
Suara burung berkicau menghiasi suasana pagi di istana Galuh Kencana. Para prajurit baru tampak giat berlatih di sebuah pelataran di belakang istana. Laras dan Mentari tampak mengawasi para prajurit yang berlatih.
Para prajurit yang mempunyai kemampuan tingkat tinggi rata-rata telah di angkat jadi kepala regu. Kepala regu tersebut yang menjadi pelatih para prajuritnya. Kepala regu tersebut adalah orang-orang pilihan dari murid Perguruan Pedang Kembar. Mereka adalah orang-orang yang lolos seleksi masuk Perguruan Pedang Kembar.
Di bagian depan istana tampak sekitar seratus orang prajurit yang menjadi pengurus tata rias istana. Para prajurit itu merapikan pagar-pagar batu untuk taman di depan istana.
Taman belakang istana tampak telah kembali rapi dan asri. kursi batu yang dulu di tumbuhi lumut kini telah kembali bersih. Pendopo tempat raja beristirahat juga telah di perbaiki. Kolam ikan hiasan taman pun telah selesai di renovasi.
Suasana sejuk tampak di nikmati orang-orang paling penting di istana Galuh Kencana itu. Baginda Raja Kindar Buana dan Permaisuri Primata Trisna bersama pangeran satu-satunya di Kerajaan Galuh Kencana, Manggala tampak menikmati sarapan pagi di sana. Pandan Ayu tampak lagi asyik berbincang-bincang dengan Permaisuri Primata Trisna.
Seorang prajurit penjaga gerbang tiba-tiba berlari dan langsung berlutut di depan Baginda Raja Kindar Buana dan Manggala, "Maafkan hamba Tuanku, mengganggu istirahat kalian. Kami mendapat laporan bahwa di kota sedang terjadi kerusuhan. Seorang prajurit siluman raksasa sedang menuju kesini dengan pasukannya," Lapor prajurit itu sambil berlutut.
"Baiklah prajurit cepat laporkan hal ini pada senopati agung kita, Aku dan Pandan Ayu akan segera ke kota," titah Pangeran Manggala.
"Baik Pangeran!" jawab prajurit itu, tanpa banyak bicara lagi prajurit itu segera menuju arena latihan untuk melaporkan hal itu pada Laras sebagai senopati agung Kerajaan Galuh Kencana saat ini.
"Tuanku, hamba rasa raksasa yang di katakan prajurit kita itu adalah raksasa Gigan, berarti raja Iblis Merah telah mengirimkan pasukan lagi ke bumi," papar Draka.
"Baiklah Draka, ayo kita lihat kesana sebelum raksasa itu mengobrak-abrik istana kita ini," kata Manggala, "Ayu ikut?" tanya Manggala pada Pandan Ayu.
__ADS_1
"Tentu saja..!" Pandan Ayu bersemangat.
Manggala hanya mengangguk menimpali ucapan Pandan Ayu. Tanpa banyak bicara lagi Manggala segera melesat ke arah depan. Baginda Raja Kindar Buana tampak berniat menyusul tapi di tahan Permaisuri Primata Trisna.
"Biarkan saja putra kita yang mengurusnya Kanda. Kita telah melihat kesaktian Manggala, jadi biarkan para pendekar muda itu yang menghadapi musuh di luar sana. Bila pasukan siluman itu sampai kemari baru kita yang turun tangan," cegah Permaisuri Primata Trisna.
Baginda Raja Kindar Buana hanya mengangguk sambil tersenyum, "Kita kebelakang Dinda, melihat para prajurit berlatih," ajak Baginda Raja Kindar Buana pada sang Permaisuri.
"Baiklah Kanda, ayo!" jawab Permaisuri Primata Trisna sambil tersenyum. Baginda Raja Kindar Buana dan Permaisuri Primata tampak berjalan berdampingan ke arah pelataran belakang istana tempat para prajurit berlatih.
Sementara itu di tengah kota Galuh Kencana. Raksasa Gigan tampak sedang menghancurkan rumah-rumah para penduduk. Rumah yang telah di tinggal para penghuninya itu menjadi sasaran empuk gadia besar di tangan raksasa Gigan.
"Siluman tengik! Hentikan perbuatan busuk kalian itu. Lawan kalian adalah kami!" bentak Draka dengan suara membahana. Draka langsung memakai baju zirah emas pasukan naganya.
Manggala dan Pandan Ayu tampak berdiri di samping Draka dan Jingga.
"Hoaaarrr...! Habisi mereka prajurit!" perintah raksasa Gigan pada prajuritnya. Para prajurit siluman itu langsung mengepung Manggala dan kawanannya.
"Rupanya mereka memang berniat menghancurkan kita Tuanku!" ucap Jingga. Jingga lalu merapatkan tangannya di depan dada. Dalam sekejap pakaian Jingga telah berubah menjadi pakaian zirah perang pasukan naga langit.
__ADS_1
Sring!
Pandan Ayu langsung menghunus pedang di balik punggung sebelah kanannya. Tanpa banyak bicara lagi Dewi Phoenix Putih melesat bagai kilat ke arah para prajurit siluman itu.
"Hiyaaa...!
Crang! Crak! Creb!
"Oookh...!!"
Beberapa prajurit siluman langsung bermentalan ke tanah terhantam tendangan kaki Dewi Phoenix Putih yang bergerak begitu cepat. Sambaran pedang di tangan Pandan Ayu itu tidak mampu di bendung oleh para prajurit siluman. Para prajurit siluman itu satu persatu jatuh ke tanah meregang nyawa.
"Hoaaarrr...!!
Raungan kemarahan raksasa Gigan menyertai ayunan gada besarnya ke arah Pandan Ayu.
"Bum...!
Tanah tempat Dewi Phoenix Putih berdiri menyembur ke udara terhantam gada besar di tangan raksasa Gigan. Namun Dewi Phoenix Putih sudah tidak ada di sana. Dewi Phoenix Putih berkelebat membantai setiap prajurit siluman yang di hadapannya.
__ADS_1
"Hoaaarrr.....!!!