KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Lolos Seleksi


__ADS_3

"Hiyaaa.........!"


Jerit melengking Resa Gana, melompat ke arah Manggala Surya Kencana yang di panggil orang orang dengan gelar Pendekar Naga Langit itu, sambil mengayunkan pedang hitam di tangan nya ke arah Manggala.


"Heaaa...!"


Manggala melompat bagai kilat menyongsong serangan Resa Gana itu dengan 'Jurus Pedang Naga Surgawi'.


Set....!


Set...!


Trang....! Click....!


Dua pedang dengan di aliri tenaga dalam tinggi, memecah udara dan berbenturan dengan keras, sehingga membuat pedang hitam di tangan Resa Gana itu, patah jadi dua, dan jatuh ke tanah,


"Heh.....!"


Buakk.....!


"Aaakh....!'


Belum hilang keterkejutan Resa Gana, melihat Pedang andalannya itu patah jadi dua, di bagian tengah pedang hitam itu hancur berkeping keping, sebuah tendangan bertenaga dalam tinggi milik Manggala Surya Kencana, telah mendarat telak di dada Resa Gana, hingga ia terpental belasan tombak dan jatuh ke tanah.


"Anakku....!" teriak ayah Resa Gana melihat sang Putra jatuh ke tanah, dengan darah menyembur dari mulut.


Resa Gana menggeliat di tanah dengan dengan darah segar mengalir di sela bibirnya, ayah Resa Gana segera membantu sang Putra, bersama dengan anak buahnya.


Manggala menghadap ke arah Resa Gana dan ayahnya, "Resa Gana, aku harap ini tidak menjadi dendam pribadi, pertarungan kita hanyalah penentuan siapa di antara kita yang akan jadi murid Perguruan Pedang Kembar, tahun ini, jika kau mempunyai dendam padaku kau boleh mencari beberapa tahun lagi," ujar Manggala sambil tersenyum ramah pada Resa Gana.


"Satu lagi, aku tidak mau mendengar tentang kekejaman keluarga mu lagi, bila aku mendengar tentang sepak terjang kekejaman keluarga mu lagi, aku tidak akan mengampuni mu, dan keluargamu..!" ujar Manggala, lantang penuh dengan peringatan, sambil memberikan hormat pada orang yang memberikan dukungan padanya.

__ADS_1


Resa Gana hanya mengangguk lemah, sambil menyeka darah di bibirnya dengan lengan bajunya, dan mereka segera meninggalkan tempat itu, dengan penuh kekecewaan, membawa kekalahan.


"Jadi pemenang kita tahun ini, dan yang resmi menjadi murid ke Lima puluh Perguruan Pedang Kembar, adalah Manggala Si Pendekar Naga Langit..!" ujar Mentari, mengumumkan pada semua orang yang ada di tempat itu,


Senyum manis menyungging di bibir indah milik gadis cantik berbaju merah bernama Mentari itu.


"Selamat Pendekar Naga Langit...! Kau berhasil mengalahkan Resa Gana, yang cukup sakti itu," kata Mentari sambil menghampiri Manggala dari belakang.


"Terimakasih Kak Mentari, adik mohon bimbingan nya," jawab Manggala dengan menunduk memberi hormat pada gadis cantik itu.


"Tidak usah terlalu sungkan Manggala, kau memang murid senior ku, tapi kepandaian mu, belum tentu di bawah ku.! Ya kan Putih..?" ujar Mentari sambil membelai leher harimau putih, di dekatnya itu.


Auuumm.....!


Harimau putih mengaum sambil mengangguk kan kepala, dan ekornya bergoyang tanda si putih itu merasa senang, ia menyodorkan kepalanya ke arah kaki Manggala, tentu saja sikap si putih membuat Mentari terkejut,karna selama ini si putih sulit jinak pada orang lain, apalagi orang yang baru bertemu seperti Manggala.


"Si putih menyukai mu, Manggala, tidak biasanya dia mau mendekati orang lain, apalagi orang yang baru di kenal nya, berarti ada keistimewaan di dalam dirimu...!" Kata Mentari, memberikan pujian pada pendekar tampan yang di gelar orang orang Pendekar Naga Langit itu.


