KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Penyerbuan Prajurit Siluman Part 2


__ADS_3

Tampak para murid laki-laki Perguruan Pedang Suci sedang bertarung dengan pasukan siluman. Melihat dari kepandaian saudara seperguruan Pandan Ayu itu, mereka cukup berilmu tinggi. Namun para prajurit siluman yang mereka hadapi cukup banyak dan berpakaian zirah besi, sehingga setisp kali murid Perguruan Pedang Suci mengenai tubuh prajurit siluman itu. Para prajurit itu tidak mengalami luka yang serius.


"Bangsat! Mereka tampaknya benar-benar ingin menghancurkan Perguruan Pedang Suci!" Guman Pandan Ayu seperti berbicara pada dirinya sendiri.


"Kita bantu Saudara seperguruanmu itu Ayu," Kata Manggala yang dari tadi memperhatikan pertarungan di bawah sana dari samping Pandan Ayu.


"Eh.. Iya Kak! Maaf Ayu hampir lupa di sini ada Kakak!" Jawab Pandan Ayu agak terkejut. Gadis itu sempat melempar senyum manisnya pada Manggala, "Ayo Kak!" Pandan Ayu melesat bagai kilat ke arah pertarungan di bawah sana di susul Manggala.


"Hiaaa...!"


Pandan Ayu tanpa banyak bicara langsung menerjang ke arah dua siluman yang mengeroyok salah seorang saudara seperguruannya.


Buak! Buak!


"Aakh...!


Dua orang prajurit siluman itu langsung terpental dan tewas terkena tendangan Pandan Ayu yang bertenaga dalam tinggi itu.


"Pandan Ayu?" Murid Perguruan Pedang Suci itu tampak terkejut dengan kedatangan Pandan Ayu, dan begitu mudah merobohkan dua musuh dengan satu serangan.


Manggala pun tidak ketinggalan, dengan 'Jurus Langkah Dewa'.nya. Manggala langsung menghajar beberapa prajurit siluman dengan tongkat Mustika Dewanya.


Para murid Perguruan Pedang Suci yang sedang bertarung banyak yang jadi berdiam karna musuh yang mereka hadapi di hajar oleh Dewi Phoenix Putih dan Manggala.


"Hup!"


"Hiaaa...!"


Bagaikan kilat yang sedang menyambar kedua pendekar itu berkelebat dengan begitu cepat. Setiap prajurit siluman yang berada di depan mereka harus terpental ke tanah dan meregang nyawa.


Sepasang pedang di tangan Dewi Phoenix Putih itu selalu memakan korban di setiap tebasan dan sabetannya.


Set! Set!


Crass! Crass..!


"Aaaakh....!!"


Jurus Pedang Phoenix Api'. Dewi Phoenix Putih itu tidak mampu di bendung oleh para prajurit siluman itu. Kekuatan tenaga dalam yang begitu dahsyat itu membuat baju besi zirah para prajurit siluman itu tidak berarti. Begitu pun dengan Manggala setiap ayunan dan pukulan tongkat Mustika Dewa di tangannya selalu memakan korban.


Tidak butuh waktu lama sekitar lima puluh orang prajurit siluman yang berhadapan dengan saudara seperguruan Pandan Ayu itu harus tumbang ke tanah.


"Haaarrrrk....!"


Seorang senopati Kerajaan Awan Hitam Atas Langit tampak begitu marah melihat seluruh anak buahnya di bantai oleh dua orang manusia yang selama ini mereka anggap mahluk lemah dan tidak berdaya.


"Hup!"


Trang!


Pandan Ayu yang mendapat serangan dari senopati prajurit siluman itu dengan sigap menahan serangan kapak besar yang mengarah ke kepalanya.


"Hiaaa...!"


Malah dengan gesitnya Dewi Phoenix Putih memberikan serangan balasan yang begitu cepat. Senopati prajurit siluman itu tampak agak terkejut namun ia masih sempat menarik tubuhnya kebelakang dan mundur sekitar lima langkah ke belakang.

__ADS_1


Manggala yang berniat membantu di tahan oleh Pandan Ayu, "Biar Ayu yang menghadapi pimpinan siluman ini Kak!" Kata Pandan Ayu tanpa mengalihkan pandangannya ke arah musuh yang ada di depannya.


"Baik! Hati-hati Ayu. Senopati prajurit siluman itu cukup tangguh!" Jawab Manggala memperingatkan.


