
Tanah tempat Dewi Phoenix Putih berdiri menyembur ke udara terhantam gada besar di tangan raksasa Gigan. Namun Dewi Phoenix Putih sudah tidak ada di sana. Dewi Phoenix Putih berkelebat membantai setiap prajurit siluman yang di hadapannya.
"Hoaaarrr.....!!!
Raksasa Gigan mengembor marah sambil mengayunkan gada besar berduri itu ke arah Dewi Phoenix Putih dengan cukup cepat. Namun Dewi Phoenix Putih cepat melentingkan tubuhnya keudara. Pedang di tangan Dewi Phoenix Putih menyabet ke depan, cahaya putih melesat keluar dari pedang itu.
Wuss! Wuss!
Dua cahaya putih menyilang itu langsung menghantam tubuh raksasa Gigan.
Blaasss...!
Raksasa Gigan hanya terdorong dua langkah kebelakang. Beberapa saat kemudian raksasa Gigan kembali menyerang ke arah Dewi Phoenix Putih.
"Maaf Tuan Putri, mundurlah. Biar hamba yang akan menghadapi raksasa Gigan itu," ucap Draka. Draka berdiri di samping Pandan Ayu. Draka telah merubah diri kepakaian perangnya.
"Baiklah Draka. Silahkan," jawab Pandan Ayu sambil melompat mundur dan lansung menyerang kearah para prajurit siluman.
Draka merubah wujudnya menjadi raksasa sebesar raksasa Gigan. Draka langsung menghadang langkah raksasa Gigan yang hendak menyerang Pandan Ayu.
"Aku lawanmu raksasa Gigan!" bentak Draka sembari mengacungkan Tongkat Pedang Emasnya kearah raksasa Gigan.
"Hohoho...! Draka... Rupanya Kau telah menjadi abdi manusia makhluk rendahan itu," ujar raksasa Gigan langsung berhadapan dengan Draka.
"Manusia jauh lebih mulia dibanding kalian iblis!" bentak Draka sebuah ayunan tongkat pedang emasnya melesat kearah raksasa Gigan.
"Hah..! Kenapa Draka begitu marah saat aku mengatakan manusia mahkluk rendahan?" guman raksasa Gigan dalam hati dalam keterkejutannya melihat kemarahan Draka tersebut.
Wut!
Tang! Dentangan pedang dan gada di tangan raksasa Gigan beradu di udara, bunga api memercik ketanah akibat bergesernya dua senjata tersebut. Draka yang tampak marah akibat hinaan raksasa Gigan tersebut, melancarkan serangan berturut-turut.
Draka yang meningkatkan tenaga dalamnya kearah tongkat pedang emasnya, membuat senjatanya di selubungi cahaya putih kemerahan. Raksasa Gigan tampaknya harus menelan mentah-kemarahan sang raja naga itu.
Trang! Raksasa Gigan berusaha menahan serangan Draka yang begitu cepat. Namun gada besar di tangannya harus jatuh terhantam tenaga besar ayunan Tongkat Pedang Emas ditangan Draka tersebut.
__ADS_1
Bam! gada besar itu jatuh ketanah membuat beberapa prajurit siluman yang berada di dekatnya lari kalang kabut. belum lagi amukan Laras dan Mentari bersama Pandan Ayu tidak mampu mereka bendung. Tidak butuh waktu lama para prajurit siluman itu hampir habis di hajar oleh para pendekar wanita tersebut.
Raksasa Gigan berusaha meraih kembali gadanya setelah menghindari serangan tongkat pedang emas Draka. Namun sebuah tendangan Draka yang begitu cepat tidak sempat dihindari Raksasa Gigan.
Buak!
"Okh..! Raungan kesakitan raksasa Gigan sebelum tubuhnya jatuh ketanah.
Baaam....! Raksasa Gigan terlempar cukup jauh. Tubuh raksasa Gigan bergulingan di tanah. Namun ia masih sanggup bangkit. Baru saja raksasa Gigan hendak maju, Draka telah melesat mengayunkan tongkat pedang emasnya.
Wuss...!
Cahaya merah melesat dari ayunan tongkat pedang emas Draka. Raksasa Gigan berusaha menangkis dengan gada besarnya yang telah berhasil ia raih. Namun rupanya cahaya itu begitu tajam bak mata pedang. Cahaya merah itu membabat putus gada besar raksasa Gigan tersebut. Cahaya tersebut langsung menghantam tubuh raksasa Gigan yang memakai zirah perang pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu.
Crass.!
"Okh....!!"
Tubuh raksasa Gigan harus terpental ketanah dengan luka menganga dibagian dada.
Draka, kenapa Kau begitu peduli pada manusia? Sedangkan Kau adalah bangsa naga dari kayangan? Apa yang membuat mu begitu marah saat aku menghina mereka?" tanya raksasa Gigan sambil memegangi luka yang terus mengalirkan darah itu.