"Si putih kembali lah seperguruan lebih dulu, dan beristirahatlah, pulihkan tenaga mu!" pinta Mentari pada harimau putih itu, si putih mengaum pelan dan mengangguk ke arah Mentari, dan tiba tiba.


Blesss.....!


Si putih menghilang dari tempat itu.


"Ayo Manggala, kita tinggalkan tempat ini," ajak Mentari seraya menarik tangan kanan Manggala, dan dia lansung melesat ke udara dengan begitu cepat, hingga jika di lihat dengan mata telanjang uang terlihat hanya sekelasnya bayangan saja.


Manggala hanya mengimbangi kecepatan si cantik Mentari, ia bisa saja lebih cepat dari MENTARI dengan Jurus Langkah Dewa'. nya, namun ia tidak melakukan nya, ia masih berpura pura, jika kepandaian nya di bawah kepandaian Mentari.


Jleb.... Jlek....


Kedua nya mendarat di sebuah padang rumput di atas sebuah dataran tinggi, di pinggiran hutan, Manggala berpura pura terengah engah, karna melihat mentari sedikit terengah karna melompat menggunakan ilmu peringan tubuh sejauh itu.

__ADS_1


"Maaf Kak Mentari, Manggala istirahat dulu, capek!" Ujar Manggala sambil membuat napasnya terengah engah.


"Tidak Apa apa Manggala, Kau tidak usah malu Aku akan lebih dulu ke dalam hutan, Kau ikuti jalan ini, gerbang Perguruan Pedang Kembar, ada di balik gunung itu," ujar Mentari, sambil menunjuk sebuah gunung yang menjulang tinggi di depan mereka.


"Baik Kak.!" jawab Pendekar Naga Langit itu, sambil duduk di atas rumput hijau, di bawah sebatang pohon yang tumbuh subur, di tengah padang rumput itu.


"Saya duluan Manggala, nanti kalau ada yang nanya, katakan Kau bersamaku ke sini!" kata Mentari, setelah memberi tau Manggala ia lansung melesat ke arah ujung jalan yang ia tunjuk tadi, hutan di kaki gunung itu.


Manggala bersandar menikmati angin yang berhembus ke arahnya, "Sungguh nikmat tuhan yang begitu besar," guman Manggala, sambil memandang ke arah kepergian Mentari tadi.


Mentari terus berkelebat dengan menurunkan ke depan larinya, ia berharap Manggala bisa mengejarnya, dan bersama sama menuju Perguruan Pedang Kembar.


Mentari menghentikan larinya, ia mendengar suara gelak tawa para lelaki, ia pun melesat ke arah suara itu.


Tampak seorang wanita cantik berbaju hijau, berpenampilan tidak jauh beda dengan Mentari, ia telah jatuh di tanah, ada sedikit noda darah di sela sela bibirnya, bekas tamparan tampak jelas memerah di pipinya yang putih itu.


"Ayo lah Laras, tidak usah malu malu, bukan lah kau menyukai Kakak, sebagai Kakak seniormu," ujar laki itu, di sampingnya ada empat orang laki laki yang sepertinya mempunyai kepandaian di bawah laki laki berbaju rapi berwarna kuning itu.


"Jangan Kak Soka, aku mohon...! belas gadis yang bernama Laras itu, sambil beringsut mundur, tampak tidak jauh dari sana bekas pertarungan, dan sebuah pedang tergeletak di tanah, pedang itu milik Laras, karna di punggungnya masih tersampir sebuah sarung pedang kosong.


Laki laki yang di panggil Laras dengan nama Soka itu, tampak sedikit beringas, berusaha menyentuh pipi Laras, dan pakaian Laras yang sedikit seksi itu, telah sedikit terbuka di bagian dada, hingga memperlihatkan hampir separuh perhiasan milik Laras.


"Ha ha ha...! Kau harus melayani kami nona cantik!" Ujar salah seorang anak buah Soka yang ikut mengepung Laras.


Saat Soka dan anak buahnya akan memaksa menyentuh tubuh Laras, sebuah bayangan merah menyerang membentak mereka, dan lansung menyerang Soka dan anak buahnya.


"Kurang ajar, lepaskan gadis itu laki laki b*jat...!"


Bersambung.....


[ Jangan lupa ikuti IG Author ya, Idwan Virca, makasih..].

__ADS_1


__ADS_2