
Suara burung berkicau di dalam hutan, suara binatang hutan terdengar menghibur dan memecah kesunyian hutan. Jalan setapak terbuat dari batu menuju Pagoda Lima pilar tampak sepi.
.
Dua orang yang sedang menyusuri jalan itu tampak berjalan dengan santai, mereka berdua tampak berbincang-bincang. Matahari mulai condong ke barat. Perut mereka mulai terasa kosong.
"Kak Laras, bagaimana kita mencari tempat istirahat dan makanan, perutku pun sudah terasa kerongcongan,"
"Ku kira hanya perutku saja yang mulai melilit," Jawab Laras sambil memegang perut nya.
"Baiklah.. Kak kita cari sungai di sekitar sini," Kata Manggala.
"Ayo.!"
Mereka berdua menuruni lereng bukit, mencari sungai, sampai di bawah mereka mendapati sebuah sungai kecil yang berakhir jernih, dan ikannya cukup banyak.
"Kak laras, beristirahatlah dulu, biar saya yang akan menangkap ikan,"
"Baiklah, Aku yang akan membuat api," Jawab Laras sambil mencari ranting kayu yang mati, untuk di buat api unggun.
Manggala pun mencari sebatang kayu kecil untuk di jadikan tombak untuk menangkap ikan. Sedangkan Laras membuat api untuk membakar ikan.
Setelah berhasil mendapat beberapa ekor ikan, Manggala lansung membersihkan nya. Setelah selesai membersihkan ikan yang ia dapatkan Anggala lansung mengambil penjepit ikan, untuk membakar ikan-ikan itu.
.
__ADS_1
"Sini Manggala, biar Saya yang membakarnya, Kau beristirahatlah dulu," Pinta Laras, ia mengambil ikan yang di bawa Manggala, dan membakarnya.
"Kita bakar sama-sama saja Kak, biar lebih cepat, perut saya semakin lapar mencium bau ikan-ikan bakar ini," Ujar Manggala sambil tertawa.
"Terserah Manggala saja, kalau sudah tidak sabar mrnunggu,"
"Bau nya mengundang selera Kak!"
Mereka langsung memakan ikan yang telah mereka bakar, setelah perut terasa berisi mereka pùn beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang. Malam pun datang, Manggala dan Laras memutuskan untuk bermalam di hutan itu. Menunggu hari pagi untuk meneruskan perjalanan.
Pagi yang begitu cerah matahari bersinar di upuk timur, Manggala terbangun karna merasakan matahari menyinari matanya. Begitu Manggala membuka mata ia tidak melihat Laras, ia pun segera bangun dan memanggil Laras.
"Kak Laras.... Di mana Kau..!" Seru Manggala dengan cukup keras.
"Aku di sini Manggala, lagi mandi!" Sahut Laras dari sungai.
Setelah selesai mandi Laras pun menemui Manggala, "Mandi sana, biar segar!" Ujar Laras sambil tertawa, wajahnya terlihat lebih segar setelah mandi.
"Baiklah, Kakak tunggu saja di tempat kita tadi, Manggala mau mandi dulu," Kata Manggala sambil tersenyum, "Kak Laras cantik kalau selesai mandi," Tambahnya sambil tertawa. Manggala pun pergi ke sungai untuk menyegarkan diri.
Setelah selesai mandi Manggala dan Laras meneruskan perjalanan mereka menuju Pagoda Lima pilar, perjalanan normal mereka bila berjalan kaki masih hampir seharian.
Baru saja mereka meninggalkan tempat itu, mereka telah di tunggu oleh serombongan Orang-orang berpakaian merah, seperti yang menculik Mentari tempo hari.
Orang-orang berpakaian merah itu tak banyak bicara seperti biasanya, orang orang itu lansung menghunus pedang mereka.
__ADS_1
Sring.. !
Sring!
"Ada yang mengantarkan nyawa lagi Manggala!" Ujar Laras sambil mundur beberapa langkah kebelakang. Ia memegang gagang pedang yang ada di balik punggungnya.
"Kak Laras, mundurlah dulu, mereka tampaknya di tingkatan yang lebih tinggi dari yang kemarin," Ujar Manggala sambil mengambil tongkat Mustika Dewa dari dalam bajunya.
Wusss..!
Tongkat mustika itu lansung berubah menjadi panjang sesuaia yang di inginkan pemiliknya. Manggala membuat tongkat itu sepanjang sekitar dua meter setengahan.
"Seraaaang......!!"
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa Like
Koment
Vote
__ADS_1
Dan Favorit nya ya...
Terima kasih....