
Setelah mengalami kekalahan Panglima Wang Xian Chin bersama pasukannya kembali ke istana Galuh Kencana.
Panglima Wang Xian Chin sangat malu dengan kekalahan pasukannya itu, Panglima Wang Xian Chin akhirnya memilih menjadi pasukan yang bertahan di istana.
Lebih dari separuh pasukan prajurit dari Kerajaan Qin itu tewas dan terluka parah dalam pertempuran tempo hari.
Manggala mengumpulkan orang-orang penting di Kerajaan Galuh Kencana, Pangeran muda itu langsung memimpin pertemuan itu.
"Saudara-saudara, semua yang menjadi pendukung Kerajaan Galuh Kencana saat ini. Melihat dari kekuatan musuh yang kita hadapi sekarang, kita tidak bisa memakai kekuatan para prajurit menghadapi kekuatan pasukan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit.
Kita harus bergerak dengan sedikit orang, namun mempunyai kekuatan yang sulit di duga oleh para petinggi Kerajaan Awan Hitam Atas Langit, kekuatan mereka saat ini sangat tangguh. Apalagi kekuatan mereka di tambah kekuatan para naga hitam dan para raksasa itu," kata Pangeran Manggala.
"Maaf, Pangeran. Apa pasukan naga juga akan tinggal?" tanya Jingga.
"Tidak, Jingga. Pasukan naga lah yang menjadi harapan saya saat ini untuk menghadapi kekuatan pasukan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu," jawab Pangeran Manggala.
"Manggala, bolehkah ayahanda ikut, Nak?" tanya Baginda Raja Kindar Buana.
"Maafkan ananda, Ayahanda. Ayahanda adalah seorang Raja, tidak mungkin turun tangan langsung kecuali kita mengalami kekalahan dan penyerangan ke dalam istana," jawab Manggala.
"Seperti yang di katakan Pangeran, Tuanku. Biar kami yang akan turun ke medan perang sebagai pasukan khusus menghadapi pasukan Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu," tambah Laras sebagai Senopati Agung Kerajaan Galuh Kencana.
"Ya, Yang Mulia. Biarlah kami yang akan memerangi pasukan iblis dan siluman dari Kerajaan Awan Hitam Atas Langit itu, pasukan naga dari Kerajaan Kayangan sudah ada di sini dan siap bertempur untuk manusia," ucap Panglima Kerajaan Galuh Kencana saat ini, Draka.
"Bagaimana dengan Pandan Ayu, apa kau juga akan ikut bertempur, Nak?" tanya Permaisuri Primata Trisna pada Pandan Ayu.
"Tentu saja, Ibunda Ratu. Kekuatan batu merah sang raja naga tidak akan berguna jika ananda tetap di istana," jawab Pandan Ayu sambil tersenyum.
"Terima kasih para sahabatku, berarti yang akan pergi ke medan perang adalah pasukan naga yang di pimpin oleh raja naga Draka dan tujuh Jendral Pelangi, Kak Laras, Kak Pelangi dan Pandan Ayu. Tidak ketinggalan saya sendiri," kata Pangeran Manggala.
__ADS_1
"Kapan kita mulai bergerak, Pangeran?" tanya Draka di ikuti anggukan ke tujuh Jendral Pelangi termasuk Jingga.
"Kita akan mulai bergerak besok, Draka," jawab Pangeran Manggala.
"Maafkan hamba, Pangeran. Bagaimana dengan pasukan hamba?" yang bertanya adalah Panglima Wang Xian Chin sambil menunduk memberi hormat.
"Maaf, Panglima. Untuk saat ini pasukan Panglima sedang banyak yang terluka, sebaiknya Panglima dan ke tujuh Jendral, Panglima bertugas di istana dulu sambil mengobati para prajurit yang terluka, di sini banyak prajurit yang terdiri dari para pendekar yang siap membantu pasukan Panglima.
