
Salah seorang calon prajurit pengawal gerbang itu cepat menangkis dengan pedangnya. Karna kecepatan kapak itu cukup deras sehingga calon prajurit itu harus terpental ke tanah.
"Hoarrr...! Mati Kalian!" Bentaknya langsung menangkap kembali kapak bermata duanya yang kembali ke arah tuannya itu. Tanpa banyak bicara pimpinan prajurit siluman itu langsung melompat menyerang dengan dua kapak besar di tangannya.
"Trang!
"Ukh...!"
Prajurit itu meringis tertahan di iringi tubuhnya terpental menaham laju kapak besar yang begitu kuat itu. Tidak hanya sampai di sana pimpinan prajurit siluman itu langsung melompat ke arah pengawal gerbang yang belum sempat berdiri itu.
"Mati Aku!" Guman pengawal gerbang itu sambil memejamkan matanya. Ayunan kapak bermata dua pimpinan prajurit siluman itu mengayun tepat ke arah kepalanya.
Trang!"
"Heh..!"
Pengawal itu perlahan membuka matanya. Tampak Manggala dan Baginda Raja Kindar Buana telah berdiri di sampingnya. Tongkat mustika Dewa di tangan Manggala tampak menghalangi gerakan kapak bermata dua yang hampir membelah kepalanya itu.
"Bangunlah prajurit!" Titah Baginda Raja Kindar Buana sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Tuanku!" Ucap prajurit pengawal gerbang itu. Walau ia agak terkejut melihat perubahan Baginda Raja Kindar Buana itu.
"Muncullah dulu, biar kami yang menghadapi mereka!" Titah sang Baginda lagi.
"Baik Baginda!" Ucap prajurit itu sambil melangkah mundur dan menunduk memberi hormat.
"Ananda! Biar Ayahanda yang menghadapi siluman ini, Ayahanda merasa tubuh ayahanda begitu ringan!" Kata Baginda Raja Kindar Buana sambil memegang bahu sang putra.
"Silahkan Ayahanda!" Jawab Manggala mempersilahkan Ayahandanya untuk maju bertarung.
"Ho ho ho...! Rupanya sang Raja masih hidup! Kau tidak akan ku beri kesempatan lagi Raja tengik!"
__ADS_1
Bentak pimpinan prajurit itu. Pimpinan Prajurit itu langsung melompat ke arah Baginda Raja Kindar Buana dengan mengayunkan kapak besar bermata dua di tangannya itu.
Wuk! Wut..!
"Hup..!"
Baginda Raja Kindar Buana hanya menggeser tubuhnya sedikit ke samping sehingga kapak besar siluman itu hanya mengenai angin kosong di samping. Sabetan kapak di tangan kiri pimpinan prajurit siluman itu menderu ke arah leher Baginda Raja Kindar Buana namun sang Baginda cepat menarik tubuhnya ke belakang.
Sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi di lepaskan Baginda Raja Kindar Buana ke arah perut pimpinan prajurit itu.
Buak.!
"Orkh...!
Baginda Raja Kindar Buana yang tidak menyadari kekuatan sendiri itu menendang menggunakan hampir separuh tenaga dalamnya membuat perut pimpinan prajurit siluman itu jebol dan bersemburan darah. Sang Baginda Raja cepat-cepat menarik kakinya dan melompat ke belakang.
Melihat pimpinan mereka tewas dalam satu serangan para prajurit siluman itu tampak kehilangan mental bertarung mereka. Para prajurit siluman itu langsung berusaha melarikan diri. Namun niat mereka tertahan karna tiga gadis cantik Mentari, Laras dan Pandan Ayu telah melesat bagai kilat menghadang langkah kaki para prajurit siluman itu.
"Mau kemana Kalian! Tinggalkan dulu nyawa Kalian di sini, barulah Kalian boleh pergi!" Ujar Laras dengan begitu dingin.
"Kalian terlalu sadis, Kita tinggal minta mata mereka saja! Bagaimana siluman tengik! Kalian punya dua pilihan. Pergi tanpa nyawa atau pergi tanpa mata?? Ha ha ha...!" Kata Mentari sambil tertawa. Laras dan Pandan Ayu pun ikut tertawa.
Para prajurit siluman itu tampak saling pandang satu sama lainnya. Mendengar perkataan ketiga gadis itu berarti mereka tidak punya pilihan lagi selain bertarung. Tanpa banyak bicara para prajurit siluman itu langsung melompat menyerang ketiga penghadang mereka itu.
"Heaaa...!"
Jerit melengking keluar dari mulut ketiga gadis cantik itu. Seketika tubuh mereka bergerak bagai kilat menyambar. Sekali mereka berhenti bergerak dan menjejak tanah para prajurit siluman itu telah bergelimpangan di tanah.
"Mereka itu mengadakan perlawanan atau tidak sih, Kok cepat sekali?" Ucap Dewi Merak Ungu sambil tersenyum melihat kehebatan tiga Pendekar muda itu.
"Ibunda mau seperti mereka?" Tanya Manggala sambil tersenyum pada sang ibu.
__ADS_1
"Memangnya ibunda masih bisa punya kekuatan seperti mereka anakku?" Tanya Permaisuri Primata Trisna sambil menatap sang putra.
"Tentu saja Ibunda, iyakan Ayahanda!" Ucap Manggala sambil menoleh ke arah Baginda Raja Kindar Buana.
"Tentu saja anakku!" Jawab Baginda Raja Kindar Buana sambil tersenyum.
"Tentu saja Ibunda mau, kita masih punya banyak musuh!" Ucap Dewi Merak Ungu sambil menatap sang putra penuh harap.
"Ayahanda, pinjam kan Ibunda mustika naga itu," Ucap Manggala pada ayahandanya.
"Baiklah anakku," Jawab Baginda Raja Kindar Buana sambil memberikan mustika Draka itu pada sang Permaisuri, "Ini Dinda,"
"Terima kasih Kanda," Ucap Permaisuri Primata Trisna sambil tersenyum menerima mustika naga dari sang suami.
"Prajurit tolong jaga gerbangnya ya, Sekalian kuburkan mayat siluman itu," Titah Baginda Raja Kindar Buana pada pengawal gerbang itu.
"Jadi kami sudah resmi jadi prajurit Galuh Kencana Tuanku?" Tanya prajurit itu sambil berlutut memberi hormat.
"Tentu saja, hanya itu yang baru bisa kami berikan, gaji dan fasilitas keprajuritan tampaknya belum ada, mohon maafkan kami prajurit," Ucap Baginda Raja Kindar Buana sambil menunduk.
"Tidak perlu meminta maaf Tuanku, kewajiban kami sebagai prajurit adalah menjaga dan mengabdi kepada Kerajaan," Jawab prajurit itu.
"Terima kasih pengertian Kalian para prajuritku," Ucap Baginda Raja Kindar Buana lagi.
"Rupanya perkataan Kakek Sesepuh Pedang Kilat memang tidak salah, Ayahanda memang seorang Raja yang berbudi luhur dan rendah hati," Puji Manggala melihat kerendahan hati sang ayahanda.
"Ayahandamu memang selalu rendah hati anakku," Tambah Permaisuri Primata Trisna.
"Terima kasih anakku, Permaisuriku," Ucap Baginda Raja Kindar Buana sambil memeluk permaisuri dan putranya itu.
Bersambung..
__ADS_1
.
.