
Laras dan Manggala melesat cepat bagai batangan menyusuri hutan, burung burung yang terkejut dengan kedatangan mereka, pada bertebangan.
Sedangkan Manggala tampak dengan lincahnya mengikuti Laras dari belakang, jika ia mengetahui arah gerbang menuju Divisi Dalam Pedang Jiwa, dari tadi mungkin Laras telah tertinggal.
Apalagi dengan 'Jurus Langkah Dewa'. Manggala, kecepatan gerakan Pendekar Naga Langit itu hampir menyamai kecepatan cahaya.
Menjelang sore Laras dan Manggala telah sampai di gerbang pertama Divisi Dalam Pedang Jiwa, mereka lalu berhenti di depan gerbang itu.
Dua orang pengawal gerbang itu, lansung menghalangi dan mencegah Laras dan Manggala memasuki gerbang.
"Tunggu! Kalian tidak di perkenankan memasuki gerbang ini, atau kalian mempunyai surat jalan dari gerbang ke tiga Divisi Luar Pedang Raga!" bentak salah seorang pengawal itu.
"Kami tidak punya waktu meladeni kalian! Jika kalian ingin hidup cepat buka gerbang itu!" ujar Manggala, begitu dingin dengan nada ancaman.
"Heh....! Siapa Kau? Mau cari mati ya! Heaa.....!" pengawal gerbang itu melompat menerjang ke arah Manggala dengan sebuah tendangan terbang.
Wut....!
Manggala dengan gesitnya, menggeser tubuhnya menghindari tendangan pengawal itu, telapak tangan kanan nya bergerak begitu cepat, sehingga pengawal itu tidak sempat menghindar, telapak tangan Manggala tepat mwnghantam dadanya.
Wuss....!
Buak.....!
"Aaakh......!"
Pengawal itu melenguh kesakitan di iringi tubuhnya terlempar dan menghantam pintu gerbang itu.
Brak.....!
Pengawal itu jatuh tak berkutik lagi, nyawanya lansung melayang, melihat temannya tewas dengan sekali serangan, pengawal yang satunya mengerahkan tenaga dalam dan lansung melompat dengan pukulan tenaga dalam yang cukup tinggi.
"Heaa....!"
Manggala tanpa banyak bicara lansung melompat menyongsong serangan pengawal itu.
"Jurus Tapak Dewa! Hiaaa......!
Wosss.....
"Aaakh.......!"
Pengawal itu lansung terpental ke tanah, dan tewas seketika terkena pukulan Tapak Dewa Manggala. Manggala tidak berhenti di situ tangan nya lansung menyorongkan ke arah gerbang terbuat dari kayu jati berukuran besar tersusun rapi itu.
Woss....!
Boom......!
Ledakan besar menghantam pintu itu, debu debu berterbangan, begitu debu itu hilang di tiup angin tampak lobang besar berbentuk telapak tangan raksasa di pintu itu.
__ADS_1
Manggala lansung berkelebat masuk menuju depan bangunan besar di dalam gerbang itu, begitu Manggala dan Laras sampai di halaman bangunan besar Divisi Dalam Pedang Jiwa itu, mereka telah di sambut oleh sekitar lima puluh orang berpakaian biru, dengan pedang tersampir di punggung.
Mereka adalah murid Divisi Dalam Pedang Jiwa, tingkat tiga puluh.
"Kak Laras mundurlah, biar ku hadapi mereka!"
"Baik, Manggala!" jawab Laras, ia juga tidak mau memaksakan diri karna kemampuan musuh musuhnya berada di atas kemampuannya.
"Hehehe....!" Anak muda, ku akui ilmu mu cukup hebat hingga Kau mampu menghancurkan gerbang dengan pukulanmu.!" bentak seorang Sesepuh pimpinan gerbang Pertama Divisi Dalam Pedang Jiwa, tampak laki laki itu sudah berambut putih, jenggot nya sudah hampir mencapai dada.
"Hati hati Manggala, dia datuk sesepuh Iblis putih!" ujar Laras, memberi peringatan kepada Manggala.
"Terima kasih, Kak! Sebaiknya Kak Laras mundur lebih menjauh!" usai menjawab peringatan Laras Manggala memainkan tongkat Mustika pemberian Pendekar Tongkat Dewa itu.
"Habisi.......!"
Perintah Sesepuh Iblis Putih, perintah yang cukup sadis bukan nya kata serangan namun kata habisi yang keluar dari mulut orang tua berambut putih itu, mencerminkan kekejaman dan kesadisan tokoh Hitam Perguruan Pedang Kembar itu.
"Heaaa.........!"
Tanpa banyak bicara ke lima puluh orang murid tingkat Tiga puluh, Divisi Dalam Pedang Jiwa itu lansung menerjang ke arah Manggala dengan telapak tangan mengarah ke depan.
