
Suara burung mulai berkicau, matahari pun berangsur condong ke barat, pertanda hari telah melewati siang dan menuju sore hari.
Manggala dan Mentari bersama Laras berangkat menuju gerbang ke tiga, Divisi Luar, Pedang Raga, belum jauh mereka meninggalkan tepi Sungai tampak sekitar lima belas orang berpakain Serba merah, berkelebat dan lansung mengepung mereka, semua orang berpakaian merah itu memakai topeng tengkorak berwarna hitam.
"Siapa kalian? Apa maksud kalian menghadang perjalanan kami?!" bentak Mentari, ia pun bersiap siaga, menjaga kemungkinan yang akan terjadi.
"Kami di tugaskan untuk menghentikan langkah kalian di sini, alias mengambil nyawa kalian!" ujar salah seorang bertopeng tengkorak itu, begitu dingin.
"Hati hati Kak Mentari, Kak Laras, tampaknya mereka punya kepandaian yang cukup tinggi, tidak seperti murid yang lain!" kata Manggala, memperingatkan Mentari dan Laras.
"Terima Kasih Manggala, mereka adalah pengawal pribadi Kepala Divisi Dalam, Pedang Jiwa, Sesepuh Gempar Jagat, paman nya Soka.!" ujar Mentari, memberi penjelasan siapa musuh yang mereka hadapi saat ini.
"Ya, Manggala sebaiknya berhati hati! Tingkatan mereka adalah Pedang Jiwa!" tambah Laras, ia pun menghunus pedang yang ada di balik punggungnya.
Sret...!
Manggala pun mempersiapkan diri, untuk menghadapi serangan musuh yang mengepung mereka.
"Serang.....!"
Perintah salah seorang dari para pengepung itu, mereka pun melesat maju, menyerang Manggala, Mentari dan Laras.
mereka menyerang dengan tangan kosong, telapak tangan mereka mengeluarkan cahaya putih, menyelubungi telapak tangan.
"Heaa.....!"
"Hiyaaa....!
"Hiaaa....!"
Mereka bertiga pun menyongsong serangan para mengepung itu, pertarungan pun tidak terhindarkan.
Manggala menyerang musuhnya dengan 'Jurus Tapak Dewa'. serangannya bagai kilat, karna di iringi 'Jurus Langkah Dewa'. sehingga gerakan Manggala hampir tak terlihat, namun musuh musuh mereka juga mempunyai kepandaian yang cukup tinggi.
"Heaa.....!"
Desss......!"
__ADS_1
Desss....!"
Dua orang Anggota Kelompok Topeng Tengkorak itu terpental ke tanah, karna kalah tenaga beradu pukulan dengan 'Jurus Tapak Dewa'. milik Manggala.
Sementara itu Mentari dan Laras tampak kewalahan menghadapi serangan orang orang bertopeng tengkorak itu.
Orang yang memberi perintah tadi melompat secepat kilat ke arah Mentari. Mentari yang sedang sibuk menghadapi serangan dari musuh di depannya, sehingga tidak sempat mengelak serangan musuh yang menotok jalan darahnya.
Set....!
Tuk..! Tuk......!
Mentari tidak sempat berteriak, karna jalan darah, dan urat suaranya telah tertotok, sehingga ia pun jatuh pingsan seketika, orang bertopeng tengkorak itu lansung meraih tubuh Mentari yang terkulai lemah itu, dan lansung meninggalkan tempat itu.
Laras yang melihat Mentari di bawa lari, hendak mengejar, namun ia di halangi beberapa orang bertopeng tengkorak itu, terpaksa ia mengurungkan niatnya.
"Ha ha ha.....! Jika kalian menginginkan gadis ini, silahkan menyusul ke Pagoda Lima pilar, Divisi Tiga, Pedang Jiwa....! Ha ha ha.....!"suara membahana di seantero hutan itu, burung burung berterbangan mendengar suara itu.
"Bangsat....! Aku kecolongan...!" geram Manggala, tanpa pikir panjang ia lansung mengambil Tongkat Dewa, pemberian Pendekar Tongkat Dewa, dari balik bajunya.
Wuss....!
Wut......! Wut......!
Duak.....! Duak.......!
