
Kembali ke Draka dan Jendral Iblis Pedang yang lagi dalam wujud raksasanya. Kedua raksasa itu berjarak sekitar sekitar seratus lima puluh tombak sampai dua ratus tombak dari tempat Pandan Ayu dan kedua murid Perguruan Pedang Kembar Divisi Luar Pedang Raga itu.
Iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu melesat kembali dengan pedang besarnya di depan cahaya yang menyelubungi pedangnya menimbulkan hawa yang cukup panas di area itu.
"Heaaa...!!"
Draka pun melesat menyongsong dengan Tongkat Pedang Emasnya di depan dada. Cahaya merah yang menyelubungi pedang di ujung tongkat itu bersinar terang menyilaukan mata.
Swoss.! Swoss!
Wuss..! Wuss...!
Trang..!!
BLAAAARRR......!"
Ledakan besar mengguncang tempat itu, Cahaya merah dari senjata di tangan raksasa jelmaan Draka rupanya mempunyai kekuatan di atas cahaya di pedang besar Iblis jelmaan Jendral Iblis Pedang.
Cahaya merah dari pedang emas di ujung tongkat raksasa jelmaan Draka tepat menghantam tubuh Iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu.
Swoss.! Swoss!
Booomm..!!
"Hoaaarrr.....!!"
Iblis raksasa itu tampak terpental puluhan tombak tubuhnya bagai si sapu angin badai berkekuatan tinggi. Tubuh rakaasa itu lintang pukang menghantam pepohonan.
Brak! Brak!
Pletak! Brum..!"
Entah berapa pohon yang tumbang terhantam tubuh raksasa itu. Sampai akhirnya tubuh ralsasa itu berhenti mengelinding. Api yang menyelubungi tubuhnya hampir padam. Namun membesar lagi dan membakar seluruh tubuh raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu.
__ADS_1
Iblis raksasa itu mengeliat sebentar lalu diam tidak berkutik. Asap hitam menyelubungi tubuh raksasa itu. Begitu asap yang menyelubungi tubuhnya sirna tampak tubuh Jendral Iblis Pedang sudah terbujur kaku dan hitam bagaikan arang.
Swoss!
Draka kembali ke wujud manusianya, dengan pakaian kuning keemasan tanpa zirah perang. Jingga langsung melesat ke arah Draka.
"Panglima tidak apa-apa?" Tanya Jingga agak cemas.
"Aku tidak apa apa!" Jawab Draka sambil tersenyum. Tanpa di minta Jingga langsung memeluk Draka.
"Aku tadi sangat takut! Aku tidak mau kehilanganmu lagi," Ucap Jingga terdengar sendu, setengah terisak.
"Aku telah bersemedi selama tiga ribu tahun tanpa henti. Kekuatan alam di bumi membuat tenagaku mencapai puncaknya. Walau pun aku kalah tuan Manggala tentu dapat mengalahkan JendralIblis Pedang itu," Jawab Draka sambil membalas pelukan kekasihnya itu.
"Sehebat itukah tuan Manggala?" Tanya Jingga agak ragu.
"Tuan Manggala adalah manusia pilihan yang di katakan Peramal Kayangan, jadi aku yakin, tuan Manggala bisa menumpas kejahatan pasukan partai iblis yang telah bekerja sama dengan para siluman itu," Jawab Draka meyakinkan Jingga.
Jendral naga cantik itu hanya mengangguk. Mata gadis naga itu tampak berkaca-kaca. Sepasang pedang masih terselip di balik balik punggungnya. Namun pakaiannya sudah tidak memakai zirah perang lagi.
"Hamba baik-baik saja Tuanku," Jawab Draka sambil menunduk di depan Manggala.
"Sukurlah. Sebenarnya aku cukup mencemaskan kalau Kau kalah bertarung melawan Jendral Iblis Pedang itu," Ucap Manggala sambil tersenyum.
"Tidak semudah itu jendral pasukan Raja Iblis Merah itu mengalahkan hamba, Tuanku," Jawab Draka dengan begitu tenang.
"Panglima pasukan naga langit memang hebat sekali!" Puji Pandan Ayu sambil tersenyum. Gadis cantik berbaju putih itu berdiri di samping Manggala.
"Terima kasih Tuan Putri!" Ucap Draka sambil agak membungkuk di depan Pandan Ayu. Pandan Ayu cepat-cepat menegang pundak Draka.
