
Manggala hanya tersenyum saat Pandan Ayu memandangnya, kedua pendekar muda itu tampak saling malu untuk memulai pembicaraan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Manggala memberanikan diri membuka suara.
"Kami bertugas mengecoh para prajurid siluman itu, mereka berniat mencari keberadaan Perguruan Pedang Suci," Jawab Pandan Ayu sambil tersenyum.
"Murid-murid yang lain mana?" Tanya Manggala lagi.
"Murid yang laki-laki ke arah barat, sudah beberapa waktu ini para prajurit siluman itu begitu gencar menyelidiki keberadaan Perguruan Pedang Suci, guru mulai mencemaskan kalau mereka berhasil menemukan Perguruan Pedang Suci bakal banyak korban. Karna banyak penduduk yang berlindung di Perguruan kami," Jawab Pandan Ayu.
"Sebaiknya kita kembali ke Perguruan sekarang Manggala," Ucap Pandan Ayu sambil memandang ke arah adik-adik seperguruannya yang sudah tampak kelelahan.
"Sebaiknya kita menuju arah barat, membantu saudara seperguruanmu, tampaknya para prajurit itu memiliki kekuatan yang sulit Kalian tandingi, apa lagi para senopati mereka," Ucap Menggala.
"Tapi adik-adik seperguruanku sudah cukup lelah Manggala, kalau aku sih masih sanggup," Jawab Pandan Ayu lagi.
"Perintahkan mereka kembali, Ayu di sini sebagai penunjuk jalan," Ucap Manggala. Pendekar muda itu hampir tidak sanggup banyak bicara di depan gadis cantik yang telah mencuri hatinya itu.
"Baiklah, tapi saya harus membuka gerbang ke Perguruan Pedang Suci, karna hanya beberapa orang yang bisa membuka gerbang, termasuk saya," Kata Pandan Ayu sambil menampakkan senyum manisnya.
"Silahkan, saya akan menunggu Ayu di sini," Jawab Manggala, hatinya jadi berdebar-debar memandang senyum Pandan Ayu yang di hiasi sebuah lesung pipit di sudut pipinya.
"Wah Kak Ayu dapat kekasih ni, cariin kami dong Kak!" Ujar salah seorang adik seperguruan Pandan Ayu.
"Hus... Sebaiknya Kalian pulang ke Perguruan, katakan pada guru, kakak lagi bersama teman Kakak," Kata Pandan Ayu.
"Yah... Kak Ayu mentang-mentang lagi bersama pendekar tampan kita di lupakan," Kata salah seorang adik seperguruan Pandan Ayu, gadis satu itu tampaknya cukup akrab dengan Dewi Phoenix Putih, sehingga ia berani menggoda di banding yang lain.
"Hus... Kamu ambil tuh Sarma," Jawab Pandan Ayu sambil mendorong adik seperguruannya itu sambil tertawa.
Pandan Ayu merapal sebuah ajian yang di ajarkan oleh gurunya. Beberapa saat kemudian tampak sebuah gerbang dari cahaya terbuka. Para murid Perguruan Pedang Suci itu langsung memasuki gerbang itu.
"Huaks...!" Pandan Ayu tiba-tiba jatuh berlutut dan memuntahkan darah segar. Melihat Pandan Ayu jatuh berlutut, Manggala segera melesat ke arahnya. Manggala segera membantu Pandan Ayu.
"Ada apa ni Dewi, Kau terluka?" Tanya Manggala sambil memegang bahu Pandan Ayu. Gadis itu tidak berusaha menolak bantuan dari Manggala itu.
"Duduklah, saya akan mengalirkan hawa murni ke tubuh ni Dewi," Ucap Manggala. Pandan Ayu hanya mengangguk ia pun duduk dan mengambil posisi semedi.
"Tuanku, dia kan gadis yang Tuanku sukai, gunakan mustika naga untuk membantunya," Ucap Draka melalui telepati yang hanya di dengar Manggala sendiri.
"Draka benar, sebaiknya ku berikan mustika itu satu pada Pandan Ayu, lagian sepertinya dia juga menyukaiku," Guman Manggala dalam hati.