"Terima kasih Kak! Atas perhatiannya," Ucap Pandan Ayu sambil menoleh ke arah Manggala dan tersenyum. Gadis cantik itu menyiapkan 'Jurus Pedang Phoenix Api'.nya ke tingkat yang lebih tinggi.


"Ho ho ho...! Hei pemuda tampan! Apa Kau tidak sayang jika wajah cantik kekasihmu ku rusak dengan kapakku ini!" Ujar senopati prajurit siluman itu dengan pongah.


"He he..! Hei siluman jelek! Buktikan dulu kata-katamu itu! Apa Kau tidak melihat anak buahmu jadi santapan pedang kekasihku ini hah!" Bentak Manggala sambil tertawa mengejek ke arah senopati prajurit siluman itu.


"Kekasih! Benarkah yang Kau katakan itu Kak Manggala?" Guman Pandan Ayu dalam hati, seulas senyum menyungging di bibir indah gadis cantik berbaju putih itu.


"Ho ho ho...! Jangan salahkan aku manusia! Heaaa...!"


Setelah berkata senopati prajurit siluman itu melompat sambil berteriak nyaring, kapak besar bermata dua di tangannya mengayun cepat ke arah Dewi Phoenix Putih.


"Hiaaa....!"


Jerit melengking keluar dari mulut Pandan Ayu, maka seketika itu pula tubuhnya melesat bagai kilat ke arah senopati prajurit siluman itu. Sepasang pedang di tangan Dewi Phoenix Putih itu mengeluarkan cahaya merah menyilaukan mata.


Trang!


Crak!


Srasss...!


"Oooookh....!!"


Pedang Phoenix Putih di tangan Pandan Ayu yang sebelah kanan melaju menghantam mata kapak besar prajurit siluman itu. Sedangkan pedang di tangan kirinya membabat putus gagang kapak besar itu. Tangan kanan Pandan Ayu bergerak cepat menyabet ke arah dada senopati prajurit siluman itu.


Raungan kesakitan terdengar nyaring dari mulut senopati prajurit siluman itu. Tubuh senopati prajurit siluman itu terhuyung mundur sambil memegangi dadanya yang terluka. Perlahan senopati prajurit siluman itu jatuh tertelungkup. Beberapa saat tubuhnya menggelepar bagai ayam yang di sembelih lalu diam tidak berkutik lagi


Sring!


Pandan Ayu menyarungkan sepasang pedangnya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu. Pandan Ayu kemudian berjalan pelan ke arah Manggala.


Jlek!


Salah seorang saudara seperguruan Pandan Ayu langsung melompat ke samping gadis cantik berbaju putih itu.


"Kau tidak apa-apa Sembara?" Tanya Pandan Ayu sambil tersenyum dan menghentikan langkahnya.


"Aku tidak apa-apa Pandan. Bagaimana Kau bisa mempunyai kesaktian yang begitu hebat dalam beberapa jam kita tidak bertemu?" Tanya Sembara tampak terkejut melihat Pandan Ayu yang begitu sakti secara tiba-tiba itu.


"Ceritanya cukup panjang Sembara. Namun semua ini berkat bantuan Kak Manggala," Jawab Pandan Ayu singkat.


"Apakah pemuda itu yang bernama Manggala? Bukankah tongkat di tangannya itu tongkat Mustika Dewa milik Pendekar Tongkat Dewa?" Tanya Sembara lagi.


"Ya dia murid Lima Pendekar Dewa itu Sembara," Jawab Pandan Ayu sambil menemui Manggala.


"Kak Manggala, kenalkan dia saudara seperguruanku Sembara. Tingkatannya sama denganku," Ucap Pandan Ayu memperkenalkan sembara pada Manggala Surya Kencana.


"Saya Sembara saudara, terima kasih sudah membantu kami," Ucap Sembara memperkenalkan diri sambil menyalami Manggala.


"Saya Manggala Surya Kencana. Panggil saja Manggala," Jawab Manggala sambil menerima uluran tangan Sembara itu.

__ADS_1


"Saudara sangat hebat bisa menjadi murid Lima Pendekar Dewa yang tidak terkalahkan itu," Puji Sembara. Mereka tampak berbincang-bincang. Manggala merubah tongkat Mustika Dewanya menjadi kecil dan menyimpannya ke balik bajunya.


"O iya. Kalau boleh tau Saudara Manggala mau kemana sehingga bisa bertemu Pandan Ayu?" Tanya Sembara seraya menoleh ke arah Pandan Ayu.


