KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Kembalinya Baginda Raja Kindar Buana


__ADS_3

Baginda Raja Kindar Buana meringis kesakitan. Cahaya putih yang keluar dari mustika naga itu menyelubungi kepala sang Baginda Raja Kindar Buana.


Keringat sebesar biji jagung mulai membasahi tubuh sang raja. Cahaya merah di sertai cahaya biru itu menyelubungi tubuhnya. Sedangkan di bagian kepala di bungkus cahaya putih yang menyilaukan.


Perlahan tubuh Baginda Raja Kindar Buana mengambang ke udara sekitar satu tombak.


"Apa yang terjadi dengan Ayahandamu anakku?" Tanya Permaisuri Primata Trisna tampak cemas melihat sang suami. Baju yang di pakai Baginda Raja Kindar Buana tampak basah akibat keringatnya.


"Tidak apa-apa Ibunda! mustika itu membantu menyembuhkan ingatan Ayahanda," Jawab Manggala berusaha menenangkan sang ibu yang tampak cemas.


Sementara itu Baginda Raja Kindar Buana perlahan berdiri dari duduknya, walau tubuhnya tetap mengambang. Tubuh Baginda Raja Kindar Buana turun dengan begitu perlahan.


Baginda Raja Kindar Buana turun sambil kembali duduk bersemedi. Semua mata yang ada di sana tertuju padanya.


Rasa penasaran dan harap-harap cemas paling di rasakan oleh Permaisuri Primata Trisna. Mata sang Permaisuri menatap lekat ke arah sang suami yang belum membuka mata.


"Manggala apa yang terjadi dengan Ayahandamu anakku??" Tanya sang Permaisuri sambil menggenggam tangan sang pangeran. Kecemasan timbul dari hati sang Permaisuri karena sang Baginda belum juga membuka mata.


"Tenang lah Ibunda, Ayahanda tidak apa-apa! Ayahanda akan menjadi seorang Raja yang sulit di cari tandingannya!" Jawab Manggala menenangkan sang ibu.


Permaisuri hanya mengangguk pelan, hanya rasa percaya pada sang putra membuat ia yakin suaminya akan baik-baik saja.


Perlahan tapi pasti Sang Baginda Raja Kindar membuka matanya. Baginda Raja Kindar Buana mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Permaisuriku! Kau kah itu?" Tanya Baginda Raja Kindar Buana sambil menatap ke arah sang Permaisuri. Ia pun bergerak bangun secara perlahan.


"Tuanku! Ingatanmu sudah kembali! Hiks...!" Tanpa di minta Sang Permaisuri berlari ke arah Baginda Raja Kindar Buana dan memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.


"Sukurlah...! Kau masih hidup! Di mana putra kita istriku? Dia masih hidupkan?" Tanya sang Baginda tanpa melepaskan pelukannya.


"Dia ada di sini Tuanku, dialah yang membuat Kau kembali sadar, dan dia juga yang membuat mu kembali ke istana ini," Jawab sang Permaisuri Primata Trisna sambil mengusap air matanya dengan ujung lengan baju ungu yang ia pakai.


"Di mana dia istriku?" Tanya Baginda Raja Kindar Buana sambil menatap sang Permaisuri.


"Manggala kesini nak," Panggil sang Permaisuri.


"Iya Ibunda," Jawab Manggala sambil tersenyum dan berjalan ke arah ayahanda dan ibundanya.


"Salam hormat ananda Ayahanda!" Ucap Manggala sambil menunduk hormat di depan sang ayahanda.


"Kau sudah besar anakku!" Ucap sang Baginda sambil memegang bahu Manggala. Sang Baginda Raja pun memeluk erat tubuh kekar sang putra.

__ADS_1


"Maafkan Ayahandamu ini anakku, Kau tentu menderita hidup tanpa Ayahanda," Ucap Baginda Raja Kindar Buana dengan mata berbinar. Ada tetesan bening air mata keluar dari kelopak mata sang raja.


"Tidak apa-apa Ayahanda, semuanya terjadi bukan salah Ayahanda," Jawab Manggala sambil tersenyum tanpa melepaskan pelukan sang Baginda.


"Apakah Kau bersama ibumu anakku?" Tanya Baginda Raja Kindar Buana berusaha menenangkan rasa haru dan bahagia bercampur aduk menjadi satu.


"Tidak Tuanku, Saat malam penyerangan itu kami terpisah. Saya jatuh ke jurang ngarai. Dan Manggala jatuh ke Lembah Lima Dewa," Permaisuri yang menjawab pertanyaan sang Baginda Raja Kindar Buana itu. Manggala hanya mengangguk mengiyakan ucapan sang bunda.


