
Suara burung berkicau menghiasi pagi. Sinar matahari mulai menyinari pagi. Para murid Perguruan Pedang Suci tampak asyik berlatih di depan aula besar di tengah lokasi Perguruan itu.
Hari ini adalah hari ketiga Manggala berada di Perguruan Pedang Suci. Manggala telah mengutarakan maksud kedatangannya pada Datuk Sesepuh Pedang Kilat dan Nyi Dewi Phoenix Hitam.
Ketiga Sesepuh Perguruan Pedang Suci itu mendukung niat Manggala untuk membangun Kembali Kerajaan Galuh Kencana yang di hancurkan oleh pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit.
Datuk Sesepuh Pedang Kilat juga telah mengetahui bahwa Draka dan Jingga bukanlah manusia dari bumi. Datuk Sesepuh Pedang Kilat memberikan dukungan penuh dengan keinginan Pangeran Manggala itu. Datuk Sesepuh Pedang Kilat juga merestui hubungan Manggala dan Pandan Ayu.
Manggala yang berniat kembali meneruskan Perjalanannya mencari keberadaan beberapa perguruan dan para pendekar yang mengadakan perlawanan pada pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit. Manggala pun menemui Datuk Sesepuh Pedang Kilat.
"Salam hormat saya Datuk Sesepuh," Ucap Manggala sambil menunduk memberi hormat.
"He he he..! Pangeran Manggala. Ayo silahkan masuk," Jawab Datuk Sesepuh Pedang Kilat sambil tertawa menerima kedatangan Manggala di kediamannya.
"Terima Kasih Datuk Sesepuh," Ucap Manggala sambil memasuki rumah tempat tinggal Datuk Wiratama itu.
"Ada keperluan apa Pangeran Manggala, ada yang bisa kakek bantu? Jangan terlalu sungkan panggil saya kakek saja," Kata Datuk Sesepuh Wiratama sambil tersenyum.
"Begini Kek, kami berniat meneruskan perjalanan kami kembali hari ini, jadi secara tidak langsung saya mau meminta izin meninggalkan Perguruan Pedang Suci ini," Kata Manggala dengan Penuh sopan santun.
"He he he..! Mau meneruskan perjalanan ya? Apakah Pangeran berniat meminta izin mengajak Pandan Ayu sekalian?" Tanya Datuk Sesepuh Pedang Kilat sambil tertawa.
"Tidak Kek. Saya tidak berniat mengajak Pandan Ayu sekalian. Tapi jika Pandan Ayu berniat ikut saya juga tidak melarang," Jawab Manggala.
"O begitu ya. Tadi malam Pandan Ayu meminta izin pada kami untuk ikut dengan Pangeran, kami telah mengizinkan keinginan Pandan Ayu itu," Kata Datuk Sesepuh Wiratama lagi.
__ADS_1
"Kalau Ayu yang mau pergi ya saya tidak melarang Kek. Jangan panggil Pangeran Kek, Kerajaan Galuh Kencana masih belum dapat Manggala bangun, panggil Manggala saja," Ucap Manggala.
"He he he...! Pangeran, ayah Pandan Ayu adalah adipati Wirayoga seorang adipati ayahmu, jadi walau kerajaan Galuh Kencana hancur sudah tidak ada keturunan Baginda Raja Kindar Buana adalah junjungan kami. Ayahmu adalah seorang raja yang baik dan sangat bijaksana Manggala. Kakek sangat senang bisa bertemu dan berkenalan dengan putranya," Kata Datuk Sesepuh Wiratama. Mata laki-laki tua itu tampang menerawang jauh seperti mengenang masa lalu, masa damai dan tentramnya Kerajaan Galuh Kencana dulu.
"Maafkan saya Kek, Manggala tidak berniat membuat kakek mengingat putra Kakek," Ucap Manggala.
"He he he...! Tidak apa-apa nak, kita sama-sama kehilangan keluarga kita karna Pasukan iblis kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu, jadi tidak ada rasa saling menyalahkan. Kini tinggal kita bagaimana caranya kita membebaskan bumi ini dari kwjauhan pasukan Iblis itu," Jawab Datuk Sesepuh Pedang Kilat lagi.
"Kalian sarapanlah dulu baru meneruskan perjalanan, o iya apa kakek harus menyiapkan pasukan untukmu," Tambah Datuk Sesepuh Pedang Kilat.
"Belum Kek, kami akan kembali ke istana Galuh Kencana dulu, saya telah mengirim para murid Perguruan Pedang Kembar yang saya kalahkan kesana untuk menunggu saya dan membersihkan istana Galuh Kencana, jadi saya ingin melihat perkembangan di sana dulu," Jawab Manggala sambil tersenyum.
