
Sorak Sorai para murid baru, dan murid senior Divisi Luar Pedang Raga, semuanya mengelu elukan Manggala.
Mentari dan Laras hanya tersenyum penuh kebanggaan, mereka sangat senang dengan semua keberhasilan Manggala sampai saat ini.
Mentari dan Laras lansung menemui Manggala, yang lagi berdiri di depan semua murid baru dan para senior Divisi Luar Pedang Raga.
"Manggala! Sekarang kita menuju aula kedua, secara tidak lansung Kau telah lulus ujian untuk memasuki Gerbang Kedua Divisi Luar Pedang Raga!" ujar Mentari, sambil tersenyum lebar di hadapan pendekar tampan murid Lima Pendekar Dewa itu.
"Baik Kak! Manggala ikut semua perintah Kakak," jawab Manggala, membalas senyuman Mentari.
"Kak, bagaimana denganku?" tanya Laras, tampak agak sewot, melihat Mentari blak blakan memperlihatkan sukanya pada Manggala, di depan nya, dan para murid lainnya.
"Terserah Kau, mau ikut ke gerbang kedua, atau tinggal di sini?" jawab Mentari, singkat.
"Huh..! Giliran tidak ada Manggala, aku selalu di ajak kemana mana, ada Manggala aku di kacangan.!" Omel Laras, dalam hati.
"Laras ikut deh...!" jawab Laras, ketus.
"Ayo...!" ajak Mentari, walau dalam hati ia keberatan, karna tidak enak dengan Manggala ia pun mengajak Laras menemaninya dengan Manggala menuju gerbang kedua.
"Hmm...! Coba tidak ada Laras, aku bisa lebih dekat dengan Manggala," rutuk Mentari, dalam hati, ia pun melesat meninggalkan lapangan tempat perkumpulan di depan asrama murid baru.
Manggala dan Laras segera menyusul Mentari, dengan berkelakar di belakang gadis cantik berbaju merah itu.
Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai di depan gerbang kedua Perguruan Pedang Kembar, Divisi Luar Pedang Raga.
Seorang pengawal gerbang bertubuh besar, wajahnya cukup sederhana, tampak lansung menemui Mentari, setelah berbicara dengan Mentari pengawal itu meminta pada temannya membuka pintu gerbang, yang begitu besar itu.
"Pagi Mentari!" sapa pengawal gerbang itu
"Pagi juga!" jawab Mentari, singkat.
__ADS_1
"Murid baru ya Mentari?"
"Ya..!" jawab Mentari, tanpa banyak bicara lansung masuk ke gerbang besar itu, di atas gerbang tampak ukiran dua buah pedang dari batu yang bersilang, di bawahnya terukir tulisan Perguruan Pedang Kembar.
Manggala mengikuti Mentari memasuki gerbang kedua itu, tampak di dalam sana banyak murid berpakain serba biru, rata rata umur mereka dua puluh lima tahun, sampai tiga puluh tahunan.
Mereka memperhatikan Mentari dan Anggala, banyak di antara yang berbisik, dengan penampilan Mentari hari ini, sedangkan Laras hanya diam berjalan di samping Manggala, ia tidak banyak bicara karna takut di marahi Mentari.
Mereka tiba di sebuah tempat yang berbentuk lapangan, di tengahnya ada gelanggang terbuat dari batu, dan pacarnya pun terbuat dari batu.
Tampak di sana berdiri seorang yang berperawakan tinggi agak kurus berbaju biru, di bagian lengan bajunya berwarna putih.
Dari wajahnya terlihat Laki laki itu sudah cukup berumur, mungkin umurnya sekitar enam puluh tahunan.
"Melihat Mentari datang, begitu pagi, ia menunjuk ke arah Mentari dan Laras, Manggala pun tidak luput dari pandangan nya.
"Mentari, bukankah Kau di tugaskan ke batas kota Galuh Kencana, dan memilih seorang murid dari sana??" tanya Laki laki itu, dengan lantang suaranya bergema karna menggunakan aliran tenaga dalam tinggi.
"Maaf Sesepuh Guntur Langit, yang bersama Saya ini, adalah murid yang Lolos seleksi di batas kota Galuh Kencana, kemarin.!" jawab Mentari, dengan cukup lantang. Mentari melompat ke atas panggung batu, dan memberi hormat pada Sesepuh Guntur Langit
Manggala menggunakan ilmu 'Jurus Tatapan Dewa'.
Sehingga Sesepuh Guntur Langit, tersentak mundur menatap mata Manggala.
"Siapa sebenarnya anak muda ini, kenapa dia mempunyai 'Jurus Tatapan Dewa'. milik Pendekar Jiwa Abadi, salah seorang dari Lima pendekar Dewa?!" guman Sesepuh Guntur Langit, dalam hati.
Melihat Sesepuh Guntur Langit tersentak, Mentari bertanya.
"Ada apa Sesepuh?"
"Tidak apa apa..!!" jawab Sesepuh Guntur Langit, berusaha menutupi keterkejutannya.
__ADS_1
"Siapa anak muda itu Mentari??"
"Namanya Manggala, Sesepuh!" jawab Mentari, dengan cepat.
"Manggala, apakah dia yang mengalahkan Soka dan ke empat pengawalnya??"
"Ya, Sesepuh, Manggala mengalahkan Soka dengan sangat mudah!" jawab Mentari, dengan begitu bangga.
"Hei...! Anak muda, naik lah kesini!" perintah Sesepuh Guntur Langit, sambil menunjuk pada Manggala.
Manggala hanya menunduk memberi hormat pada orang orang yang berada di tempat itu, dan ia segera naik ke atas panggung batu itu, dengan berjalan.
"Mentari! Kau tidak salah lihat kan?"
"Salah lihat bagaimana? Sesepuh?"
"Aku tidak melihat aura kesaktian Pemuda itu, aku cuma mengenali jurus yang ia pakai tadi menghadapi tatapan ku tadi!"
"Coba saja Sesepuh! Supaya kau puas dan melihat dengan mata kepala mu sendiri!" jawab Mentari, singkat.
Manggala telah sampai di depan mereka berdua, sedangkan Laras masih berdiri di depan para murid yang lain.
Sesepuh Guntur Langit, memerintahkan sekitar dua puluh orang murid tingkat dua puluh delapan tingkat Pedang Raga untuk naik ke panggung batu, dan bertarung melawan Manggala sendirian.
Kedua puluh murid itu lansung mencabut pedang mereka, mereka lansung membuat formasi Elang menyambar mangsa.
Tanpa di perintah mereka lansung melompat ke arah Manggala, sedangkan yang si seorang tampak berdiri tenang, musuh musuh nya meluncur begitu cepat dengan pedang siap menghancurkan tubuh Manggala.
"Heaaa............!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Favorit, like dan komen ya,
juga ikuti novel Author lainnya yang berjudul Pendekar Naga Sakti. Terima kasih...