KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Kekuatan Batu Mustika Legendaris


__ADS_3

begitu mendekati pintu gerbang kedua divisi pedang roh, Manggala menghentikan laju lari kudanya. Melihat Manggala menghentikan kuda yang ia tunggangi, Draka pun ikut menghentikan kuda dan bertanya kepada pangeran kerajaan Galuh kencana itu.


"Ada apa, Pangeran. Kenapa pangeran menghentikan laju kuda?" tanya Draka sambil menarik pelana kudanya agar kuda yang ia tunggangi benar-benar berhenti.


"Draka di sini, di depan kita ada tiga jalan yang akan memisahkan tiga divisi dari Perguruan Pedang Kembar. Salah satunya menuju divisi obat-obatan, yang satu lagi yang sebelah kanan menuju divisi senjata Perguruan Pedang Kembar.


Yang berada di tengah-tengah menuju gerbang kedua divisi luar pedang roh," jawab Manggala.


"Jadi apa yang harus hamba lakukan, Pangeran?" tanya Draka.


"Di sini kita harus membagi pasukan. Kau bersama beberapa orang jendralmu menuju divisi obat-obatan. Aku bersama kak Laras, kak Mentari dan Pandan Ayu akan menuju gerbang divisi luar pedang roh.


"Kau aturlah pasukanmu untuk menuju divisi senjata dan divisi obat-obatan," perintah Manggala.


"Baik, Pangeran. Hamba akan membagi pasukan untuk sebagian menuju ke arah divisi pembuatan senjata dan ke divisi obat-obatan," jawab panglima Draka.


"Terima kasih, Draka. Kami akan terlebih dahulu menuju gerbang divisi luar. Kita akan bertemu di gerbang pertama divisi pedang jiwa!" kata Manggala sembari menarik tali pelana kudanya.


Kuda yang di tunggangi Manggala pun berlari kencang ke arah gerbang kedua divisi luar pedang roh yang sudah tampak tidak jauh dari mereka.


Mentari, Laras dan Pandan Ayu segera mengebah kuda mereka menyusul Manggala dari belakang.


Sementara itu panglima Draka membagi ke-tujuh jendralnya untuk membagi pasukan dan berbagi tugas ke arah kedua divisi yang telah ditunjukkan oleh Manggala tersebut.


"Jendral Biru, Jendral Kuning, Jendral Hijau. Bawa pasukan kalian menuju divisi obat-obata yang berada di persimpangan sebelah kiri kita ini!" perintah panglima Draka.


"Baik, Panglima, kami akan segera melaksanakan semua perintah, Panglima!" jawab Jendral Biru.


"Bagaimana dengan saya, Panglima?" tanya Jendral Merah.


"Maaf, maafkan aku, Jendral Merah. Kau bantu saja Jendral Biru dan yang lain ke divisi obat-obatan," jawab panglima Draka.


"Baik, Panglima!" jawab Jendral Merah.


Setelah menerima perintah dari Panglima Draka, Jendral Merah pun memerintahkan pasukannya untuk menyusul Jendral Biru yang sudah bergerak menuju divisi obat-obatan.


Kini panglima Draka tinggal bersama tiga jendralnya yang lain termasuk jendral Jingga.


"Ayo! kita bergerak menuju divisi pembuatan senjata!" perintah panglima Draka kepada tiga jenderalnya.


"Baik, Panglima!' jawab ketiga jenderal pelangi yang masih berada di belakang panglima Draka.


Mereka pun langsung mengebah kuda mereka menuju jalan ke arah divisi pembuatan senjata perguruan pedang kembar itu.


Sementara itu Manggala bersama Laras, Mentari dan Pandan Ayu sudah berada di depan gerbang kedua divisi divisi luar pedang roh.


Para prajurit iblis yang sedang berjaga di depan pintu gerbang dan yang berada di atas benteng divisi kedua itu langsung berlompatan maju melihat Manggala dan teman-temannya.


"Ha ha ha...! Manusia bodoh, mereka mengantarkan nyawa. mereka hanya empat orang, mereka ingin mengantarkan nyawa... Habisi mereka....!" perintah salah seorang pimpinan prajurit iblis yang berada di atas benteng gerbang kedua divisi luar pedang roh itu.


Mendengar perintah pimpinan mereka para prajurit iblis dan siluman itu langsung menghadang Manggala dan teman-temannya.


Sekitar seratus prajurit iblis bergerak menghadang Manggala dan ketiga pendekar wanita yang berada di belakangnya.


"Mereka sungguh meremehkan kita," kata Laras sambil tertawa melihat pasukan prajurit iblis yang bergerak menghadang mereka, hanya sekitar seratus orang itu.


"Jadi kita hadapi bersama?" tanya Mentari sambil tertawa.


"Biar aku saja yang menghabisi prajurit iblis itu. Biar mereka tahu musuh yang mereka hadapi bukan manusia biasa!" kata Laras sambil tertawa.


Setelah berkata gadis cantik berpakaian serba putih yang menjabat sebagai Senopati Agung Kerajaan Galuh Kencana tersebut, langsung melompat dengan begitu cepat bagaikan kilat ke arah para prajurit iblis yang tampak sedang berlari menghadang.


Dalam sekali gerakan saja Laras sudah berada di depan para prajurit iblis itu,


melihat musuh sudah berada di depan mata mereka. Para prajurit iblis itu menghentikan lari dan segera mengepung ke arah Laras.


"Ho ho ho...! Tampaknya kita memiliki makan siang seorang gadis cantik hari ini. Tentu dagingnya sangat manis dan sangat lezat!" kata salah seorang prajurit iblis yang bertubuh biru dengan zirah besi berwarna hitam.


"Ya. Aku juga mau mencicipi dagingnya yang manis dan lembut itu!" tambah salah seorang prajurit siluman yang lain.


"Kalian ingin mencicipi daging dan darahku bukan. Ayo! Cobalah!" tantang Laras sambil tersenyum tipis.


"Bunuh!" teriak salah seorang prajurit iblis sembari melompat ke arah Laras sambil mengayunkan pedang yang mirip gergaji itu.


Melihat yang menyerangnya hanya sekitar sepuluh prajurit iblis Laras hanya tersenyum tipis. Begitu senjata prajurit-prajurit itu hampir mengenai tubuhnya, tangan Laras menyentak sambil


Membentak.


"Hiaaaa...!" bentakan Laras menggema membuat sepuluh prajurit yang berniat mencincang tumbuhnya, langsung terpental ke tanah sejauh sepuluh tombak dan langsung meregang nyawa.


Para prajurit iblis yang lain sangat terkejut melihat lebih kurang sepuluh teman-teman mereka, hanya dalam sekali bentakan saja sudah menjadi mayat.


"Rupanya dia bukan manusia biasa. Kepung dia!" perintah salah seorang prajurit itu.


Para prajurit-prajurit iblis itu langsung berinisiatif mengepung ke arah Laras dari segala penjuru.


"Serang.. Dia...!" secara bersamaan para prajurit iblis itu langsung berusaha menyerang Laras secara bersamaan dan bergantian. Namun Laras bergerak begitu cepat bagai angin yang bertiup gerakan tangannya yang hampir tidak terlihat oleh mata para prajurit iblis itu.


Begitu Laras menghentikan laju tubuhnya para prajurit iblis itu sudah berserakan dalam keadaan tewas dan banyak dari para prajurit iblis itu yang mati dalam keadaan kepala pecah. Terkena pukulan telapak tangan Laras yang mengandung tenaga dalam.


"Ini saja kemampuan mereka," gumam Laras memandang kedua telapak tangannya.


"Kekuatan batu mustika yang diberikan Raka itu, sungguh di luar dugaanku. Aku hanya mengerahkan tidak sampai sepuluh persen kekuatan tenaga dalamku, tapi para prajurit-prajurit iblis itu tewas menggenaskan," desis Laras dalam hati.


Laras memandang para prajurit iblis yang telah mati, rata-rata prajurit iblis itu tewas menggemaskan terkena serangannya itu.


Laras melompat ke arah Manggala dan Mentari bersama Pandan Ayu. Sekali lompat saja Laras sudah berada di atas kudanya yang berada di belakang Manggala.


"Wah. Laras hebat sekali!" puji Pandan Ayu.


"Seratus orang prajurit iblis hanya dalam beberapa gerakan saja sudah bergelimpangan menjadi mayat, sungguh kepandaian yang sangat luar biasa!" tambah Pandan Ayu lagi.


"Terima kasih, Pandan Ayu. Tapi kita sama-sama mempunyai kekuatan dari batu mustika legendaris itu. Kau pun memiliki kekuatan seperti itu," ucap Laras sambil tersenyum.


.


.


Bersambung....


...Denting benturan senjata yang memecah kesunyian...


malam, bercampur menjadi satu dengan pekik pertempuran dan jerit kematian. Malam yang seharusnya tenang dan damai, kini penuh


suara gaduh meng-gemparkan. Teriakan-teriakan bernada memerintah terdengar


mengalahkan kegaduhan itu.


"Yaaat...!"


Sebuah bayangan berkelebat melesat tinggi melewati atap sebuah bangunan besar


dan megah. Sesaat


kemudian beberapa bayangan juga melesat menyusul.


Tampak beberapa orang berpakaian punggawa mengejar seorang laki-laki berwajah


tampan dan keras. Mereka berlompatan di atas atap bangunan megah itu.


"Kepung...! Jangan biarkan dia lolos!" terdengar teriakan keras.


Di sekitar bangunan megah berpagar tembok tinggi dan kokoh, ratusan orang


berseragam prajurit dengan senjata tombak dan pedang telah berjajar mengepung.


Sementara di atas atap, terlihat empat orang berpakaian punggawa tengah


bertarung melawan seorang laki-laki muda berbaju kuning gading.


"Hiya..!"


Satu teriakan melengking tinggi, mengawali terjungkalnya salah seorang punggawa


itu dari atas atap. Tubuhnya meluncur deras, dan jatuh ke tanah dengan keras.


Sebentar dia menggeliat, lalu diam tidak berkutik lagi.


Dadanya berlubang besar, sedangkan lehernya hampir putus.


"Pasukan panah! Siap...!" terdengar teriakan memerintah.


Puluhan orang berseragam prajurit langsung memasang anak panah pada busurnya. Sementara pertarungan di atas atap masih terus berlangsung. Seorang punggawa lagi tampak


terpental dan hampir jatuh ke tanah, dan untungnya masih sempat berpegangan.


Belum lagi punggawa itu bangkit, terdengar teriakan melengking tinggi. Kembali


seorang lagi terjungkal dengan darah muncrat dari tubuhnya.


"Hiyaaa...!"


Orang berpakaian kuning gading itu melesat cepat ke atas tembok tinggi yang


membatasi bangunan besar itu dengan jalan desa. Pada saat itu terdengar teriakan


keras memerintah, maka dengan serentak puluhan anak panah melesat ke arah lakilaki muda berbaju kuning gading itu.


Namun dengan gesit sekali laki-laki muda itu memutar pedangnya, menghalau hujan


panah. Dan dengan satu lompatan manis, tubuhnya meluruk turun ke luar pagar


benteng itu. Kembali teriakan keras bernada perintah terdengar saling susul.


Saat itu juga, pintu gerbang benteng yang mengelilingi bangunan megah itu


terbuka. Puluhan prajurit dan punggawa ke luar dengan kuda yang dipacu cepat.


Seorang laki-laki tua mengenakan baju jubah putih yang panjang dan lebar, memacu


kudanya paling depan. Di belakangnya terlihat tiga orang lainnya yang juga sudah


berusia lanjut. Puluhan prajurit dan punggawa mengikuti dari belakang.


"Berpencar...!" teriak laki-laki berjubah putih itu keras.