"Ada apa Manggala," Tanya Pandan Ayu sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, karna ia memaksakan diri menggunakan tenaga dalam. Sedangkan tenaga dalam yang ia miliki sudah hampir terkuras.
"Tidak, tidak apa-apa ni Dewi," Jawab Manggala kelabakan karna lamunannya hampir dapat di baca oleh Pandan Ayu.
__ADS_1
"Katanya mau mengalirkanhawa murni ke tubuh saya? nggak jadi?" Tanya Pandan Ayu sambil berusaha tersenyum.
"Sebaiknya ni Dewi gunakan ini," Kata Manggala sambil memberikan sebuah mustika naga pada Pandan Ayu.
"Mustika apa ini?" Tanya Pandan Ayu sambil melihat mustika di tangannya.
"Itu mustika naga pemberian Draka," Jawab Manggala.
"Mustika naga yang legendaris itu? Siapa Draka?" Tanya Pandan Ayu yang tampak bingung.
"Ya, itu mustika naga seperti ni Dewi katakan, Draka adalah raja naga yang tinggal di lembah naga berkepala lima," Jawab Manggala.
"Manggala bisa keluar dari Lembah Naga itu?" Tanya Pandan Ayu lagi. Manggala hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Pandan Ayu itu.
"Sebaiknya ni Dewi cepat bersemedi, nanti darah ni Dewi tambah kacau," Ucap Manggala.
"Baiklah!" Jawab Pandan Ayu. Gadis itu lalu memejamkan matanya dan melakukan semedi. Tangannya memegang mustika naga pemberian Manggala itu.
Perlahan cahaya merah menyala menyelubungi tubuh Pandan Ayu, wajah cantiknya yang tadi tampak agak pucat kini berubah menjadi segar. Hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menitan Pandan Ayu telah bangun dari semedinya.
"Mustika ini begitu cepat menyembuhkan luka dalamku, bahkan aku merasa tubuhku jauh lebih ringan dan enteng dari sebelumnya," Guman Pandan Ayu dalam hati.
"Kak Manggala! Ini saya kembalikan mustikanya, dan terima kasih banyak. Tubuh saya jadi begitu enteng dan ringan. Tubuh saya jadi terasa begitu bertenaga," Ucap Pandan Ayu.
"Kakak?" Manggala tampak terkejut mendengar ucapan Pandan Ayu itu.
"Boleh sih.. Tapi.." Kata Manggala tampak agak tersendat, "Habis aku, kenapa aku hampir tidak bisa berbicara di depan Pandan Ayu," Guman Manggala dalam hati.
"Tapi kenapa Kak?" Tanya Pandan Ayu memberanikan diri menatap ke arah wajah tampan milik Manggala, seulas senyum tipis menghiasi wajah cantik gadis itu.
"Apa ni Dewi tidak punya kekasih, saya tidak mau di bilang perebut kekasih orang," Jawab Manggala malu-malu.
"Tidak, Ayu belum punya kekasih," Jawab Pandan Ayu.
"He em....! Katanya mau ke barat menyusul murit Perguruan Pedang Suci yang lain," Ucap Mentari tampak berdiri tidak jauh dari Manggala dan Pandan Ayu.
"Eh iya, ya..." Jawab Manggala tampak tersipu malu, di pergoki Mentari. Laras tampak senyam senyum berdiri di dekat Draka dan Jingga.
"Kak Manggala ini mustikanya," Ucap Pandan Ayu malah berani mendekat ke arah Manggala, dan menyodorkan mustika naga.
"Simpan saja oleh Ayu, boleh kan saya panggil Ayu?" Jawab Manggala sambil menatap wajah cantik di dekatnya itu.
"Jadi mustika ini di berikan pada Ayu Kak?" Tanya Pandan Ayu sambil memandang wajah tampan di sampingnya itu.
"Ya, itu hadiah perkenalan kita," Jawab Manggala lagi.
__ADS_1
"Iya," Jawab Pandan Ayu, ia menyarungkan pedang nya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
"Ayo Kak," Ujar Pandan Ayu sambil menarik tangan kiri Manggala, dengan sekali gerakan gadis itu telah melesat begitu cepat meninggalkan tempat itu.
