
Salah seorang murid tertua Perguruan Pedang Suci itu menantang Manggala bertarung.
"Hei..! Kau Pendekar muda, aku dengar dari adik-adik seperguruanku. Kau memiliki kesaktian Lima Pendekar Dewa. Jika Kau tidak membohongi kami, terimalah tantangannya!" Bentak Murid tertua itu sambil menunjuk ke arah Manggala yang lagi bercakap-cakap dengan Datuk Sesepuh Pedang Kilat.
"Hei! Sudarta jaga kesopananmu! Dia tamu Kita," Ujar Datuk Sesepuh Pedang Kilat.
"Maafkan murid Guru, apakah Kalian percaya begitu saja cerita orang yang baru kita kenal itu," Seru Sudarta sambil menunjuk ke arah Manggala.
"Kak Sudarta, apa yang membuat Kau mempunyai rasa iri pada Kak Manggala, dia telah membantu kita," Ujar Pandan Suri sambil bangkit dari duduknya.
"Diam Kau Ayu! Kami tau Kau menyukai pemuda itu, apa Kau percaya begitu saja tentang ceritanya yang mampu menaklukkan naga berkepala lima itu. Selama ribuan tahun ini belum ada yang mampu menaklukkan naga itu!" Ujar Sudarta dengan lantang dan menatap penuh kebencian pada Manggala.
"Aku yang telah di berikan Kak Manggala mustika naga ini, Kau menganggap Kak Manggala berbohong, jika Kakak menantang Kak Manggala, maka Kakak harus mengalahkan aku terlebih dulu!" Jawab Pandan Ayu. Sekali lompatan gadis cantik berbaju putih itu sudah berdiri di depan Sudarta sekitar dua tombak.
"Apa aku tidak salah Ayu, aku tidak ingin menyakitimu! Kau mungkin tampak segar karna mendapatkan bantuan tenaga dalam dari pemuda itu, tapi Kau bukanlah tandinganku!" Bentak Sudarta dengan sombongnya.
"Ha ha ha..! Rupanya tong kosong memang nyaring bunyinya Kak Sarta!" Jawab Dewi Phoenix Putih dengan tertawa tipis.
"Bangsat! Jangan salahkan aku Ayu! Heaa...!!"
Mendengar perkataan Dewi Phoenix Putih dengan nada mengejeknya. Wajah Sudarta tampak memerah menahan kemarahannya, ia langsung melompat menyerang ke arah Dewi Phoenix Putih dengan sebuah pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Tap! Tap!
"Heh.!"
Sudarta tampak terkejut bukan main, dalam pikirannya Pandan Ayu mungkin akan terpental dan mengalami luka dalam yang cukup parah akibat pukulannya itu. Namun yang terjadi jauh di luar dugaannya. Pukulan Sudarta itu di tangkis oleh Pandan Ayu dengan santai dan sebuah senyum tipis menyungging.
__ADS_1
"Bagaimana Kak Darta, Ayu tidak ingin membuat Kakak malu di depan saudara seperguruan kita, sebaiknya jangan di teruskan!" Ucap Pandan dengan cukup sopan.
"Heh! Baru mampu menahan pukulanku Kau sudah sombong Ayu!" Kata Sudarta tidak bergeming.
"Aku tidak sombong Kak Darta, tapi Kau bukanlah tandingan Ayu sekarang," Jawab Pandan Ayu setengah berbisik. Gadis cantik berbaju putih itu tidak ingin membuat Kakak seperguruannya itu malu di depan para murid yang lain.
"Kau terlalu meremehkan aku Ayu! Heaaa...!"
Sudarta meningkatkan tenaga dalamnya ke tingkat tertinggi dan berusaha mendorong Pandan Ayu kebelakang.
"Hup..!"
Sudarta berusaha mendorong Pandan dengan sekuat tenaga namun kekuatannya sudah hampir habis, tenaga dalamnya jauh di bawah tenaga dalam yang di miliki Dewi Phoenix Putih sekarang.
"Huaaks...!"
"Sudah Kak Darta, Ayu sudah katakan tadi, Kau sudah terluka dalam," Ucap Pandan Ayu sambil mundur ke belakang, begitu Pandan Ayu mundur Sudarta langsung jatuh berlutut dengan memegangi dada, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Sembara! Cepat bantu Kak Darta, tampaknya dia sudah mengalami luka dalam akibat bertarung dengan para siluman itu!" Seru Pandan Ayu pada Sembara.