Tanpa ada yang membantah, mereka berpencar membentuk kelompok sendiri-sendiri. Sedangkan laki-laki berjubah putih itu


menghentikan laju kudanya, di ikuti seorang laki-laki tua lainnya. Sedangkan dua


laki-laki lainnya terus berpacu bersama beberapa orang prajurit.


Seorang pemuda tampan dan gagah terlihat memacu


kuda mendekati dua orang tua itu. Di belakangnya menyusul seorang gadis berwajah


cantik dengan baju merah menyala. Di balik punggung mereka menyembul gagang


pedang. Mereka menghentikan kudanya tepat di depan dua orang tua itu


"Bagaimana, Paman?" tanya pemuda tampan itu.


"Ampun, Gusti...." laki-laki tua berjubah putih itu membungkukkan badannya


memberi hormat. "Sampai saat ini kami belum berhasil"


"Hm..., bagaimana awal kejadiannya?" tanya pemuda itu lagi.


"Kakang Danupaksi, sebaiknya Kakang jangan banyak tanya. Yang penting orang itu


harus segera ditangkap kembali," selak gadis berbaju merah di sampingnya.


"Benar, Nini Cempaka. Dia memiliki ilmu yang sangat tinggi dan berbahaya. Gusti


Prabu Rangga pasti murka bila mengetahui tawanannya berhasil melarikan diri."


sambung laki-laki di samping orang berjubah putih.


Sesaat mereka terdiam membisu saling melemparkan pandangan. Kata-kata laki-laki


tua yang memakai pakaian seorang panglima perang itu seolah-olah mengingatkan


kalau raja mereka kini tengah tidak ada di istana.


"Paman Bayan Sudira, Eyang Lintuk...," kata Danupaksi


"Hamba, Gusti," dua orang laki-laki tua itu membungkuk hormat.


"Teruskan pengejaran, sementara aku akan mencari Kanda Prabu," kata Danupaksi.


"Tunggu...!" tiba-tiba terdengar teriakan keras.


Empat orang berkuda itu langsung menoleh ke arah sumber suara tadi. Tampak


seorang gadis muda dan cantik sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Gadis yang


mengenakan pakaian seorang pendekar wanita berwama hijau muda itu melangkah


mendekati. "Tidak boleh ada yang meninggalkan istana," kata wanita itu tegas.


"Kak Mayang...," Cempaka mau membantah.


"Jangan membantah, Adik Cempaka!" sentak wanita yang ternyata bernama Mayang itu


"Kanda Prabu tidak mengizinkan seorang pun ke luar istana. Apa kalian sudah


lupa?" "Tapi keadaannya genting, Adik Mayang. Seorang


tawanan khusus Kanda Prabu yang sangat berbahaya telah melarikan diri. Tidak


sedikit prajurit dan punggawa yang tewas," kata Danupaksi mencoba memberi


pengertian. "Itu bukan alasan yang tepat untuk meninggalkan Istana."


"Nini Mayang! Jika demikian perintah Gusti Prabu, izinkan hamba yang mencari


Gusti Prabu," kata Eyang Lintuk menengahi. Dia tahu kalau tiga orang muda itu


adalah orang-orang yang dekat dengan Prabu Rangga Pati Permadi. Danupaksi dan


Cempaka adalah adik tiri Prabu Rangga. Sedangkan Mayang murid dari bibi mereka


yang tewas tanpa diketahui sebab-sebabnya (Untuk lebih jelasnya tentang tokohtokoh itu baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode "Rahasia Kalung


Keramat" dan "Perawan Rimba Tengkorak"). Mereka semua tahu kalau raja telah berpesan agar


mereka jangan meninggalkan istana sampai tugasnya mengejar seorang panglima yang


hendak memberontak selesai. Mereka sadar betul kalau raja mereka adalah seorang


pendekar yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Tidak ada seorang pun di


Kerajaan Karang Setra ini yang mampu menyamai kepandaiannya.


"Kerajaan Karang Setra sangat membutuhkanmu, Eyang Lintuk," kata Mayang pelan


suaranya. "Di antara kalian semua, hanya aku yang tidak punya kepentingan khusus


di Karang Setra ini."


Danupaksi, Cempaka, Eyang Lintuk, dan Paman Bayan Sudira bisa mengerti kata kata


Mayang. Cempaka melompat turun dari punggung kudanya, lalu menghampiri wanita


cantik yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu.


"Kak Mayang jangan berkata demikian. Kau tahu Kanda Prabu Rangga sangat


memperhatikanmu. Ke-hadiranmu di sini sangat berguna dan kami semua menganggapmu sebagai keluarga istana," kata Cempaka lembut.


"Terima kasih, Adik Cempaka. Hanya saja, dalam suasana seperti ini, orang yang


tepat untuk mencari Kanda Prabu adalah aku sendiri." tegas Mayang.


Cempaka memandang Eyang Lintuk dan Paman Bayan


Sudira bergantian. Kedua orang itu hanya mengangkat bahunya saja. Cempaka


beralih memandang Mayang, dan memeluknya hangat. Sementara Danupaksi juga


melompat turun dan menghampiri.


"Kembalilah secepat mungkin," kata Danupaksi.


Mayang hanya tersenyum saja, kemudian berbalik. Tapi Cempaka menarik tangannya.


"Pakai kudaku, biar lebih cepat." Cempaka menawari.


"Kau baik sekali, Adik Cempaka." ujar Mayang seperti ingin menolak.


"Ayolah! Kau pasti membutuhkannya."


Mayang tidak bisa menolak lagi. Segera dia melompat ke punggung kuda putih itu,


kemudian menggebahnya dengan cepat. Sejenak empat orang itu masih


memandangi kepergian Mayang sampai bayangan tubuhnya tidak terlihat lagi.


"Ayo, Cempaka! Kita kembali saja ke istana." ajak Danupaksi. "Eyang, segera


laporkan jika ada sesuatu."


"Baik. Gusti."


Cempaka segera melangkah diikuti Danupaksi yang


menuntun kudanya. Sedangkan Eyang Lintuk dan Paman Bayan Sudira kembali memacu


kudanya mengelilingi tembok benteng Istana Karang Setra ini. Beberapa prajurit


masih terlihat berjaga-jaga, sedangkan puluhan lainnya memeriksa setiap pelosok


kota. Mereka terus mencari seorang tawanan yang melarikan diri dan menewaskan


banyak prajurit dan punggawa!


Malam sudah berganti pagi. Matahari telah terbit sejak tadi. Cahayanya


menghangati mayapada ini. Mayang mengendalikan kudanya yang kelelahan setelah


semalaman dipacu cepat meninggalkan Kerajaan Karang Setra.


Laju kuda putih itu berhenti setelah sampai di sebuah sungai yang berair jemih


dan mengalir tenang. Sungai itu tidak terlalu besar, dan kelihatannya pun


dangkal. Sungai yang bemama Sungai Batang ini begitu jernih, sehingga dasarnya


terlihat jelas. Mayang melompat turun dari punggung kuda, dan menuntunnya


mendekati tepian


sungai itu. "Kita istirahat dulu di sini, Putih." kata Mayang.


Kuda putih itu mengangguk-angguk seraya mendengus-dengus, lalu menjulurkan


kepalanya ke sungai. Beberapa teguk air sungai telah mampir di leher kuda putih


itu. Mayang tersenyum memandanginya. Beruntung sekali mendapat kuda yang perkasa ini.


Kelihatannya memang berguna sekali. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke


sekeliling. Dia tahu kalau dirinya sudah jauh meninggalkan Karang Setra. Dan


sekarang ini berada di satu tempat yang....


"Eh! Hup...!"


Mayang tak sempat melanjutkan lamunannya, karena tiba-tiba sebatang tombak


panjang meluncur deras ke arahnya. Gadis itu langsung melompat cepat dan


berputar di udara, maka tombak itu lewat di bawah kakinya. Dan begitu kakinya


mendarat di tanah, dari dalam semak belukar muncul tiga orang laki-laki ber


tubuh tinggi besar dan berwajah kasar penuh berewok.


"He he he...!" ketiga laki-laki itu terkekeh melihat seorang gadis cantik di


depannya. Mayang menggeser kakinya sedikit ke samping. Dia sadar kalau sekarang berhadapan


dengan manusia-manusia liar yang sangat kejam. Tiga orang itu dikenal dengan


julukan Hantu Sungai Batang, yang menguasai sekitar sungai ini. Mereka memang


tidak memiliki pekerjaan lain, kecuali membegal siapa saja yang lewat di daerah


Sungai Batang ini. Tidak peduli, apakah itu pedagang, atau hanya pelintas saja.


"He he he,.., hari ini kita beruntung sekali, Adik-adik,"


kata salah seorang yang berada di tengah.


"Benar, Kakang. Hari ini aku tidak peduli, apakah dia punya harta atau tidak,


yang penting...," sambut yang berada di kanan.


Mereka tertawa terbahak-bahak. Mayang mendengus


jijik melihat sinar mata ketiga laki-laki itu. Sinar mata yang liar dan buas


penuh nafsu. Ketiga orang itu melangkah mendekati. Sedangkan Mayang sudah siap


untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka semakin dekat disertai tawa terkekeh


tiada henti. Bola mata mereka semakin liar merayapi wajah dan tubuh gadis itu.


"Kenapa kau berada di sini, Manis?" tanya salah seorang yang berdiri di tengah.


"Akan membunuh kalian jika berani kurang ajar!" jawab Mayang ketus.


"Ha ha ha....!" ketiga laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.


Jawaban Mayang yang begitu ketus, seolah-olah meng-gelitik tenggorokan mereka.


Mayang menyemburkan ludahnya sengit. Matanya melirik ketika orang yang berada di


kiri menggeser kakinya menyamping. Sedangkan yang berada di kanan melesat ke


belakangnya. Pelahan Mayang memutar kakinya dengan mata tajam tidak berkedip.


"Aku tahu, kau tidak punya harta. Tapi kau sudah cukup membuat kami senang,"


ujar laki-laki itu lagi.


"Phuih! Ambil saja kesenanganmu di neraka!" dengus Mayang tetap ketus.


"Busyeeet...!" orang itu terlonjak dengan muka merah padam.


"Sudah, jangan banyak omong! Kita ringkus saja bocah manis yang sombong ini!"


selak satunya lagi.


"Hiya...!"


"Yaaat..!"


Mayang langsung memutar tubuhnya ketika orang yang berada di kirinya melompat


menerjang. Sambil memutar tubuhnya, gadis itu mengirimkan satu sodokan keras


bertenaga dalam cukup tinggi. Orang itu tidak menyangka, dan hanya sempat


terperangah sesaat. Tapi buru-buru dimiringkan tubuhnya menghindari sodokan


tangan Mayang. "Uts!"


Merah padam wajah orang itu. Meskipun berhasil berkelit menghindari sodokan itu,


tapi tubuhnya agak limbung juga. Angin sodokan tangan Mayang begitu keras


menyambar tubuhnya. Dan belum lagi sempat memperbaiki posisi, dengan cepat


Mayang melayangkan kakinya ke arah kepala orang itu. Dan....


Buk! "Akh...!" orang itu memekik tertahan ketika tendangan Mayang mendarat telak di


kepalanya. "Kurang ajarl"


"Setan...!"


Dua orang lainnya langsung mencabut golok masing-masing, dan segera menerjang


dari dua posisi. Golok mereka berkelebat cepat membabat ke arah bagian-bagian


tubuh Mayang yang mematikan. Mayang bukanlah seorang gadis biasa yang lemah.


Dengan manis sekali setiap serangan dua orang lawannya itu bisa dihindarinya.


Bahkan beberapa kali berhasil mendaratkan pukulan dan tendangannya yang keras


bertenaga dalam cukup tinggi.


Namun rupanya dua orang itu memiliki tubuh yang


keras bagai batu. Sementara orang-orang yang terkena tendangan pada kepalanya,


sudah bisa menguasai


keadaannya. Sambil menggeram marah, dia melompat seraya mencabut goloknya. Kini


Mayang harus menghadapi tiga orang bersenjata golok yang menyerang tanpa


perhitungan. Mereka bagaikan serigala-serigala liar tengah memperebutkan seekor


domba cantik, yang gesit dan sukar ditangkap.