"Ya, ya... Kakek mengerti, jika Pangeran membutuhkan pasukan bantuan. Pangeran tinggal kasih kabar melalui Pandan Ayu," Kata Datuk Sesepuh Wiratama lagi.
"Baik Kek,"
"Kak Ayu, hati-hati ya. Sari tentu akan merindukan Kakak," Ucap Sari tampak berat melepas kepergian Pandan Ayu.
"Terima Kasih Sari. Kaka akan hati-hati kok, Kalian harus giat berlatih, karna suatu saat kakak akan meminta bantuan Kalian untuk menghadapi pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu," Jawab Pandan Ayu sambil tersenyum.
"Ya Kak, Sari akan giat berlatih agar suatu saat bisa di samping Kakak melawan para prajurit siluman dan prajurit iblis itu," Ucap Sari sambil tersenyum.
Setelah berpamitan dengan seluruh murid dan sesepuh Perguruan Pedang Suci itu, Manggala dan teman-temannya meninggalkan tempat itu. Pandan Ayu sebagai pembuka pintu ghaib penghalang pagar pelindung Perguruan Pedang Suci itu.
Manggala berniat kembali ke istana Galuh Kencana terlebih dahulu sebelum meneruskan Perjalanannya.
__ADS_1
.
.
Sementara itu jauh di istana Galuh Kencana. Para murid Perguruan Pedang Terbang yang telah jadi taklukan Manggala tampak sibuk bekerja membersihkan istana Galuh Kencana dan sekitarnya. Pohon-pohon yang telah tumbuh tinggi telah di tebang dan di bersihkan. Walau tampak kumuh istana Galuh Kencana tampak mulai rapi.
Dewi Merak Ungu pernah terlibat pertarungan dengan para murid Perguruan Pedang Kembar itu. Para murid Perguruan Pedang Kembar itu menjelaskan mereka adalah kiriman Manggala barulah Dewi Merak Ungu mengerti. Setelah hari itu Dewi Merak Ungu sering datang keistana membawakan makanan dan buah-buahan untuk calon prajurit putranya itu.
Pendekar Gila Patah hati yang sebenarnya adalah Baginda Raja Kindar Buana yang kehilangan ingatan selalu mendampingi Dewi Merak Ungu. Walau Baginda Raja Kindar Buana belum mengingat masa lalunya, namun perasaan hatinya membuat ia tidak mau jauh dari Permaisuri Primata Trisna.
Pagi itu Baginda Raja Kindar Buana atau Pendekar Gila Patah Hati tampak sibuk membantu para calon prajuritnya membersihkan taman di belakang istana. Dewi Merak Ungu melihat sang suami begitu sibuk tanpa henti bekerja datang menghampiri sambil membawa beberapa kendi berisi air minum.
"Kanda, istirahatlah dulu, nanti Kanda kelelelahan," Ucap Dewi Merak Ungu sambil menghampiri Baginda Raja Kindar Buana yang tampak sibuk bekerja tanpa mempedulikan orang lain.
"Eh Nyi Dewi, maaf saya membantu para calon prajurit membersihkan taman ini, saya lihat taman ini cukup bagus," Jawab Pendekar Gila Patah Hati.
"Kanda.. Kau adalah Raja di istana ini, tentu saja Kau mengetahui taman ini bagus," Ucap Permaisuri Primata Trisna dengan lemah lembut.
"Iya tuanku, Baginda kami larang tidak mempedulikan kami," Ucap salah seorang murid Perguruan Pedang Kembar Divisi Dalam yang lagi sibuk bekerja.
"Ya tidak apa-apa, Ayo ajak teman-teman mu minum dulu, Apa Kalian sudah pada makan?" Tanya Permaisuri Primata Trisna sambil tersenyum ia memerintahkan para murid Perguruan Pedang Kembar itu untuk minum.
"Baik Tuanku, Kami sudah makan tadi pagi," Jawab calon prajurit itu sambil memberi hormat.
"Ya sudah, matahari sudah cukup terik, sebaiknya Kalian istirahat, Kalian tentu harus masak lagi, maafkan saya belum bisa memberikan Kalian makanan dan upah kerja Kalian," Ucap Permaisuri Primata Trisna sambil menunduk lesu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tuanku, kami telah bertanam ubi dan bertanam sayur-sayuran di belakang istana, lagian kolam besar di belakang istana menyimpan ikan yang besar-besar, untuk kami jadikan makanan," Jawab Pemuda itu. Ia adalah murid Divisi Utama Pedang Roh.
Untuk manusia biasa mereka yang ada di sana sudah cukup tangguh, mereka hanya di kalahkan Manggala yang memiliki kesaktian Lima Pendekar Dewa itu.