KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Pertemuan Kembali Dengan Mentari


__ADS_3

Draka kembali ke wujud nya semula, yaitu wujud seorang yang memakai baju perang berwarna keemasan. Baru saja Draka menginjakkan kaki di samping Manggala dan Laras. Mereka di kejutkan oleh suara menggema yang memekakkan telinga.


.


"KURANG AJAR.... SIAPA YANG BERANI MEMBUNUH PENJAGA PAGODA LIMA PILAR HAH......!!!"


.


Mangaala dan Laras beserta Draka, mengalihkan pandangan pada asal suara itu. Tampak dua orang telah berdiri di depan mereka bertiga. Kedua orang itu adalah Datuk Sesepuh Mata Langit dan Pangeran Iblis Merah.


.


Tidak jauh di belakang mereka berdiri sekitar lima puluh prajurit siluman yang berpakaian perang lengkap dengan jubah emas. Datuk Sesepuh Mata Langit sendiri di dampingi dua orang yang bertubuh besar dengan baju merah menyala. Mereka berdua adalah sepasang Jubah Merah pengawal pribadi sang Datuk Sesepuh Mata Langit.


.


Sepasang Jubah Merah memegangi Mentari yang tampak terikat rantai yang di selubungi cahaya kuning kemerahan.


.


"Bangsat! Kau Datuk! Lepaskan Kak Mentari, jika Kau memang hebat bertarung lah satu lawan satu denganku!" Bentak Laras tampak tidak mampu lagi menahan amarahnya. Wajah cantik Laras tsmpak memerah menahan amarah.


.


"Ha ha ha...! Anak kemarin sore.. dari Divisi Luar, berani berkoar di depanku, aku tidak tau kekuatan apa yang Kau dapat anak ingusan, namun jangan berlagak dulu, ini Pagoda Lima Pilar, Kau sedang berhadapan dengan guru besarmu! Ha ha ha...!" Datuk Sesepuh Mata Langit mendapat tantangan dari Laras malah tertawa terbahak-bahak.


.


Datuk Sesepuh Mata Langit tidak menyadari kalau tingkat kepandaian Laras mungkin hampir melebihi tingkat kepandaiannya sebagai Ketua besar Perguruan Pedang Kembar itu.


.


"Jubah Merah lepas kan gadis itu, biar dia bisa bertemu dengan kedua temannya itu untuk terakhir kalinya.!" Perintah Datuk Sesepuh Mata Langit pada Sepasang Jubah Merah.


.


"Baik Datuk!" Jawab Sepasang Jubah Merah, mereka lansung melepaskan ikatan rantai yang mengikat di tubuh Mentari. Begitu rantai yang mengikatnya terlepas Mentari segera berlari ke arah Manggala dan Laras.


.


Tanpa mempedulikan Laras Mentari langsung menubruk Manggala dan memeluk pemuda tampan itu dengan erat.


.


Sementara itu Laras tampak terkejut dan tidak menyangka. Laras hanya memperhatikan tindakan Mentari itu dengan perasaan cemburu.


.


"Manggala, Kau datang menyelamatkanku.. Terima kasih Manggala!" Ucap Mentari tanpa mengendurkan pelukannya. Sedangkan Manggala hanya terdiam di perlakukan seperti itu. Draka hanya tersenyum melihat Manggala yang tampak salah tingkah itu.


.


Mentari mengerling pada Laras yang tampak tidak memperhatikan mereka, perhatian Laras tampak fokus pada Datuk Sesepuh Mata Langit dan Pangeran Iblis Merah itu.


.


Mentari segera melepas pelukannya pada Manggala, dan segera menemui Laras dan lansung menemui adik seperguruannya itu.


.

__ADS_1


"Laras... Terima kasih banyak Kau dan Manggala telah susah payah sampai kesini demi menyelamatkanku..!" Ucap Mentari tampak lirih, "Kau memang sahabat terbaikku Laras,"


.


"Draka, apa mustika ini masih bisa di gunakan?" Tanya Laras pada Draka.


.


"Tentu saja Tuanku.. Mustika itu bisa di gunakan untuk tiga orang yang sudah mempunyai tenaga dalam mumpuni, dan satu orang untuk orang biasa yang belum mempunyai tenaga dalam," Jawab Draka.


.


Laras tampak mengeluarkan mustika naga yang telah di berikan Manggala padanya. Laras lansung memberikannya pada Mentari tanpa pikir panjang lagi.


.


"Kak Mentari gunakan Mustika Naga ini untuk memulihkan dan menambah tenaga Kakak, Biar sepasang Jubah Merah itu aku yang hadapi," Ucap Laras.


.


"Tapi Laras mereka itu adalah Murid tingkat satu, aku tidak mau melihat Kau tewas bertarung dengan mereka," Jawab Mentari tampak cemas dengan keputusan Laras itu.