Manggala yang lansung memakai 'Jurus Tongkat Dewa'. tak dapat di bendung oleh musuh musuhnya, mereka harus meregang nyawa, di hantam tongkat mustika Dewa itu.
Tidak butuh lama Semua musuhnya yang mencoba menghadang terlempar dan meregang nyawa.
Beberapa orang yang masih hidup, tanpa pikir panjang langsung pilih ambil langkah seribu, meninggalkan tempat itu, dan kawan kawannya yang telah menjadi mayat.
Laras hanya terdiam melihat Manggala mengamuk dengan Tongkat Mustika pemberian Pendekar Tongkat Dewa itu, ia melompat mundur, sehingga musuh yang di hadapinya lansung berhadapan dengan Manggala.
Setelah hampir semua orang orang bertopeng hitam itu kalah, dan melarikan diri, barulah Manggala menjejakkan kakinya ke tanah dan menemui Laras, yang telah menyarangkan perangnya ke dalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
"Kak Laras tau di mana? Pagoda Lima pilar itu?" tanya Manggala, begitu sampai di depan Laras.
__ADS_1
"Ya, aku tau di mana Pagoda Lima pilar itu, tapi peraturan kita harus melewati semua gerbang baru boleh ke sana!" jawab Laras, tampak agak ragu.
"Kita tidak perlu ikut peraturan mereka lagi Kak Laras, jangankan melanggar peraturan itu, aku tidak segan segan menghancurkan satu perguruan ini!" Manggala tampak penuh amarah.
"Tapi di sana ada orang orang yang punya kesaktian tingkat tinggi, Manggala! Aku takut Kau hanya mengantarkan nyawa ke sana!" kata Laras, ia tampak cemas dengan maksud Manggala itu.
"Kak Laras tidak usah cemas, Manggala tidak akan mati sebelum menuntut balas kepada orang orang yang membantai keluarga Kerajaan Galuh Kencana!" jawab Manggala, tampak berapi api, kemarahan Pendekar muda itu, hampir tak terbendung, setelah Mentari di culik secara paksa.
"Apa hubungan mu dengan Kerajaan Galuh Kencana? Manggala!" tanya Laras, tampak Penasaran dengan kata kata Manggala barusan.
"Aku Putar Raja Kindar Buana, Kak Laras..!" jawab Manggala, ia tampak agak lembut, karna emosinya baru bisa ia kontrol.
"Maafkan hamba Pangeran!" tiba tiba Laras berlutut di depan Manggala.
"Hamba tidak tau bahwa Pangeran yang bersama hamba!"
"Bangunlah Kak Laras, Kakak tidak bersalah! Apa hubungan Kakak dengan Kerajaan Galuh Kencana?" titah Manggala, sambil memegang bahu Laras, dan mengajaknya berdiri.
"Hamba cucu Sesepuh rambut putih Pangeran!" jawab Laras sambil tetap menunduk di hadapan Manggala.
"Di mana ayah ibu Kak Laras, sekarang?"
"Ayahku adalah salah seorang punggawa Kerajaan Galuh Kencana, yang tewas malam itu bersama Kakek Sesepuh Rambut Putih, aku di antarkan ibuku ke Perguruan Pedang Kembar," tutur Laras, raut wajah nya berubah sedih.
"Jadi Kakak juga punya dendam pada Kerajaan Atas langit," ujar Manggala, sambil memegang bahu Laras.
"Sejujurnya ia, tapi kemampuan ku masih jauh untuk membalas dendam, kecuali aku bisa sampai ke Lembah Dewa!" ujar Laras, sambil menyelam air matanya.
"Aku yang akan menemani Kakak kesana! Sekarang kita harus merebut Kak Mentari, dari tangan orang orang durjana itu..!"
"Berarti kita tidak jadi ke gerbang ketiga?"
"Kita lansung ke Divisi Dalam Pedang Jiwa Kak!"
"Baiklah, Manggala!" selesai berkata Laras lansung melesat meninggalkan tempat itu, di ikuti Manggala, tongkat mustika Dewa, masih tergenggam di tangannya.
Bersambung.....
__ADS_1
Ikuti episode selanjutnya, Pengejaran Ke Pagoda Lima Pilar.