"Hm..., kemampuan mereka tidak begitu tinggi. Tapi mereka memiliki kekuatan luar


yang luar biasa. Hanya mereka tidak menggunakan otak...!" gumam Mayang dalam


hati. Setelah beberapa jurus terlampaui Mayang sudah bisa mengukur kemampuan


lawan-lawannya, dan seketika itu juga dirubah pola jurus-jurusnya. Gerakan


tangan dan kaki gadis itu menjadi cepat dan lincah diimbangi gerakan tubuh yang


lentur bagai karet. Hal ini membuat ketiga orang laki-laki bertampang kasar itu


semakin sukar untuk menyentuhnya. Hingga pada suatu saat....


"Yap! Lepas...!" sentak Mayang tiba-tiba.


Trak! Cepat sekali tangan Mayang berkelebat, sehingga salah seorang memekik dengan


golok terpental jauh ke udara.


Belum lagi orang itu sempat menyadari satu tendangan keras menghantam dadanya.


Akibatnya orang itu terjungkal ambruk ke tanah. Dua orang lainnya pun


terperangah. Dan betapa terkejutnya mereka karena tiba-tiba Mayang berputar


cepat sambil menyampokkan tangannya ke arah pergelangan tangan mereka.


"Lepas...!" seru Mayang keras.


"Akh!"


"Akh!"


Dua orang itu memekik tertahan. Segera suara erangan menyusul begitu dua pukulan


bersamaan menghajar dada mereka. Dua tubuh pun terjungkal keras menghantam bumi.


Mereka menggeliat-geliat sambil mengerang


kesakitan. Sementara Mayang berdiri tegak bertolak pinggang. Tiga orang lakilaki itu berusaha bangkit.


Setelah mampu berdiri, mereka serentak berlari.


Namun Mayang dengan cepat melentingkan tubuhnya, dan menghadang mereka. Ketiga


orang yang berjuluk Hantu Sungai Batang itu terkejut melihat Mayang tahu-tahu


sudah berdiri menghadang.


"Mau lari ke mana, keparat!" desis Mayang dingin.


Ketiga orang itu kembali berbalik dan berlari. Namun, baru beberapa tombak


mereka berlari, kembali Mayang melesat dan menghadang. Beberapa kali hal itu


berulang, hingga wajah ketiga laki-laki itu pucat pasi. Mereka menjatuhkan diri


berlutut dengan napas terengah-engah.


Mayang tersenyum lebar melihat ketiga orang begal itu berlutut di depannya. Dan


ini memang yang diharapkannya.


Dengan sikap dibuat angkuh, gadis itu memandangi satu-satu wajah yang pucat


dengan sinar mata penuh


kepasrahan. Napas mereka masih tersengal, dan keringat menitik deras membasahi


wajah.


Pendekar Rajawali Sakti 18 Darah Pendekar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo


"Ampunkan kami, Nini... jangan bunuh kami." ratap orang yang ada di tengah.


"Hhh! Kalian takut mati juga rupanya!" dengus Mayang sinis.


"Ampun, Nini. Kami bersedia mengabdi asal jangan dibunuh," ratapnya lagi.


"Baik aku ampuni kalian," kata Mayang.


"Terima kasih, Nini," sambut mereka gembira, serentak bersujud sampai kening


mereka menyentuh tanah.


"Tapi ada satu syarat!"


"Oh....! Katakan, Nini. Apa syaratnya?"


"Kalian harus bertobat. Mulai saat ini, tinggalkan semua pekerjaan kalian!"


"Baik, Nini. Kami berjanji."


"Bangunlah."


Ketiga laki-laki itu bangkit berdiri. Namun kepalanya tertunduk dan tubuh agak


membungkuk. "Dengar! Mulai saat ini kalian menjadi pengikutku!


Sekali melanggar kata-kataku, nyawa kalian akan kukirim ke neraka. Paham!"


"Mengerti, Nini," sahut ketiga orang itu serempak.


"Bagus!" Mayang tersenyum. "Siapa nama kalian?"


"Namaku Jalak," sahut orang yang di tengah memperkenaikan diri. "Dan mereka


berdua adalah adik-adikku. Yang ini bernama Bawuk." Jalak menunjuk orang di


sebelah kanannya. "Dan ini, Rantak."


Mayang mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian


melangkah kembali ke tepi sungai. Gadis itu menghampiri kudanya yang tengah


merumput tidak jauh dari situ.


Mayang segera melompat naik ke punggung kuda putih itu.


Sementara tiga orang laki-laki yang ditaklukkannya masih berdiri di tempatnya.


"Kalian punya kuda?" tanya Mayang.


"Oh, ada.... Ada, Nini," sahut Jalak cepat.


"Ambil!" perintah Mayang.


Ketiga orang itu bergegas beranjak pergi.


"Hey! Jangan semuanya! Satu orang saja!"


Jalak terus melangkah pergi, sedangkan Bawuk dan Rantak tetap tinggal. Mayang


menggebah kudanya


pelahan-lahan menghampiri kedua orang laki-laki itu.


Matanya memperhatikan Jalak yang menerobos masuk ke dalam hutan.


Tidak lama kemudian Jalak telah kembali membawa


empat ekor kuda. Dua ekor kuda sarat dengan beban.


Mayang agak berkerut juga keningnya melihat beban yang begitu banyak pada


punggung dua ekor kuda.


"Untuk apa barang-barang itu?" tanya Mayang.


"Ini semua adalah harta kami, Nini. Dan sekarang menjadi milik Nini." sahut


Jalak. "Hm..., kalau dibawa semua, lalu apakah dua di antara kalian bersedia jalan


kaki?" "Tidak, Nini," sahut Jalak, kemudian dia bersiul nyaring.


Tidak lama, terdengar suara ringkik kuda, disusul munculnya seekor kuda berwarna


coklat tua. Keempat kakinya begitu tegap, dan berwarna putih. Kuda itu


menghampiri Jalak, lalu menyodorkan kepalanya. Jalak tersenyum dan mengelus-elus


kepala kuda itu.


"Hebat...!" puji Mayang tulus.


Jalak segera melompat naik ke punggung kudanya.


"Tinggalkan semua barang-barang itu." perintah Mayang.


"Tapi, Nini..." protes Jalak.


"Ha.., baiklah. Bawa saja seperlunya. Aku tidak ingin terlalu banyak beban


mengikuti," Mayang mengalah juga.


Bawuk dan Rantak segera menurunkan barang-barang dari punggung kuda itu tanpa


diperintah lagi. Ketika salah satu peti kayu yang tebal dibuka, Mayang agak


terperanjat juga begitu melihat isinya. Peti itu berisi hampir penuh uang emas.


Belum lagi kantung-kantung yang kelihatan berat. Pasti semuanya berisi barangbarang berharga!


Berpikir demikian, Mayang jadi merasa tidak enak kalau meninggalkan begitu saja


barang sebanyak itu di tempat ini. Gadis itu memandang berkeliling, lalu


menggebah kudanya pelahan-lahan. Mayang berhenti di bawah sebatang pohon yang


cukup besar dan daun-daunnya yang rindang. Kemudian ia melompat turun dari


punggung kudanya, dan melangkah sekitar dua puluh tindak ke depan.


"Gali di sini!" perintah Mayang.


Jalak segera melompat turun dari punggung kudanya.


Dia paham maksud gadis cantik yang telah menaklukkannya dalam pertarungan. Tanpa


banyak komentar lagi, ketiga laki-laki bertubuh tinggi besar itu menggali tanah


yang ditunjuk Mayang. Sedangkan gadis itu menghampiri kotak kayu yang terbuka


tutupnya. Diambilnya sebuah kantung, diisinya dengan beberapa keping uang emas


itu. "Jalak!" panggil Mayang.


"Ya, Nini...!" Jalak bergegas menghampiri.


"Simpan ini!" Mayang melemparkan kantung yang sudah diisi dengan beberapa keping


uang emas. Jalak menangkap dan menggantungkannya di pinggang, kemudian kembali membantu kedua adiknya menggali lubang yang cukup dalam


dan besar. Sementara Mayang kembali naik ke punggung kudanya. Ketiga laki-laki


itu menyimpan barang-barang hasil rampokannya ke dalam lubang yang cukup dalam,


dan menguruknya hingga rata kembali. Mereka juga menaburinya dengan batu-batu


dan pasir. Setelah merasa yakin tidak terlihat bekas galian, mereka segera


melompat naik ke punggung kudanya


masing-masing. Tanpa berkata apa-apa lagi, Mayang segera menggebah kudanya. Ketiga orang laki-laki bekas begal itu, segera mengikuti. Mereka


memacu cepat kudanya


meninggalkan tepian Sungai Batang. Debu mengepul di-terjang kaki-kaki kuda yang


berpacu cepat menembus lebatnya hutan. Mereka semakin jauh masuk ke dalam hutan


dan lenyap ditelan pepohonan yang rapat.


*** 2 Dua ekor kuda berpacu cepat mendaki sebuah bukit berbatu. Penunggang kuda itu


adalah seorang pemuda


tampan dengan baju rompi putih melambai-lambai tertiup angin. Sebatang pedang


bergagang kepala burung bertengger di punggungnya. Agak ke belakang penunggang


kuda lainnya seorang gadis berwajah cantik mengenakan baju biru yang ketat.


Semakin tinggi bukit berbatu itu didaki, semakin sukar dilalui. Pemuda berbaju


rompi putih itu menghentikan langkah kudanya, dan menoleh agak ke belakang.


Kemudian pandangannya beralih menatap ke arah puncak bukit batu itu. Dengan satu


gerakan manis, dia melompat turun dari kuda hitam pekat itu.


"Kita harus meninggalkan kuda di sini, Pandan," kata pemuda itu.


Gadis cantik berbaju biru yang dipanggil Pandan, langsung melompat turun. Ringan


sekali kakinya menjejak bebatuan di samping pemuda itu. Mereka tidak lain dari


Pandan Wangi dan Rangga atau yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.


"Kau yakin Panglima Parakan ada di sini, Kakang?"


tanya Pandan bernada ragu-ragu.


"Begitulah keterangan yang aku dapatkan," sahut Rangga.


"Aku tidak mengerti, mengapa Panglima Parakan memberontak...," gumam Pandan


seolah bicara pada dirinya sendiri.


"Dia paman dari Wira Permadi, adik ibu tiriku. Dia tidak suka dengan kekalahan


yang diderita keponakannya. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa dia punya


pikiran picik seperti itu. Padahal aku masih memberinya kedudukan sebagai


panglima perang."


"Atau bisa juga dia sakit hati, Kakang," Pandan menduga-duga.


"Maksudmu?"


"lya, soalnya kakaknya bunuh diri karena tidak kuat menanggung malu. Atau


mungkin dia juga malu, lalu memilih jalan memberontak, meskipun tahu tidak


mungkin berhasil."


"Seribu satu macam alasan bisa saja terjadi, Pandan."

__ADS_1


"Ya...."


"Ayo, kita terus mendaki bukit ini," ajak Rangga.


Mereka kemudian berjalan mendaki bukit batu itu.


Sedangkan kuda-kuda mereka tinggalkan begitu saja. Jalan yang harus ditempuh


memang sangat sukar, dan tidak mungkin dilalui dengan kuda. Banyak batu-batu


yang rapuh, dan sewaktu-waktu dapat longsor. Belum lagi harus melalui dinding


batu terjal yang hampir tegak. Mereka harus menggunakan ilmu meringankan tubuh


agar bisa leluasa mendaki.


"Hati-hati, Pandan. Batu ini rapuh sekali," kata Rangga memperingatkan.


"Iya, aku tahu," sahut Pandan.