"Sebenarnya saya memang lagi menuju Perguruan Pedang Suci, saya memang berniat mencari Pandan Ayu," Jawab Manggala berterus terang walau agak malu.


"Kalau boleh tau Saudara Manggala kenapa mencari Pandan Ayu?" Tanya Sembara tampak tidak mengerti.


"Saya sedang mencari Perguruan golongan putih yang masih ada dan mengadakan perlawanan terhadap prajurit siluman dan sekutunya, saya ingin bekerja sama untuk memerangi musuh manusia bumi itu bersama-sama," Jawab Manggala menjelaskan maksud yang sebenarnya mencari Perguruan Pedang Suci.


"Jadi sebenarnya Kak Manggala tidak datang untuk mencari Ayu?" Ucap Pandan Ayu dengan nada agak kecewa. Sembara menoleh ke arah Pandan Ayu. Pemuda itu mulai mengerti perasaan Pandan Ayu pada Manggala.


"Kalau boleh Kakak jujur. Tujuan pertama Kakak mencari Perguruan Pedang Suci adalah mencari Ayu. Sekalian Kakak mencari bantuan untuk memerangi para prajurit siluman itu," Jawab Manggala sambil menghadap ke arah Pandan Ayu.


"Hmm..! Silahkan Kalian selesaikan urusan pribadi kalian, saya dan yang lain menunggu di perguruan," Kata Sembara. Pemuda itu lalu mengajak adik-adik seperguruannya pergi dari tempat itu.


"Pupus sudah harapanku untuk mendapatkan cinta Pandan Ayu, tampaknya dia begitu menyukai Manggala," Guman Sembara dalam hati.


Sementara Pandan Ayu tidak mempedulikan Sembara. Pandan Ayu sebenarnya tau kalau Sembara menyukainya. Namun Pandan Ayu tidak mempunyai perasaan pada Sembara. Pandan Ayu menganggap Sembara sebagai saudaranya apalagi mereka adalah saudara seperguruan.


"Benarkah tang yang Kakak katakan itu,? Kak Manggala tidak sedang menghibur Ayu kan?" Tanya Pandan Ayu sambil menatap lekat ke arah wajah tampan Pangeran Galuh Kencana itu.


"Apa Kakak terdengar berbohong Ayu?" Tanya balik Manggala pada gadis cantik di depannya itu.


"Tadi Kak Manggala bilang, Kakak ke sini untuk mencari bantuan, bukannya mencari Ayu," Jawab Pandan Ayu matanya tampak berkaca-kaca menatap wajah Manggala.


"Kan tadi sudah kakak katakan, kakak sebensrnya kesini mencari Pandan Ayu dan juga mencari bantuan," Jawab Manggala menjelaskan. Perlahan Manggala memberanikan diri untuk menyentuh tangan Pandan Ayu.


"Kak Manggala tidak bohongkan pada Ayu?" Ucap Pandan Ayu sambil menggenggam jemari Manggala. Manggala hanya membalas dengan senyuman dan mengeleng perlahan.


"Kakak tulus suka sama Ayu?"


"Tidak!"Jawab Manggala dengan tersenyum.


"Kakak menyukai Ayu karna Ayu cantik!" Jawab Manggala sambil tertawa menggoda Pandan Ayu.


"Jadi menurut Kak Manggala, Ayu cantik?"


Sangat cantik!" Jawab Manggala.


"Ih.. Kak Menggala pintar merayu!" Ucap Pandan Ayu sambil memeluk Manggala. Manggala pun membalas pelukan gadis cantik bergelar Dewi Phoenix Putih itu.


"Kakak tidak merayu kok, memang kenyataannya Ayu cantik, kalau tidak cantik nggak mungkin kakak suka dari pertama bertemu dulu," Jawab Manggala sambil menutup mulut.


"Kenapa tutup mulut?"


"Keceplosan!" Jawab Manggala sambil tersenyum.


"Maksudnya?" Tanya Pandan Ayu sambil mengerenyitkan keningnya dan menatap wajah Manggala.


"Ketahuan rahasianya," Jawab Manggala sambil menatap wajah cantik di depannya.


"Jadi Ayu tidak bertepuk sebelah tangan dong!" Ujar Pandan Ayu sambil kembali memeluk Manggala. Sementara itu Mentari memandang dari kejauhan kebahagiaan Manggala dan Pandan Ayu. Laras berdiri di samping Mentari sambil memegang bahu kiri Mentari.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2