Wut....! Wut.......!
Wosss.....!
Buk....! Buk.....!
"Aaaa.......!
Lebih dari separuh para murid yang mencoba menyerang Manggala, bermentalan ke tanah, rata rata dari mereka banyak yang tidak bergerak lagi alias mati.
Melihat lebih dari separuh murid nya tewas dan terluka di hantam tongkat di tangan Manggala itu, Sesepuh Iblis Putih memerintahkan para muridnya
untuk mundur.
"Mundur.....!" perintah Sesepuh Iblis Putih, para muridnya pun melompat menolong teman temannya yang terluka, dan mundur ke arah bangunan besar di depan halaman itu.
"Siapa Kau? Anak muda, apa hubungan mu dengan Pendekar Tongkat Dewa?" bentak Sesepuh Iblis Putih, sambil melesat maju ke depan Manggala.
"Aku muridnya!" jawab Manggala, sengit dan begitu singkat.
"Tidak mungkin! pukulan yang menghancurkan gerbang itu, adalah Jurus Tapak Dewa, di tangan pemuda ini adaTongkat Mustika Dewa, apakah pemuda ini menguasai kesaktian Lima Pendekar Dewa??" guman Sesepuh Iblis Putih, dalam hati.
"Jika memang dia menguasai kesaktian Lima Pendekar Dewa itu, perguruan ini akan hancur di tangan Pendekar muda ini!"
Namun kesombongan Sesepuh Iblis Putih, tetap menguasai sebagai tokoh Hitam yang cukup terkenal di Perguruan Pedang Kembar ini, tentu saja ia tidak mau mengalah dengan pikiran yang mengganggunya.
"Heaa......!"
__ADS_1
Sesepuh Iblis Putih meningkatkan tenaga dalamnya, ia merapat sebuah Jurus tingkat tinggi, 'Jurus Tapak Iblis Penghancur Jiwa'.
Aura tenaga dalamnya berubah merah, cahaya merah menyelubungi seluruh tubuhnya.
"Tapak Iblis Penghancur Jiwa! hati hati, Manggala, jurus itu menghancurkan dari dalam!" ujar Laras, memberi peringatan pada Manggala dari kejauhan.
"Heaaa......!"
Sesepuh Iblis Putih melompat ke udara dan meluncur ke arah Manggala, di sekitar tubuhnya keluar cahaya hitam berbentuk telapak tangan yang cukup banyak, dan mengiringi nya meluncur ke arah Manggala si Pendekar Naga Langit itu.
"JURUS RAGA DEWA! Heaaa....!"
"Jurus Tameng Dewa....!"
Desss....! Desss....!
Buak......!
Puluhan cahaya hitam berbentuk telapak tangan itu, seperti ada yang menahannya, Sesepuh Iblis Putih tampak terkejut, belum hilang ke terkejutanya, tongkat mustika di tangan Manggala melesat ke arah dada Sesepuh Iblis Putih itu, begitu cepat dan menghantam telak di dadanya.
Sesepuh Iblis Putih terpental hingga ke depan bangunan besar itu, ia jatuh bergulingan, dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Begitu Sesepuh Iblis Putih berusaha berdiri, Manggala melesat bagai kilat ke hadapannya, dan lansung mencengkeram leher Iblis Putih.
"Aku akan membiarkan Kau hidup, asalkan Kau katakan kemana Kak Mentari di bawa orang orang bertopeng tengkorak hitam? Hah...!" bentak Manggala, ia begitu dingin aura kemarahan murid Lima Pendekar Dewa itu, menusuk dada.
"Mereka membawanya ke Pagoda Lima pilar, Aku di tugaskan untuk menghentikan mu," jawab Sesepuh Iblis Putih, terbata bata dan begitu lemah.
"Jika terjadi sesuatu pada Kak Mentari, Perguruan ini akan ku hancurkan! Kau dengar!" bentak Manggala, lagi.
"Iya, iya saya dengar pen.. pendekar, uhuk uhuk...," jawab Sesepuh Iblis Putih, sambil terantuk batuk, darah masih mengalir di sela sebibirnya.
Bruk....!
"Aakh....!"
Sesepuh Iblis Putih jatuh ke tanah di dorong Manggala, tampak para murid Divisi Dalam Pedang Jiwa itu, ketakutan melihat ke arah Manggala.
"Ayo Kak Laras, kita tinggalkan tempat ini!" ajak Manggala, sambil tetap berusaha tersenyum kepada Laras.
"Ayo....!" jawab Laras, singkat, tanpa banyak bicara ia pun melesat menyusuri jalan bertangga di samping bangunan besar itu, di susul Manggala dari belakang.
Bersambung.....
ikuti Pengejaran ke Pagoda Lima pilar- part 2
Jangan lupa like, komen dan favorit ya,
Terima kasih....
__ADS_1