunya.


Sring!"


"Jangan Kau kira hanya Kau yang punya kesaktian, raksasa Talos!" jawab Jingga setelah menyarungkan pedangnya. Jingga pun menghimpun tenaga dalamnya dan mempersiapkan Pukulan Semburan Api Naga Neraka'. Jika dalam wujud naganya, api itu akan menyembur dari mulutnya.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2