
Panglima Wang Xian Chin memanggil salah seorang jendral terbaiknya. Salah seorang jendral pasukan Panglima Wang Xian Chin yang bertubuh besar dan tegap maju ke tengah gelanggang latihan. Dengan sebuah pedang di pinggangnya ia bersiap bertarung dengan Laras.
Laras pun berjalan maju ke tengah gelanggang. Sikap Laras yang biasa saja membuat para prajurit Panglima Wang Xian Chin bersorak. Mereka begitu mengelu-elukan jendral mereka.
"Maafkan kelancangan saya, sebenarnya saya tidak ingin bertarung dengan seorang wanita, tapi ini perintah, saya tidak ingin menyakiti seorang wanita," ucap jendral tersebut, yang nampak sungkan.
"Tidak usah sungkan jendral, namaku Laras, senopati agung Kerajaan Galuh Kencana," kata Laras memperkenalkan diri.
"Perkenalkan saya Ming Yan Chu, saya salah satu dari tujuh jendral Kerajaan Qin, dibawah pimpinan panglima Wang Xian Chin," kata jendral Ming Yan Chu memperkenalkan diri.
"Silahkan, kita bisa mulai," kata Laras sambil membuka kuda-kudanya.
"Terima kasih," ucap jendral Ming Yan Chu sambil bersiap dengan kuda-kudanya. Melihat Laras tidak menggunakan pedangnya. Jendral Ming Yan Chu bersiap dengan jurus tangan kosong. Pedangnya masih terselip di pinggangnya.
Cukup lama keduanya masih diam berdiri dengan kuda-kudanya. Jendral Ming Yan Chu yang tampak agak sungkan akhirnya menyerang lebih dulu. Sebuah pukulan tangan kosong di sarangkan kearah Laras dengan cukup cepat.
"Hup!" Begitu tangkas dan gesit Laras hanya menggeser sedikit tubuhnya kesamping. Sehingga pukulan jendral Ming Yan Chu hanya lewat disamping tubuh Laras. Laras hanya tersenyum tipis sambil balas menyerang balik.
Dik! Jendral Ming Yan Chu terkejut namun masih sempat menangkis serangan balik Laras yang tidak terduga itu. Jendral Ming Yan Chu harus terjajar mundur menahan tenaga dalam Laras.
Sedangkan Laras hanya menggunakan sebagian kecil tenaga dalamnya. Jika saja jendral Ming Yan Chu tidak memiliki ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi, ia sudah jatuh terpental kebelakang, untuk membuang hempasan tenaga dalam Laras jendral Ming Yan Chu terpaksa bersalto kebelakang.
"Hmm... Tampaknya tenaga dalam wanita ini cukup tinggi, ia hampir menjatuhkanku, dengan sekali pukul," guman jendral Ming Yan Chu dalam hati.
Sret!
Jendral Ming Yan Chu akhirnya memutuskan menggunakan pedangnya. Jendral Ming Yan Chu memainkan jurus pedangnya dengan cukup cepat, sehingga pedangnya hanya terlihat bagai bayangan mengelilingi tubuhnya.
__ADS_1
"Hiyaaat..!" Jendral Ming Yan Chu bergerak maju sambil menyabetkan pedangnya dari kanan kearah kiri dengan begitu cepat. Laras hanya menarik sedikit tubuhnya kebelakan, tangan kirinya begitu cepat menapaki lengan kanan Jendral Ming Yan Chu.
Tap!
"Heh!" Jendral Ming Yan Chu kaget bukan main, ia tidak menyangka kalau Laras akan menangkap pergelangan tangannya. Jendral Ming Yan Chu berusaha menepis dengan menyerang dengan tangan kirinya kearah bahu kanan Laras. Namun dengan begitu sigap siku kanan Laras menapaki pukulan tangan kosong Jenderal Ming Yan Chu tersebut.
"Hup!" Jendral Ming Yan Chu berusaha menarik tangan kanannya. Namun ia tidak sanggup, tenaga dalamnya jauh dibawah tenaga dalam yang dimiliki Laras.
"Uhuakh...!" Setelah cukup lama berusaha menarik tangannya Jendral Ming Yan Chu terbatuk darah, karena memaksakan diri. Namun usahanya tidak membawakan hasil.
"Maaf Jendral, Kau bukan tandinganku," ucap Laras sambil melepaskan pengangan tangan kirinya pada lengan kanan jendral Ming Yan Chu.
"Kau... Kau, memang hebat senopati," puji jendral Ming Yan Chu sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang terasa nyeri.
