KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Pengejaran Ke Pagoda Lima pilar part 4


__ADS_3

Burung burung mulai berkicau, suara binatang hutan mulai menghiasi pagi cahaya mentari mulai terasa terik, cuaca yang cerah menambah ke indahan alam.


Manggala dan Laras berjalan meninggalkan tempat peristirahatan antara gerbang Pertama dan gerbang kedua Divisi Dalam Pedang Jiwa itu.


Mereka baru selesai sarapan pagi, sisa ikan bakar yang mereka siapkan untuk pagi ini, Manggala dan Laras sengaja tidak menggunakan ilmu lari cepat dan peringan tubuh mereka, sekalian menikmati pemandangan alam yang indah dari jalur jalan batu di atas gunung itu.


"Manggala sudah punya kekasih belum?" ceriwis Laras sambil memandang wajah tampan di sampingnya itu.


"Kenapa Kakak menanyakan itu?"


"Tidak! Kakak hanya penasaran pemuda tampan seperti Pangeran kan banyak yang suka!" kata Laras sambil tersenyum, "Apalagi Kak Mentari, tampak begitu menyukai Manggala!" tambahnya lagi.


"Yang benar Kak? dari mana Kak Laras tau?" kerlingan Manggala pada Laras membuat gadis cantik berbaju hijau itu jadi salah tingkah.


"Kakak cukup mengenal Kak Mentari, dia jarang mau dekat dengan seorang Laki laki, tapi dengan Manggala dia tampak berbeda," tutur Laras sambil tersenyum.


"Kak Mentari ada cerita tentang Manggala?"


"Tidak sih, tapi dari sikapnya kelihatan dia menyukai Manggala,"


"Jujur Manggala belum punya niat mencari kekasih , dengan keadaan sekarang ini, hidup mati belum jelas ujung pangkalnya," tutur Manggala.


"Selama Kakak masih hidup, Kakak akan mendukung keinginan Manggala, membangkitkan Kembali Kerajaan Galuh Kencana!" ujar Laras bersemangat, di pandang nya wajah tampan Pendekar Naga Langit itu.


"Kakak sendiri bagaimana? Apa sudah ada yang Kakak sukai?"


"Sama seperti yang Manggala katakan tadi, Keinginan terbesar Kakak adalah membalas kematian keluarga Kakak yang tewas di bantai pasukan Kerajaan Atas Langit," jawab Laras tampak sendu.


Tidak terasa mereka berjalan sudah cukup jauh, dan gerbang Kedua Divisi Dalam Pedang Jiwa telah ada di depan mereka.


Tampak dari kejauhan di depan gerbang telah menunggu puluhan murid Divisi Dalam Pedang Jiwa, lengkap dengan pakaian tempur mereka.


Tampak di antara mereka sekitar Lima orang yang berpakaian kependekaran, di punggung mereka terdapat sebuah pedang.


Manggala pun melesat menuju depan gerbang itu, di ikuti Laras dari belakang.


"Ha ha ha...! Teman teman tampaknya mangsa kita telah sampai di sini!" ujar Laki laki yang berpakaian kependekaran itu, wajahnya cukup tampan untuk ukuran seorang yang berumur empat puluh tahunan, di sekeliling nya berdiri sekitar tiga puluh orang berpakaian biru, dengan pedang di pinggang.


"Jadi dia yang di katakan Soka, apa tidak salah? Ha ha ha....!"


Mereka tertawa terbahak bahak sambil melihat ke arah Manggala dan Laras, mendapati ke datangan


mereka di tetawakan Manggala hanya membalas dengan senyuman tipis.


"Bagus tertawa lah kalian sepuasnya, karna mungkin itu adalah tertawa terakhir kalian!" seru Laras begitu lantang.


"Apa yang kau katakan? Hei gadis cantik!" bentak orang dari tadi berbicara mengejek.

__ADS_1


"Apa telinga mu sudah budek? Sehingga tidak mendengar seruan ku tadi?


"Biar saja Kak Laras! orang yang akan mati itu biasanya memang pongah!" tambah Manggala.


"Berani nya Kalian meledek murid Divisi Dalam Pedang Jiwa! Ayo anak anak habisi mereka!!" perintah orang itu.


"Heaaa.....!"


Para murid Perguruan Pedang Kembar, Divisi Dalam Pedang Jiwa itu lansung melesat ke arah Manggala dan Laras, mereka menyerang dengan pedang terhunus di tangan.


"Hup.....!"


Sring.....!


Laras pun lansung menghunus pedang yang ada di punggungnya, sedangkan Manggala menyongsong dengan 'Jurus Langkah Dewa'.


"Heaaa....!"