Mereka terus mendaki tanpa mengenal telah. Semakin jauh mereka mendaki, semakin


sukar jalan yang dilalui.


Namun dengan berbekal ilmu meringankan tubuh, hal itu bukanlah halangan berarti.


Mereka adalah orang-orang berkepandaian sangat tinggi.


"Awas, Pandan...!" seru Rangga tiba-tiba.


"Hup!"


*** Pandan cepat melompat ke belakang Rangga ketika


sebongkah batu yang cukup besar meluncur deras dari atas bukit. Batu itu


menghantam batu-batu lainnya, sehingga membuat bukit ini seperti akan runtuh.


Rangga segera mencekal tangan Pandan Wangi, dan menariknya keras. Pendekar


Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya sambil mencabut Pedang Rajawali Sakti.


Secercah cahaya biru kemilau memancar dari pedang pusaka itu. Rangga memutar


pcdangnya dengan cepat di atas kepala. Batu batu yang meluruk ke arahnya,


langsung hancur berkeping-keping. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu terus


berlompatan ke atas menembus hujan batu.


Sedangkan tangan kirinya tidak lepas mencekal pergelangan tangan Pandan Wangi.


Gadis itu mengerahkan ilmu meringankan tubuh sambil mengikuti setiap gerak


langkah kaki Pendekar Rajawali Sakti.


"Hup!"


Rangga melentingkan tubuhnya ketika sampai di


puncak bukit. Segera dimasukkan kembali pedangnya ke dalam warangkanya di


punggung. Cahaya biru langsung lenyap begitu pedang pusaka itu tersimpan


kembali. Suara gemuruh batu batu yang longsor masih terdengar. Bukit batu ini


bergetar bagai diguncang gempa.


Belum sempat Rangga menarik napas lega, mendadak beberapa anak panah meluncur


deras ke arahnya, Pandan Wangi segera mencabut senjatanya yang berbentuk kipas


dari pinggangnya. Dengan kipas itu dihalaunya anak-anak panah itu. Sedangkan


Rangga menggerak-gerakkan


tangannya dengan cepat, menyambar setiap anak panah yang mengarah ke tubuhnya.


Puluhan anak panah berhasil dirampasnya.


"Yap! Hih...!"


Rangga memutar tubuhnya cepat, dan melontarkan


kembali puluhan anak panah yang berhasil ditangkapnya.


Seketika itu juga, terdengar suara jeritan melengking.


Beberapa sosok tubuh yang tertembus anak panah, men-cuat dari balik bebatuan dan


gerumbul semak belukar kering. Saat itu juga hujan anak panah langsung berhenti.


Kesunyian kembali menyelimuti sekitar puncak bukit itu. Rangga mengedarkan


pandangannya ke sekeliling.


Seorang pun tak terlihat ada di sekitar situ. Pandangannya tertumpu pada orangorang berseragam prajurit yang tergeletak tertembus panah. Mereka semua prajurit


Karang Setra, yang telah memberontak bersama Panglima


Parakan. "Jangan-jangan buruan kita sudah kabur, Kakang," kata Pandan Wangi menduga-duga


Belum sempat Rangga menjawab mendadak di sekitar mereka bermunculan orang


berseragam prajurit Karang Setra. Mereka muncul dari balik batu besar yang


memenuhi puncak bukit batu ini. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar


berpakaian panglima perang, melompat dari balik batu besar. Ringan sekali


kakinya menjejak sekitar tiga batang tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti.


"Panglima Parakan..," desis Rangga getir suaranya.


"Hhh! Rupanya Karang Setra sudah kehilangan jago-jago, sehingga rajanya sendiri


harus turun tangan," kata Panglima Parakan sinis.


"Ini urusanku sendiri, Panglima!" tegas Rangga.


"Benar. Dan gundikmu itu tidak perlu ikut campur!"


"Setan!" desis Pandan tersinggung. Mukanya merah padam menahan geram.


"Kotor sekali mulutmu, Panglima!" geram Rangga mendesis.


"Ha ha ha...!" Panglima Parakan tertawa terbahak-bahak.


Pandan tidak bisa lagi menahan amarahnya. Langsung dikebutkan kipasnya, hingga


mengembang terbuka. Tapi Rangga merentangkan tangannya mencegah agar Pandan


tidak terpancing emosinya. Gadis itu menutup kembali kipasnya, namun matanya


tetap tajam menatap laki-laki berpakaian panglima di depannya. Sorot matanya


memancarkan kemarahan yang amat sangat.


"Biar kupenggal lehernya, Kakang." kata Pandan Wangi sengit.


"Ayo, Rangga! Majulah! Biar semua orang yang ada di sini tahu, kalau kau hanya


gembel busuk yang mengaku putra Kanda Arya Permadi!" keras sekali suara Panglima


Parakan. "Sebaiknya kau menyerah saja, Panglima. Tidak ada gunanya bertahan. Pihak istana


akan mengadilimu secara adil," ujar Rangga masih mencoba membujuk.


"Phuih! Gembel-gembelmu tidak pantas mengadiliku!


Seharusnya mereka yang kuadili" jawab Panglima Parakan.


"Kau sendiri tidak lebih rendah dari anjing busuk!"


dengus Pandan Wangi semakin geram.


"Phuih! Apa kau anggap dirimu suci, gundik rendah!"


"Cukup!" bentak Rangga mulai hilang kesabarannya.


Bentakan yang keras itu membuat Panglima Parakan langsung diam. Hatinya sempat


bergetar juga mendengar suara yang keras menggelegar. Sedangkan Pandan Wangi


juga mengatupkan mulutnya. Rangga melangkah maju dua tindak. Tatapan matanya


tajam menusuk langsung ke bola mata Panglima Parakan.


"Sudah cukup aku menahan kesabaran Panglima," kata Rangga. Suaranya dingin


menggetarkan. "Heh...! Lalu, apa maumu?" tantang Panglima Parakan.


"Kau sendiri yang menentukan jalan hidupmu, Panglima."


"Jangan banyak omong, Rangga! Ayo, hadapi aku!"


bentak Panglima Parakan.


Setelah berkata demikian, Panglima Parakan segera melompat menyerang. Secepat


kilat dicabut pedangnya, dan langsung dikibaskan ke arah leher. Rangga menarik


kepalanya sedikit ke belakang maka tebasan pedang itu lewat sedikit di depan


tenggorokannya. Gagal dengan serangan pertama, Panglima Parakan melanjutkan


dengan serangan berikutnya


Pedang di tangan Panglima Parakan berkelebatan


cepat mengurung tubuh Pendekar Rajawali Sakti.


Sementara itu, Pandan Wangi juga sudah sibuk menghadapi para prajurit panglima


pemberontak itu. Kipas mautnya berkelebatan cepat membongkar keroyokan


prajurit Karang Setra yang memberontak itu. Setiap kibasan kipasnya selalu


diikuti dengan terjungkalnya seorang prajurit.


Puncak Bukit Batu yang semula sunyi sepi, kini penuh teriakan dan pekik


melengking, ditingkahi denting senjata berada. Tubuh-tubuh mulai bergelimpangan


bersimbah darah. Sementara Rangga masih melayani Panglima


Parakan dengan tangan kosong. Meskipun kesabarannya sudah sampai pada puncaknya,


Pendekar Rajawali Sakti itu masih berusaha untuk tidak mencelakakan Panglima


Parakan. Dia bermaksud menangkapnya hidup-hidup, dan mengadilinya seadiladilnya. *** Sudah tidak terhitung lagi, berapa prajurit yang tewas dalam pertempuran itu.


Pandan Wangi bagaikan seekor singa betina yang mengamuk tanpa kenal ampun lagi.


Sementara Rangga masih tetap tidak ingin membalas serangan-serangan Panglima


Parakan. Pendekar Rajawali Sakti itu selalu menghindar dan mencoba untuk


memasukkan totokan. Tapi rupanya Panglima Parakan mengetahui itu semua, sehingga


dimanfaatkan untuk meningkatkan jurus-jurusnya.


"Jangan berlagak pahlawan, Rangga! Kau akan menyesal nanti," Panglima Parakan


memberi peringatan.


"Hentikan saja seranganmu. Panglima Tidak ada gunanya kau melawan," balas Rangga


masih tetap menahan sabar.


"Meskipun kau seorang pendekar digdaya tanpa tanding, aku tidak akan mundur


menghadapimu "


"Kau terlalu keras kepala, Panglima!"


"Jangan banyak omong! Mampus kau, hiyaaa...!"


Rangga merundukkan kepalanya ketika pedang


Panglima Parakan kelebat cepat ke arah kepalanya. Desir kibasan pedang itu


sangat kuat, sehingga membuat Rangga agak terkejut juga. Dia sadar betul kalau


Panglima Parakan bersungguh-sungguh untuk membunuhnya.


Pendekar Rajawali Sakti 18 Darah Pendekar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo


Panglima Parakan kembali melancarkan serangan


dengan memutar pedangnya melintang ke arah dada. Saat itu Rangga tidak punya


kesempatan untuk menghindar.


Dengan cepat diangkatnya tangam ke depan dada, dan langsung dijepit pedang itu


dengan telapak tangannya.


Panglima Parakan berusaha menarik kembali pedangnya, namun jepitan kedua telapak


tangan Rangga itu demikian kuat.


"Huh!"


Panglima Parakan mengempos seluruh tenaga dalamnya untuk melepaskan pedangnya dari jepitan itu. Tapi yang terjadi malah


membuatnya ternganga. Ujung pedang di tangan Rangga, seketika itu juga buntung.


Panglima Parakan terpental ke belakang dengan pedang yang buntung, ketika Rangga


menghentakkan jepitannya.


"Hiyaaa...!"


Sambil berteriak nyaring. Rangga melompat seraya melayangkan satu tendangan


keras ke arah dada.


Panglima Parakan terkejut setengah mati. Dia berusaha berkelit. Namun diluar


dugaan sama sekali, kaki Rangga dapat berputar ke arah lain.


"Akh!" Panglima Parakan memekik tertahan.


Kepalanya terasa akan pecah kena dupakan kaki


Pendekar Rajawali Sakti yang menggunakan Jurus


'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Untung saja Rangga tidak mengerahkan jurus


itu secara penuh, sehingga kepala Panglima Parakan tidak pecah! Namun kepalanya


tak urung terasa pening juga, dan pandangannya mengabur. Sementara Rangga tidak


menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat tangan kanan-nya


menyodok ke arah dada.


Panglima Parakan tahu kalau Rangga bermaksud


melumpuhkannya dengan menotok jalan darahnya. Dan pada saat itu, dia sudah tidak


mungkin lagi menghindar.


Dengan nekad, panglima perang itu melompat menerjang dengan tangan terbuka ke


samping. Rangga terkejut melihat kenekadan orang tua itu. Buru-buru ditarik


kembali tangannya yang sudah terjulur ke depan.


Namun gerakan Rangga kalah cepat. Tak ampun lagi, Panglima Parakan membiarkan


dadanya tertembus jari tangan Pendekar Rajawali Sakti yang telah menegang kaku.


"Aaakh...!" Panglima Parakan menjerit keras.


Rangga tersentak kaget. Buru-buru ditarik tangannya yang melesak dalam ke dada


orang tua itu. Sebentar Panglima Parakan masih mampu berdiri, kemudian tubuhnya


ambruk. Darah mengucur deras dari dadanya yang berlubang. Saat itu juga Rangga


berlari menubruk tubuh yang menggelepar itu. Dipangkunya dan dipeluk tubuh paman


tirinya itu. "Paman...," agak parau suara Rangga.


"Jangan kau sesali, Rangga. Aku puas, meskipun harus mati di tanganmu," kata


Panglima Parakan terputus-putus suaranya.


"Oh...," Rangga mengeluh panjang.


Pinglima Parakan tersenyum, lalu tubuhnya mengejang.


