
"Hari ini Kau tidak bisa menghindar lagi Datuk! Hiaaa....!"
Jerit melengking keluar dari mulut Mentari, maka seketika tubuh Mentari melesat cepat dengan kedua tangannya terselubung bola api 'Pukulan Inti Api'.nya.
Wuss...!
Datuk Sesepuh Mata Langit menyambut dengan kedua telapak tangan kedepan, empat cahaya pukulan saling beradu di udara.
Wus..!
Swus...!
Blaaarr.....!!
Ledakan besar mengguncang tempat itu. Mentari terdorong kebelakang akibat hempasan angin ledakan itu.
Datuk Sesepuh Mata Langit terseret beberapa tombak ke belakang. Datuk Sesepuh Mata Langit tampak memegangi dadanya yang terasa sesak.
Sedangkan Mentari tampak di pegangi Laras, tampak di rerumputan bekas kaki kedua gadis itu terseret.
"Kau tidak apa-apa Kak?"
"Aku tidak apa-apa Laras, Bangsat Datuk Sesepuh Mata Langit itu rupanya sungguh hebat dia sanggup menahan Pukulan Inti Api tingkat tujuhku..!"
"Sebagai ketua Perguruan Pedang Kembar, tentu saja dia yang paling sakti Kak!"
Laras tampak gusar, dengan sekali lompatan ia telah berada di dekat Datuk Sesepuh Mata Langit.
"Hiaaa...!"
Set..! Set...!
Wut..! Wut...!
Datuk Sesepuh Mata Langit terpaksa menarik mundur tubuhnya ketika pedang di tangan Laras itu bagai ular menari meliuk-liuk mencerca ke arah tubuhnya, cahaya kuning membentuk naga yang menyelubungi batang pedang di tangan Laras itu menimbukan hawa panas yang menyengat kulit.
Jika Datuk Sesepuh Mata Langit tidak mempunyaikesaktian dan tenaga dalam tinggi, tentu kulitnya akan melepuh dan mengelupas terpapar hawa panas dari pedang di tangan Laras itu.
Mentari pun tidak tinggal diam ia mengambil sebuah pedang prajurit siluman yang tergeletak di tanah, dan secepat kilat ia ikut mengeroyok Datuk Sesepuh Mata Langit.
Sambil terus mencerca ke arah Datuk Sesepuh Mata Langit Mentari mengalirkan tenaga dalamnya ke arah pedang yang ia pakai, cahaya merah menyala seperti api menyelubungi pedang yang di pakai Mentari itu.
Mentari mencoba mengalirkan tenaga dalam ke tangan kirinya untuk menggunakan 'Jurus Pedang Tanpa Bentuk, sebuah jurus yang ia pelajari dari Divisi Luar Pedang Raga.
Sebuah pedang tanpa gagang berwarna putih perak kelua dari ujung dua jari Mentari. Pedang itu di selubungi cahaya putih keperakan.
Set..! Set!
__ADS_1
Wut! Wut!
"Heh..!"
Datuk Sesepuh Mata Langit terpaksa melentingkan tubuhnya kebelakang beberapa langkah menghindari tikaman pedang tanpa gagang di tangan kiri Mentari itu. Begitu merasa musuh menjauh Mentari melepaskan pedang tanpa gagang itu ke arah Datuk Sesepuh Mata Langit.
"Bangsat! Jurus Pedang Tanpa Bentuk, kenapa bisa begitu kuat, apa yang sebenarnya terjadi?"
Datuk Sesepuh Mata Langit terpaksa menahan laju pedang itu dengan telapak tangan kirinya. Sebilah pedang tanpa gagang yang di sebut 'Pedang Roh Penembus Jiwa'. di lepaskan sang Datuk untuk menangkis pedang tanpa bentuk dari jurus Mentari itu.
Trang..!
Dua senjata dari pembentukan tenaga dalam itu jatuh ke tanah, setelah beradu di udara.
Datuk Sesepuh Mata Langit tidak tinggal Diam, setelah mendapatkan waktu beberapa saat. Datuk Sesepuh Mata Langit lansung merapal sebuah jurus andalannya, yaitu 'Jurus Mata Iblis Langit Pelebur Bumi'. sebuah ilmu yang terkenal cukup menakutkan bagi Perguruan Pedang Kembar selama ini.
Cahaya merah menyala membentuk sepasang mata mengambang di atas tubuh Datuk Sesepuh Mata Langit. Kedua mata itu berwarna merah sesuai dengan namanya mata iblis.
Melihat Datuk Sesepuh Mata Langit mwrapal jurus andalannya, Laras dan Mentari lansung meningkatkan tenaga dalamnya kw tingkat tujuh puluh persen hingga delapan puluh persen.