"Baik!!" Tanpa banyak bicara Sembara langsung melompat dan membantu Sudarta. Sembara yang sudah melihat secara langsung kehebatan Pandan Ayu tidak berani banyak bicara lagi, walau hatinya juga menyimpan cemburu pada Manggala.
"Hebat! Kak Ayu hebat sekali," Puji Sari yang baru datang dari arah dapur dengan murid wanita lainnya, mereka membawa lendir dan piring berisi minuman dan makanan.
"Terima kasih Sari," Ucap Pandan Ayu sambil tersenyum.
"He he he...! Tidak kakek sangka, kalau cucuku bisa menjadi murid no satu di Perguruan Pedang Suci ini! He he he...!" Ujar Datuk Sesepuh Pedang Kilat sambil tertawa terkekeh.
__ADS_1
"Murid siapa dulu! Muridku!" He he he..!" Dewi Phoenix Hitam pun tampak sangat gembira melihat kemajuan muridnya yang di luar dugaan itu.
Datuk Sesepuh Pedang Perak tampak hanya ikut tersenyum, tiga sesepuh Perguruan Pedang Suci itu adalah saudara ipar, Datuk Sesepuh Pedang Kilat adalah kakak dari Datuk Sesepuh Pedang Perak atau di kenal dengan Pendekar Pedang Petir.
Sedangkan Nyi Widar Cantika adalah istri dari Datuk Sesepuh Pedang Kilat. Pandan Ayu adalah cucu langsung dua orang tokoh silat Perguruan Pedang Suci itu. Ayah Pandan Ayu adalah putra dari Datuk Sesepuh Pedang Kilat dan Dewi Phoenix Hitam.
Ayah Pandan Ayu adalah seorang adipari di wilayah Kerajaan Galuh Kencana. Ayah Pandan Ayu bernama Asli Wirayoga gugur dalam pertarungan melawan pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit. Saat itu adipati Wirayoga dalam perjalanan menuju istana Galuh Kencana memenuhi undangan dari Baginda Raja Kindar Buana.
Saat Kabupaten Sicincin di serang, ibu Pandan Ayu berhasil membawa sang putri satu-satunya ke Perguruan Pedang Suci dan menyerahkannya kepada sang mertua. Karna mengalami luka akibat bertarung dengan prajurit siluman, ibu Pandan Ayu pun meninggal dunia di Perguruan Pedang Suci.
"Nak Manggala, terima kasih banyak atas bantuanmu. Cucu kami bisa menjadi pendekar no satu di Perguruan Pedang Suci ini berkat dirimu. Apakah nak Manggala menyukai Pandan Ayu?" Ucap Datuk Sesepuh Pedang Kilat sambil bertanya pada Manggala Surya Kencana.
"Huss...! Jangan di tanya Kanda Sesepuh, dia pasti malu, jangan ikut campur itu urusan orang muda, kita sudah tua jadi penonton saja," Kata Nyi Widar Cantika sambil tertawa kecil pada sang suami. Sementara itu Manggala tampak menunduk malu akibat pertanyaan Datuk Sesepuh Wiratama itu.
Sari dan kawan kawannya menghidangkan makanan dan minuman yang mereka bawa dari dapur, setelah semua terhidang Datuk Sesepuh Pedang Kilat mengajak mereka semua makan.
"Ayo semuanya di santap makanannya, maaf hanya itu yang bisa kami hidangkan," Ucap Datuk Sesepuh Wiratama.
"Terima kasih Kakek, makanan ini sudah enak-enak kok, di banding makanan kami selama perjalanan," Jawab Manggala sambil tersenyum. Manggala menuangkan air ke cangkir keramik di depannya dan minum.
"Ayo Kak Manggala, Makan!" Ajak Pandan Ayu sambil meletakkan sepiring nasi di depan Manggala, " Ayo semua Mentari, Laras, Draka, Jingga kita makan!" Tambah Pandan Ayu lagi sambil mengambilkan gulai daging rusa untuk Manggala.
"Hmm..! Tumben si tomboy kita menghidangkan orang lain makanan Nyi," Kata Datuk Sesepuh Wiratama sambil tersenyum pada sang istri.
"Ayo Sari, kita makan!" Ajak Pandan Ayu pada Sari.
"Tidak usah Kak, Kami makan di dapur saja," Jawab Sari sambil tersenyum. Gadis itu mengajak adik-adik seperguruannya ke dapur umum Perguruan Pedang Suci itu.
__ADS_1
Mereka pun makan siang bersama di aula besar Perguruan Pedang Suci itu.