Sesaat kemudian diam tidak berrgerak gerak lagi. Rangga meletakkan tubuh lakilaki tua itu dan berdiri tegak.


Matanya masih memandangi mayat paman tirinya itu.


Sementara pertempuran yang berlangsung antara Pandan Wangi dan para prajurit


pemberontak, langsung berhenti seketika. Para prajurit itu melemparkan


senjatanya begitu pemimpinnya tewas.


Rangga berpaling dan memandangi para prajurit yang menyerah tanpa syarat


kemudian pandangannya beralih pada Pandan Wangi. Gadis itu menghampiri dan


menepuk pundak Pendekar Rajawali Sakti. Rangga melangkah mundur beberapa tindak.


"Aku tidak bermaksud membunuhnya. Dia bertindak nekad," kata Rangga mengeluh.


"Sudahlah, Kakang. Itu memang sudah menjadi pilihan-nya," kata Pandan Wangi


mencoba menghibur.


Rangga memalingkan kepalanya dan memandang para


prajurit yang kini tinggal berjumlah sekitar dua puluh orang itu. Para prajurit


itu menundukkan kepalanya, lalu seperti mendapat komando, mereka serentak


menjatuhkan diri berlutut. Dan tanpa diduga sama sekali, masing-masing mengambil


senjata yang tergeletak di dekatnya. Rangga tersentak kaget, begitu melihat para


prajurit itu membunuh diri secara massal.


"Hey...!"


Rangga berusaha mencegah, tapi terlambat. Para


prajurit itu sudah menggeletak dengan dada tertembus senjatanya masing-masing.


Pandan Wangi sendiri sampai terpana menyaksikan ulah mereka yang mengambil jalan


pintas seperti itu begitu pemimpinnya tewas dalam pertempuran secara ksatria.


Pendekar Rajawali Sakti itu menarik napas panjang dan berat. Hatinya sangat


menyesali tindakan para prajurit itu.


Akan tetapi Rangga juga kagum karena mereka rela mati demi kesetiaannya pada


pemimpin. Hal tersebut memang menjadi satu kebiasaan para prajurit Karang Setra.


Tapi dengan membunuh diri secara bersamaan, tindakan itu memang belum pernah


terjadi sebelumnya!


"Aku kagum pada mereka...." desah Pandan Wangi tanpa disadarinya.


"Bagaimana sekarang, Kakang?" tanya Pandan Wangi.


"Aku harus menghormati mereka, dan akan mengubur-kannya di sini." sahut Rangga.


Pandan Wangi mengangkat pundaknya. Dia memandangi sekitarnya. Tidak kurang dari lima puluh prajurit menggeletak tak


bernyawa lagi, dan harus dikuburkan di sini. Gadis itu sedikit mengeluh juga,


karena harus menguburkan sekian banyak orang. Tapi begitu melihat Rangga mulai


menggali lubang dengan sebatang pedang, Pandan Wangi segera berbuat hal yang


sama. Kini mereka bekerja menggali lubang dan menguburkan mayat-mayat itu tanpa


banyak bicara lagi.


*** 3 Tepat pada saat matahari hampir tenggelam di ufuk Barat.


Rangga dan Pandan Wangi meninggalkan Puncak Bukit Batu. Mereka masih mendapatkan


kuda-kudanya tetap berada di tempat semula ketika ditinggalkan. Dengan


menunggang kuda, mereka menuruni lereng bukit yang berbatu itu. Sampai tiba di


kaki bukit, baru mereka dapat memacu kuda dengan cepat.


Sementara Pandan Wangi yang memacu kuda di


samping Pendekar Rajawali Sakti itu, tidak lepas memandangi wajah tampan, namun


terlihat murung.


Pandan Wangi bisa merasakan kemurungan Rangga yang disebabkan kematian paman


tirinya itu. Meskipun


Panglima Parakan berusaha memberontak tapi Rangga tetap menganggapnya paman.


Itulah sebabnya di putuskan untuk mengejar sendiri tanpa membawa seorang


prajurit pun. Rangga ingin agar Panglima Parakan dapat disadarkan setelah dia


menemuinya. Tapi kenyataan yang dihadapinya sungguh lain, dan tidak bisa ditolak


Paman tirinya itu tewas di tangannya, akibat kenekadannya sendiri. Memang berat


cobaan yang harus dihadapi Rangga. Sejak kembali ke tanah kelahirannya, adik


tirinya tewas, dan ibu tirinya bunuh diri. Belum lagi saudara-saudaranya yang


tidak mempercayainya sebagai putra tunggal Adipati Arya Permadi. Mereka lebih


suka menyingkir meninggalkan Karang Setra. Bahkan ada yang mengikuti jejak ibu


tiri Pendekar Rajawali Sakti itu. Hal itu memang bisa saja terjadi, karena lebih


dari dua puluh lima tahun Rangga menghilang. Dan mereka semua menganggapnya


sudah tewas di Lembah Bangkai.


"Kakang...," Pandan Wangi mencoba bicara, memecah keheningan.


"Hm...," Rangga hanya bergumam tanpa menoleh.


"Sebaiknya kita istirahat dulu." usul Pandan Wangi Rangga tidak menyahut, tapi


menghentikan juga lari kudanya. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Pendekar


Rajawali Sakti itu turun dari punggung kudanya. Pandan Wangi mengikuti dan


mendekatinya. Mereka berdiri ber-dampingan dengan tatapan mata lurus memandang


Puncak Bukit Batu.


"Kau menyesali kematian Panglima Parakan, Kakang?"


tegur Pandan Wangi.


"Entahlah," desah Rangga pelan.


"Dia sudah memilih cara kematiannya sendiri, Kakang Tidak periu disesali lagi."


kata Pandan Wangi mencoba menghibur.


"Belum setahun aku berada di Karang Setra, tapi tanganku ini sudah mengambil


nyawa banyak orang.


Sedihnya mereka adalah saudara-saudaraku sendiri. Terus terang, Pandan. Aku


menyesal kembali ke Karang Setra.


Kalau saja aku tetap mengembara, tentu mereka semua masih hidup damai dan


tenteram," pelan suara Rangga.


"Semua yang terjadi sudah menjadi suratan takdir Tuhan, Kakang. Kita tidak bisa


menolaknya, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. Rasanya tidak patut menyesali


semua yang sudah terjadi, meskipun di dalam hati tidak dikehendaki," Pandan


Wangi tetap mencoba menghibur.


"Ya..., takdir tetap takdir. Tidak ada seorang pun yang bisa melawan kehendakNya. Tapi...," Rangga tidak melanjutkan.


"Tapi apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi.


"Ah, tidak..." desah Rangga berat.


"Katakanlah, Kakang. Mungkin dengan begitu bisa mengurangi beban yang ada pada


dirimu," desak Pandan bijaksana.


"Pandan, kita sudah bersama-sama sejak lama. Aku percaya kau sangat mencintaiku,


dan aku pun demikian.


Tapi tolong, jangan desak aku untuk yang satu ini," kata Rangga.


"Justru karena aku mencintaimu, maka aku ingin tahu dan bisa membantumu,


Kakang," desak Pandan lagi.


Rangga memutar tubuhnya, dan langsung menghadap


pada Pandan Wangi. Sejenak ditatapnya lurus bola mata gadis itu. Tangannya


terangkat dan menjepit dagu Pandan Wangi. Pelahan-lahan, Rangga mendekatkan


wajahnya ke wajah gadis itu. Bibir Pandan Wangi sedikit terbuka dengan mata


tidak berkedip. Semakin dekat wajah mereka, dengus napas semakin terasa hangat


menerpa kulit. Menggeletar seluruh tubuh Pandan Wangi ketika bibir Rangga menyentuh lembut ke


bibirnya. Saat itu juga Pandan Wangi merasakan aliran darahnya seperti terbalik.


Dia tidak menolak saat tangan Rangga melingkar di pinggangnya, dan merengkuhnya


ke dalam pelukan.


Dengan tangan gemetaran, gadis itu melingkarkan


tangannya ke leher Rangga. Bibir mereka semakin rapat menyatu.


"Ah...," Pandan Wangi mendesah saat Rangga melepaskan bibirnya.


Entah perasaan apa yang menyeruak ke dalam dirinya.


Gadis itu langsung merebahkan kepalanya di dada yang bidang terbuka. Kalau saja


Rangga bisa melihat, pasti akan terkejut karena wajah Pandan Wangi menyemburat


merah dengan bibir bergetar. Gadis itu selalu merasa malu bila Rangga


menciumnya. Padahal bukan sekali ini mereka melakukannya.


Rangga kembali menggamit dagu gadis itu, dan meng-angkatnya ke atas. Agak


terkejut juga dia melihat wajah Pandan Wangi merah menahan malu, dan bibirnya


bergetar agak terbuka. Pandan Wangi ingin menunduk, tapi Rangga menahannya.


Terpaksa gadis itu menatap wajah tampan di depannya.


"Kenapa, Pandan?" tanya Rangga lembut.


"Ah, tid..., tidak," sahut Pandan agak tergagap.


"Kau selalu begitu bila...."


Buru-buru Pandan Wangi menutup bibir Rangga dengan jarinya. Dia tidak ingin


rasanya mendengar kata-kata yang membuat perasaannya semakin tidak menentu.


Pandan sendiri selalu mengutuki dirinya yang tidak bisa menahan gejolak dan


perasaan malunya bila dicium. Mungkin itu merupakan pengalaman yang tidak akan


pernah terulang pada laki-laki lain. Baru Rangga seorang yang berhasil menjamah


bibirnya. Pandan tidak pernah bisa menutupi kekurangan-nya ini!


"Ehm ehm...!"


Rangga dan Pandan terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara orang mendehem dua


kali. Mereka langsung


menoleh. Buru-buru Pandan melepaskan dirinya dari pelukan Rangga, sedangkan


wajahnya langsung


menyemburat merah. Rangga sendiri hanya terbengong dengan mulut menganga agak


lebar, hampir dia tidak percaya dengan penglihatannya.


*** "Mayang.... Ada apa kau ke sini?" tanya Rangga setelah dapat menguasai dirinya


kembali. Orang yang telah membuat dua pendekar itu terkejut memang Mayang Telasih. Gadis


itu menatap Rangga tajam, dan kembali mengalihkan pandangannya pada Pandan


Wangi. Bibirnya menyunggingkan senyuman sinis. Matanya memancarkan perasaan


ketidaksenangan. Ada tersirat perasaan cemburu pada sinar matanya.


Mayang tidak menjawab, tapi hanya mendekati.


Sementara Pandan memandang Mayang dan Rangga


secara bergantian. Dia kenal Mayang di dalam Istana Karang Setra. Sebenarnya ada


perasaan cemburu di hati Pandan Wangi. Tapi setelah dia yakin kalau cinta Rangga


hanya untuknya Pandan tidak memperdulikan kehadiran gadis itu.


"Karang Setra sangat membutuhkanmu, Kakang," kata Mayang datar. Matanya sempat


melirik Pandan.


"Masih banyak orang yang lebih pandai daripada diriku di Karang Setra. Lagi pula


aku sudah menyerahkan semuanya pada Danupaksi dan Cempaka. Mereka bisa


mewakiliku memimpin seluruh rakyat Karang Setra," jawab Rangga tegas.


"Bagaimanapun juga, kau seorang raja. Rakyat Karang Setra lebih membutuhkan kau


daripada yang lainnya.


Mereka membutuhkan seorang pemimpin yang akan


membawa pada kedamaian dan kemakmuran hidup, serta perasaan aman dan


terlindungi," kata Mayang lagi.


"Mayang, apa sebenarnya maksudmu?" tanya Rangga, bisa menangkap ada sesuatu yang


tersembunyi di balik kata-kata gadis itu.


"Kakang akan tahu sendiri kalau sudah berada di Karang Setra," sahut Mayang, dan


lagi-lagi melirik Pandan Wangi.