.


"Tidak usah cemas Kak, Kak Laras tidak seperti dulu lagi..," Jawab Manggala meyakinkan Mentari.


.


"Ya, Kak mustika itu telah membantu ku, atas pemberian Manggala dan Draka," Jawab Laras, Mentari hanya mengangguk walau agak berat, namun karna Manggala yang meyakinkannya. Mentari agak tenang.


.


.


"Ha ha ha...!Bagaimana Mentari? Sekarang waktunya Kau melihat kematian teman-teman mu! Ha ha ha....! Jubah Merah! Habisi mereka..!"


.


Tanpa banyak tanya lagi Sepasang Jubah Merah melesat ke arah Manggala dan Laras. Laras pun secepat kilat melesat menghadang dua orang laki-laki berbaju jubah merah itu.


.


"Heh...! Anak ingusan Divisi Luar, rupanya Kau mau mengantarkan nyawamu lebih dulu ya..?" Bentak salah satu Sepasang Jubah Merah.


.


"Kalian Kecoa Pengecut Mata Langit itu, memang besar mulut! Sebaiknya Kalian cepat buktikan bacot Kalian yang besar itu!" Jawab Laras dengan senyum tipis agak meremehkan.


.


"Bangsat! Bosan hidup Kau! Heaah....!" Dengan pongah nya salah seorang dari Sepasang Jubah Merah lansung menyerang Laras dengan sebuah pukulan yang memakai setengah tenaga dalamnya.


.


Laras yang memakai Kekuatan Mata Naga, tampak dapat membaca kekuatan serangan musuhnya. Jadi dengan begitu santainya Laras menangkap tinju salah satu Sepasang Jubah Merah yang menyerangnya itu.


.


Tap.!

__ADS_1


"Heh...!"


Sepasang Jubah Merah tampak terkejut setemgah mati, pukulannya yang sebagai murid tingkat satu Divisi Utama Pedang Roh itu, dapat di tahan oleh seorang murid Divisi Luar Pedang Raga tingkat tiga puluh.


.


"Kenapa Kau hanya menggunakan separuh tenaga dalammu? Gunakan semuanya!" Ujar Laras dengan sekali sentakan ke depan, jubah Merah yang berada di depannya itu lansung membal ke udara seperti terhantam angin topan.


.


Wut..!


Wusss...!


"Aaaa....!"


Bruk....!


"Aaakh.....!


Si Jubah Merah yang di banting laras ke tanah itu, lansung memuntahkan darah segar, luka dalam yang di deritanya cukup parah, sehingga ia hampir tidak sanggup berdiri lagi.


.


Si Jubah Merah yang satu nya lagi tampak tersurut mundur dan segera membantu saudara seperguruan dan sekaligus saudara kembarnya itu.


.


Datuk Sesepuh Mata Langit pun tampak agak terkejut melihat kekuatan yang dimiliki Laras itu. Namun Datuk Sesepuh Mata Langit berhasil menekan keterkejutannya itu.


.


"Hebat! Hebat..! Anak Divisi Pedang Luar berhasil mengalahkan murid tingkat satu Divisi Utama Pedang Roh! Sungguh di luar dugaan! Ha ha ha...! Tapi Kau jangan sombong dulu anak ingusan, Kau harus menghadapiku...!"


.


Setelah berkata Datuk Sesepuh Mata Langit mengibaskan tangannya kedepan, maka seketika itu pula angin kencang bagai badai berhembus kencang ke arah Manggala dan Laras itu.


.


Manggala dan Draka tanpa di minta segera berdiri di depan Mentari yang sedang bersemedi untuk memulihkan tenaga dalamnya. Tampak cahaya putih kebiruan mulai menyelimuti tubuh gadis cantik berbaju merah itu.


.


.


.


Bersambung..


(Cerita novel ini adalah cerita silat nusantara, namun tingkat imajinasi nya agak tinggi bahkan hampir di luar nalar kita di dunia nyata.


Namun ada beberapa tokoh yang memakai tokoh dari negeri tirai bambu, karna seperti ysng kita ketahui di indonesia banyak orang-orang dari negeri tirai bambu yang tinggal di negara kita ini, bahkan dari zaman kependekaran dulu sampai masa penjajahan belanda, bahkan sampai sekarang, banyak di antara kita yang mempunyai darah campuran dari orang-orang negeri tirai bambu.


Di dalam novel ini author mencoba membawa sebuah legenda mitos yang pernah author dengar tentang negeri kayangan di dalam negeri kita ini. Jadi jangan anggap novel ini bukan cerita silat nusantara. cuma tingkat imajinasi fiksinya agak tinggi, itu saja. Terima kasih..)


Jangan lupa yang menyukai novel ini, Like, Koment, Vote, dan Favoritnya.


Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2