"Mustahil... Dia adalah jendral terbaikku, Pangeran. Kenapa Ming begitu mudah dikalahkan?" Panglima Wang Xian Chin terperangah seakan tidak percaya.
"Maafkan kelancangan hamba Pangeran, karena meragukan kemampuan senopati agung Pangeran," ucap Panglima Wang Xian Chin sambil menunduk dan kedua tangan bersusun didepan wajah.
"Hahaha...! Panglima, saya adalah orang yang terbiasa susah dari kecil. Jadi Saya tidak akan tersinggung pada hal yang sekecil itu," jawab Manggala sambil tertawa.
"Terima kasih atas kemurahan hati Pangeran," tambah Panglima Wang Xian Chin tampak berusaha tersenyum.
Panglima Wang Xian Chin akhirnya memerintahkan ketujuh jendralnya berlatih dibawah pengawasan Laras dan Mentari. Panglima Wang Xian Chin sangat mengagumi kedigjayaan yang dimiliki wanita seperti Laras.
Para undangan dari negri besar yang lain pun mulai berdatangan. Diantaranya ada utusan kerajaan Muathai, Kerajaan Benua Barat yang dipimpin oleh seorang panglima bernama Alfian
Pasukan dari timur pun datang dengan pasukan samurai yang dipimpin seorang samurai yang bernama Semada dan adiknya bernama Yamada.
Suasana di Kerajaan Galuh Kencana kini tampak begitu ramai, ribuan para prajurit tampak memenuhi pelataran istana itu. Baik didepan maupun dibelakang istana kini dipenuhi para prajurit. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk peperangan besar.
__ADS_1
Baginda Raja Kindar Buana dan Permaisuri Primata bersama Pangeran Manggala sedang menjamu para tamunya di pendopo taman belakang istana. Di sana hadir para pembesar Kerajaan dan utusan perguruan yang datang memenuhi undangan pangeran Manggala.
Mereka baru saja selesai menikmati makan siang bersama. Terdengar suara mereka bercakap dengan santai. Tiba-tiba Laras datang dengan agak terburu-buru.
"Ada apa Kak Laras?" tanya Manggala melihat Laras tidak seperti biasanya.
"Maafkan hamba Baginda, Pangeran. Hamba mengganggu, tapi hamba dapat laporan bahwa prajurit siluman dipimpin tiga Raksasa telah tiba di perbatasan kota, jumlah mereka sekitar lima ribu pasukan siluman, di tambah ratusan siluman naga," jelas Laras. Tampak Mentari dan Pandan Ayu menyusul dari belakangnya.
"Biarkan hamba dengan pasukan naga yang pergi Tuanku," ucap Draka, sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Kami juga ikut Pangeran. Biarkan kami memperlihatkan kekuatan tempur kami" kata Panglima Wang Xian Chin sambil mengepalkan tangan didepan wajahnya, ciri khas penghormatan orang-orang negri tirai bambu.
"Kalau kalian yakin! Silahkan!" jawab Manggala sambil mengangguk menerima penghormatan. Manggala mendekati Draka, "Draka, siapkan pasukan Naganya dibelakang pasukan Panglima Wang Xian Chin, jika mereka kalah baru maju, aku ingin memberi pelajaran pasukan panglima sombong itu," bisik Manggala.
"Baik Tuanku," jawab Draka, sambil memberi hormat. Setelah itu Draka langsung meninggalkan pendopo tersebut, disusul Laras, Mentari dan Pandan Ayu.
\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#\#
Perbatasan Kota Galuh Kencana. Tampak ribuan prajurit siluman bersama ratusan prajurit naga sedang berbaris memasuki kota yang telah porak-poranda tersebut. Tidak butuh waktu lama, dua puluh ribu pasukan Kerajaan Qin yang dipimpin Panglima Wang Xian Chin telah sampai di batas kota. Pasukan Panglima Wang Xian Chin bergerak cepat begitu mendapat perintah dari panglimanya.
Kini dua pasukan saling berhadapan disebuah lapangan ditengah kota, bekas pasar rakyat Kota Kerajaan Galuh Kencana. Dua pasukan kini saling mempersiapkan diri. Panglima Wang Xian Chin begitu yakin mampu mengalahkan pasukan siluman yang dipimpin raksasa Talos dan raksasa Tartaros itu, dengan jumlah pasukannya yang jauh diatas jumlah pasukan siluman.
Bersambung...
.
.
Bersambung...
__ADS_1