Rangga mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi, ketika tiba-tiba dua orang


laki-laki bertubuh tinggi besar muncul menuntun kuda. Mayang juga menoleh ke


arah dua orang yang ditaklukkannya itu. Sesaat Rangga memperhatikan, kemudian


menatap Mayang, karena kedua orang itu membungkukkan tubuhnya pada Mayang


Telasih. Mereka adalah Jalak dan Rantak, sedangkan seorang lagi yang bernama Bawuk,


ditugaskan untuk mencari perahu.


"Siapa mereka?" tanya Rangga.


"Teman perjalananku," sahut Mayang.


"Sejak kapan kau punya teman seperti itu?"


"Kenapa" Mereka orang yang setia, dan patuh pada perintahku. Tidak ada yang


melarang setiap orang untuk mempunyai teman dalam perjalanan," lagi-lagi Mayang


melirik Pandan Wangi.


Sikap Mayang memang sejak tadi selalu diperhatikan Pendekar Rajawali Sakti. Dan


dia mengerti kalau Mayang tidak suka terhadap Pandan, karena merasa tersaingi


dalam memperoleh cintanya. Kini Mayang membawa tiga orang laki-laki bertampang


kasar. Dan Rangga bisa menebak maksudnya.


Keadaan seperti ini memang tidak bisa dihindarkan.


Rangga bertemu Pandan, jauh sebelum dia kenal Mayang.


Dan pada saat mengenal Mayang, pikirannya sedang diliputi kekacauan karena


hilangnya Pandan Wangi. Saat itu Rangga memang sudah menganggap Pandan tewas di


dalam jurang. Namun hati kecilnya tetap tidak percaya karena mayat Pandan tidak


ditemukan di dasar jurang itu.


Kehadiran Mayang memang sempat membuat hatinya


terhibur. Meskipun Rangga tidak pernah bisa melupakan Pandan Wangi. Memang sulit


untuk menyatukan dua gadis yang sama-sama mencintainya. Dan Rangga sendiri tidak


ingin menyakiti salah satu di antara mereka. Dia berusaha untuk berlaku adil,


walau pun diakuinya cintanya lebih besar terhadap Pandan Wangi daripada Mayang


Telasih. "Mayang, kau telah meninggalkan Istana Karang Setra, dan aku yakin itu karena


sengaja hanya untuk mencariku,"


kata Rangga mengalihkan persoalan pada pokok


sebenarnya. Dia tidak ingin berlarut-larut dan mem-peruncing suasana kaku ini.


"Ada apa sebenarnya, Mayang?"


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Sebaiknya Kakang segera saja kembali ke


Karang Setra," sahut Mayang.


"Begitu pentingkah, sehingga aku harus segera kembali?" Rangga ingin meyakinkan.


"Ya," sahut Mayang.


Rangga menatap Pandan Wangi. Gadis yang selalu


mengenakan baju berwarna biru itu mengangkat bahunya.


Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu menarik napas panjang, kemudian melangkah


menghampiri kudanya.


Sementara Rangga menghampiri kudanya. Mayang


mendekati Pandan Wangi.


Pendekar Rajawali Sakti 18 Darah Pendekar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo


"Ayam hutan tidak bisa bersanding dengan merak dalam taman, bukan?" sindir


Mayang halus. Pandan menggigit bibirnya. Bisa dimengerti maksud sindiran itu. Dia sadar kalau


dirinya tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan Mayang. Apalagi terhadap


Rangga. Belum sempat Pandan mengucapkan sesuatu, Mayang sudah berbalik dan


melangkah meninggalkannya.


Pada saat itu Rangga sudah berada di atas punggung kudanya, dan Mayang Telasih


juga telah melompat ringan naik ke punggung kudanya yang dipegangi Jalak.


"Ayo, Pandan...!" seru Rangga.


Sebentar Pandan Wangi menatap Mayang yang tersenyum sinis padanya, kemudian memandang pada


Rangga. Kata-kata Mayang tadi membuat hatinya perih, dan sadar akan dirinya yang


sebenarnya. Dia memang tidak mungkin dapat memiliki Rangga. Seorang pendekar


digdaya tanpa tanding dan seorang raja besar dengan daerah kekuasaan yang


semakin bertambah lebar. Sedangkan dia sendiri.... Hanya seorang anak biasa yang


hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain.


Dan Mayang Telasih adalah seorang putri pembesar Kadipaten Karang Setra, yang


kini menjadi sebuah kerajaan besar. Mayang diasuh dan dididik oleh bibinya


Rangga sendiri, setelah kedua orang tuanya tewas terbunuh pada saat terjadi


kerusuhan di Kadipaten Karang Setra dulu. Mayang memang gadis berdarah biru, dan


tidak ada masalah jika bersanding dengan Rangga. Sedangkan Pandan sendiri....


Hati Pandan semakin perih bila menyadari hal itu.


"Pandan...!" tegur Rangga.


Pandan Wangi tersentak dari lamunannya, sehingga tidak menyadari kalau Rangga


sudah di dekatnya.


Pendekar Rajawali Sakti itu tetap duduk di punggung Kuda Dewa Bayu. Tangan


kirinya memegang tali kekang kuda Pandan Wangi. Dengan perasaan ragu-ragu,


Pandan Wangi menerima tali kekang kudanya dan melompat naik.


Sementara Mayang dan kedua orang anak buahnya sudah berada di atas punggung

__ADS_1


kudanya. Belum lagi mereka berangkat meninggalkan kaki bukit itu, seorang laki-laki


datang menunggang kuda dengan cepat. Dia menghentikan kudanya tepat di depan


Mayang, lalu membungkuk di depan gadis itu, memberi hormat.


Saat itu, kening Rangga berkerut memperhatikan tingkah orang itu.


"Bagaimana?" tanya Mayang.


"Sudah siap. Den Ayu. Aku mendapatkan sebuah perahu yang sangat besar dengan


sepuluh orang awaknya,"


sahut orang itu yang ternyala adalah Bawuk.


"Bagus," sambut Mayang tersenyum.


"Mayang..!" suara Rangga agak ditahan. Mayang menoleh.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rangga.


"Aku menyuruh Bawuk menyewa perahu, biar cepat sampai ke Karang Setra. Kita


dapat menghemat perjalanan tiga hari," sahut Mayang menjelaskan.


Sebenarnya Rangga ingin menolak tapi tidak ingin membuat gadis itu kecewa. Tanpa


berkata-kata lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu menggebah kudanya pelahan-lahan.


Pandan Wangi mengikutinya dari samping kiri.


Sementara Mayang mensejajarkan langkah kudanya di samping kanan pemuda berbaju


rompi putih itu. Tiga orang laki-laki bertampang kasar, mengikuti dari belakang.


Mereka meninggalkan kaki bukit tanpa bicara sedikit pun.


*** Meskipun tidak begitu bagus, perahu yang disewa


Mayang sangat besar, sehingga mampu menampung


mereka berenam dan kuda-kuda sekaligus. Mayang puas melihat hasil kerja anak


buahnya. Sementara Rangga tidak mengerti dengan perbuatan Mayang. Nalurinya


mengatakan kalau tiga laki-laki pengikut Mayang bukanlah orang baik-baik.


Meskipun sikapnya hormat tapi kata-katanya tidak teratur dan sedikit kasar.


Perahu besar berawak sepuluh orang dan penumpang enam orang itu melaju membelah


sungai besar yang langsung menuju Karang Setra. Tidak sedikit p rahu besar dan


kecil melewati sungai ini, yang memang menjadi jalur penting bagi sebagian besar


rakyat Karang Setra.


Kebanyakan orang lebih senang melalui jalan sungai, karena terasa lebih aman dan


cepat dibandingkan lewat jalan darat.


Rangga berdiri tegak memandang ke depan di haluan perahu itu. Kepalanya sedikit


menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekati. Mayang tersenyum manis dan


berdiri di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti itu.


Pandangannya lantas tertuju ke depan, mengikuti arah jalannya perahu ini.


"Ada yang kau pikirkan, Kakang?" tanya Mayang lembut suaranya.


"Banyak," sahut Rangga singkat tanpa menoleh sedikit pun. "Kau tidak suka dengan


penalanan ini?" tebak Mayang.


"Suka," sahut Rangga mendesah


"Tapi, kenapa murung?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang menduga-duga saja."


"Apa yang kau duga?" desak Mayang mau tahu.


"Maksudmu menemuiku."


"Apa menurut pendapatmu, Kakang?"


Rangga menarik napas panjang. Ditolehkan kepalanya ke arah gadis di sebelahnya.


Saat itu Mayang juga menolehkan kepalanya ke arah pemuda tampan itu.


Sesaat mereka saling pandang, kemudian sama-sama memalingkan mukanya kembali ke


depan. "Apa sebenarnya yang terjadi, Mayang?" tanya Rangga agak datar suaranya.


"Purbaya melarikan diri," sahut Mayang pelahan-lahan.


"Purbaya..."!" Rangga tersentak kaget.


Pendekar Rajawali Sakti itu langsung menatap Mayang dalam-dalam. Betapa


terkejutnya dia mendengar


penuturan itu. Purbaya adalah putra Tengkorak Putih, ketua Partai Tengkorak yang


bersarang di Rimba


Tengkorak. Masih lekat dalam ingatannya ketika


menghancurkan Partai Tengkorak dan menewaskan


pemimpinnya (Baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode "Perawan Rimba


Tengkorak").


Rangga bisa membayangkan kalau Purbaya akan


menjadi ancaman besar bagi kelangsungan kejayaan Kerajaan Karang Setra.


Tengkorak Putih, ayah Purbaya, menyimpan dendam pada Pendekar Rajawali Sakti.


Jelas dendam itu pasti telah diturunkan pada anaknya. Partai Tengkorak memang


didirikan untuk menghancurkan


Karang Setra. Tapi, sebelum semua terlaksana, Rangga lebih dulu menghancurkannya


dan menangkap hidup-hidup putra ketua Partai Tengkorak itu.


"Hampir seluruh prajurit sudah dikerahkan untuk menangkapnya kembali, tapi


Purbaya memang terlalu tangguh. Dan dia berhasil melarikan diri meskipun sudah


terkepung dengan rapat. Tidak sedikit prajurit dan punggawa yang tewas," Mayang


menceritakan. "Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Rangga.


"Paman Bayan Sudira bermaksud memindahkannya ke dalam tahanan khusus. Itu bukan


semata-mata kesalahan-nya, karena memang mendapat perintah dari Kakang


Danupaksi," jelas Mayang.


"Gegabah!" dengus Rangga.


"Aku kira tidak Kakang. Purbaya memang sudah dua kali berusaha melarikan diri,


dan selalu gagal. Kakang Danupaksi mengambil keputusan dengan memindahkannya ke


dalam kamar tahanan khusus di bawah tanah. Tapi sebelum sampai, Purbaya


mengambil kesempatan untuk melarikan diri," bantah Mayang.


"Anak itu memang cerdik dan berbahaya sekali. Sifat-sifat ayahnya menurun


padanya. Seharusnya Danupaksi tidak berbuat ceroboh seperti itu. Lebih baik


menambah jumlah prajurit penjaga sampai aku kembali. Huh!


Menambah beban persoalan saja!" gerutu Rangga.


"Hal itu sudah dilakukan, Kakang. Yaaah..., mungkin memang Purbaya lebih cerdik


dan tingkat kepandaiannya juga tinggi sekali," kembali Mayang membela tindakan


Danupaksi, adik tiri Rangga.


"Purbaya tidak akan puas kalau hanya dapat ke luar dari tahanan saja. Dia harus


segera bisa ditangkap kembali sebelum berhasil menyusun kekuatan. Karang Setra


akan menghadapi malapetaka besar kalau sampai anak itu dapat menyusun kekuatan "


"Makanya aku cepat-cepat menyusulmu, Kakang."