Gerakan Manggala yang begitu cepat membuat para murid Divisi Dalam Pedang Jiwa itu terkejut, belum sempat mereka melihat gerakan Manggala.


Pukulan tangan Manggala telah bersarang di tubuh mereka. Sehingga mereka pun bermentalan ke tanah tanpa sempat menyentuh lawan.


"Aaaa.....!"


"Heaaa....!"


Laras menghadang salah satu murid Divisi Dalam itu, secepat kilat pedang nya di sabetkan ke arah musuh yang lengah karna terkejut melihat kecepatan Manggala, sehingga.


"Aaakh.!


Murid Divisi Dalam Pedang Jiwa yang terkena sabetan pedang di tangan Laras lansung jatuh ke tanah, dengan tubuh bermandikan darah, ia mengelepar sesaat, dan diam tak berkutik alias mati.


Kini tinggal lima orang yang berpakaian ala pendekar itu yang tersisa.


"Bangsat...! Rupanya Dia hebat juga Kak Panju!" ujar salah seorang yang lebih muda.


"Ya Kati tampak nya kita tidak boleh menganggap remeh!" jawab laki laki yang bernama Panju itu.


"Kita harus menyerangnya dengan Jurus Pedang Jiwa Penghancur Roh Kak!" ajak Kati pada Panju.


"Baiklah teman teman! Ayo kita satukan kekuatan kita," seru Panju mengajak teman temannya menyatukan kekuatan mereka.


Mereka pun tanpa di perintah lansung membuat formasi untuk menyatukan kekuatan mereka.


Tap....! Tap.....!


"Heaaa....!"

__ADS_1


Mereka menyatukan telapak tangan satu sama lain mereka membentuk lingkaran, lalu mereka pun mengerahkan tenaga dalam, dari tubuh mereka keluar cahaya merah membentuk sebuah pedang raksasa.


"Awas Manggala! Tampak nya kekuatan jurus mereka lebih besar karna penyatuan tenaga dalam itu!" seru Laras dari belakang melihat kekuatan lima pendekar dari gerbang kedua itu.


Manggala hanya tersenyum menoleh ke arah Laras ia pun meningkat kan tenaga dalamnya, dan ia pun lansung mengerahkan 'Jurus Api Suci Pelindung Raga'.


"HEAAA....!"


Kelima murid Divisi Dalam Pedang Jiwa itu, memeluk berbarengan, seketika cahaya merah berbentuk pedang itu lansung meluncur ke arah Manggala.


Swoss...! Swoss.....!


Blaaar.....!"


Bebatuan lantai jalan di depan gerbang itu lansung berhamburan keluar udara di sertai debu menutupi area di sekitar tempat Manggala berdiri.


"Ha ha ha..! Mampus Kau!" tawa Panju begitu congkak melihat ke arah debu yang berhamburan menutupi tempat itu. Di iringi tawa teman teman nya.


Namun tawa mereka terhenti ketika debu debu mulai di tiup angin, tampak Manggala menepuk nepuk bajunya yang terkena debu, dan tidak kurang suatu apa pun.


"Apa! Tidak mungkin!!" mulut mereka ternganga, pikirin mereka terhenti karna merasa tidak percaya apa yang mereka lihat.


"Sekarang giliran ku, Kisanak!"


Setelah berucap Manggala tiba tiba menyorongkan tangan nya ke depan, sebuah cahaya putih melesat dari tangan nya membentuk sebuah tangan raksasa dan lansung menghantam mereka berlima.


Desss....! Desss....!


"Aaaa.....!"


Hanya jeritan menyayat keluar dari mulut mereka, ketika cahaya putih berbentuk telapak tangan itu menghantam mereka berlima, tubuh mereka pun terpental menghantam pintu gerbang tembok penghalang Divisi dua Pedang Roh itu.


Bruk....! Brak.! Buk..!


Mereka berlima lansung terdiam tak berkutik dengan tubuh jadi kehitaman, dan baju mereka seperti terbakar.


"Ha ha..! Bacot mereka saja yang besar," ujar Laras sambil memandang ke arah lima murid Divisi Dua Pedang Roh itu.


Para murid bawahan Panju dan teman temannya, yang masih hidup lansung bersujud di depan Manggala dan Laras.


"Ampuni kami pendekar, kami rela melakukan apa pun untuk pendekar, asal kami di biarkan hidup," mohon para murid Divisi Dua Pedang Roh itu memelas.


Belum sempat Manggala dan Laras membuka suara, tiba tiba suara membahana di tempat itu.


"Ha ha ha.....! Dasar murid murid bodoh, untuk apa kalian memohon ampun pada orang yang akan mati.....!!"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar dan favorit ya.


Terima kasih....


__ADS_2