KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Perguruan Pedang Kembar


__ADS_3

Manggala yang merasa kasihan pada Pendekar Gila Patah Hati, Berusaha membantu dengan ' Ilmu Jiwa Dewa'. Namun tampaknya sulit karna Manggala tidak mengetahui siapa sebenarnya, Pendekar Gila Patah Hati itu.


"Tuan tinggal dimana?" tanya Manggala Surya Kencana, sambil duduk tidak jauh dari orang tua itu.


"Saya tidak punya tempat tinggal," jawab Pendekar Gila Patah Hati, pandangan laki laki separuh baya itu seperti menerawang, namun pandangannya kosong.


Manggala merogoh saku di balik bajunya, dan memberikan beberapa keping uang.


"Ini Tuan, untuk membeli makanan, kalau Tuan tidak punya tempat tinggal, tinggal lah di dalam benteng istana Galuh Kencana, di sana banyak rumah bekas pejabat Kerajaan yang tidak di pakai.


Kalau ada yang bertanya, katakan Pangeran Manggala Surya Kencana yang meminta!"


"Istana Galuh Kencana ya, sepertinya tidak asing," ujar Pendekar Gila Patah Hati, ia tampak berusaha mengingat sesuatu, tiba tiba.


"Aah...!"


Pendekar Gila Patah Hati memegangi kepalanya, seperti kesakitan, ia menunduk menghadap ke tanah, tampaknya bantuan Manggala tadi sedikit membawakan hasil.


"Jangan terlalu di paksa mengingatnya Tuan, jika nanti saya berhasil, menjalankan tugas saya, saya akan membawa Pendekar ke Lembah Lima Dewa," ujar Manggala, sambil memegang tanngan Pendekar Gila Patah Hati, ada getaran bathin yang aneh di rasakan Manggala dekat Manggala Surya Kencana saat dekat dengan Pendekar Gila Patah Hati itu.


"Baiklah Nak, boleh Saya panggil Manggala dengan panggilan Anak?" tanya Pendekar Gila Patah Hati, sambil menatap wajah Manggala.


"Tidak apa apa Tuan, panggil saja!" Jawab Manggala, sambil tersenyum.


"Nak Manggala mau kemana?" tanya Pendekar Gila Patah Hati lagi.


"Manggala ingin berpetualang membantu orang orang yang membutuhkan, bantuan dari kejahatan Pasukan Kerajaan Awan Hitam, dan sekutunya itu!" jawab Manggala, mantap.


"Hati hatilah, Nak!" Nasihat Pendekar Gila patah hati.


"Terimakasih, Tuan, Manggala pergi dulu," usai berucap Manggala melesat meninggalkan tempat itu, Pendekar Gila Patah Hati hanya memandangi kepergian pendekar muda itu. Ia pun berjalan menuju arah istana Galuh Kencana.

__ADS_1


Setelah memasuki hutan, Manggala menghentikan larinya, ia memilih berjalan menyusuri hutan itu, karna ia belum mempunyai tujuan yang pasti.


Sudah hampir setengah hari Manggala berjalan meninggalkan Kota Raja Kerajaan Galuh Kencana, ia baru menemui sebuah Desa kecil yang cukup ramai, Manggala memutuskan memasuki Desa itu, untuk mencari makan, sudah dua hari ia tidak makan.


Manggala berjalan dengan santai menuju sebuah warung makan, tampak tidak jauh dari warung itu, berkerumun orang orang yang cukup banyak.


Manggala yang merasa lapar tidak peduli, ia memesan makanan.


"Tuan, sediakan saya makanan," pinta Manggala, sambil duduk di sebuah meja yang kosong.


Seorang laki laki setengah baya menghampiri Manggala, "Aden mau pesan apa, nasi pake ikan, apa daging rusa?" tanya laki laki itu.


"Apa saja Tuan, yang penting bisa mengenyangkan perut saya yang kosong ini," jawab Manggala, polos.


"Ya sudah, tunggu sebentar ya Den," kata laki laki itu, sambil meninggalkan Manggala sendiri.


Tidak lama laki laki itu kembali dengan membawa makanan pesanan Manggala, ia tampak agak ketakutan, karna ada beberapa orang berbaju hitam memasuki warung itu.


"Silahkan Den, kalau bisa Aden agak cepat karna banyak orang orang perguruan Pedang kembar!" bisik pemilik Warung itu, seakan suaranya tidak mau terdengar pengunjung lain.


"Orang orang Perguruan Pedang Kembar, mencari anggota baru," jawab pemilik warung. "Ya sudah Aden makan dulu, baru nanti melihat ke sana!"


"Terimakasih Tuan!" ucap Pangeran Galuh Kencana itu.


Baru Berapa suapan Manggala makan makanannya, tiba tiba orang orang yang berbaju hitam itu, mengamuk karna makanannya belum juga datang.


"Aki... Cepat bawa makanannya kesini, kami lapar!" Ujar salah seorang dari enam orang itu, ia lansung menepuk meja cukup kuat, sehingga orang orang yang berada di dalam warung itu melihat ke arah mereka.


Plak...!


"Cepat Ki..!" Bentaknya lagi, tanpa mempedulikan Orang orang yang melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Sabar Tuan, tadi masih di siapkan," jawab pemilik warung itu, tampak ketakutan, sambil membawa semampan makanan, begitu makanan terletak di meja, laki laki itu lansung mendorong pemilik Warung itu hingga orang tua itu terjatuh.


Buk...!


"Aduh...!" erang orang tua itu kesakitan, sambil berusaha bangun.


"Ha ha ha....! Dasar pengecut beraninya, sama orang tua yang tidak tau apa apa!" Ujar Manggala, sambil berdiri dan membantu pemilik warung itu berdiri.


"Heh..! Siapa Kau, beraninya mencampuri urusan orang orang Perguruan Pedang Kembar.!" bentak laki laki itu, ia lansung berdiri di ikuti teman temannya.


"Aku..! Tidak perlu kalian tau, yang kalian perlu tau aku tidak senang dengan perbuatan kalian!" hardik Manggala, sambil memapah pemilik warung duduk di meja yang ia tempat tadi.


"Bangsat... cari Mampus! Heaaa....!"


Laki laki itu lansung melompat menyerang Manggala dengan sebuah tendangan.


Dikk.....!


Manggala menapaki tendangan laki laki itu dengan tangan kanannya, dan lansung memberikan sebuah pukulan pada pergelangan kaki laki laki itu.


Plak...!


"Aah...!" laki laki itu melenguh menahan sakit di pergelangan kakinya yang di pukul Manggala itu.


Brak...!


Laki laki itu jatuh menimpa sebuah meja, ia meringis kesakitan, ia berusaha bangun dengan tertatih tatih, tangannya masih memegang pergelangan kakinya.


"Kurang ajar...! Bunuh dia..!"


Sring...!"

__ADS_1


Kelima temannya lansung menghunus pedang di punggungnya mereka, mereka pun langsung mengepung Manggala.


"Jadi mau mengajak bertarung! Boleh, tapi di luar," ujar Manggala sambil tertawa, ia pun melompat ke luar warung dengan bersalto beberapa kali di udara, ia menjejak kaki di tanah dengan begitu ringan.


__ADS_2