KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Dewi Phoenix Putih


__ADS_3

"Berarti kami dapat teman dong!" Sela Mentari di samping Manggala tampak tersenyum, matanya menatap Manggala walau hanya curi-curi pandang.


"Terima kasih Tuanku, bisa menerima hamba sebagai teman," Ucap Jingga sambil tersenyum.


"Tidak ku sangka seorang wanita dari kaum naga sangat cantik!" Ucap Mentari sambil tersenyum.


"Dia aslinya memang cantik Tuanku, namun jika wujud asli siluman naga mempunyai tanduk, Tuanku," Kata Draka memberi penjelasan.


"Kami tidak memilih teman, baik dari golongan naga atau pun manusia, yang penting dia orang baik, ya kan Manggala?"


"Ya.. Yang di katakan Kak Mentari benar,"


"Jangan panggil Kakak lagi dong, lagian Perguruan Pedang Kembar hanya tinggal nama!" Ucap Mentari sambil tersenyum menatap wajah Manggala.


"Ya sudah, kita harus menuju Perguruan Pedang Suci," Kata Manggala sambil tersenyum.


"Perguruan Pedang Suci? Kenapa kita kesana Manggala?" Tanya Mentari tampak bingung.


"Kita memerlukan sekutu untuk mengadakan pemberontakan pada Kerajaan Awan Hitam Atas Langit Kak, aku dengar Perguruaan Pedang Suci adalah salah satu perguruan yang menentang Kerajaan Awan Hitam Atas Langit!" Jawab Manggala.


"Ya, aku juga mendengar seperti itu, baiklah kami sekarang adalah kelompokmu, jadi kami ikut kemana Kau pergi," Ucap Mentari, "Ya kan, Laras?"


"H em....!" Jawab Laras sambil menaikkan bahunya, senyum manis gadis berbaju putih itu menyungging, membuat lesung pipit nya keluar.


"Kok begitu, Kak Laras keberatan ya?"


"Nggak kok, cuma perut udah keroncongan nih, kita cari makan yuk!" Kata Laras sambil tertawa. Semua orang di sana akhirnya tertawa karna tingkah Laras itu.


"Ya sudah, Tuanku semua tetaplah disini biar hamba mencari ikan untuk kita makan," Kata Draka, ia pun lansung membuat sebuah pintu dimensi. Draka masuk ke dalam pintu dimensi sebentar. Tidak lama Draka kembali dengan beberapa ekor ikan yang besar-besar.


"Wah, kita makan kenyang nih," Kata Mentari tampak bersemangat.


"Kak Laras dan Kak Mentari bikin api, saya yang akan membersihkan ikannya," Kata Anggala.


"Baik, ayo Laras, kita siapkan rantingnya," Jawab Mentari sambil mengajak Laras mencari ranting untuk bikin api unggun pembakar ikan.


"Kita juga ikut Tuanku!" Celetuk Jingga sambil membantu Mentari dan Laras mengumpulkan ranting-ranting pohon yang mati.


"Nggak usah Jingga, biar kami berdua yang mengumpulkan kayu bakarnya," Ujar Mentari sambil tersenyum, "Bersantailah dulu, ngobrol dengan Draka, ribuan tahun tak bertemu tenty banyak cerita yang tersimpan," Tambah Mentari lagi.


"Terima kasih putri, atas pengertiannya," Ucap Jingga, namun ia tetap mengumpulkan kayu yang telah di ambil Mentari dan Laras dan membuat api, Jingga menyemburkan api ke kayu itu dengan cukup teliti, sehingga api yang ia buat tidak menghanguskan seluruh kayu.

__ADS_1


"Wah, hebat! Jadi kita tidak perlu batu api lagi nih!" Kata Mentari sambil tersenyum.


"Di negri kayangan, apa kalian membuat api seperti itu?" Tanya Mentari.


"Bagi siluman naga iya Tuanku, tapi bagi mahluk kayangan lain, mereka masih memerlukan batu api," Jawab Jingga.


Mentari dan Jingga tampak berbagi cerita, sementara Laras memilih jadi pendengar walau sesekali ia menyela pembicaraan dua orang itu.


Sedangkan Draka tampak menyandarkan diri pada sebatang pohon, menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi.


"Wah... Asyik sekali ngobrolnya," Kata Manggala sambil tersenyum. Ikan-ikan ity telah di siapkan dengan penjepitnya sekalian, "Katanya sudah pda kelaparan," Tambah Manggala lagi.


"Sini ikannya Manggala, biar kami yang bakar, Kau beristirahat lah di dekat Draka," Ujar Mentari sambil mengambil ikan dan mulai membakarnya.


"Terima kasih!" Ucap Manggala sambil berlalu. Setelah ikan-ikan itu selesai di bakar barulah mereka bertiga memanggil Manggala dan Draka. Tidak lama setelah makan dan beristirahat mereka berlima melanjutkan perjalanan kembali.


