
Matahari mulai tenggelam di pupuk barat, senja meregang menuju malam, suara jangkrik dan cacing mulai terdengar jelas di telinga.
Manggala dan Laras memperlambat lari mereka, jalan batu dari gerbang Pertama Divisi Dalam Pedang Jiwa menuju gerbang kedua mulai gelap.
"Kak Laras, sebaiknya kita mencari tempat istirahat, Saya lihat Kakak sudah kelelahan," tawar Manggala, pada Laras, gadis itu tampak agak kelelahan setelah seharian menemani Manggala.
"Baik lah, kalau itu mau Manggala, di atas jalan ini ada menara tempat istirahat, kita bisa istirahat di sana," jawab Laras, sambil memandang ke arah Manggala.
"Boleh juga Kak, tapi apakah Kakak tidak lapar?"
"Kakak sudah biasa menahan lapar, apalagi cuma seharian, di bawah sana ada sungai, kita bisa menangkap ikan di sana jika bulan agak terang," ujar Laras, sambil berjalan di samping Manggala.
"Sekarang kita menuju tempat yang Kakak katakan itu, nanti Kakak tunggu di sana, biar Manggala yang menangkap ikan ke sungai,"
Baiklah..," jawab Laras, sambil tersenyum lebar memandang wajah tampan Pangeran muda di sampingnya itu.
Laras tambah dek dekan ketika Manggala menarik tangan kanannya mengajak Laras jalan bersama.
Laras hanya menurut ketika Manggala mempercepat langkahnya.
"Itu tempatnya," tunjuk Laras, sambil menunjuk dengan tangan kirinya, tampak sebuah bangunan dari batu berbentuk rumah berukuran kecil, namun di dalam nya ada cahaya lentera yang menyala.
Manggala dan Laras lansung mendekati bangunan itu, dan hendak memasukinya, ternyata ada sekitar lima orang murid tingkat Tiga puluh Divisi Dalam Pedang Jiwa, yang sedang meronda di sana.
"Hei....! Kau Laras kan? siapa yang bersamamu itu? Apa dia yang di maksud Soka?" tanya salah seorang dari Lima murid tingkat Tiga puluh itu.
"Ya aku Laras! dia adalah Manggala yang membuat tangan Soka buntung kemarin!" jawab Laras, dengan begitu lantang.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Kalau kalian ingin selamat..!!"
"Bangsat...! Kau Laras, mentang mentang Kau bersama pemuda tampan, Kau berani mengusir kami!!"
"Aku tidak mengusir Kalian, tapi mengasihani kalian, jika tidak ingin nyawa kalian melayang sia sia, cepat tinggalkan tempat ini..!" bentak Laras dengan begitu keras.
"Bangsat...! Kau berani membentak murid Divisi Dalam! Mati Kau...!!"
Salah seorang dari mereka melompat dengan pukulan jarak jauh ke arah Laras.
"Huh....!"
Desss
Buak.....!
__ADS_1
"Aaakh.....!"
Manggala bergerak bagai kilat menghadang pukulan jarak jauh murid tingkat Tiga puluh itu, dan membalikkannya dengan ,'Jurus Tapak Dewa'.
Sehingga orang itu terpental ke dalam bangunan itu, dan mengalami luka dalam yang cukup parah.
Sring....!
Ke empat temannya lansung menghunus pedang, dan melompat menyerang Manggala secara serentak, Manggala menunggu serangan itu denganbegitu tenang.
Trang....!
"Hah....!
Betapa terkejutnya mereka ketika pedang mereka mengenai tubuh Manggala, seperti mengenai sebuah batu, belum hilang ke terkejutan mereka Manggala bergerak melepaskan tendangan ke arah rubuh mereka berempat.
Buak....! Buak....!
"Aaaa......!"
Mereka pun menyusul salah seorang temannya tadi terpental menabrak dinding batu bangunan itu, mereka pun mengalami hal yang sama, mengalami luka dalam yang cukup parah, begitu bisa bangun, mereka pun ambil langkah seribu, tanpa banyak bicara lagi.
"Ha ha ha...! Kan sudah aku katakan! Untung nyawa
Manggala hanya tersenyum, melihat tingkah Laras yang seperti lupa masalah yang sedang ia alami saat ini.
