
Cahaya matahari mulai berada di atas kepala. Teriknya sinar matahari membuat udara terasa panas, kecuali di bawah pepohonan. Para murid Perguruan Pedang Kembar yang telah di rekrut Manggala tampak beristirahat di bawah pepohonan yang rindang di pinggir benteng istana Galuh Kencana.
Mereka mendengarkan cerita dari Permaisuri Primata Trisna yang bercerita tentang kemakmuran dan kedamaian Kerajaan Galuh Kencana dahulunya. Pendekar Gila Patah Hati tampak ikut memperhatikan cerita sang Permaisuri cantik itu.
Para calon prajurit itu mendengarkan cerita sang Permaisuri sambil menikmati singkong rebus dan teh hangat buatan kawan mereka yang bertugas di dapur hari ini.
Nan Jauh dari istana tampak serombongan orang-orang yang bergerak cepat bagaikan bayangan menyusuri hutan. Rombongan itu adalah rombongan Manggala bersama dengan Pandan Ayu dan yang lainnya. Gerakan para pendekar itu begitu cepat sehingga yang terlihat hanya kelebat bayangan mereka di tengah timbulnya hutan.
Pandan Ayu yang mengetahui jalan tercepat menuju istana Galuh Kencana menjadi penunjuk jalan. Di bekali kesaktian dari para gurunya dan kekuatan dari mustika naga Pandan Ayu bergerak begitu cepat. Jika saja Manggala tidak mempunyai ' Ilmu Langkah Dewa'. tentu saja Manggala telaj tertinggal jauh.
Mentari dan Laras yang juga mempunyai kesaktian dari mustika naga Draka. Tentu saja dapat mengimbangi kecepatan dua Pendekar di depan mereka. Draka dan Jingga pun mengimbangi para pendekar muda itu dengan kesaktian mereka. Draka yang tadinya mengajak Manggala memakai pintu dimensi untuk mencapai istana. Manggala menolak keinginan Draka itu dengan alasan siapa tahu di hutan ada orang-orang yang memerlukan bantuan.
Tidak butuh waktu lama dengan kecepatan lari para pendekar muda itu. Mereka telah sampai di luar gerbang istana Galuh Kencana.
Pandan Ayu yang sampai lebih dulu memperlambat langkah kakinya begitu memasuki gerbang istana. Melihat orang yang tidak di kenal sekitar lima orang bekas murid Perguruan Pedang Kembar langsung menghadang.
"Siapa Kau! Apa maksud kedatanganmu?" Ujar salah seorang yang menghadang Pandan Ayu.
"Hah ha ha...! Tampaknya calon prajurit Kerajaan Galuh Kencana memang sigap. Tenang Kisanak aku datang dengan Pangeran Manggala," Jawab Pandan Ayu sambil tertawa.
Manggala dan Laras bersama Mentari pun menjejak kaki di samping Pandan Ayu di susul oleh Draka dan Jingga.
"Pangeran! Selamat datang!" Ucap para calon prajurit itu. Mereka langsung memberi hormat pada Manggala.
"Terima kasih prajuritku! Kalian tampaknya menepati janji!" Jawab Manggala, "Bangunlah!" Titah pangeran Manggala.
"Terima kasih Pangeran!" Ucap para calon prajurit itu berbarengan.
"Permaisuri dan Baginda Raja ada di dalam Pangeran!" Lapor para prajurit itu.
"Baginda Raja? Maksud Kalian?" Manggala tampak terkejut mendengar laporan prajuritnya itu.
"Ya, Pangeran! Beliau bersama Permaisuri Primata Trisna sudah beberapa hari ini bersama kami," Ucap prajurit itu.
"Baiklah! Terima kasih!" Jawab Manggala. Manggala pun cepat-cepat memasuki gerbang istana. Rasa kerinduan seorang anak pada kedua orang tuanya membuat Manggala terburu-buru.
Pandan Ayu hanya tersenyum melihat Manggala yang tampak tergesa-gesa memasuki gerbang benteng yang mengelilingi istana Galuh Kencana itu.
Permaisuri Primata Trisna tampak sibuk bersama calon prajurit membersihkan taman belakang istana di bantu Pendekar Gila Patah Hati.
"Ibunda!" Seru Manggala tampak berlari menuju ke arah Permaisuri Primata Trisna. Perasaan rindu sang Pendekar membuatnya lupa memakai ilmu kesaktiannya. Manggala berlari seperti orang biasa.
__ADS_1
"Manggala... Kau telah kembali nak," Permaisuri Primata Trisna tampak menghentikan pekerjaannya. Permaisuri langsung menyongsong kedatangan sang putra satu-satunya itu.
"Kau baik-baik saja kan nak?" Ucap Permaisuri Primata Trisna langsung memeluk Manggala.
"Ananda baik-baik saja, Ibunda!" Jawab Manggala sambil tersenyum.
Pendekar Gila Patah Hati tampak ikut menghentikan pekerjaannya dan menyusul Permaisuri Primata Trisna.
"Manggala," Ucap Baginda Raja Kindar Buana tampak agak linglung dengan semua itu. Ingatannya yang belum kembali membuat Baginda Raja Kindar masih tampak canggung.