"Sekarang aku mengerti, kenapa Kau begitu marah.. Huakh... selamat tinggal Draka, berhati-hatilah.. Karna Pangeran Iblis Merah telah melepaskan tujuh naga jahat dari neraka perut bumi," ucap raksasa Gigan. Perlahan tubuhnya jatuh ketanah.
Raksasa Gigan pun tewas oleh amukan sang raja naga Draka yang tidak terbendung. Melihat pimpinan mereka tewas, para prajurit siluman yang masih hidup mencoba melarikan diri.
Laras dan Mentari rupanya telah melesat menghadang. Sedangkan Jingga dan Pandan Ayu menyusul dari belakang. Melihat pelarian mereka dihadang para prajurit siluman tersebut mencoba mengadakan perlawanan. Namun perlawanan mereka sia-sia, karena kemampuan mereka bertarung tidak ada apa-apanya di bandingkan kemampuan bertarung keempat orang itu.
Scras! Crass..!
Setiap sabetan pedang di tangan para gadis cantik itu satu prajurit siluman meregang nyawa. Hanya dalam beberapa gerakan semua prajurit siluman tersebut telah bergelimpangan ditanah. Manggala yang hampir tidak kebagian musuh, akhirnya memilih membantu beberapa orang yang terluka oleh serangan para prajurit siluman itu.
Dengan Kekuatannya Draka membuat mayat raksasa Gigan dan para prajuritnya keruang dimensi yang lain. Setelah itu barulah Draka kembali kewujud manusianya lagi.
"Tuanku, hamba bisa memulihkan kembali rumah para penduduk dengan kekuatan sihir yang kami miliki," ucap Draka sambil mendekati Manggala.
__ADS_1
"Biarlah mereka memperbaiki sendiri Draka, aku takut mereka akan ketakutan melihat rumah mereka utuh dalam sekejap mata, yang penting musuh yang menyakiti mereka telah dikalahkan," jawab Manggala sambil tersenyum. Pangeran Kerajaan Galuh Kencana tersebut baru saja selesai mengobati luka seorang laki-laki yang terluka oleh serangan para prajurit siluman itu.
"Baik, Tuanku..," ucap Draka sambil memberi hormat. Pandan Ayu, Laras dan Mentari bersama Jingga tampak juga sibuk membantu orang-orang yang terluka. Setelah selesai mengobati dan membantu orang orang kampung barulah mereka kembali keistana Galuh Kencana.
Kembalinya Pangeran Manggala di sambut oleh Permaisuri Primata Trisna dengan Baginda Raja Kindar Buana dan Permaisuri Primata Trisna di depan gerbang.
"Anakku Kau telah kembali, bagaimana raksasa itu, apa kalian telah mengalahkannya?" tanya Permaisuri Primata Trisna. Sedangkan Baginda Raja Kindar Buana hanya tersenyum mendengar pertanyaan sang Permaisuri tersebut.
"Draka telah membunuh raksasa itu Ibunda," jawab Manggala sambil tersenyum.
"Jadi bukan ananda yang membunuh raksasa itu?" tanya Permaisuri Primata Trisna lagi.
"Sudahlah Dinda, jangan diteror pertanyaan terus, putra kita baru kembali, dia tentu lelah," potong Baginda Raja Kindar Buana.
"Tidak apa-apa Ayahanda, biarlah lagian bertarung seperti itu Manggala sudah biasa, tapi tadi Manggala tadi hampir tidak dapat bagian musuh oleh kak Laras, dan Kak Mentari, di tambah Pandan Ayu, bersama Jingga," ucap Manggala sambil tersenyum.
"Kalian mengalahkan para prajurit siluman dan raksasa itu dalam waktu singkat?" cerca Permaisuri Primata Trisna lagi.
"Hehe..! Prajurit siluman itu hanya jadi makanan empuk senjata mereka berempat Bunda," jawab Manggala sambil tertawa.
"Rupanya Pangeran Manggala telah merekrut orang-orang yang sangat hebat!" puji Permaisuri Primata Trisna.
"Ibunda Permaisuri pun sama hebatnya sekarang," tambah Pandan Ayu dari belakang.
"Dari mana ananda tau kalau ibunda juga hebat," sanggah Permaisuri Primata Trisna sambil tersenyum.
"Kekuatan mustika naga itu Ibunda," jawab Pandan Ayu, " Kekuatan yang kita miliki dari mustika Draka itu, jadi Ibunda Permaisuri pasti hebat juga," tambah Pandan Ayu sambil menunduk memberi hormat.
"Hehe..! Selain cantik rupanya nak Ayu, pandai memuji," imbuh Permaisuri Primata Trisna sambil merangkul Pandan Ayu.
"Terima kasih Bunda," ucap Pandan Ayu tampak kurang enak hati terhadap Mentari dan Laras.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf ya teman-teman. Author akhir ini sangat sibuk, sehingga tidak sempat menulis. Terima kasih banyak dukungan teman-teman. Novel ini tetap lanjut kok, cuma mungkin up nya yang sering telat.