"Hm..., bagaimana kau tahu kalau aku ada di Bukit Batu?" tanya Rangga.


"Mudah saja. Kau sangat dikenal banyak orang. Tidak sulit untuk mengikuti


jejakmu. Apalagi Bukit Batu tidak Jauh dari Karang Setra. Hanya tujuh hari


perjalanan berkuda," Jawab Mayang enteng.


"Tujuh hari..., sedangkan aku sudah meninggalkan istana selama lebih dari satu


purnama. Hhh! Panglima Parakan memang pintar menyembunyikan diri."


"Kau berhasil menemuinya, Kakang?"


"Ya. Dia memilih jalan hidupnya sendiri. Sebenarnya aku tidak bermaksud


membunuh, tapi dia nekad," ada sedikit rasa penyesalan di hati Pendekar Rajawab


Sakti. Mayang Telasih diam. Sejenak dia memandang wajah pemuda di sampingnya. Sementara


Rangga tetap meng-arahkan pandangannya ke depan, kemudian berbalik dan melangkah


ke tepi perahu.


"Kau teruskan saja perjalanan ini, Mayang!" kata Rangga dengan sedikit menoleh.


"Aku berangkat dulu, Pandan!"


"Heh...!"


Mayang dan Pandan terkejut ketika tiba-tiba Rangga melenting cepat. Beberapa


kali Pendekar Rajawali Sakti itu berputaran di udara, kemudian dengan manis


mendarat di tepi sungai. Mayang berlari ke tepi perahu dan memandang Rangga yang


sudah berada di tepi sungai jarak dari perahu ke daratan cukup jauh, dan tidak


mungkin Mayang bisa melompatinya. Pada saat itu, Pandan Wangi juga berlari ke


tepi. "Kakang...!" teriak Pandan memanggil.


"Kutunggu kau di istana, Pandan!" balas Rangga.


Pandan akan melompat tapi dia ragu-ragu. Jarak dari perahu ke daratan sangat


jauh. Ilmu meringankan


tubuhnya belum mencapai taraf sempuma, sehingga dapat dipastikan tidak akan


mampu sampai ke seberang.


Sementara perahu yang ditumpangrnya terus melaju cepat.


Jarak mereka dengan Rangga semakin Jauh. Pandan


Wangi semakin gelisah saja, sedangkan Mayang hanya memandangi Rangga tidak


berkedip. Dia seperti melupakan Pandan Wangi yang masih berada di atas perahu


ini. Mayang menyesal juga telah menceritakan tentang


pelarian Purbaya dari penjara.


*** 4 Rangga memandang sekitarnya. Sementara perahu besar yang ditumpangi Mayang dan


Pandan Wangi semakin jauh menyusuri sungai menuju ke Karang Setra. Pendekar


Rajawali Sakti itu berbalik dan berlari cepat menuju hutan yang tidak jauh dari


tepian sungai ini. Ilmu meringankan tubuhnya sempurna sekali. Dalam waktu


sekejap saja, dia sudah lenyap masuk ke dalam hutan.


Tanpa mengurangi kecepatan larinya, Pendekar


Rajawali Sakti itu terus menerobos semakin jauh memasuki hutan. Larinya berhenti


setelah tiba pada sebuah padang rumput yang luas. Sebentar Rangga memandang


berkeliling. Tak ada seorang pun yang terlihat. Telinganya dipasang tajam-tajam.


Terdengar suara gumamannya yang halus.


"Suit...!"


Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti itu bersiul nyaring melengking tinggi.


Kepalanya menengadah ke atas.


Agak lama juga matanya memandang ke langit lepas yang berawan tipis berarak.


Kembali dia bersiul nyaring melengking tinggi. Siulan yang disertai pengerahan


tenaga dalam sempuma itu menggaung lepas membelah angkasa.


Nada siulan itu sangat aneh terdengar di telinga. Panjang dan tanpa irama


sedikit pun. Terdengar kecil, namun nyaring melengking.


Kepala Pendekar Rajawali Sake itu tetap menengadah ke atas. Matanya tertuju


langsung ke arah Utara. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat sebuah


titik kecil di angkasa. Semakin lama titik kecil itu semakin membesar, dan terus


membesar. Hingga pada akhirnya terlihat jelas bentuknya. Seekor Burung Rajawali


Raksasa melayang cepat menuju ke arah Rangga.


"Khraaaghk...!"


Suara Burung Rajawali Raksasa itu keras dan serak.


Burung itu menukik tajam dan mendarat lunak tepat di depan Rangga. Kepalanya


terangguk-angguk, kemudian merunduk mendekati wajah Rangga. Pendekar Rajawali


Sakti itu merentangkan tangannya dan memeluk kepala burung itu, seperti seorang


ayah yang rindu terhadap anaknya yang baru kembali.


"Kau baik-baik saja, Rajawali" tanya Rangga lembut.


"Khraghk!"


"Aku rindu sekali padamu."


Rajawali Raksasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya dalam pelukan Rangga.


Kemudian dia menekuk kakinya, lalu berbaring dengan sayap merentang lebar ke


bawah. Rangga menepuk-nepuk lembut leher burung


raksasa itu. "Aku perlu pertolonganmu, Rajawali," kata Rangga.


"Grrrhhk...." Rajawali Raksasa menggerung pelan.


"Ya, persoalan yang aku hadapi cukup berat," Rangga seperti bisa mengerti.


Rajawali Raksasa menggoyang-goyangkan kepalanya, kemudian mengangguk beberapa


kali. "Aku tahu, kau pasti sudah tahu persoalan yang ku-hadapi..."


"Khraghk!"


"Iya..., iya. Tentu saja aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi aku ingin tahu


tempatnya dengan cepat. Kau bisa membantu, bukan?"


Rajawali Raksasa menganggukkan kepalanya. Burung itu sepertinya mengerti setiap


kata yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti. Demikian juga sebaliknya Rangga


seolah-olah bisa memahami setiap gerak dan suara burung raksasa itu. Mulut


mereka memang berbicara dalam bahasa masing-masing, tapi batin mereka berbicara


dalam satu bahasa. Satu keistimewaan yang tidak dimiliki tokoh-tokoh rimba


persilatan lainnya.


"Hup!"


Rangga melompat naik ke punggung Rajawali Raksasa.


Dengan kokoh, burung itu berdiri pada kedua kakinya.


Sayapnya mengepak, menimbulkan suara angin menderu.


Kemudian bagaikan kilat, tubuhnya melesat cepat membumbung tinggi ke angkasa.


"Jangan terlalu tinggi, Rajawali. Aku sulit melihat ke bawah." kata Rangga agak


keras, berusaha mengalahkan suara angin yang menderu bagai badai.


"Khraghk...!"


"Aku harus menghemat Rajawali. Masih siang, tidak perlu menggunakan ilmu 'Tatar


Netra'," kata Rangga lagi.


Kepala Rajawali Raksasa menggeleng beberapa kali.


"Kenapa?" tanya Rangga bisa mengerti maksud Rajawali Raksasa.


Rajawali Raksasa menjulurkan kepalanya ke bawah, tapi tetap menjaga ketinggian


terbangnya Rangga


melongokkan kepalanya memandang ke bawah. Dia tidak bisa melihat apa-apa di


sana. Rajawali Raksasa terbang terlalu tinggi, sehingga yang nampak di bawah


hanya kehijauan tersaput awan tipis.


"Uh! Ada apa sih" Aneh sekali. Rajawali tidak mau terbang lebih rendah lagi,"


gumam Rangga dalam hati.


Rangga segera mengerahkan aji 'Tatar Netra' yang digabungkan dengan aji 'Mata


Dewa'. Dengan penggabungan dua ilmu itu, dia bisa melihat dari jarak yang sangat jauh dan


terang. Rangga terkejut juga begitu melihat ke bawah. Di sana ternyata terdapat


sebuah per-kampungan yang penduduknya tengah mengadakan pesta.


Rangga tahu, kalau itu Desa Galumpit. Hari ini mereka tengah mengadakan pesta


untuk merayakan keberhasilan dalam mengolah lahan pertanian.


Rangga tersenyum. Bisa dimaklumi kalau Rajawali


Raksasa tidak ingin mengejutkan orang-orang itu. Rangga pun tetap menggunakan


gabungan dua ilmu agar dapat melihat terang dan jelas dari jarak jauh. Kepalanya


sempat tergeleng-geleng karena sepanjang yang dilalui selalu orang yang terlihat


Pendekar Naga Sakti menyadari kalau kini tengah terbang menuju Mandalika,


sehingga semakin banyak orang yang terlihat di bawah sana.


"Kau yakin kalau Purbaya masih ada di Mandalika, Rajawali?" tebak angga.


"Khraghk!"


*** Angga sedikit kebingungan juga, setelah diturunkan di luar perbatasan Karang


Setra yang sepi penduduk.


Sementara Rajawali Raksasa sudah membumbung tinggi kembali ke tempatnya di


Lembah Bangkai. Kebingungan Rangga memang beralasan. Seluruh rakyat Karang Setra


sudah mengenalnya, baik sebagai raja maupun Pendekar Rajawali Sakti. Lebihlebih dalam pakaian pendekar seperti ini. Sangat sulit untuk menyembunyikan diri


dari mata orang banyak.


Pendekar Rajawali Sakti 18 Darah Pendekar di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo


Sedangkan untuk saat ini, Rangga tidak ingin dikenali.


Dia ingin segala gerak dan tindakannya bebas. Memang sulit jika berada di tanah


kelahirannya. Jelas semua orang sudah mengenal baik dirinya. Rangga melayangkan


pandangannya berkeliling.


Dan tiba tiba....


"Tolong.., tolong!" terdengar jeritan wanita dari sebelah Barat.


Rangga memastikan pendengarannya sekali lagi.


Benar, dari sebelah Barat! Tanpa berpikir dua kali, Pendekar Rajawali Sakti itu


melesat cepat dengan mengerahkan ilmu 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.


Kedua tangannya terentang ke samping, dan dengan cepat dikebut-kebutkannya. Kaki


Rangga bagai tidak menapak tanah saja, melesat cepat ke arah sumber suara tadi.


Sementara, di depan sebuah pondok kecil, terlihat seorang wanita muda tengah


ketakutan yang teramat sangat dikelilingi oleh empat orang bertubuh kekar dan


seram. Wanita itu gemetar hebat. Keringat dingin telah sejak tadi membasahi


badannya. Sebagian pakaiannya koyak, memperlihatkan bahunya yang putih mulus.


Empat orang berwajah seram itu makin liar menatap tubuh yang sedikit terbuka


itu. "Ayolah, Manis. Tak usah takut," salah seorang yang berambut gondrong dan


berpakaian hitam berusaha


mendekat. "Ja.... jangan! Tolong kasihanilah saya," ratap wanita itu.


"Kau tidak akan kami bunuh, asalkan.... He... he... he,"


kata salah seorang lagi yang berbadan paling besar, namun wajahnya penuh


ditumbuhi rambut. Pakaiannya coklat tua. Matanya liar merayapi bahu wanita itu.


"Benar! Kami bukan orang Jahat! Tidak tega rasanya membunuh kelinci secantik


ini, ha... ha... ha...," kata yang lainnya. Orang satu ini berbadan agak kekar


namun memiliki kepandaian memanah. Pakaiannya berwarna biru tua. Usianya sekitar


empat puluh lima tahun.


"Rasanya tidak sulit hanya untuk melayani empat orang saja, ha ha ha...," tambah


salah seorang yang memakai baju hijau.


Serentak mereka tertawa terbahak-bahak, sambil


kakinya pelahan-lahan mendekati, seperti hendak


menangkap seekor ayam. Sedangkan wanita muda itu hanya mengkeret sambil terus


meratap. Tiba-tiba saja salah seorang yang berpakaian biru tua memanfaatkan kesempatan


ketika wanita itu agak meleng sedikit. Dia melompat cepat, dan tahu-tahu telah


menubruk wanita itu. Keruan saja wanita itu ikut ambruk, tertubruk orang yang


telah dipenuhi hawa nafsu itu.