"Ibunda! Prajurit mengatakan ada Ayahanda bersama Ibunda. Mana Ibunda?" Tanya Manggala sambil mengedarkan pandangannya.
"Itu Ayahandamu anakku, Pendekar Gila Patah Hati itu Ayahandamu!" Jawab Primata Trisna sambil memandang ke arah Pendekar Gila Patah Hati.
"Ayahanda!"Ucap Manggala sambil memandang ke arah Pendekar Gila Patah Hati.
"Kau adalah putramu nak Pendekar!" Ucap Pendekar Gila Patah Hati masih tampak ragu.
"Ya Ayahanda Manggala putramu," Jawab Manggala sambil memeluk Sang ayahanda.
"Salam hormat kami Pangeran!" Ucap para calon prajurit itu sambil berlutut di belakang Baginda Raja Kindar Buana.
"Terima kasih. Bangunlah!" Jawab Manggala sambil tersenyum.
"Terima kasih Cantik! Siapa namamu nak?" Tanya Permaisuri Primata Trisna sambil memegang bahu Pandan Ayu.
"Pandan Ayu Permaisuri," Jawab Pandan Ayu sambil tersenyum.
"Salam hormat kami Permaisuri!" Ucap Laras dan Mentari berbarengan.
"Tampaknya putraku mempunyai teman yang cantik-cantik! Siapa diantara Kalian yang kekasih Manggala?" Goda Permaisuri Primata Trisna sambil tersenyum manis. Mentari dan Laras serempak menunjuk ke arah Pandan Ayu.
"Pandan Ayu. Permaisuri!" Jawab keduanya berbarengan. Pandan Ayu hanya tersenyum sambil menunduk.
"Jadi si cantik ini," Kata Permaisuri Primata Trisna sambil tersenyum menghadap ke arah Pandan Ayu.
"Dia putri Adipati Wirayoga Tuanku," Ucap Laras dan Mentari berbarengan lagi.
Putri Adipati Wirayoga?" Apa ayahmu masih hidup anakku?" Tanya Permaisuri Primata Trisna pada Pandan Ayu.
"Ayahanda tewas saat perjalanan menuju istana delapan belas tahun yang lalu Tuanku," Jawab Pandan Ayu.
__ADS_1
"Rupanya penyerangan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit delapan belas tahun yang lalu membuat kita kehilangan begitu banyak keluarga," Ucap Permaisuri Primata Trisna dengan wajah sedih.
"Kak Laras adalah cucu kakek patih Sesepuh Rambut Putih Ibunda," Ucap Manggala sambil memandang ke arah Laras.
"Jadi Kau cucu paman patih anakku?" Ucap Permaisuri Primata Trisna pada Laras.
"Benar Tuanku," Jawab Laras sambil memberi hormat.
Pertemuan keluarga itu tampak begitu membahagiakan, walau ada cerita menyedihkan mengenang keluarga mereka yang telah mendahului mereka.
"Ayahanda, coba pakai mustika ini," Ucap Manggala pada Baginda Raja Kindar Buana.
"Apa itu anakku?" Tanya Permaisuri Primata Trisna pada Manggala.
"Ini mustika naga pemberian Draka Ibunda," Jawab Manggala.
"Bagaimana cara memakainya Manggala?" Tanya Baginda Raja Kindar Buana.
"Ayahanda bersemedi dengan memakai mustika itu," Jawab Manggala sambil tersenyum.
"Baiklah, saya akan mencobanya," Ucap Baginda Raja Kindar sambil mencari tempat duduk untuk bersemedi.
Baginda Raja Kindar lalu duduk di atas kursi batu yang ada di tengah taman belakang istana itu. Perlahan Pendekar Gila Patah Hati memulai semedinya sambil menggenggam mustika pemberian sang putra.
Cahaya merah kebiruan mulai menyelimuti tubuh Baginda Raja Kindar Buana. Begitu ia meningkat kan tenaga dalamnya. Mustika naga Draka itu memancarkan cahaya putih menyilaukan mulai menyatu dengan cahaya merah yang menyelubungi tubuh sang raja.
"Aaakh...!!"
Baginda Raja Kindar Buana meringis kesakitan. Cahaya putih yang keluar dari mustika naga itu menyelubungi kepala sang Baginda Raja Kindar Buana.
Keringat sebesar biji jagung mulai membasahi tubuh sang raja. Cahaya merah di sertai cahaya biru itu menyelubungi tubuhnya. Sedangkan di bagian kepala di bungkus cahaya putih yang menyilaukan.
Perlahan tubuh Baginda Raja Kindar Buana mengambang ke udara sekitar satu tombak.
"Apa yang terjadi dengan Ayahandamu anakku?" Tanya Permaisuri Primata Trisna tampak cemas melihat sang suami. Baju yang di pakai Baginda Raja Kindar Buana tampak basah akibat keringatnya.
"Tidak apa-apa Ibunda! mustika itu membantu menyembuhkan ingatan Ayahanda," Jawab Manggala berusaha menenangkan sang ibu yang tampak cemas.
Sementara itu Baginda Raja Kindar Buana perlahan berdiri dari duduknya, walau tubuhnya tetap mengambang. Tubuh Baginda Raja Kindar Buana turun dengan begitu perlahan.
.
__ADS_1
.
Bersambung...