KISAH PENDEKAR TANPA TANDING

KISAH PENDEKAR TANPA TANDING
Panglima Kerajaan Qin


__ADS_3

Kematian raksasa Gigan membuat pangeran Iblis Merah murka. Pasukan iblis dan silumannya kini semakin di perbanyak di Perguruan Pedang Kembar. Tujuh siluman naga dari tujuh penjuru menambah kekuatan pasukan pangeran Iblis Merah. Belum lagi ribuan pasukan yang berasal dari Perguruan hitam hasil taklukannya.


Perguruan Pedang Kembar kini bak sebuah kerajaan. Beberapa divisi kini telah dihuni oleh ribuan makhluk dari Keajaan langit. Sedangkan tujuh Siluman naga juga membawa lebih dari tiga ribu siluman naga dari seluruh penjuru bumi.


Berita tentang bertambahnya kekuatan pasukan invasi Kerajaan Awan Hitam Atas Langit tentu saja telah sampai ke telinga Pangeran Manggala. Berita ini pun telah sampai ke Kerajaan Kayangan. Pangeran Samba Langit tidak ingin bumi dihancurkan pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit, langsung mengirimkan pasukan naga yang selama ini telah berlatih khusus dilokasi pelatihan tentara naga Kerajaan Kayangan.


Sementara itu Pasukan Kerajaan Galuh Kencana hanya baru mencapai sekitar tiga ribu pasukan, hasil dari perekrutan para prajurit baru dari kalangan rakyat yang tinggal di wilayah kerajaan Galuh Kencana.


Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Pangeran Manggala mengirimkan surat undangan kerja sama ke beberapa kerajaan besar dunia yang masih bertahan dari pasukan siluman dan pasukan Iblis pangeran Iblis Merah.


Perguruan Pedang Suci pun telah mengirimkan para murid yang siap menjadi pendukung kerajaan Galuh Kencana. Banyak perguruan golongan putih dan aliran netral mengirimkan para muridnya untuk menjadi prajurit di kerajaan Galuh Kencana.


Undangan Manggala rupanya mendapat respon positif dari kerajaan besar dari tujuh penjuru dunia. Salah satunya adalah Kerajaan Qin dari daratan cina. Panglima besar Kerajaan Qin telah duluan sampai dengan pasukannya ke kerajaan Galuh Kencana. Panglima Kerajaan Qin tersebut bernama Wang Xian Chin datang dengan tujuh Jendral perangnya.


Mereka mengarungi lautan dengan menggunakan tujuh kapal besar yang bermuatan sekitar tiga ribu pasukan pada setiap kapalnya. Tidak butuh waktu lama pasukan Kerajaan Qin telah sampai ke Kerajaan Galuh Kencana.


"Selamat Datang Panglima, di Kerajaan kami ini, maaf kami tidak dapat menyambut kedatangan panglima dengan meriah. Karena kami sedang dalam pemulihan kerajaan, setelah mengalami kekalahan dua puluh tahun yang lalu dari pasukan Iblis," ucap Baginda Raja Kindar Buana menyambut kedatangan Panglima Wang Xian Chin beserta pasukannya.


"Hahaha...! Yang mulia, maafkan hamba yang lancang ini. Hamba dikirimkan kaisar Qin untuk memenuhi undangan dari pangeran Manggala. Hamba membawa lebih dari dua puluh ribu pasukan siap tempur lengkap dengan pasukan panah," jawab Panglima Wang Xian Chin sambil menunduk memberi hormat.


"Terima kasih banyak, Panglima telah sudi datang jauh-jauh dari daratan cina, untuk memenuhi undangan saya. Ayo silahkan Panglima, maaf istana kami lagi dalam masa perbaikan setelah sekian lamanya tinggal akibat kekalahan kami dua puluh tahun yang lalu," ucap Pangeran Manggala.


"Hahaha...! Tidak usah terlalu sungkan Pangeran. Hamba datang dengan tujuh Jendral terbaik hamba. Kita akan menghabisi pasukan siluman itu," kata Panglima Wang Xian Chin yang tampak membanggakan pasukannya.


Setelah beristirahat beberapa hari, untuk menghilankan lelah pasukannya. Panglima Wang Xian Chin memperlihatkan kekuatan pasukannya. Mereka mempraktekkan taktik perang yang selama ini menjadi andalan mereka dalam perang.


"Pangeran, kalau boleh hamba tau, berapa jumlah pasukan musuh yang akan kita hadapi, hamba sudah tidak sabar ingin mengobrak abrik kekuatan pasukan siluman itu?" tanya Panglima Wang Xian Chin.


"Pasukan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit tidak banyak Panglima, hanya sekitar lima puluh ribu pasukan siluman, dan pasukan Iblis. Di tambah ribuan pasukan siluman naga dari neraka perut bumi, dan para pendekar golongan hitam yang gila kekuasaan dan kekayaan," jawab Manggala kalem.


"Hah...! Banyak sekali Pangeran!" ucap Panglima Xian Chin terperangah, "Tapi tidak usah cemas pangeran, pasukan hamba siap menghadapi musuh yang cukup banyak, bukankah pasukan Pangeran hampir sepuluh ribu," kata Panglima Wang Xian Chin.

__ADS_1


"Pasukan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit bukanlah seperti pasukan manusia, Panglima, dua puluh tahun yang lalu, lebih dari tiga puluh ribu pasukan Kerajaan Galuh Kencana dibantai dalam satu malam. Puluhan senopati dari beberapa kadipaten tewas dalam satu malam," tutur Pangeran Manggala.


