
Sring!"
"Jangan Kau kira hanya Kau yang punya kesaktian, raksasa Talos!" jawab Jingga setelah menyarungkan pedangnya. Jingga pun menghimpun tenaga dalamnya dan mempersiapkan Pukulan Semburan Api Naga Neraka'. Jika dalam wujud naganya, api itu akan menyembur dari mulutnya.
"Hiyaaa....!!" bentakan melengking keluar dari mulut Jingga seraya menyorongkan kedua telapak tangannya kedepan. Dua larik semburan api melesat keluar dari dua telapak tangan Jingga.
Raksasa Talos pun menghempaskan tangannya kedepan dua buah bola api cukup besar menderu dari tangannya.
Dess...!!
Bleb! Bless..!
"Hah!" raksasa Talos tampak terkejut melihat dua api pukulannya bagai lenyap tertelan api semburan dari pukulan Jingga itu. Belum hilang keterkejutan raksasa Talos. Dua baris semburan api itu telah menghantam telak di dadanya.
Desss....!! Desss....!!
"Arrrkkkk.....!! raungan kesakitan raksasa Talos terdengar membahana. Api dari telapak tangan Jingga itu begitu cepat melahap tubuh besar raksasa Talos. Raksasa Talos pun jatuh ketanah dengan tubuh di selubungi api besar. Tidak seberapa lama kemudian raksasa Talos pun tewas terbakar. Bau angit daging yang terbakar semerbak memenuhi tempat itu.
Pasukan siluman naga yang hampir kocar-kacir di hajar pasukan naga Draka, tanpa pikir panjang lagi. Memilih melarikan diri dari medan perang.
"Hahaha...! Kalian lari bagai bayi yang takut dengan api, siluman tengik!" ujar Laras sambil menyarungkan pedangnya kedalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
__ADS_1
Wuss!
Jingga kembali kedalam wujud manusianya. Wajahnya cerah penuh kemenangan. Pasukan prajurit naga dari Kerajaan Atas Langit bersorak penuh kemenangan. Draka hanya tersenyum melihat pasukannya kesenangan.
Manggala yang datang bersama sekitar lima ratus orang prajurit khusus hanya dapat bagian memberikan pertolongan bagi pasukan Panglima Wang Xian Chin yang terluka.
"Panglima, bawa semua pasukanmu kembali keistana, untuk dirawat," kata Manggala setelah selesai menolong salah seorang prajurit yang terluka.
"Baik Pangeran, maafkan aku pangeran Manggala, aku tidak menyangka kalau pasukan lawan begitu kuat dan tangguh," ucap Panglima Wang Xian Chin.
"Ya, Panglima, sekarang Kau baru tau kekuatan musuh yang telah menghancurkan pasukan kami dalam satu malam, dua puluh tahun yang lalu," jawab Manggala sambil tersenyum.
Panglima Wang Xian Chin memerintahkan seluruh jendralnya untuk membawa pasukan yang terluka kembali ke istana. Sedangkan pasukan yang tidak terluka membantu menguburkan mayat para prajurit yang tewas.
"Maafkan hamba, Pangeran. Hamba tidak menyangka jika pasukan yang kita hadapi begitu tangguh," ucap Panglima Wang Xian Chin menyesali kecerobohannya.
"Tidak apa-apa, Panglima. Jangan pernah memandang remeh lawan," kata Manggala tersenyum.
"Manggala...!" seru Laras dari kejauhan.
"Kak Laras...!" sahut Manggala.
__ADS_1
"Kenapa senopati itu memanggil Pangeran dengan sebutan nama?" tanya Panglima Wang Xian Chin.
"Dia adalah kakak senior di perguruan Panglima," jawab Manggala sambil tersenyum.
"Pantas dia begitu berani," kata Panglima Wang Xian Chin lagi, Manggala hanya tersenyum.
"Bagaimana pasukanmu, Panglima?" tanya Laras begitu tiba di dekat kedua orang itu.
"Pasukan ku kocar-kacir, aku tidak menyangka kalau pasukan iblis begitu kuat," jawab Panglima Wang Xian Chin lesu.
"Lain kali jangan bertindak ceroboh Panglima," nasehat Laras.
"Ya, maafkan aku, Senopati," ucap Panglima Wang Xian Chin menunduk malu, "Aku terlalu ceroboh," tambahnya tampak menyesali diri.
"Kak Laras, jangan Kakak pojoki teman yang kalah dalam hal apa pun, kita harus memberi mereka semangat. Jika kita memojoki mereka, mereka akan kehilangan semangat," kata Manggala sambil tersenyum.
"Maafkan aku, Pangeran. Habis mereka sombong, tidak mempedulikan orang lain dan merasa paling hebat," dengus Laras.
"Ya, aku tau Kak, tapi kasihan Panglima Wang Xian Chin, sudah kalah perang, Kakak malah mematahkan semangatnya," kata Manggala.
"Iya Pangeran," sungut Laras sambil berlalu, Manggala hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Maaf Panglima, begitulah seorang wanita, mudah marah dan mudah merajuk," ucap Manggala pada Panglima Wang Xian Chin.
"Tidak apa-apa, Pangeran. Hamba memang salah, telah meremehkan senopati Laras. Jadi wajar kalau dia sewot dan marah pada saya,"