
Buak..!
"Aaakh...!"
Lenguhan tertahan keluar dari mulut Pandan Ayu sebelum tubuhnya terpental sekitar dua tombak kesamping kiri. Pandan Ayu berusaha bangkit, namun salah seorang prajurit siluman telah melompat ke arahnya, dengan kapak bermata duanya mengayun di depan.
"Mati Aku...!" Guman Pandan Ayu dalam hati, ia tidak mungkin mengelak lagi. Pandan Suri hanya pasrah dan memejamkan matanya.
Set....!
Buak...!
"Aaaakh....!!!
Pandan Ayu perlahan membuka matanya, ketika menyadari senjata prajurit siluman itu tidak mengenainya.
"Siapa Kau?" Tanya Pandan Ayu karna tidak melihat wajah Manggala.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Manggala sambil menoleh ke arah Dewi Phoenix Putih, dan mengulurkan tangannya.
"Manggala? Kenapa Kau ada di sini?" Tanya Pandan Ayu sambil menerima uluran tangan Manggala itu. Pandan Ayu baru menyadari kalau di depannya telah berdiri lima orang pendekar yang telah membantunya, dan adik-adik seperguruannya.
"Kami berniat mengunjungi Perguruan Pedang Suci, Tapi kami malah bertemu Dewi di sini," Jawab Manggala sambil tersenyum malu pada gadis cantik berbaju putih di depannya itu.
"Terima kasih, telah menyelamatkan nyawaku," Ucap Pandan Ayu sambil membalas senyum Manggala, gadis itu agak salah tingkah memandang wajah tampan pemuda di depannya.
"Hoarrr.... Tampaknya ada manusia yang mau mengantarkan nyawanya lagi," Ujar salah seorang prajurit siluman itu.
"Manggala! Biar kami yang mengurus cecunguk Kerajaan Awan Hitam Atas Langit ini!" Ucap Laras dan Mentari berbarengan.
Adaik-adik seperguruan Pandan Ayu bergerak mundur beberapa langkah kebelakang mendengar perkataan Laras dan Mentari itu.
"Silahkan Kak!" Jawab Manggala sambil tersenyum.
"Kenapa Manggala mau ke Perguruan Pedang Suci?" Tanya Pandan Ayu malu-malu. Darah di dadanya berdebar memandang Manggala yang tersenyum padanya.
"Tampaknya, Tuanku menemui pujaan hatinya," Bisik Draka pada Jingga.
"Iya Panglima, aku melihat tuan Manggala agak salah tingkah di depan gadis itu," Jawab Jingga sambil berbisik.
"Ini pedangmu," Ucap Manggala sambil memberikan pedang Pandan Ayu yang tadi tergeletak di samping gadis itu.
"Manggala belum menjawab pertanyaan saya tadi," Kata Pandan Ayu sambil menerima pedang yang di kembalikan Manggala itu.
"Anu... sebenarnya... sa.. saya...," Jawab Manggala tampak agak kikuk di depan gadis cantik yang merebut hatinya pada pertemuan pertama dulu.
__ADS_1
"Anu.. kenapa?" Tanya Pandan Ayu sambil tersenyum manis, di tatapnya mata pemuda tampan di depannya itu.
"Sebenarnya, saya... Berniat mencari ni Dewi," Jawab Manggala sambil menunduk malu.
"Kak, apa dia pemuda sakti yang Kakak ceritakan itu?" Tanya salah seorang adik seperguruan Pandan Ayu.
"Hus... Diam Kau!" Jawab Pandan Ayu, wajahnya memerah menahan malu, karna adik seperguruannya keceplosan di depan Manggala.
"Maksud nisanak?" Tanya Manggala pada adik seperguruan Pandan Ayu itu.
"Tanya saja pada Kak Ayu?" Jawab gadis itu sambil tersenyum. Gadis itu pun menjauh mendekati teman-temannya.
"Apa saya tidak salah dengar," Ucap Pandan Ayu sambil tersenyum menatap wajah Manggala.
"Tidak... Ni Dewi tidak salah dengar," Jawab Manggala memberanikan diri, walau dadanya berdegup kencang memandan wajah cantik Pandan Ayu.
"Para gadis itu?" Tanya Pandan Ayu sambil mengerling kearah Laras dan Mentari.
"Mereka Kakak seperguruanku," Jawab Manggala singkat.
Pandan Ayu memberanikan diri membalas tatapan mata Manggala yang menatap wajahnya.
"Senyum ni Dewi manis," Puji Manggala memberanikan diri walau dadanya berdegup kencang.