Jlek!
Pandan Ayu menjejakkan kaki di di tanah, gadis itu terkejut setengah mati dengan perubahan kepandaiannya. Pandan Ayu tegak berdiri mematung sambil memandangi kedua tangannya. Manggala pun tiba dan menjejakkan kaki di di tanah di samping Pandan Ayu.
"Ada apa Yu?" Tanya Manggala pura-pura tidak tau, apa yang membuat Pandan Ayu berdiri mematung.
"Kak, ilmu meringankan tubuh Ayu begitu meningkat, jauh di luar dugaan Ayu sendiri?" Jawab Pandan Ayu sambil memandang ke arah Manggala dengan hati penuh pertanyaan yang sulit ia ungkapkan.
"Mustika itu bukan mustika biasa, kekuatan mustika itu bisa membuat orang biasa menjadi seorang yang sakti, apalagi Ayu yang sudah punya kekuatan, sekarang semua kekuatan Ayu mencapai tingkat tertinggi, sesuai dengan bakat bawaan Ayu, tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh Ayu mencapai tingkat sembilan puluh sembilan," Jawab Manggala menjelaskan.
"Terima kasih banyak Kak Manggala," Ucap Pandan Ayu tanpa malu-malu gadis itu langsung memeluk Manggala. Tentu saja perlakuan Pandan Ayu membuat Manggala kelabakan. Manggala hanya terdiam di peluk erat gadis cantik yang telah mencuri hatinya itu.
"Maaf... Maafkan Ayu Kak, Ayu kesenangan!" Ucap Pandan Ayu baru sadar, perlahan ia melepaskan pelukannya dari tubuh Manggala.
"Tidak apa-apa," Jawab Manggala, dadanya berdebar kencang di tatap Pandan Ayu begitu dekat dengan wajahnya, hembusan napas Pandan Ayu terasa hangat menerpa wajahnya.
Perlahan Manggala memberanikan diri memegang tangan Pandan Ayu dan menggenggam jemari lentik gadis cantik berbaju putih itu. Pandan Ayu tidak menolak sedikitpun, ia membiarkan jemari Manggala menggenggam tangannya.
"Ayu mau kan jadi Kekasih Manggala?" Tanya Manggala dengan suara bergetar. Manggala berusaha menahan debaran di dafanya.
"Apa tidak terlalu cepat Kak Manggala menyatakan perasaan Kakak?" Tanya Pandan Ayu dengan mata berbinar, ia memberanikan diri menatap ke bola mata pemuda tampan itu.
"Kakak sudah lama menyukai Ayu, sejak kita pertama bertemu dulu," Ucap Manggala mengungkapkan isi hatinya.
"Ayu juga suka sama Kakak sejak pertemuan pertama kita dulu, namun Ayu takut kita tidak akan bertemu lagi, apalagi musuh yang di hadapi manusia adalah para prajurit siluman yang mempunyai kesaktian dan kekuatan di atas manusia biasa," Jawab Pandan Ayu sambil menatap lekat wajah Manggala.
"Jadi Kakak tidak bertepuk sebelah tangan dong," Ucap Manggala sambil tersenyu. Pandan Ayu hanya mengeleng lembut. Perlahan gadis cantik itu memeluk Manggala lagi. Kali ini Manggala pun memberanikan diri untuk membalas pelukan Pandan Ayu itu.
Kebahagian Manggala dan Pandan Ayu itu jadi pemandangan bagi Laras dan teman-temannya. Mentari tampak agak lesu merasa perasaannya belum mendapatkan balasan. Perasaan suka Mentari pada Manggala membuatnya merasakan kecemburuan yang menusuk di dalam hatinya.
"Sabar Kak, Kakak masih punya harapan kok," Kata Laras berusaha menghibur Mentari. Laras memegang pelan bahu Mentari.
Ho ho ho...! Rupanya di sini para murid Perguruan Pedang Suci bersembunyi.. Ho ho ho....!"
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like Koment Vote dan favorit nya ya.
__ADS_1
Terima kasih banyak teman-teman.