"Draka. Sebenarnya aku yang harus berterima kasih padamu. Berkat mustika pemberianmu, kekuatanku jauh meningkat. Sehingga aku sendiri tidak pernah membayangkan kekuatanku sampai sekuat sekarang. Jangan anggap kami junjungan, anggaplah kami sebagai teman, ada budi ada balas Draka," Kata Dewi Phoenix Putih sambil tersenyum.
"Terima kasih Tuanku, namun biarkan saya tetap memanggil Tuanku sebagai tuan, karna saya telah terikat sumpah pada diri saya sendiri. Saya akan mengabdikan diri pada orang yang membebaskan saya dari kutukan," Tutur Draka dengan tutur kata yang begitu sopan.
__ADS_1
"Draka, bangsa siluman terkenal kecongkaannya di bumi ini, namun bahasa mu begitu santun kepada manusia seperti kami," Ucap Pandan Ayu sambil menoleh ke arah Manggala.
"Saya di hukum selama ribuan tahun. Itu karna saya telah sombong Tuanku, selama ribuan tahun itu pula hamba belajar bagaimana menjadi mahluk yang baik bagi mahluk lain," Jawab Draka lagi.
"Ya sudah. Sebaiknya kita menemui guruku di Perguruan Pedang Suci," Kata Pandan Ayu sambil menoleh ke arah Manggala.
"Tunggu Ayu, bukankah kita mencari saudara seperguruanmu yang laki-laki?" Tanya Manggala.
"O iya! Maaf Ayu lupa," Jawab Pandan Ayu sambil tersenyum memandang pendekar tampan di sampingnya itu.
"Ayo!" Ajak Pandan Ayu. Gadis cantik itu melesat kearah utara tempat itu dengan gerakan yang begitu cepat. Manggala secepat kilat menyusul. Tidak sulit bagi Manggala mengimbangi kecepatan lari Pandan Ayu, dengan 'Jurus Langkah Dewa'.nya Manggala telah berada di samping gadis cantik itu.
Sayup-sayup terdengar suara pertarungan dari daerah utara yang mereka tuju, dengan kekuatan ilmu kedikjayaan yang mereka miliki. Para pendekar itu bisa mendengar suara pertarungan dari kejauhan.
"Kak Manggala! Ayu mendengar suara pertarungan!" Kata Pandan Ayu sambil menghentikan larinya.
"Ya, Aku juga mendengarnya. Sebaiknya kita cepat-cepat kesana!" Jawab Manggala Surya Kencana sambil ikut menghentikan langkahnya.
"Kakak benar! Ayo!" Kata Pandan Ayu, ia pun melesat ke arah suara pertarungan itu dengan kecepatan tinggi. Manggala pun melesat menyusul Pandan Ayu. Draka dengan tiga gadis lainnya juga tampak menyusul kecepatan gerakan para pendekar itu begitu cepat, sehingga yang terlihat hanya bayangan yang berkelebat bsgai kilat.
Pandan Ayu dan Manggala melompat ke atas sebatang pohon yang cukup tinggi. Kemudian mereka berdua melompat dari pohon kepohon dengan begitu cepat. Setelah berada di atas arena pertarungan itu, barulah mereka berdua berhenti.
Manggala dan Pandan Ayu dengan seksama memperhatikan pertarungan yang sedang berlangsung di bawah sana.
Tampak para murid laki-laki Perguruan Pedang Suci sedang bertarung dengan pasukan siluman. Melihat dari kepandaian saudara seperguruan Pandan Ayu itu, mereka cukup berilmu tinggi. Namun para prajurit siluman yang mereka hadapi cukup banyak dan berpakaian zirah besi, sehingga setisp kali murid Perguruan Pedang Suci mengenai tubuh prajurit siluman itu. Para prajurit itu tidak mengalami luka yang serius.
"Bangsat! Mereka tampaknya benar-benar ingin menghancurkan Perguruan Pedang Suci!" Guman Pandan Ayu seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Kita bantu Saudara seperguruanmu itu Ayu," Kata Manggala yang dari tadi memperhatikan pertarungan di bawah sana dari samping Pandan Ayu.
"Eh.. Iya Kak! Maaf Ayu hampir lupa di sini ada Kakak!" Jawab Pandan Ayu agak terkejut. Gadis itu sempat melempar senyum manisnya pada Manggala, "Ayo Kak!" Pandan Ayu melesat bagai kilat ke arah pertarungan di bawah sana di susul Manggala.
.
__ADS_1
.
Bersambung...