Laras tampak malu, melihat Manggala senyum senyum memandang ke arahnya.
"Ada apa Pangeran? Apa ada yang lucu dengan Laras?"
"Tidak! tidak ada yang lucu Kak, cuma terkejut saja, Kak Laras rupanya juga bisa bercanda," jawab Manggala, sambil memasuki ruangan bangunan itu.
"Mereka itu, tadi gayanya bukan main! Begitu adu kekuatan dengan Pangeran, malah lari kayak banci..!" cibir Laras, sambil ikut masuk ke dalam ruangan bangunan bersama Manggala.
"Ya sudah, Kakak tunggu di sini, aku akan mencari ikan ke sungai, untuk makan malam kita," ujar Manggala, sambil mengambil sebuah obor penerangan ruangan itu.
"Pangeran, ikut...! Laras takut...," pinta Laras, agak memelas namun terkesan manja.
"Ya sudah, ayo Kak!' ajak Manggala, "Jangan panggil Pangeran terus Kak, Manggala belum bisa memulihkan kerajaan Galuh Kencana!"
"Maaf, Manggala, aku malah takut nanti terbiasa memanggil nama!"
"Tidak apa apa, Manggala kan adik Kak Laras, aku akan berusaha agar kita bisa membalas dan menumpas orang yang membuat kerajaan Galuh Kencana hancur!"
__ADS_1
"Terima kasih, mudah mudahan, kita bisa membangun lagi Kerajaan Galuh Kencana!"
Mereka berdua pun pergi ke sungai, untuk menangkap ikan, pengisi perut mereka malam itu.
Tidak butuh waktu lama, Manggala dan Laras berhasil mendapatkan beberapa ekor ikan,untuk mereka bakar, Laras pun membakar ikan untuk mereka makan malam ini, dan untuk sarapan mereka esok pagi.
Manggala pun tidak membiarkan Laras bekerja sendiri, ia ikut membakar ikan yang telah mereka dapatkan.
"Biar saya saja Manggala, yang membakar ikannya, " ujar Laras, sambil membolak balikkan ikan yang di bakarnya.
"Tidak apa apa Kak Laras, kebetulan Manggala juga sudah cukup lapar, he he..!" jawab Manggala, sambil tertawa kecil,Laras hanya tersenyum melihat Manggala tertawa.
"Kenapa Kak? Kok agak Lesu...?" goda Manggala, sambil meletakkan ikan di dekat bara api.
"Tidak, tidak..! saya tidak lesu, cuma perut sudah terasa lapar, apalagi bau ikan ini mengundang selera," jawab Laras, tampak tersipu malu di goda Manggala.
"Ya sudah, Kakak makan duluan, biar Manggala yang menyiapkan bakaran ikannya, tinggal dua ekor lagi..," suruh Manggala, sambil tersenyum ke arah Laras.
"Tidak apa apa! Kita selesaikan masakan nya dulu, baru kita makan," jawab Laras, sambil tersenyum, mereka pun menyelesaikan tugas mereka, setelah itu baru mereka makan.
Malam pun sudah berangsur larut, Laras merebahkan tubuhnya di lantai bangunan yang terbuat dari batu itu, Manggala pun beristirahat tidak jauh dari Laras, mereka tertidur sampai pagi.
Suara burung berkicau, cahaya matahari telah masuk ke dalam bangunan itu, Laras terkejut ketika membuka mata, di depan bangunan itu telah berdiri sekitar tiga puluh orang berpakaian ninja, lengkap dengan pedang di punggungnya.
"Manggala bangun!" Laras berusaha membangunkan Manggala.
"Ada apa? Kak Laras!" Manggala sontak lansung duduk, dan memandang ke arah depan bangunan itu.
"Sudah berapa lama mereka berada di depan sana Kak?"
"Entah lahManggala? Begitu saya membuka mata, mereka sudah ada di sana!" jawab Laras, mereka lansung berdiri, dan menatap ke arah orang orang di depan bangunan itu.
Siapa orang orang berpakaian ninja itu?
Apa tujuan mereka ada di sana?
Ikuti episode selanjutnya.
Baca juga karya Author yang lain..
__ADS_1
jangan lupa like, komentar dan vote ya..