Sementara itu Laras dan Mentari bagai singa yang terluka, pedang ditangan kedua gadis itu berkelebat bagai kilat membantai prajurit siluman yang mencoba menghadang mereka.
Srasss..!
Crass...!
"Aaaaa....!"
Para prajurit siluman itu berjatuhan ke tanah, darah berwarna hijau mengalir dari tubuh mereka. Beberapa prajurit siluman mencoba melarikan diri karna melihat amukan kedua musuh mereka yang tidak mampu mereka bendung lagi.
"Mau kemana Kalian siluman jelek!" Bentak Laras, tubuhnya melesat bagai kilat menghadang para prajurit siluman yang berniat melarikan diri. Namun niat mereka melarikan diri gagal, Laras dan Mentari langsung mengejar dan menghabisi para prajurit siluman itu.
Sementara itu Manggala dan Pandan Ayu tampak saling menatap satu sama lain, tanpa mereka sadari, mereka berdua menjadi perhatian Draka, Jingga dan adik-adik seperguruannya Pandan Ayu.
"Hmm...!" Salah seorang adik seperguruan Pandan Ayu memberanikan diri menegur, "Kak Pandan, ajak lah pemuda tampan itu bertemu Kakek guru, aku yakin kakek akan senang bertemu dengan dia," Ucap gadis itu, walau ia tampak agak takut di marahi Pandan Ayu.
"Eh.. Iya Sari, kita ajak semua tamu kita ini ke perguruan kita," Jawab Pandan Ayu, gadis itu berusaha menutupi perasaannya yang berkecamuk tidak menentu.
"Kak Sari, pemuda itu memang tampan ya, sesuai yang di ceritakan kak Ayu," Kata salah seorang gafis tampaknya ia adalah adik seperguruan Pandan Ayu setingkat di bawah gadis bernama Sari.
"Iya, pemuda itu memang tampan ya, di perguruan kita tidak ada yang setampan dia," Jawab Sari setengah berbisik.
__ADS_1
"Laras, lihat itu," Ucap Mentari tampak berubah sendu, melihat Manggala bersama dengan Pandan Ayu.
"Ya aku melihat nya, berarti dia gadis yang di maksud Manggala tempo hari," Laras seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Manggala pernah bercerita padamu?" Tanya Mentari berusaha menekan kekecewaannya.
"Manggala pernah bercerita, ia menyukai seorang gadis yang di temuinya saat baru turun gunung dulu, gadis itu berasal dari Perguruan Pedang Suci, Aku yakin dia, lihat Manggala bertingkah tidak seperti biasanya," Jawab Laras.
"Pupus sudah harapanku Laras," Ucap Mentari, suaranya terdengar agak lirih, walau ia berusaha menekan perasaannya.
"Apa Kakak yakin menyukai adik seperguruan sendiri?" Laras menatap ke arah Mentari.
"Kau sendiri kan tau, aku sangat menyukai Manggala," Jawab Mentari lagi.
"Tidak usah cemas Kak, Manggala adalah seorang pangeran calon seorang raja, jadi Kak Mentari bisa jadi selirnya," Jawab Laras berusaha menghibur Mentari.
"Apa? Manggala seorang pangeran?" Mentari tampak kurang yakin dengan ucapan Laras itu.
"Manggala adalah putra Baginda Raja Kindar Buana dari Kerajaan Galuh Kencana, junjungan kakek dan ayahku, Manggala telah mempersiapkan rekrutan para murid Perguruan Pedang Kembar yang kami kalahlan sebagai para prajuritnya," Jawab Laras berusaha memberi penjelasan pada Mentari.
"Kau tidak bohong kan Laras?"
"Apa aku pernah membohongi Kakak selama kita kenal?" Tanya Laras.
"Selama ini tidak, Kau berusaha menghiburku kan?"
"Tidak Kak Mentari, bila ada kesempatan tanyalah pada Manggala, waktu aku tau dia pangeran, aku memanggilnya dengan sebutan itu, namun Manggala melarangku, katanya belum saatnya, dia msu menjadikanku senopatinya," Jawab Laras meyakinkan Mentari.
"Nasib hatiku, bertepuk sebelah tangan Laras," Kata Mentari lirih.
"Sebenarnya Manggala juga menyukai Kak Mentari lho, namun hatinya telah terpaut dengan gadis bergelar Dewi Phoenix Putih itu," Laras menjelaskan.
"Dari mana Kau tau Laras?" Tanya Mentari semakin penasaran.
"Aku cukup lama bersama Manggala berdua waktu menuju Pagoda Lima pilar itu. Aku bertanya lansung pada Manggala," Jawab Laras lagi.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya kawan-kawan.
Terima kasih banyak.
__ADS_1