Mentari kembali merapal 'Jurus Inti Api'. Kini Mentari tidak main-main. Mentari merapal jurus yang selama ini mustahil di gunakannya, yaitu ' Jurus Inti Api tingkat dua belas.
Laras yang pernah mempelajari hurus yang di gunakan Mentari itu sampai tingkat sepuluh. Laras langsung merapal 'Jurus Inti Api tingkat sepuluh, dengan pengerahan hampir semua tenaga dalam yang ia miliki.
Karna aura tenaga dalam mentari berbeda dari Mentari cahaya tenaga dalam yang menyelimuti tubuh Laras membentuk cahaya putih keperakan.
Mentari membentuk kuda-kuda siap menyerang cahaya merah membentuk bola api menyelubungi kedua tangannya semakin membesar. Mentari mengangkat kedua tangannya ke atas kepala kedua bola api dari cahaya itu menyatu dan semakin membesar.
"Ayo Laras! Kita adu nyawa dengan bajingan satu itu, dia yang mati atau kita yang mati!"
"Baik Kak!" Jawab Laras tampak menyetujui kemarahan Mentari itu. Kedua gadis cantik itu lansung mempersiapkan diri untuk menyerang secara serentak.
"Hiyaaa....!"
Kedua gadis cantik itu menghentakkan tangan mereka secara serentak ke depan.
Wusss....!
Wusss...!
Datuk Sesepuh Mata Langit merapatkan tangannya di depan dada. Datuk Sesepuh Mata Langit mengedipkan matanya. Maka dari mata raksasa di atasnya mengeluarkan cahaya merah seperti sebuah laser.
Swoss..!
Swoss..!
Blaaar....!!!
__ADS_1
Ledakan besar mengguncang tempat tempat itu, ketika dua cahaya merah seperti laser itu beradu dengan bola api raksasa dari pukulan Mentari, Datuk Sesepuh Mata Langit terhuyung ke belakang bebarapa langkah.
Datuk Sesepuh Mata Langit yang tidak siap, tampak terkejut ketika dua cahaya kuning kemerahan membentuk kepala naga meluncur deras ke arahnya.
Desss...!
Desss...!
"Aaaa....!"
Hanya sebuah jeritan yang keluar dari mulut Datuk Sesepuh Mata Langit, sebelum tubuh mencelat puluhan meter ke udara. tubuh Datuk Sesepuh Mata Langit kembali meluncur deras ke tanah dan jatuh di tengah padang rumput di halaman Pagoda Lima pilar itu.
Sementara itu Laras dan mentari tampak terjajar ke belakang, kedua gadis itu tampak memegangi dada. Napas mereka tampak tersengal karna aliran darah di tubuh mereka kacau karna hentakan tenaga dalam akibat ledakan pertemuan dua pykulan tingkat tinggi yang mereka rapal.
Mentari dan Laras cepat-cepat duduk bersila untuk mengatur napas dan jalan darah mereka yang kacau.
Tidak butuh waktu lama kedua gadis itu telah bangun dengan wajah segar, dengan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki sekarang, gangguan pernafasan dan kacaunya jalan darah bukanlah hal yang berat bagi mereka.
"Bagaimana keadaan Kalian? Kak Laras, Kak Mentari?"
"Seperti yang Kau lihat Manggala, kami baik-baik saja!" Jawab Mentari dengan senyuman lebar ke arah Manggala.
"Sukurlah Kalian tidak apa-apa?!"
"Kekuatan mustika naga itu sangat hebat Manggala! Tenaga dalamku meningkat hingga sampai tingkatan yang tidak mungkin ku dapatkan dalam puluhan tahun," Kata Mentari berapi-api.
"Tuanku! Bisakah kita pergi ke Kerajaan Kayangan?" Tanya Draka meminta pada Manggala.
"Tentu saja Draka, tapi bagaimana dengan kedua orang temanku ini?"
"Kalau mereka mau ikut, kita bisa mengajak mereka Tuanku!"
"Baiklah! Kak Mentari, Kak Laras!" Panggil Manggala pada Laras dan Mentari. Kedua gadis itu tampak asyik bercerita.
"Ya Manggala, ada apa?" Jawab Mentari dengan cepat.
"Kami akan ke Kerajaan Kayangan, karna Draka ingin mengetahui apa yang terjadi di sana, dan kenapa para siluman dari KerajaaHitam Atas Langit bisa bebas, karna para siluman itu pernah di kalahkan Draka, dan di penjara di sebuah penjara khusus siluman," Manggala menjelaskan.
"Kalau boleh? Kami ikut!"
Mata Mentari tampak berbinar-binar, penuh harap Manggala mengajak mereka.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa like Koment Vote dan favoritnya ya. Terima kasih banyak.