
"Jurus Tameng Dewa Tingkat Tiga! Heaaa....!"
Manggala menghentakkan tangannya kebawah dengan di iringi jeritan melengking, Pedang Tanpa Bentuk Penghancur Jiwa, yang mengarah padanya tertahan di udara, dengan sekali hempasan tangan , mata pedang tanpa gagang itu berbalik arah meluncur ke arah Sesepuh Guntur Langit.
"Heh....!"
Sesepuh Guntur Langit terkejut bukan kepalang, melihat jurus Pedang Tanpa Bentuk nya, di kembalikan dengan begitu mudah, ia terpaksa melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangannya yang berbalik arah itu.
"Hah.....! Jurus Pedang Tanpa Bentuk Penghancur Jiwa ku pun di tahan begitu mudah, tampaknya Lima Pendekar Dewa itu memang telah menurunkan kesaktian mereka pada pemuda ini," guman Sesepuh Guntur Langit, dalam hati.
Manggala tampak begitu tenang, menunggu serangan selanjutnya dari Sesepuh Guntur Langit, ia belum tampak menyiapkan serangan balik.
"Heaaa....!"
Sesepuh Guntur Langit melompat ke udara, lalu meluncur deras ke arah Manggala, dengan kedua telapak tangan di depan.
"Tapak Iblis Petir....!
Belasan bayangan tangan kuning, berbentuk telapak tangan di kelilingi lidah petir menyambar mengiringi Sesepuh Guntur Langit, Manggala pun menunggu dengan ke dua telapak tangan tersusun di depan dada.
"Heaaa......!"
Begitu telapak tangan Manggala terbuka, dan menghadap ke atas, bayangan telapak tangan berwarna putih terang menghadang bayangan telapak tangan lidah petir milik Sesepuh Guntur itu.
Desss.....! Swoss.....! Swoss......!
BLAAAR.......!"
Ledakan dahsyat terjadi begitu dua pukulan bertemu, Manggala terdorong ke belakang sekitar satu tombak, sedangkan Sesepuh Guntur Langit terlempar ke udara, lalu jatuh menimpa atap bangunan di depan arena pertarungan itu.
Braak......!
__ADS_1
"Aaakh......!"
Sesepuh Guntur Langit mengeluh kesakitan, darah segar menetes di sela sela bibirnya, para murid Perguruan Pedang Kembar, Divisi Luar Pedang Raga, terperangah melihat Sesepuh Guntur Langit terpental, dan mengalami luka dalam menghadapi Manggala, yang merupakan murid baru Divisi Luar Pedang Raga itu.
"Bagaimana Sesepuh? Kita lanjutkan?" Manggala tiba tiba telah berada di depan Sesepuh Guntur Langit, dan mengalirkan tangan nya.
"Cukup Manggala! Sekarang aku yakin, Kau menjadi murid Lima Pendekar Dewa, berarti pedang yang terbungkus di balik punggung mu itu, adalah Pedang Pusaka Naga Langit, yang bernama Pedang Naga Emas?" tanya Sesepuh Guntur Langit, sambil berdiri di bantu Manggala.
"Ya, tidak lagi Sesepuh!" jawab Manggala, singkat.
"Baiklah Kau telah lulus di gerbang kedua ini, sekarang Kau boleh meneruskan perjalanan mu ke gerbang ke tiga,"
"Terima Kasih Sesepuh!" ucap Manggala, sambil memberi hormat pada Sesepuh Guntur Langit itu.
Mentari dan Laras melompat ke dekat Manggala dan Sesepuh Guntur Langit, mereka berdua memberi hormat pada Sesepuh Guntur Langit itu, dan mengajak Manggala meneruskan Perjalanan menuju gerbang ke tiga Divisi Luar Pedang Raga, gerbang ke tiga adalah gerbang terakhir Divisi Luar Pedang Raga itu.
Selanjutnya adalah Divisi dalam Pedang Jiwa, para murid Perguruan Pedang Kembar Divisi Luar Pedang Raga itu bersorak memberi dukungan kepada Manggala, mereka bersorak sampai Manggala, Mentari dan Laras menghilang dari pandangan mereka.
"Manggala! Sebaiknya kita ber istirahat dulu!" saran Mentari, pada Manggala sambil menghentikan lari nya.
"Terserah Kak Mentari saja!" jawab Manggala, sambil ikut menghentikan larinya, dan berhenti di dekat Mentari, Laras pun ikut berhenti di dekat mereka berdua.
"Bagaimana Laras? Kita beristirahat di sungai di bawah sana?" ajak Mentari, sambil menunjuk ke arah bawah tempat yang mereka lalui.
"Baiklah, di sungai itu banyak ikannya!" jawab Laras, menyetujui ajakan Mentari itu, mereka bertiga menuju ke sungai yang di katakan Mentari itu.
Sesampainya di bawah dan di tepi sungai itu, Mentari meminta Laras menangkap ikan untuk mereka, serahkan ia dan Manggala menyiapkan api
untuk membakar ikan nya.
Mentari tampak tersenyum senyum sendiri, karna kesenangan ia tinggal berduaan dengan Manggala, melihat kelakuan Mentari itu Manggala pun menggoda Mentari.
__ADS_1
"Kak Mentari kenapa? senyum senyum ada yang lucu ya dengan Manggala?" tanya Manggala, berputar putar salah tingkah, ada sesuatu yang janggal pada dirinya.
"Tidak, tidak.....! Tidak ada yang lucu dengan Manggala!" jawab Mentari, tampak gelagapan karna di ketahui Manggala ia tersenyum senyum sendiri.
"Terus kenapa Kakak senyum senyum sendiri?" goda Manggala, ia berjongkok di depan Mentari yang sibuk menghidupkan api unggun.
"Nggak Kok, Kakak tidak senyum kok!" jawab Mentari, tampak gugup karna Manggala begitu dekat dengan dirinya.
Manggala hanya tersenyum sambil memandang wajah Mentari yang berubah merah karna malu.
"Tuh wajah kakak merah, panas ya?" Manggala terus menggoda Mentari, gadis cantik berbaju merah itu pura pura sibuk mengosongkan ranting ke api unggun itu.
"Iya panas..!" jawab Mentari, berpura pura kepanasan karna api, padahal ia jadi grogi berduaan dengan pendekar tampan itu.
"Manggala, sudah punya kekasih belum??" tanya Mentari, tanpa melihat ke arah Manggala, ia berusaha memfokuskan matanya ke arah api unggun di depannya.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" jàwab Manggala, sambil tersenyum memandang Mentari.
"Tidak apa apa! Saya cuma ingin tau?!" ujar Mentari, masih penasaran, nada bicaranya masih mengandung pertanyaan.
"Sampai saat ini belum, Kak," jawab Manggala, sambil menyorongkan ranting untuk memperbesar api unggun yang mereka buat.
Tidak lama Laras kembali membawa beberapa ekor ikan, hasil tangkapan nya, Ikan ikan itu telah di bersihkan Laras, sehingga Mentari dan Manggala bisa lansung membakar ikan ikan itu.
Setelah selesai makan ikan bakar dan beristirahat, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju gerbang ke tiga, Divisi Luar Pedang Raga, Perguruan Pedang Kembar.
Bersambung....
( Jangan lupa Favorit dan like, komentar dan ikuti terus perjalanan Pendekar Naga Sakti, berpetualang dan mencari dua pendekar adik seperguruan paman gurunya Lesmana. ).
Ikuti terus IG Author Idwan Virca, info tentang Novel Author akan update di sana.
__ADS_1