"Jadi Putra Ayah di selamatkan lima Pendekar legenda itu?" Tanya Baginda Raja Kindar Buana sambil tersenyum pada sang putra.


"Iya Ayahanda, Ananda juga menjadi murid kelima kakek Pendekar Dewa," Jawab Manggala lagi.


"Rupanya ramalan itu memang benar, Kerajaan Awan Hitam Atas Langit menyerang Kerajaan kita karna mendapat ramalan bahwa Kerajaan Galuh Kencana lah yang akan menghancurkan dan menjadi batu sandungan mereka menguasai bumi ini," Ucap Baginda Raja Kindar Buana bercerita.


Saat mereka asyik berbagi cerita. Seorang prajurit penjaga gerbang datang terburu-buru.


"Maafkan hamba Pangeran, Di depan gerbang ada sekitar dua puluh orang prajurit siluman dengan Datuk Sesepuh Rambut Api, mereka sedang bertarung dengan teman-teman hamba!" Sembah prajurit itu.


"Terima kasih prajurit, Ayo Ayahanda kita lihat," Ucap Manggala.


"Baik Anakku," Jawab Baginda Raja Kindar Buana. Kedua ayah dan anak itu melesat menuju gerbang istana.


Sementara di depan gerbang telah terjadi pertarungan sengit antara prajurit siluman dan para murid Perguruan Pedang Kembar calon prajurit Manggala. Tampak para prajurit siluman itu cukup kesulitan mendesak lima orang murid Divisi Dua Pedang Roh itu.


"Trang! Trang!


"Heaaa...!!"


Berkali-kali serangan para prajurit siluman itu berhasil di tahan oleh calon para prajurit Kerajaan Galuh Kencana itu. Walau prajurit siluman itu telah mengeroyok mereka namun belum berhasil mendesak.


"Hoaarr....!"


Mundur Kalian! Biar aku yang akan menghabisi manusia itu!" Seru pimpinan prajurit siluman itu. Mendengar perintah pimpinan mereka, para prajurit siluman itu segera mundur teratur.


Wuk...!


Pimpinan Prajurit siluman itu melempar salah satu kapak besar di tangannya.


Trang!


Salah seorang calon prajurit pengawal gerbang itu cepat menangkis dengan pedangnya. Karna kecepatan kapak itu cukup deras sehingga calon prajurit itu harus terpental ke tanah.

__ADS_1


"Hoarrr...! Mati Kalian!" Bentaknya langsung menangkap kembali kapak bermata duanya yang kembali ke arah tuannya itu. Tanpa banyak bicara pimpinan prajurit siluman itu langsung melompat menyerang dengan dua kapak besar di tangannya.


"Trang!


"Ukh...!"


Prajurit itu meringis tertahan di iringi tubuhnya terpental menaham laju kapak besar yang begitu kuat itu. Tidak hanya sampai di sana pimpinan prajurit siluman itu langsung melompat ke arah pengawal gerbang yang belum sempat berdiri itu.


"Mati Aku!" Guman pengawal gerbang itu sambil memejamkan matanya. Ayunan kapak bermata dua pimpinan prajurit siluman itu mengayun tepat ke arah kepalanya.


Trang!"


"Heh..!"


Pengawal itu perlahan membuka matanya. Tampak Manggala dan Baginda Raja Kindar Buana telah berdiri di sampingnya. Tongkat mustika Dewa di tangan Manggala tampak menghalangi gerakan kapak bermata dua yang hampir membelah kepalanya itu.


"Bangunlah prajurit!" Titah Baginda Raja Kindar Buana sambil mengulurkan tangannya.


"Terima kasih Tuanku!" Ucap prajurit pengawal gerbang itu. Walau ia agak terkejut melihat perubahan Baginda Raja Kindar Buana itu.


"Muncullah dulu, biar kami yang menghadapi mereka!" Titah sang Baginda lagi.


"Baik Baginda!" Ucap prajurit itu sambil melangkah mundur dan menunduk memberi hormat.


"Ananda! Biar Ayahanda yang menghadapi siluman ini, Ayahanda merasa tubuh ayahanda begitu ringan!" Kata Baginda Raja Kindar Buana sambil memegang bahu sang putra.


"Silahkan Ayahanda!" Jawab Manggala mempersilahkan Ayahandanya untuk maju bertarung.


"Ho ho ho...! Rupanya sang Raja masih hidup! Kau tidak akan ku beri kesempatan lagi Raja tengik!"


Bentak pimpinan prajurit itu. Pimpinan Prajurit itu langsung melompat ke arah Baginda Raja Kindar Buana dengan mengayunkan kapak besar bermata dua di tangannya itu.


Wuk! Wut..!


"Hup..!"


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


.


__ADS_2