
Keadaan istana Kerajaan Galuh Kencana yang hancur, dan di penuhi rerumputan membuat dua tokoh besar istana itu tidak mungkin untuk tinggal di sana, Dewi Merak ungu alias Permaisuri Primata Trisna mengajak Pendekar Gila Patah hati pergi ke tempatnya di Jurang Ngarai.
.
Pendekar Gila Patah hati tidak membantah keinginan wanita cantik yang mengaku sebagai Permaisutinya itu. Baginda Kindar Buana semasa kejayaannya dulu tidak mempunyai selir, karna ia hanya mencintai Permaisurinya Primata Trisna seorang.
.
Lagi pula saat itu umurnya baru sekitar tiga puluh tahunan. Kejayaan Kerajaan Galuh Kencana begitu besar, dan begitu tenar sehingga Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu mengincar dan menghancurkannya. Agar tidak menjadi duri di kemudian hari.
Namun takdir berkehendak lain, putra mahkota dari kerajaan Galuh Kencana lah yang akan menjadi lawan yang cukup berat bagi Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu.
.
.
Kita tinggalkan Raja Kindar Buana atau Pendekar Gila Patah hati dan Permaisuri Primata Trisna yang telah menjadi seorang Pendekar berjulukan Dewi Merak Ungu, yang kini tinggal di lembah Jurang Ngarai.
.
Kita Kembali ke perjalanan Manggala dan Laras yang menuju gerbang ketiga Divisi Dua Pedang Roh. Manggala dan Laras hampir mencapai gerbang ke tiga itu, gerbang tujuan mereka kini di depan mata.
.
Masalah baru pun kini telah menunggu di depan mereka. Namun tujuan mereka berdua tidak akan mundur sampai bisa merebut kembali Mentari yang telah di taiwan di Pagoda Lima pilar itu.
Manggala mendorong perlahan pintu gerbang besar itu, kali ini pintu gerbang itu tampaknya sengaja tidak di beri pengawalan. Sepertinya kedatangan Manggala dan Laras memang sudah di nantikan.
.
__ADS_1
Begitu mereka memasuki lapangan luas di dalam pintu gerbang itu, puluhan orang-orang berbaju merah telah menunggu mereka. Tampak di depan bangunan duduk seorang yang berumur enam puluh tahunan dengan rambut dan pakaian merah. Dia adalah sesepuh Divisi Dua Pedang Roh itu, yang bergelar Datuk Setan Merah.
.
Datuk Sesepuh Setan Merah tampak menyungging senyum tipis, pertanda ia meremehkan Manggala dan Laras, yang hanya dua orang, sedangkan murid-murid nya berjumlah ratusan orang.
"Ha ha ha...!" Tampaknya ada anak muda yang ingin mengantarkan nyawa kesini Divisi ini!" Tawa Sesepuh Setan Merah membahana, para muridnya pun ikut tertawa.
"Ha ha ha...!" Dasar manusia cari mati!"
Manggala hanya tersenyum tipis melihat orang-orang yang menertawakannya dan Laras, mata Laras tampak memerah menahan amarah, tangannya tergenggam erat.
"Huh..! Sungguh sombong Sesepuh Setan Merah itu Manggala!" Geram Laras.
Sedangkan Manggala Surya Kencana tampak begitu tenang, ia tidak sedikitpun terpancing oleh ejekan Datuk Sesepuh Setan Merah dan Para muridnya itu.
"Kak Laras mundur saja dulu, akan banyak serangan yang akan datang," Pinta Manggala sambil meningkatkan tenaga dalamnya dan bersiap dengan Ilmu kesaktian nya.
"Anak-anak beri bocah itu pelajaran!" Perintah Datuk Sesepuh Setan Merah, ia tampak tidak menyadari berapa Divisi telah di taklukan Manggala. Sehingga Datuk Sesepuh Setan Merah begitu memandang rendah ke arah murid Lima Pendekar Dewa itu.
"Heaa....!"
Jerit melengking keluar dari mulut para murid Perguruan Pedang Kembar Divisi Dalam Pedang Roh itu, maka seketika para murid itu melesat ke arah Manggala tidak kurang dari Lima puluh orang. Mereka menyerang dengan tangan kosong, namun di telapak tangan mereka seberkas cahaya putih membentuk sebuah pedang. Itulah 'Jurus Pedang Roh Penghancur Jiwa.
.
Manggala pun tidak tinggal diam, ia pun bersiap dengan 'Jurus Tameng Dewa'. tingkat empat, Tameng Jiwa Raga. Manggala pun menambah dengan Jurus Raga Dewa Tingkat Tiga nya.
Bleb..! Bleb..!
__ADS_1
Begitu jarak telapak tangan mengandung sinar putih membentuk pedang para murid Divisi Dua Pedang Roh itu hampir menyentuh tubuh Manggala, mereka seperti menghantam dinding karet yang begitu tebal. Sehingga mereka membal kearah belakang, jika mereka tidak buru-buru melompat kebelakang maka mereka akan jatuh terjengkang.
Wajah para murid Divisi Dua Pedang Roh itu tampak berubah, begitu pun wajah Datuk Sesepuh Setan Merah yang duduk di teras bangunan besar di dalam gerbang ketiga Divisi Dua Pedang Roh itu, tampak terkejut bukan kepalang.
Belum hilang keterkejutan mereka, Manggala tiba-tiba menyorongkan telapak tangannya ke depan. cahaya putih membentuk dua telapak tangan raksasa, keluar dari telapak tangan Manggala dan menderu begitu cepat. Sehingga para murid Divisi Dua Pedang Roh itu tidak sempat mengelak.
Wuss...! Wusss....!
Booom....!!"
Para murid Divisi Dua Pedang Roh itu berterbangan bagai daun yang tertiup angin, mereka berserakan di tanah, dengan baju yang mereka pakai hancur bagai orang yang keluar dari api. Bangunan besar di belakang Datuk Sesepuh Setan Merah Berlobang membentuk sepasang telapak tangan raksasa.
.
Sedangkan Datuk Sesepuh Setan Merah cepat mencelat ke udara, begitu cahaya itu hampir mengenainya tadi. Kursi besar tempat Datuk Sesepuh Setan Merah duduk tadi telah hancur menghantam dinding batu bangunan di belakangnya.
.
Sedangkan murid pilihan Datuk Sesepuh Setan Merah juga sempat melompat menghindar. Namun malang bagi murid-murid yang masih tingkatannya di atas tiga puluh, mereka harus tewas terhempas ke batu dinding bangunan di belakangnya mereka.
.
"Kurang ajar, yang di katakan Datuk Sesepuh Merah Hati benar, Anak muda ini menguasai Jurus Tapak Dewa dan Jurus Tameng Dewa," Guman Datuk Sesepuh Setan Merah dalam hati, ia menyesal telah memandang rendah pada Anggala.
.
"Kalian! Siapkan 'Jurus Paduan Pedang Roh Penghancur Jiwa dan Jurus Pedang Roh Penghancur Raga!" Perintah Datuk Sesepuh Setan Merah pada kesepuluh orang murid pilihannya, yang di kenal dengan sebutan Sepuluh Pedang Roh Api.
.
__ADS_1
"Baik! Datuk.!!!"