"Ouw! Jangan! Lepaskan, oh! Tolong, jangan!"


"Tidak apa-apa, he he he...," orang itu terus menindih wanita malang itu.


Sementara itu, tiga orang lainnya tak kuat lagi


menahan gejolak hawa nafsu, dan segera menghampiri dua tubuh yang bergumul itu.


Tanpa banyak bicara, mereka segera memegangi kaki dan tangan wanita itu. Dengan


leluasa, orang yang berbaju biru tua itu mulai mempereteli pakaian wanita yang


tampaknya hanya mampu meronta-ronta. Dan ketika orang yang berbaju biru tua itu


hendak melolosi pakaiannya sendiri, tiba-tiba....


"Ugh!" terdengar suara mengeluh dari orang yang berbaju biru tua itu.


Ternyata sebuah tendangan keras, telak mendarat di pinggangnya. Orang itu


terhempas dan bergulingan beberapa kali. Tidak jauh dari situ, seorang pemuda


memakai baju rompi putih telah berdiri memandangi satu persatu orang yang kaget


bukan kepalang itu. Rambutnya yang sebahu tertiup angin sehingga mengelus-elus


gagang pedangnya yang berbentuk kepala burung rajawali. Jelas, dia adalah


Pendekar Rajawali Sakti.


Empat orang yang masih kaget itu, segera menyadari sosok yang berdiri tidak jauh


dari situ "Oh, Gusti! Ampun..., ampunilah kami, Gusti!" serentak empat orang bertubuh


kekar itu menjatuhkan diri di depan kaki Rangga. Diciuminya kaki Pendekar


Rajawali Sakti itu beberapa kali.


"Cepat pergi dari sini, sebelum pikiranku berubah!"


bentak Pendekar Naga Sakti itu.


Sebenarnya, Anggala agak terkejut juga karena empat orang itu telah mengenalnya.


Mungkin mereka memang penduduk Karang Setra juga, atau mungkin juga bukan.


Tidak mungkin bagi Rangga untuk mengenali rakyatnya satu persatu. Tapi bagi


Rangga tidak jadi masalah jika ada orang lain mengetahui kehadirannya di situ.


Masalahnya, mereka tidak mungkin cerita pengalaman mereka yang memalukan ini.


Sementara itu, keempat orang itu telah berhamburan meninggalkan tempat itu.


Mereka sebenarnya memang penduduk Kerajaan Karang Setra juga, yang tengah


berburu. Mungkin karena dorongan iblis, maka ketika melihat seorang wanita di


sebuah pondok kecil yang jauh dari keramaian, mereka sepakat untuk


memperkosanya. Sebenarnya tempat ini dengan Karang Setra berada di sebelah Timurnya dan


terletak agak Jauh. Jika dengan kuda, bisa sekitar tiga sampai lima hari


perjalanan. Dan lagi tempat ini juga masih wilayah Karang Setra. Tapi yang


namanya pemburu, maka tempat di manapun, asal di situ banyak binatang buruan


bukanlah persoalan.


"Oh, terima kasih, Tuan.... Terima kasih!" ucap wanita muda itu. Rupanya dia


kurang paham dengan sosok yang dihadapinya kini. Dan itulah yang diharapkan


Rangga. "Sudahlah! Siapa namamu?" tanya Rangga lembut, tapi matanya melengos dari arah


wanita itu. "Oh.... Namaku Anjani! Oh! Maaf, Tuan! Saya masuk dulu." ujar wanita itu setelah


sadar bahwa keadaan dirinya hampir tanpa benang sehelai pun. Cepat-cepat


diraihnya kain yang koyak di dekatnya untuk menutupi auratnya.


Bergegas dia beranjak berlari ke dalam pondok itu Rangga hanya tersenyum


sendiri, dan menunggu di


depan pondok itu. Tak lama berselang, wanita muda yang bernama Anjani itu telah


keluar dengan pakaiannya yang lain. Kelihatannya semakin cantik, tapi wama merah


padam masih menyelimuti wajahnya. Rangga sendiri hampir terkesiap melihatnya.


"Mari, silakan masuk ke gubukku ini, Tuan," ajak Anjani.


"Terima kasih. Oh, ya siapa namamu tadi?" tanya Rangga.


"Anjani."


"Nama yang cantik, secantik orangnya."


"Ah! Bisa saja Tuan ini," Anjani semakin merah padam.


Gadis yang mengaku bernama Anjani itu tersipu malu.


Wajahnya yang cantik, semakin terlihat mempesona setelah rona merah menyemburat


di wajahnya. Wanita itu memang masih muda, usianya sekitar delapan belas tahun.


Di balik pakaiannya tersembunyi kulit yang putih bersih. Rangga sendiri hampir


tidak percaya bahwa ternyata ada seorang gadis cantik tinggal di dalam pondok


kecil dan reot, menyendiri dari keramaian penduduk.


"Oh ya, mana orang tuamu?" tanya Rangga setelah duduk di dipan bambu dan


beralaskan tikar daun pandan.


"Aku hidup sendiri," sahut Anjani.


"O...."


"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Aku hidup dari menjual kayu bakar ini


ke kota, dan berladang sedikit di belakang pondok."


"Tentu sangat berat kehidupanmu," Rangga bisa merasakan.


"Hidup ini memang berat..," Anjani berhenti sebentar.


"Tuan, apakah Tuan pembesar Kerajaan Karang Setra?"


tanya Anjani ketika ingat bahwa para pemerkosanya memanggil pemuda tampan di


depannya ini dengan


sebutan Gusti. Sepertinya dia memang berusaha melupakan pendritaannya.


"Oh, bukan! Aku hanya pengembara saja. Kebetulan empat orang tadi pernah


kutolong dan sergapan perampok.


Untuk menghormatiku, mereka memanggilku Gusti," jelas Rangga berbohong.


"Ooo." Hanya itu yang keluar dari mulut Anjani.


"Sebaiknya, jangan memanggilku Tuan!" kata Rangga.


"Hm, boleh aku memanggilmu, Kakang...?"


"Dengan senang hati," sambut Rangga. "Oh, ya. Namaku Rangga. Kau boleh


memanggilku Kakang Rangga."


Tentu saja Rangga senang, karena dari caranya


memandang dan berkata, gadis itu tidak tahu siapa Rangga sebenarnya. Mungkin Anjani belum pernah mendengar nama Rangga, atau juga pernah tapi belum pernah


melihatnya. Dan Rangga merasa tidak perlu khawatir lagi, dan ini berarti dengan


leluasa ia dapat menyembunyikan diri agar pekerjaannya tidak terganggu.


"Sudah lama kau tinggal di sini, Anjani?" tanya Rangga setengah menyelidik.


"Cukup lama juga, kira-kira lima tahun," sahut Anjani.


"Sebelumnya, kau tinggal di mana?"


"Semula aku dan seluruh keluargaku selalu berpindah-pindah. Kami hidup dari


membuka ladang dari satu tempat ke tempat lainnya. Atau berdagang bila kebetulan


menjumpai desa atau kota. Apa saja yang didapatkan dalam perjalanan kami jual."


"Lalu, kenapa kau bisa sampai menetap di sini?"


"Ketika aku dan keluargaku sampai di perbatasan Karang Setra, bencana terjadi.


Saat itu Karang Setra masih merupakan sebuah kadipaten yang tidak seberapa


besar. Para prajurit kadipaten merampas semua harta benda kami, dan membunuh seluruh


keluargaku. Saat itu aku berhasil menyelamatkan diri dan lari ke dalam hutan,


hingga sampai ke sini. Aku tidak tahu lagi, harus berbuat apa. Aku memutuskan


untuk hidup di sini, ya.... sampai sekarang ini," Anjani menyelesaikan kisah


hidupnya. Rangga agak bergemuruh juga dadanya mendengar


kisah tragis itu. Lebih-lebih menyangkut nama Karang Setra. Memang, pada masa


itu Karang Setra dikuasai adik tirinya yang selalu mementingkan diri sendiri.


Sehingga tidak heran kalau para prajurit kadipaten bertindak seperti perampok.


Merampas harta benda rakyat dan membunuh siapa saja yang berani menentangnya.


Rangga selalu merasa terpukul bila mendengar kisah seperti itu.


"Kakang sendiri, bagaimana kisah hidupnya?" tanya Anjani.


"Ah! Kehidupanku tidak ada yang menarik. Aku tidak tahu siapa diriku. Sejak


kecil aku hidup sendiri, berkelana mencari dan mempelajari berbagai macam ilmu


olah kanuragan dan kesaktian," Rangga menghindar.


"Kakang seorang pendekar?"


"Tidak juga. Aku mempelajari ilmu hanya untuk menjaga diri saja," Rangga


merendah. Anjani tersenyum-senyum.


"Kenapa tersenyum?" tegur Rangga.


"Aku sedikit tahu tentang ciri-ciri seorang pendekar.


Mereka memang begitu, selalu merendahkan diri. Kecuali orang jahat yang


mengandalkan kekuatan untuk kepentingan pribadi yang selalu menyombongkan diri


dan memamerkan kepandaiannya "


Rangga agak heran juga bercampur kagum. Ternyata gadis ini memiliki pengetahuan


juga tentang dunia persilatan. Bisa menilai watak-watak kaum rimba persilatan,


meskipun dari garis besarnya saja.


Semakin mengenal dekat gadis itu, rasa kagum Rangga semakin menebal. Dan mereka


juga semakin cepat akrab, meskipun baru kenal beberapa saat lalu. Mereka seperti


sudah mengenal lama. Anjani juga kelihatan ceria, dan sesekali terdengar suara


tawanya yang merdu kalau Rangga membuat kelucuan. Mereka terus berbicara dan


bergurau sampai tidak terasa, hari sudah menjelang sore.


*** Memang sangat diharapkan, ketika Anjani menawarkannya bermalam di pondoknya. Rangga menempati


sebuah kamar di belakang, sedangkan Anjani di kamar lainnya. Pondok ini hanya


terdiri dari dua kamar tidur dan sebuah ruangan depan yang menjadi satu dengan


ruangan tengah.


Tiba saat malam telah larut, Anjani pun telah benar-benar lelap dalam buaiannya.


Kesempatan inilah yang ditunggu Rangga agar bisa keluar untuk mencari


buronannya. Pelahan-Iahan dibuka jendela kamarnya. Tanpa


menimbulkan suara sedikit pun Rangga melompat ke luar, hati-hati sekali dia


menutup kembali jendela itu.


"Hup!"


Hanya dengan satu kali lompatan saja, Pendekar


Rajawali Sakti itu telah lenyap ditelan kegelapan malam.


Tubuhnya berkelebatan cepat menuju ke Karang Setra.


Rangga mengerahkan ilmu lari cepat, sehingga dalam waktu singkat saja, sudah


berada di dalam kota Kerajaan Karang Setra. Pendekar Rajawali Sakti itu


berkelebat menyelinap dari satu rumah ke rumah lainnya.


Pendekar Rajawali Sakti itu selalu berhenti sebentar dan bertengger di setiap


atap rumah penginapan atau kedai yang masih buka sampai jauh malam. Dia kenal


suara Purbaya, dan pasti dapat mengetahui kalau buruan-nya mungkin ada pada


salah satu rumah penginapan atau di dalam kedai. Hanya saja sudah semua


penginapan dan kedai di seluruh kota ini disinggahi tapi tidak satu pun di


antara tempat itu yang terdengar suara Purbaya.


"Hm dia pasti bersembunyi di suatu tempat. Atau... ah!


Rasanya tidak mungkin kalau kembali ke Rimba


Tengkorak," Rangga bergumam sendiri di dalam hati.

__ADS_1


Rangga terus berpikir dan menduga-duga ke mana


__ADS_2