"Sebegitu kuatkah, pasukan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu Pangeran?" tanya Panglima Wang Xian Chin tampak tertegun mendengar cerita Manggala.


"Jadi kita belum siap bertempur dengan pasukan siluman itu Pangeran?" tanya Panglima Wang Xian Chin lagi.


"Kita masih menunggu bantuan dari kerajaan lain Panglima," jawab Manggala bijak, "Saya tidak ingin pasukan kita hanya mengantarkan nyawa, pada pasukan siluman Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu," tambah Manggala lagi.


"Pangeran mempunyai senopati wanita, apa tidak ada lagi laki-laki yang bisa jadi senopati? Pangeran?" tanya Panglima Wang Xian Chin lagi.


"Senopatiku bukan wanita biasa Panglima, kemampuannya diatas para lelaki," jawab Manggala sambil tersenyum.


"Maaf, Pangeran, tapi saya ragu dengan seorang wanita yang jadi senopati agung?" ucap Panglima Wang Xian Chin, tampak ragu.


"Kalau Panglima ragu, Panglima boleh mencoba kemampuan senopatiku, Panglima," jawab Pangeran Manggala, "Pilihlah salah satu jendral terbaik Panglima untuk adu tanding dengan senopatiku, jika senopatiku kalah. Aku akan mengganti dengan yang lain," tambah Manggala lagi.


"Baiklah Pangeran. Saya akan memerintahkan salah satu jendral terbaikku, untuk adu tanding dengan senopati agung Pangeran," kata Panglima Wang Xian Chin begitu yakin.


"Kak Laras...!" seru Manggala memanggil Laras yang sedang sibuk melatih para prajurit baru.


"Panglima Wang Xian Chin, ingin mencoba kemampuan Kakak," ucap Manggala sambil tersenyum.


"Silahkan! Saya siap Manggala," jawab Laras singkat.


"Yang akan bertarung dengan Kak Laras bukan Panglima Wang Xian Chin, tapi salah satu jendralnya, itupun kalau Kak Laras tidak keberatan," ucap Manggala.


"Terserah siapa pun Manggala, anggap saja latihan, ya kan..!" jawab Laras sambil tersenyum. Mentari pun mendekat.


"Ada apa Pangeran? Apa Laras berbuat kesalahan?" tanya Mentari.


"Tidak Kak Mentari, Salah satu jendral, Panglima Wang Xian Chin ingin adu tanding dengan Kak Laras," jawab Manggala sambil tersenyum.

__ADS_1


O.. Begitu, saya kira ada apa?" ucap Mentari lega.


Panglima Wang Xian Chin memanggil salah seorang jendral terbaiknya. Salah seorang jendral pasukan Panglima Wang Xian Chin yang bertubuh besar dan tegap maju ke tengah gelanggang latihan. Dengan sebuah pedang di pinggangnya ia bersiap bertarung dengan Laras.


Laras pun berjalan maju ke tengah gelanggang. Sikap Laras yang biasa saja membuat para prajurit Panglima Wang Xian Chin bersorak. Mereka begitu mengelu-elukan jendral mereka.


"Maafkan kelancangan saya, sebenarnya saya tidak ingin bertarung dengan seorang wanita, tapi ini perintah, saya tidak ingin menyakiti seorang wanita," ucap jendral tersebut, yang nampak sungkan.


"Tidak usah sungkan jendral, namaku Laras, senopati agung Kerajaan Galuh Kencana," kata Laras memperkenalkan diri.


"Perkenalkan saya Ming Yan Chu, saya salah satu dari tujuh jendral Kerajaan Qin, dibawah pimpinan panglima Wang Xian Chin," kata jendral Ming Yan Chu memperkenalkan diri.


"Silahkan, kita bisa mulai," kata Laras sambil membuka kuda-kudanya.


"Terima kasih," ucap jendral Ming Yan Chu sambil bersiap dengan kuda-kudanya. Melihat Laras tidak menggunakan pedangnya. Jendral Ming Yan Chu bersiap dengan jurus tangan kosong. Pedangnya masih terselip di pinggangnya.


Cukup lama keduanya masih diam berdiri dengan kuda-kudanya. Jendral Ming Yan Chu yang tampak agak sungkan akhirnya menyerang lebih dulu. Sebuah pukulan tangan kosong di sarangkan kearah Laras dengan cukup cepat.


"Hup!"


Begitu tangkas dan gesit Laras hanya menggeser sedikit tubuhnya kesamping. Sehingga pukulan jendral Ming Yan Chu hanya lewat disamping tubuh Laras. Laras hanya tersenyum tipis sambil balas menyerang balik.


Dik! Jendral Ming Yan Chu terkejut namun masih sempat menangkis serangan balik Laras yang tidak terduga itu. Jendral Ming Yan Chu harus terjajar mundur menahan tenaga dalam Laras.


Sedangkan Laras hanya menggunakan sebagian kecil tenaga dalamnya. Jika saja jendral Ming Yan Chu tidak memiliki ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi, ia sudah jatuh terpental kebelang, untuk membuang hempasan tenaga dalam Laras jendral Ming Yan Chu terpaksa bersalto kebelakang.


"Hmm... Tampaknya tenaga dalam wanita ini cukup tinggi, ia hampir menjatuhkanku, dengan sekali pukul," guman jendral Ming Yan Chu dalam hati.


Sret! Jendral Ming Yan Chu akhirnya memutuskan menggunakan pedangnya. Jendral Ming Yan Chu memainkan jurus pedangnya dengan cukup cepat, sehingga pedangnya hanya terlihat bagai bayangan mengelilingi tubuhnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2