"Apalagi saat ini para penduduk yang selamat sudah mulai kembali ke kota di luar tembok istana, mereka mulai memberanikan diri membangun kembali rumah tempat tinggal mereka yang di hancurkan pasukan siluman dan pasukan iblis.
Pasukan saya pun yang terdiri dari para pendekar tidak saya tarik ke medan perang, karena tugas prajurit Kerajaan saat ini adalah menjaga keselamatan rakyat jelata yang tidak bersalah.
Saya harap Panglima tidak tersinggung, kekuatan Panglima dan ke tujuh Jendral, Panglima di butuhkan di sini," jawab Manggala panjang lebar.
"Terima kasih Pangeran, Tapi para Jendral hamba ingin ikut ke medan perang. Mereka tentu akan bisa membantu di medan perang, Pangeran," ucap Panglima Wang Xian Chin.
"Maaf, Panglima. Saya membutuhkan para jendral, Panglima sebagai pimpinan pasukan untuk berjaga di dalam kota pinggir istana. Jika tidak keberatan, pasukan Panglima bisa membantu para penduduk membangun rumah mereka kembali," jawab Pangeran Manggala.
.
.
Pagi di Kerajaan Galuh Kencana, Matahari baru saja menampakkan diri di ufuk timur. Burung-burung mulai berkicau menghiasi pagi.
Serombongan orang-orang tampak telah berbaris di depan istana Galuh Kencana, orang-orang itu adalah pasukan naga kayangan yang memakai bentuk manusia dengan pakaian pendekar.
Di teras istana tampak Manggala, Laras, Pandan Ayu, Mentari bersama Draka dan Jingga. Ke enam Jendral Pelangi tampak berdiri di depan lebih dari lima ratus pasukan naga.
Jingga yang tampak tidak ingin jauh dari sang kekasih raja naga, Draka. Berdiri di samping Panglima pasukan khusus Kerajaan Kayangan Atas Langit itu.
__ADS_1
"Kita akan menggunakan kuda, agar kita tidak terlalu mencolok dan menakuti rakyat," kata Pangeran Manggala.
"Baik, Pangeran," jawab prajurit naga serentak.
"Anakku, berapa lama kau akan pergi berperang?" tanya Permaisuri Primata Trisna pada sang putra tunggalnya itu.
"Maafkan ananda, Ibunda. Ananda tidak bisa menjawab seberapa lama kami akan pergi berperang, musuh yang kami hadapi sangat kuat dan sangat banyak Ibunda, doa'kan Ananda selamat dalam peperangan ini dan kembali secepatnya ke Kerajaan," ucap Manggala.
"Doa ibu akan selalu menyertaimu, Anakku," jawab Permaisuri Primata Trisna sambil memeluk Manggala, Sang Ratu menciumi pipi sang putra dengan penuh kasih sayang.
"Ananda mohon izin, Ibunda," ucap Pandan Ayu sambil menunduk menjura memberi hormat pada sang Ratu.
Sedangkan Manggala tampak berpamitan pada sang Baginda Raja Kindar Buana, "Ayahanda, ananda mohon izin dan mohon doa restu Ayahanda," ucap Manggala sambil memeluk Ayahandanya.
"Doa dan restu ayahanda selalu bersamamu, Anakku," jawab Baginda Raja Kindar Buana sambil memeluk dan menepuk pelan punggung sang putra.
Tampak Permaisuri Primata Trisna memegang bahu Pandan Ayu dan memeluk gadis cantik berpakaian putih dengan sedikit garis hitam itu, "Titip Manggala ya, Nak. Jaga dia," ucap Sang Ratu.
"Baik, Ibunda. Hamba akan menjaga Pangeran dengan jiwa dan raga hamba," jawab Pandan Ayu.
Setelah semuanya berpamitan pada Baginda Raja Kindar Buana dan Permaisuri Primata Trisna, Manggala segera memimpin pasukannya meninggalkan istana dengan mengendarai kuda dengan cukup pelan.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya, Ya..
__ADS_1
Tinggalkan jejak.
Terima kasih...