Draka menawarkan diri untuk jadi tunggangan ke empat orang itu, namun Manggala menolaknya. Manggala tidak enak hati harus menjadikan Manggala tunggangan di depan kekasihnya Jingga.


Baru saja mereka meninggalkan tempat itu, mereka di kejutkan dengan ramainya suara pertarungan.


"Tuanku, apa Kalian mendengar pertarungan di ujung sana?" Tanya Draka.


"Ya, kami mendengar dengan jelas bila memakai tenaga dalam dan kesaktiaan, tapi masih samar-samar di dengar telinga biasa," Jawab Manggala. Mentari dan Laras hanya ikut mengangguk, dengan kesaktian mereka sekarang mendengar suara dari kejauhan bukanlah hal yang sulit.


Laras tidak mau kalah secepat kilat ia telah menyusul Mentari. Jingga tampak terkejut dengan kesaktian dua gadis manusia itu. Sedankan Manggala telah melesat menyusul Mentari dan Laras.


"Panglima, kecepatan mereka sudah mencapai tingkat tertinggi, dari mana mereka mendapatkannya?" Tanya Jingga tampak agak bingung dengan kesaktiaan Laras dan Mentari itu.


"Mereka berdua telah mendapat kekuatan dari mustika naga hasil pertapaanku, selama ini hanya manusia jahatlah yang berhasil mendapatkan cahaya dari mustika itu, mereka berdua di hadiahkan tuan Manggala," Jawab Draka, "Sudahlah, nanti lain kali aku ceritakan, sebaiknya kita susul mereka," Tambah Draka lagi.


"BIklah, ayo...!" Jingga pun melesat di samping Draka bagai sebuah bayangan yang melesat bagai kilat.


Rupanya Mentari dan Laras tidak langsung memasuki pertarungan itu, mereka melihat pertarungan dari atas sebatang pohon yang cukup rindang.


Tampak di bawah sana sekelompok gadis cantik sedang menghadapi serombongan pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit.


"Pandan Ayu?" Guman Manggala melihat ke arah bawah sana, tampak di rombongan gadis-gadis itu ada yang ia kenal.


"Manggala kenal salah seorang gadis itu?" Tanya Mentari sambil tetap memperhatikan pertarungan di bawah sana.


"Ya, salah seorang dari mereka bernama Pandan Ayu, dia bergelar Dewi Phoenix Putih," Jawab Manggala sambil memperhatikan jalan pertarungan di bawah sana.

__ADS_1


Gadis cantik yang berbaju putih itu memang tampak paling unggul di bandingkan yang lain, namun musuh yang ia hadapi bukanlah manusia, kalau hanya pukulan tangan kosong bukanlah masalah bagi prajurit siluman itu.


Trang!


Buk..!


"Hih...! Bangsat, tubuhnya bagai batu,"Guman Pandan Ayu dalam hati, ia terpaksa berjumpalitan di udara menghindari sabetan salah seorang prajurit siluman yang berusaha menyerangnya dari samping.


Prajurit siluman yang terkena tendangan Pandan Ayu itu hanya terjajar dua langkah ke belakang. Namun prajurit siluman itu tidak mengalami apa pun.


"Dari mana datangnya prajurit siluman ini, mereka tampak memang ke arah Perguruan Pedang Suci, apa mereka memang lagi mengincar Perguruan kami?" Guman Pandan Ayu membathin.


Jlek.!


Pandan Ayu menjejak kakinya di tanah, namun salah seorang prajurit siluman lansung melompat ke arahnya dengan menyabetkan kapak besar bermata dua di tangannya.


Trang.!


Pandan Ayu terpaksa menahan laju kapak itu dengan pedangnya. Pandan Ayu terjajar sekitar satu tombak kebelakang, dadanya terasa sesak akibat menahan laju kapak prajurit siluman itu.


Wut..!


Sebuah kapak prajurit siluman mengarah ke arah kepala Pandan Ayu, cepat-cepat gadis itu menunduk namun karna prajurit siluman itu menyerang secara serentak. Sehingga sebuah tendangan mendarat di bahu gadis itu.


Buak..!


"Aaakh...!"


Lenguhan tertahan keluar dari mulut Pandan Ayu sebelum tubuhnya terpental sekitar dua tombak kesamping kiri. Pandan Ayu berusaha bangkit, namun salah seorang prajurit siluman telah melompat ke arahnya, dengan kapak bermata duanya mengayun di depan.


"Mati Aku...!" Guman Pandan Ayu dalam hati, ia tidak mungkin mengelak lagi. Pandan Suri hanya pasrah dan memejamkan matanya.


Set....!


Buak...!


"Aaaakh....!!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya.


__ADS_2