
Iblis raksasa jelmaan dari Jendaral iblis Pedang itu berlari ke arah Draka yang juga dalam wujud raksasanya itu.
"Heaaa...!"
Draka melesat ke depan dengan Tongkat Pedang Emasnya mengacung ke depan. Iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu, begitu mendekati Prajurit Naga Emas jelmaan Draka itu. Raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu langsung melompat dengan kedua tangannya di atas kepala memegang gagang pedang besarnya yang di selubungi api merah kebiruan itu.
"Heaaa...!
Trang!
Dentangan suara senjata besar itu beradu cukup memekakkan telinga. Bunga api memercik di sekitar mata pedang emas dan pedang besar milik iblis pedang itu.
Trang! Trang! Trang!
Suara benturan dua senjata itu terus berulang, kedua raksasa lain aliran itu berusaha mendesak musuh mereka masing-masing. Draka dan Jendral Iblis Pedang tampak berusaha saling mendesak. Beberapa jurus pedang tampak telah mereka gunakan. Namun hasilnya sampai saat ini kekuatan pedang dan tenaga mereka masih berimbang.
"Hooaaaarrr.....!"
Jelmaan Jendral Iblis Pedang mengaum marah, Ibli itu bergerak mundur beberapa langkah kebelakang. Iblis raksasa itu menancapkan pedangnya ke tanah.
Crab!
Setelah menancapkan pedangnya ke tanah. Iblis raksasa itu merapatkan telapak tangannya di depan dada. Cahaya merah menyala menyelubungi tubuhnya. Sebuah cahaya hitam membentuk sayap membentuk di punggungnya.
Wajah Iblis raksasa itu pun ikut berubah. dua pasang tanduk seperti tanduk kerbau muncul di kepalanya.
"He he...! Ayo Jendral Iblis Pedang! Keluarkan seluruh kekuatanmu. Kita adu kekuatan kita hari ini!" Tantang Draka dengan lantang.
"Hoaaarrr.....!!"
Tentu saja tantangan Draka itu membuat iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu mengembor marah.
Raksasa jelmaan Draka itu mengalirkan kekuatannya pada senjata besarnya. Raksasa itu mengayunkan senjata di tangannya. Cahaya merah menderu ke arah Iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang.
Swoss....! Swosss....!
Wuss..! Wuss...!
Raksasa itu pun menyemburkan api ke arah Draka. Dua api besar saling menderu dan saling menyongsong.
Blaaamm.....!!!"
Ledakan besar menggoncang tempat itu. Debu dan tanah menyembur berterbangan di udara. Beberapa saat tempat itu bagai di goncang gempa dahsyat. Suasana hening menyelimuti tempat itu.
Raksasa jelmaan Draka tersurut mundur beberapa tombak kebelakang, kakinya membuat tanah membentuk lobang yang cukup besar seperti parit aliran air.
Iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang terpental hingga puluhan tombak, tubuh besar raksasa itu bagai tersapu angin kencang. Puluhan batang pohon hancur dan patah terkena tubuh raksasa itu.
"Hoaaarrr....!!"
__ADS_1
Raksasa bersayap itu masih berusaha bangun. Namun salah satu sayapnya telah patah akibat berkali-kali terbentur saat ia terpental tadi.
Asap tipis berwarna putih kehitaman kembali menyelubungi tuh raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu. Begitu asap itu sirna tubuh raksas itu berubah kembali seperti semula tanpa sayap. Namun kali ini raksasa itu melengkapi tubuhnya dengan zirah perang berwarna hitam.
Srek!
Raksasa itu kembali menghunus pedangnya yang ia tancapkan di tanah itu. Raksasa itu kembali maju ke arah Raksasa prajurit naga jelmaan Draka.
"Ayo! Jendral Iblis Pedang. Akhirnya Kau memakai zirah hitammu. Kenapa tidak dari tadi hah!" Ujar Draka dengan nada suara yang cukup menantang.
"Kau akan ku cincang hari ini Draka!" Jawab raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang dengan penuh kemarahan.
"Ayo! Aku sudah menunggumu!" Jawab Draka dengan nada penuh tantangan. Draka pun mempersiapkan diri. cahaya merah kembali menyelimuti Tongkat Pedang Emasnya. Namun kali ini cahaya merah itu lebih besar pertanda tenaga yang di tingkatkan Draka lebih tinggi.
Swoss...! Swoss!
Cahaya merah berbentuk seperti angin memutar, di sekitar cahaya merah di batang pedang di ujung tongkat raksasa di tangan Draka itu.
Sementara itu Manggala dan Jingga yang terlibat pertarungan sengit. Jingga yang tidak mau kecolongan lagi bergerak cepat. Sepasang pedang ditangan Jingga bergerak bagai kilat. Cahaya merah menyala menyelubungi pedangnya.
Setiap ayunan sepasang pedang ditangan Jingga itu satu prajurit siluman itu harus terpental dan meregang nyawa. Baju zirah para prajurit Jendral Iblis Pedang itu tidak mempunyai arti bagi sepasang pedang di tangan salah satu jendral pasukan naga Kerajaan Kayangan itu.
Set! Wut...!
Srak! Crang!
"Aaaa....!"
Begitu pun dengan Manggala. Setiap ayunan Tongkat mustika Dewa di tangan Manggala. Satu prajurit siluman itu terpental. Kecepatan gerakan murid Lima Pendekar Dewa itu hampir tidak terlihat. Hanya bayangan Tongkat mustika Dewa yang tampak bagai kilat menyambar kesana kemari.
Wut..! Wut....!
Buak.! Duak..!
"Aaakh...!"
Para prajurit siluman itu bermentalan setiap terhantam tongkat di tangan Manggala itu. Tidak butuh waktu lama puluhan prajurit siluman yang ada di sekitar Manggala dan Jingga telah berserakan di tanah.
Pandan Ayu bersama Mentari dan Laras tampak berkelebat cepat. Ketiga gadis cantik itu bagai singa terluka. Setiap ayunan pedang mereka satu prajurit siluman meregang nyawa.
Srass! Crass..!
"Aaaa...!"
"Hup..!"
Pandan Ayu bergerak cepat dengan "Jurus Pedang Phoenix Api'.nya Pandan Ayu bagai kilat menyambar menghabisi setiap prajurit siluman yang mencoba menghadangnya.
Mentari dan Laras jadi terdiam karna setiap prajurit di depan mereka telah habis oleh Dewi Phoenix Putih itu.
__ADS_1
"Kayaknya kita kalah pamor oleh murid Perguruan Pedang Suci itu Laras," Ucap Mentari sambil menjejakkan kaki di samping Laras.
"Ya, Kak Mentari, rupanya kemampuan Pandan Ayu sebelum mendapat kekuatan mustika naga sudah jauh di atas kita, sebelum kita memiliki kekuatan dari mustika naga itu," Jawab Laras sambil menyarungkan pedangnya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
"Tampaknya aku memang sudah kalah dua langkah di banding pandan Ayu," Guman Mentari hampir tidak terdengar jelas.
"Jangan patah semangat dulu Kak Mentari, Laras mendukung Kakak kok," Ucap Laras berusaha menyemangati Mentari.
"Terima kasih Laras. Kau memang sahabat terbaikku," Jawab Mentari sambil memeluk bahu Laras.
"Ayu juga bisa jadi sahabat Mentari," Pandan Ayu tiba-tiba telah berada tidak jauh dari Mentari dan Laras itu.
"Ayu! Sejak kapan Kau berada di sana?" Tanya Mentari dalam keterkejutannya.
"Saya baru saja menjejakkan kaki di sini! Kenapa tidak ikut bertarung lagi?" Tanya Pandan Ayu sambil tersenyum. Sepasang pedang berwarna keperakan masih tergenggam di kedua tangan Dewi Phoenix Putih itu.
"Kami sudah tidak dapat jatah musuh lagi, jadi kami jadi penonton saja dulu," Jawab Mentari sambil membalas senyuman Pandan Ayu itu.
"Maaf! Saya terlalu terbawa suasana, kekuatan mustika naga itu rupanya meningkatkan tenaga dalamku sampai ke tingkat tertinggi!" Ucap Pandan Ayu sambil menyarungkan sepasang pedangnya ke balik punggungnya.
Sring!
"Jurus Pedang Phoenix Api'. Perguruan Pedang Suci itu memang hebat!" Puji Laras sambil tersenyum.
"Terima kasih!" Jawab Pandan Ayu sambil tersenyum.
Kembali ke Draka dan Jendral Iblis Pedang yang lagi dalam wujud raksasanya. Kedua raksasa itu berjarak sekitar sekitar seratus lima puluh tombak sampai dua ratus tombak dari tempat Pandan Ayu dan kedua murid Perguruan Pedang Kembar Divisi Luar Pedang Raga itu.
Iblis raksasa jelmaan Jendral Iblis Pedang itu melesat kembali dengan pedang besarnya di depan cahaya yang menyelubungi pedangnya menimbulkan hawa yang cukup panas di area itu.
"Heaaa...!!"
Draka pun melesat menyongsong dengan Tongkat Pedang Emasnya di depan dada. Cahaya merah yang menyelubungi pedang di ujung tongkat itu bersinar terang menyilaukan mata.
Swoss.! Swoss!
Wuss..! Wuss...!
Trang..!!
BLAAAARRR......!"
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like Koment dan favorit nya ya teman-teman. Kalau ikhlas Votenya sekalian.
Terima kasih banyak.